Edisi 127

Dalam berbagai kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres), dan Pemilihan Legislatif (Pileg) masalah ekonomi menjadi tema sentral kampanye yang diusung para calon sampai pedagang kaki lima dan pasar tradisional di seluruh pelosok Nusantara. Yang ingin berkuasa beretorika menjanjikan ekonomi lebih baik, harga-harga murah, dan rakyat makmur.

Untuk meyakinkan calon pemilih mereka mengkritik habis-habisan apa yang telah dilakukan pemerintah – calon dari petahana “gagal” mengemban amanah rakyat. Ukuran kegagalan itu, misalnya, mereka menggunakan parameter pengelolaan sektor perdagangan, defisit, impor lebih besar daripada ekspor. Namun dari pihak petahana menjawab singkat; “Lihat saja hasil pembangunan sekarang.”

Harus diakui, rakyat kecil memang tidak begitu paham istilah defisit neraca perdagangan luar negeri. Yang dipahami, jualan tidak mendapatkan uang lebih banyak dari pengeluaran – pembelian, berarti rugi. Juga tak memahami bagaimana menghitung impor tersebut akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, 5 – 10 tahun yang akan datang. >>> Read more