Ekonomi Tahun 2014 Diprediksi Lebih Baik

5-prediksi-dan-harapan-dalam-dunia-mobile-di-tahun-2014Pemerintah dan DPR menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2014 sebesar 6%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan sejumlah lembaga ekonomi, yakni di bawah 6%. Pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada tahun 2014 merupakan salah satu asumsi dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2014.

Asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6% tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dan DPR melihat perekonomian tahun 2014 akan lebih baik dibandingkan tahun 2013. Pertumbuhan ekonomi tahun 2013, seperti diperkirakan Badan Kebijakan Fiskal, berkisar 5,8% – 6%. Bank Pembangunan Asia (ADB) juga memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014 sekitar 6%. Sedangkan Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2014 adalah 5,8% – 6,2%. Angka ini lebih tinggi daripada proyeksi tahun 2013 sebesar 5,5% – 5,9%. Sebaliknya, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2014 melambat. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun 2014 sebesar 5,3%.

Salah satu faktornya adalah penurunan investasi yang hanya tumbuh 4,5% di kuartal ketiga, terutama di sektor alat berat dan industri mesin. “Proyeksi Bank Dunia masih diwarnai sejumlah risiko tinggi, dan tertuju pada pertumbuhan yang lebih lemah. Rencana penghapusan stimulus bank sentral Amerika Serikat (US Federal Reserve) diperkirakan akan membuat kondisi pasar modal dunia terus bergejolak dan menghambat akses Indonesia terhadap dana eksternal.

Pertumbuhan konsumsi domestik yang selama ini cukup tangguh, juga diperkirakan akan melemah. Proyeksi keuangan juga terlihat rentan akibat belanja subsidi BBM. Pemerintah juga harus memperbaiki jaring pengaman sosial bagi kelompok miskin dan rentan. Pada 2014, tingginya harga dan lambatnya pertumbuhan ekonomi akan menambah tantangan pengentasan kemiskinan. Bank Dunia memproyeksikan tingkat kemiskinan pada Maret 2014 akan mencapai 11% – 11,1% atau di atas target pemerintah sebesar 8,1%

Defisit transaksi berjalan diperkirakan akan menyusut dari US$ 31 miliar (3,5% PDB) di 2013 menjadi US$ 23 miliar di 2014 (2,6% PDB), akibat melemahnya pertumbuhan impor dan permintaan ekspor yang meningkat secara moderat. Dalam rangka menyikapi defisit transaksi berjalan, yang perlu dilakukan bukanlah menekan tingkat impor, tetapi dengan menaikkan ekspor dan mengamankan ketersediaan dana eksternal, terutama investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI). Langkah-langkah perbaikan terhadap iklim usaha sangat penting untuk menarik investasi, antara lain dengan lebih menyederhanakan regulasi terkait perdagangan dan logistik, sehingga dapat mendongkrak ekspor.

Panitia Kerja (Panja) Asumsi Dasar APBN Tahun 2014, yang terdiri dari unsur pemerintah dan DPR, menyampaikan sejumlah pertimbangan atas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2014 sebesar 6%. Pemilu dan demografi menurut laporan Panja, meski masih menghadapi risiko, perekonomian tahun 2014 lebih baik daripada tahun 2013. Risiko yang dimaksud antara lain masih ada gejolak likuiditas global dan gejolak harga komoditas di pasar internasional. Namun, Panja menegaskan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi 2014. Ini terutama disebabkan ada bonus demografi serta ada Pemilihan Umum (Pemilu) anggota legislatif dan presiden.

Neraca perdagangan yang mulai membaik juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan. Ini karena kinerja ekspor berangsur- angsur pulih seiring perbaikan permintaan pasar global. Faktor lain adalah peningkatan investasi, terutama oleh sumber-sumber domestik, dan inflasi yang kembali ke level normal. Dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi terutama akan disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 1,6%, sektor perdagangan-hotel-restoran 1,3%, serta sektor transportasi dan komunikasi 1,1%. Sementara sektor pertanian menyumbang 0,4%.

Ekonom Faisal Basri, menyatakan, asumsi pertumbuhan sebesar 6% tahun 2014 masuk akal. Angka tersebut bahkan cenderung konservatif. Menurut Faisal, semua tekanan terhadap perekonomian Indonesia sudah mencapai puncak pada tahun 2013. Hal itu di antaranya tekanan pada kurs rupiah, inflasi, suku bunga, serta neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Itu berarti perekonomian Indonesia tahun 2014 cenderung lebih baik. Inflasi yang pada tahun 2013 mencapai 9% akan turun ke 5,5% tahun 2014 sebagaimana asumsi pemerintah dan DPR. Bahkan, Faisal optimistis, realisasi inflasi akan di bawah asumsi itu.

Revisi besaran pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014 dikarenakan kondisi stability over growth. Di antaranya adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai kisaran Rp 12.000,- per US$. Secara umum ekonomi Indonesia tumbuh dengan baik. Dengan adanya situasi global seperti rencana pengurangan stimulus alias tapering off di Amerika Serikat (AS) oleh bank sentral The Federal Reserve dan juga situasi domestic berupa deficit neraca transaksi berjalan maka perlu ada penyesuaian pertumbuhan ekonomi tahun 2014. Pertumbuhan ekonomi itu harus dihadapi dengan baik. Di situasi Indonesia saat ini kita tidak bisa mengejar pertumbuhan ekonomi dengan kecang namun di tahun mendatang terjadi collapse (keruntuhan) ekonomi dan pertumbuhannya terkoreksi dalam ke bawah. Lebih baik tumbuh rendah namun berkesinambungan.

Meski 2014 Indonesia dihadapkan pada pelambatan pertumbuhan ekonomi, namun ekonomi Indonesia masih terbilang baik di tingkat regional negara-negara G20. Tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada posisi ke-3 terbaik di antara negara-negara G 20. Saat ini, dengan goncangan ekonomi global dan domestik, Indonesia tetap mampu menjadi negara nomor 2 terbaik di antara negara-negara G 20 di bawah China.

Jika dilihat lebih dalam, realitas pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan sisi deviasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 10 tahun terakhir merupakan yang terbaik. Rata-rata berada di kisaran 6% per tahun. Tidak seperti negara-negara lain yang bisa tinggi tetapi kemudian turun tajam. Karena itu pemerin tah tidak boleh hanya berdiam diri menghadapi kenyataan Indonesia terbenam dalam kondisi deficit neraca transaksi berjalan selama 26 bulan terakhir. Pemerintah harus memperbaiki stabilitas ekonomi dengan mengutamakan langkah-langkah stabilisasi. Di antaranya inflasi yang menjadi 2 digit, melakukan reformasi struktural seperti memperbaiki neraca transaksi berjalan, memperbaiki neraca perdagangan, neraca jasa, neraca penghasilan, memperbaiki neraca energy dan neraca pangan.

konsumen-ritelokInvestasi sebagai sumber pertumbuhan terbesar setelah konsumsi rumah tangga, kata dia, akan turun pada tahun 2014. Ini menjadi konsekuensi kebijakan pengetatan likuiditas saat transaksi perdagangan defisit. Kebijakan BI mematok suku bunga menjadi 7,25% akan menurunkan pertumbuhan kredit. Hal ini tecermin pada proyeksi BI tentang pertumbuhan kredit pada tahun 2014 sebesar 15,3% -16,6%. Ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit tahun 2013, yang mencapai 20%. Penerimaan negara ditargetkan Rp 1.667 triliun, dan belanja negara ditargetkan Rp 1.842 triliun. Dengan demikian, defisitnya Rp 175 triliun atau 1,69 persen dari produk domestik bruto.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, inflasi yang terjaga bisa menjadi daya tarik investasi. Inflasi yang terkendali membuat daya beli masyarakat meningkat. Kondisi ini mendorong perekonomian domestik. Pertumbuhan ekonomi tahun 2014, kata Agus, masih ditopang kinerja ekspor menyusul membaiknya kondisi ekonomi global. Selain itu, daya beli masyarakat meningkat dan inflasi yang terjaga juga mendorong ekonomi.

Belajar dari kondisi pasar keuangan yang tertekan pada kurun Mei РAgustus 2013, Indonesia mesti menyiapkan diri di tahun 2014. Sampai saat ini, Indonesia belum optimal menguatkan pasar ekonomi  untuk menghadapi pembalikan arus modal. Pembalikan arus modal bisa terjadi saat lanskap perekonomian global berubah. Kondisi ekonomi negara-negara maju akan membaik sehingga potensi arus modal meninggalkan negara emerging market bisa terjadi.

Pemerintah Indonesia, menurut Bank Dunia, telah mengambil sejumlah langkah guna memperkuat stabilitas makro jangka pendek, terutama melalui penyesuaian kebijakan moneter dan nilai tukar rupiah. Namun untuk meningkatkan perdagangan dan menstimulus laju pertumbuhan jangka panjang, yang diperlukan adalah reformasi struktural yang lebih luas.

Indonesia telah melewati tahun penuh tantangan dengan menurunnya permintaan ekspor dan harga komoditas. Selain itu, pasar modal juga bergejolak dan sulitnya memperoleh dana eksternal. Tapi, kebijakan moneter (yang dikeluarkan pemerintah Indonesia) telah mendukung penyesuaian ekonomi. Indonesia akan menerima manfaat bila pemerintah berfokus pada investasi yang bersifat jangka panjang, karena Indonesia memerlukan lebih banyak investasi. Kebijakan moneter sebaiknya tidak merupakan tanggapan yang dominan. (mar)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *