20 Tahun Reformasi Menuju Negara Sukses

Tidak terasa reformasi sudah berusia 20 tahun. Bila diibaratkan manusia, usia 20 tahun itu sudah melewati masa pencarian – masa pubertas. Reformasi telah mencapai masa pembentukan –masa kematangan diri. Sepanjang reformasi, pemerintahan telah berganti 5 kali. Pemerintahan Presiden B.J. Habibie, Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo BambangYudhoyono (SBY), dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Setiap pemerintahan, dengan segala kelebihan dan kekurangan berupaya membentuk Indonesia menjadi Negara matang. Tentu, sudah banyak kemajuan yang bisa kita catat. Namun, sebagai sebuah Negara – bangsa kita belum mencapai masa kematangan atau kemapanan. Itulah sebabnya masih banyak perkara yang belum tertuntaskan. Kita masih terengah-engah mengejar pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Kita juga masih berutang untuk menyelesaikan persoalan hak asasi manusia (HAM) masa lalu. Keadilan masih jauh panggang dari api. Karena masih berlakunya prinsip tebang pilih.
Demokrasi yang kita capai dinilai kebablasan. Amandemen Undang Undang Dasar (UUD) 1945 yang mencapai 4 kali dianggap berlebihan. Demokrasi yang di atas kertas konstitusi berbentuk demokrasi presidensial, dalam praktiknya terasa demokrasi parlementer. Lalu, dengan mengatasnamakan demokrasi, sekelompok masyarakat diam-diam, atau teru sterang menyuaraka nkeinginan mengganti ideologi Pancasila. Di tengah situasi yang semakin demokratis, identitas agama, etnik, dan politik justru seperti lebih mengemuka dari pada identitas ke-Indonesia-an.

Reformasi pada dasarnya adalah perubahan mendasar di segala segi kehidupan untuk menghindari Negara gagal. Dengan perkataan lain, kita menempuh jalan reformasi untuk menjadi Negarasukses. Negara sukses adalah Negara yang secara ekonomi dan politik mapan, matang, serta stabil. Goncangan apa pun, baik dari dalam maupun dari luar tidak akan menggoyahkan ekonomi ataupun politik Negara tersebut. Hasil suatu penelitian para ahli mengantarkan pada suatu kesimpulan bahwa banyak negara bukan kultur atau pun letak geografis yang membuat Negara itu sukses.

Celakanya, sejak kecil kita dininabobokkan propaganda bahwa keunggulan kita terletak pada budaya, sumber daya alam (SDA), dan letak georgrafis. Sejumlah Negara boleh jadi memiliki kultur dan letak geografis relatif sama. Tetapi satu Negara terbilang maju, dan yang lain terbelakang. Ambil contoh; Indonesia, Singapura, dan Malaysia, letak geografis atau pun kultur ketiga Negara relatif sama. Tetapi bisa dikatakan Singapura dan Malaysia, relatif lebih maju secara politik dan ekonomi, jika dibandingkan dengan Indonesia. Hal itu disebabkan pelembagaan politik di sejumlah negara jauh lebih mapan dibandingkan di Negara lain. Itu artinya, pelembagaan atau institusionalisasi politik menjadi variable penentu kemajuan dan kesuksesan suatu Negara.

Pelembagaan atau kemapanan institusi politik akan mengungkapkan paradigma bidang-bidang lain. Pendekatan struktural mesti menjadi lebih penting daripada pendekatan kultural. Bukan berarti pendekatan kultural tidak penting. Melainkan, pendekatan struktural mesti diprioritaskan. Perubahan struktural akan mengantarkan pada perubahan kultural. Perbaikan struktural dan institusionalisasi politik yang mesti kita laklukan pertama-tama adalah memulihkan sistem demokrasi presidensil. Parameter menjalankan check and balance bukan merecoki. Check and balance seakan memperkuat sistem presidensial, sedangkan merecoki akan melemahkan presidensial. (my)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *