Abat Elias, S.E. : Setelah Membangun Kopdit Ideal, Kini Menuju Kopdit Bersahabat

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit!” Pesan orator ulung, Sang Proklamator, Presiden Republik Indonesia pertama, Bung Karno, membakar semangat anak bangsa yang baru saja dilepaskan dari belenggu Kolonial Belanda selama 350 tahun.

Sebagai Bapak Bangsa, Bung Karno ingin anak-anak Republik dari Sabang sampai Merauke punya cita-cita tinggi, menjadi bangsa yang cerdas, mampu membangun negara sejajar dengan negara-negara maju, siap menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan kehormatan bangsa.

Dengan kadar yang berbeda, sebagai generasi penerus Romanus Woga yang lebih akrab disapa Rommy, mengatakan; “Kita harus punya mimpi yang besar! Hidup tanpa mimpi, ibarat burung.” Sebagai Ketua Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) atau Induk Koperasi Kredit (Inkopdi) VISI – mimpi besar itu menjadikan Koperasi Kredit Indonesia, minimal, 4 besar di kawasan Asia, memiliki aset Rp 100 triliun dan anggota 10 juta orang. Mimpi besar itu telah disepakati oleh GKKI sebagai VISI 2020, yang ketika itu jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 270 juta jiwa.

Ketika Ketua Inkopdit menyampaikan Visi GKKI tahun 2020 di forum nasional, Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2012 di Jogya, yang dihadiri lebih dari 600 peserta plus para pejabat tinggi, membuat banyak orang kagum. Visi GKKI tahun 2020 lahir karena Inkopdit harus menyusun Rencana Strategis (Renstra) jangka menengah 5 tahunan dari 2012 – 2016. Dari Renstra itu harus menetapkan sasaran jangka panjang visi tahun 2020 seperti apa.

Visi Kopdit itu juga sudah disampaikan di tingkat Asia, dalam open forum AACU di Kuala Lumpur, Malaysia. Visi itu bukan sok-sokan, tetapi sudah ada dalam road map – peta jalan GKKI untuk 20 tahun ke depan. “Di Malaysia saya katakan, tahun 2020 kami di level 3 Asia. Karena itu mohon maaf kalau ada negara-negara yang terlanggar – terlewati. Mereka senyum-senyum. Ada yang senyum sinis, ada yang mengatakan: “sombong sekali.” Tetapi juga ada yang bilang, delegasi dari Thailand, Indonesia sangat memungkinkan. Jumlah penduduknya besar, perkembangan ekonominya beberapa tahun terakhir sangat baik untuk Asia. Bahkan sekarang terbaik ke-2 di dunia,” urai General Manager (GM) Inkopdit, Abat Elias, S.E., saat berbincang dengan Majalah UKM, di kantornya minggu silam.

Ketika road map Inkopdit 2012 – 2016 disosialisasikan, kata dia, dapat sambuat antusias dari insan Kopdit di seluruh Indonesia. Karena mendapat sambutan positif, semua penggerak Kopdit juga harus mensukseskan road map yang sudah disepakati bersama. Bahkan, walau terjadi pergantian pengurus, yang namanya Renstra dan Visi 2020 tidak ada masalah. Pengurus baru harus membaca road map yang sudah ditetapkan, dan harus meneruskannya. “Saya yakin tidak akan ada kendala,” tegasnya. Kebetulan, lanjut dia, sampai akhir tahun masih ada di Inkopdit, jadi masih bisa mendampingi pengurus baru.

“Yang namanya Renstra tidak boleh terhenti hanya karena pergantian pengurus,” tegas Abat, sebenarnya sudah pensiun sebagai GM, tetapi masih dipercaya untuk memimpin manajemen dan menggerakan roda bisnis Inkopdit. Melihat calon-calon pengurus baru, khususnya calon ketua, kata Abat, mereka mempunyai semangat yang sama untuk terus memajukan Kopdit di Indonesia. Kalaupun ada perbedaan, mungkin gayanya saja yang berbeda.

Terkait dengan kinerja selama tahun buku 2012, kata Abat, pertumbuhannya cukup bagus, rata-rata pertumbuhan kinerja kunci 25% – 30%. Pertumbuhan anggota diakui tidak terlalu tinggi hanya 14,4%, simpanan saham 30,5%, pertumbuhan non saham 29,6%, sedangkan pinjaman beredar tumbuh 26,6%, dan untuk pertumbuhan sisa hasil usaha (SHU) tidak seperti tahun lalu karena hanya mencapai 6,37%. Namun pertumbuhan dana cadangannya cukup bagus, 38,2%. Ini berarti memperkuat modal sendiri. Soal kendala, kata Abat, baik di primer maupun sekunder pasti ada, seperti halnya kendala yang ada di lembaga keuangan formal lainnya.

Sasaran mimpi tahun 2020 memang sangat tinggi. Untuk mencapai 10 juta anggota, harus kerja keras, karena saat ini baru 2.070.024 anggota. Dibandingkan dengan tahun 2011 yang baru mencapai 1.809.072 anggota, memang naik tetapi hanya 14,4%. Ini berarti promosi dan marketing primer-primer masih sangat lemah. Untuk mencapai jumlah anggota 10 juta pada tahun 2020, idealnya pertumbuhan di kisaran 70% per tahun. Aset gerakan tahun buku 2011 Rp 14,3 triliun naik menjadi Rp 16,165 triliun. Artinya untuk mencapai Rp 100 triliun pada 2020 juga masih harus kerja keras. Mimpi itu bisa menjadi kenyataan, kalau semua bersatu. Potensinya masih sangat besar, terutama di wilayah timur Indonesia. Di sana belum banyak lembaga keuangan, sehingga CU atau koperasi pada umumnya masih leluasa untuk berkiprah.

“Saya tidak pesimis angka harus tumbuh 70% per tahun. Kalau setiap CU primer benar-benar menerapkan strategi member get member – anggota membawa satu anggota dalam satu tahun, sebelum tahun 2020 anggota 10 juta sudah terpenuhi,” kata Abat optimis. Untuk merangsang anggota mencari anggota baru, kata Abat, perlu diberikan insentif. CU Khatulistiwa Bakti bisa dijadikan contoh, setiap anggota yang membawa satu anggota baru mendapatkan insentif Rp 20.000,-

Mengejar jumlah anggota tidak terlalu sulit. Namun Abat mengkhawatirkan yang datang tidak berkualitas, hanya ingin mendapatkan pinjaman. Padahal itu bukan satu-satunya tujuan ber-CU. “Menjadi anggota CU harus merencanakan – memperbaiki kehidupannya di masa depan. Bukan sekedar masuk jadi anggota mau pinjam, kalau tidak dapat pinjaman terus keluar. Bila seperti itu, bukan mental orang CU. Menjadi anggota CU harus dengan niat mau merubah cara hidup untuk menjadi lebih baik, dan mengikuti prinsip-prinsip ber-CU,” jelas Abat. Semua anggota, lanjut dia, pasti ingin pinjam. Yang tidak pinjam pun “harus” pinjam, kalau tidak, dinilai sebagai anggota yang kurang baik. Dengan pinjaman itu bisa berproduksi, dan bisa memperoleh nilai tambah. Dengan adanya nilai tambah berarti ada perubahan kesejahteraan bagi mereka.

Strategi pengembangannya, kata Abat, sudah disampaikan kepada Puskopdit, dan Puskopditlah yang mempunyai tugas menyampaikan kepada primer-primer. Salah satu kebijakan, atau paling tidak saran – himbauan kepada GKKI untuk tidak membentuk primer baru, tetapi lebih baik primer-primer yang ada mengembangkan, melipatgandakan jumlah anggota dan volume usahanya. “Kalau primer semakin banyak dan masalahnya semakin banyak, kita hanya mencuci piring kotor saja. Sebaiknya, jumlah lembaga tidak terlalu banyak, tetapi jumlah anggota dan asetnya yang terus ditingkatkan,” urainya.

Namun, lanjut dia, bukan berari stop untuk mendirikan CU baru. Bagi wilayah-wilayah yang masih membutuhkan CU baru dipersilahkan. Tetapi bagi wilayah yang kepadatan CU sudah cukup tinggi diharapkan untuk tidak mendirikan CU baru. Bahkan kalau bisa CU yang kurang dapat berkembang diamalgamasikan dengan CU yang lebih baik sehingga memiliki suatu kekuatan. “Walau jumlah CU-nya terbatas, tetapi kalau jumlah anggota dan volume usahanya besar, itu lebih baik,” tegas Abat.

Diakui, Inkopdit sampai saat ini tidak – belum melakukan kampanye – promosi besar-besaran agar primer-primer non-Kopdit mau bergabung dengan Puskopdit. Tetapi kalau ada even tertentu beberapa primer non-CU diundang untuk menyaksikan bagaimana sistem di CU. Kalau ada pelatihan yang sifatnya umum juga mengundang koperasi lain. “Kami tidak menggembar-gemborkan bahwa CU itu lebih baik. Kalaupun teman-teman gerakan koperasi lain menganggap CU baik, tentu kami berterimakasih,” jelasnya.

Untuk memahami ber-CU tidak mudah, dan belum tentu mereka mau. Salah satu kendala, sistemnya ada yang belum sama. Sebagai contoh, apakah mereka menerima bahwa semua anggota harus mengikuti pendidikan dasar. Mungkin ada yang beranggapan, ngapain pendidikan segala. Di CU, pendidikan mutlak diikuti oleh semua anggota, manajemen, pengurus dan pengawas. “Bagi mereka yang mau menerima sistem yang ada di Kopdit sangat mungkin bisa bergabung. Paling tidak mau menerima 3 pilar utama, yaitu Pendidikan, Swadaya, dan Solidaritas, tambah satu lagi, Inovasi. Dalam 2 – 3 tahun terakhir banyak primer dari Pondok Pesantren di Jawa Timur yang bergabung dengan Puskopdit.

Abat adalah penggagas Kopdit Ideal. Salah satu kriteria Kopdit Ideal itu minimal anggotanya 1000 orang dan asetnya minimal Rp 1 miliar. Setelah program Kopdit Ideal yang dimulai tahun 2004 itu tercapai, untuk terus meningkatkan kualitas Kopdit, Abat berinovasi lagi, menciptakan alat evaluasi yang dinamakan Bersehabat. Istilah itu muncul dari gagasan – ide Abat sendiri. Kopdit Bersehabat itu akronim, artinya: Besar – Sehat – Aman – Adaptif, terhadap perubahan. Jadi tidak hanya lihat besar saja, tetapi sehat tidak, aman tidak, mengikuti perubahan – perkembangan tidak. Dengan alat ukur Bersehabat itu, Kopdit Primer akan bisa diklasifikan dalam; Tipe A – Tipe B – Tipe C. Untuk tipe A – Kopdit besar, anggotanya 50.001 – 100.000 ke atas. Tipe B anggotanya 1000 – 50.000 dan Tipe C anggotanya masih di bawah 1000.

Namun dalam penilaian berdasarkan standar Bersehabat, Tipe C walaupun kecil, bisa saja mendapatkan nilai terbaik, Platinum, atau nilai terbaik kedua Gold – Emas, Sedangkan Tipe A (besar) bisa hanya mendapat nilai ketiga, Silver – Perak, atau bahkan nilai paling rendah, Bronze – Perunggu. Bersehabat itu tidak hanya melihat besarnya saja, tetapi juga harus sehat. Dan sehat itu tidak bisa diukur dengan waktu sampai kapan. Setiap saat harus selalu dilihat, kondisinya sehat apa tidak. Kalau hanya mengejar besarnya saja, asetnya banyak, jumlah anggotanya banyak, belum tentu sehat. Bisa-bisa yang kelihatan besar itu di dalamnya keropos.

Besar, bisa dilihat dari jumlah aset dan anggotanya. Sehat, apakah pinjamannya itu berkualitas atau tidak, lancar atau tidak, dan dilihat lagi tingkat kelalaian – kredit macetnya seperti apa. Dalam kondisi tertentu bisa membayar kewajiban dengan cepat atau tidak. Aman, Kopdit itu memiliki likuiditas yang cukup atau tidak, memiliki modal sendiri cukup atau tidak. Atau terlalu banyak modal yang keluar. Adaptif, terhadap perubahan – apakah para pengurusnya memiliki road map, tidak. Atau memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) atau tidak. Memiliki Standar Operasional Manajemen (SOM) atau tidak. Apakah Kopdit itu melakukan RAT sesuai aturan yang ada? Dalam RAT itu dijalankan secara demokratis atau hanya sekedar memneuhi aturan. Apakah anggota sudah merasa puas atas pelayanan manajemen. Kemudian kepuasan karyawan juga seperti apa. CU besar kalau karyawannya tidak puas juga akan menjadi masalah. Harus ada keseimbangan, kalau lembaganya maju, SDM-nya juga harus sejahtera. “Untuk mendapatkan nilai Platinum, memang lumayan banyak yang harus terpenuhi,” jelas Abat.

Kopdit Bersehabat ini boleh dikatakan sebagai kuda pacu, untuk meningkatkan kualitas. “Mudah-mudahan sebelum saya pensiun, semua sudah jalan. Ini sangat berbeda dengan penilaian kesehehatan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah,” jelasnya. Agar tidak sekadar mimpi atau cita-cita, memang perlu kerja keras, melakukan kajian terus-menerus, berkesinambungan. Kopdit Primer sekarang 929 unit, dan Kopdit Sekunder – Puskopdit 35 plus 6 binaan. Karena yang didorong menjadi Kopdit Bersebahat adalah primer, maka yang melakukan audit pertama Puskopdit. Setelah hasil yang dilaporkan ke Inkopdit, akan ada tim dari Inkopdit turun ke primer melakukan pengecekan ke primerprimer yang sudah diaudit. “Kami tidak percaya begitu saja, juga ingin tahu, benar – tidak,” jelas Abat. Penilaiannya, kata dia, mulai dilakukan tahun buku 2013 ini. Diharapkan RAT tahun buku 2013 yang dilaksanakan tahun 2014 mendatang kopdit primer yang yang berhasil meraih predikat terbaik I – IV sudah bisa diumumkan.

Setelah Kopdit Bersehabat, kata Abat, kita harus berpikir lagi langkah apa ke depan supaya memacu GKKI terus berkembang dan maju. Pengurus – Pengawas – Manajemen harus terus berupaya mencari terobosan strategi-strategi baru bagaimana cara memacu primer-primer agar bisa lebih cepat maju. Bagi primer-primer yang memang tidak bisa berkembang – maju, disarankan untuk bergabung saja dengan primer lain. Kalau tidak mau bergabung, skala ekonomi mereka akan tetap rendah.

Dengan aset kecil, jumlah anggota yang kecil, berat untuk menutupi operasionalnya. Akibatnya pengurus sengsara, karyawan sengsara karena tidak mendapatkan gaji yang layak. “Yang jelas, harus ada skala ekonomi yang layak,” kata Abat yang pernah dikritik memunculkan ide-ide kapitalis. Kita harus rasional. Orang bekerja butuh makan. Orang berkumpul untuk seminar, loka karya, misalnya, juga butuh uang. Kita tetap koperasi, tetapi koperasi itu lembaga usaha, bukan lembaga sosial. “Di Puskodit Swadaya Utama, dulu ada 90 primer tetapi asetnya kecil. Saya katakan kepada Pak Romanus, Anda akan pusing, banyak masalah. Ayo kita buat road map 5 tahun ke depan agar bisa hidup lebih baik, profesional, mampu membiayai dirinya sendiri. Hasilnya, sekarang menjadi 5 besar Puskopdit (mar)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *