ACCU Forum 2018 : Menyalakan Ideologi Raiffeisen Dalam Setiap Insan Credit Union

Ideologi Fredrich Willhem Raiffeisen memberikan dampak bagi masyarakat di seluruh dunia. Pemikiran Raiffeisen sangat jelas memperbaiki kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dua prinsip mendorong perkembangan ini adalah solidaritas dan spirit menolong diri sendiri. Dampak koperasi harus diceritakan kembali dan dihidupkan kembali di dalam hati seluruh insan koperasi. Insan-insan  koperasi di Asia harus selalu menggemakan dan menjadikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip CU model Raiffeisen agar CU/koperasi berbeda dari lembaga keuangan lainnya.

Pemikiran dan harapan tersebut disampaikan Andrew So, pendiri dan mantan Presiden Asian Confederation of Credit Union (ACCU) dalam presentasinya pada presentasi umum dalam sesi penutupan Credit Union Asian Forum Tahun 2018. Asia Forum tahun 2018 berlangsung di Crown Plaza Hotel, Manila, Philipina tangga 10-15 September 2018 yang diikuti 561 peserta dari 22 negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Mongolia, Nepal, Philippines, Singapore, South Korea, Sri Lanka, Taiwan, Thailand. Delegasi Indonesia berjumlah 52 orang, terdiri dari utusan Inkopdit, sejumlah credit union primer dan Puskopdit-Puskopdit, antara lain Puskopdit BKCU Kalimantan, Puskopdit Jawa Barat, Puskopdit Borneo, Puskopdit Khatulistiwa dan Puskopdit Jakarta. Jaringan Puskopdit BKCU Kalimantan diwakili oleh Pengurus dan CU Sauan Sibarrung. CU Sauan Sibarrung diundang khusus karena mendapat sertifikat Acces Branding dari ACCU.

Tema ACCU Forum tahun 2018 adalah ‘’Rekindling Raiffeisen’s Ideologies in the Heart of Every Credit Union”: menyalakan ideologi Raiffeisen dalam hati setiap credit uion. Menurut Rishi Raj Ghimire, Presiden ACCU dalam sambutan pembukaan, tema tersebut diambil  agar CU-CU di Asia tidak kehilangan jati dirinya; agar gerakan CU di Asia konsisten dan berkomitmen penuh melaksanakan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip credit union dari Raiffeisen.  Tema tersebut juag dipakai sebagai peringatan 200 tahun kelahiran Raiffeisen (1888-2018).

ACCU Forum 2018

Asia Forum tahun 2018 berisikan lima agenda. Yakni lokakarya, kunjungan ke koperasi/CU, forum terbuka, seminar tematik dan RAT ACCU. Dalam lokakarya dibahas tiga  tema besar selama tiga hari. Pertama tentang perempuan dan pemuda. Kedua tentang kepemimpian manajemen CU (CEO). Ketiga lokakarya sekaligus uji coba modul pelatihan ACCU Nomor 24 tentang “Membangun Kepemimpinan Transformatif”. Modul ini merupakan lanjutan dari modeul sebelumnya, yakni MYFO: managing Youslef For Others.

Kesepakatan lokakarya modul Diklat tersebut adalah ACCU akan melakukan ToT  dengan peserta utusan dari setiap negara; untuk selanjutnya Federasi Nasional melakukan ToT untuk para peserta dari Puskopdit-Puskopdit. Hari keempat para peserta melakukan studi banding dan kunjungan ke sejumlah koperasi/credit union di sekitar kota Manila.

ACCU Forum secara resmi dibuka oleh Presiden ACCU, Rishi Raj Ghimire. Ghimire mengajak seluruh insan credit union, koperasi untuk konsisten melaksanakan prinsip dasar pendiri CU, Raiffeisen, yakni “helping people to help themselves”. Ia juga mengingatkan agar CU di Asia, federasi di berbagai negara agar melakukan integrasi gerakan supaya CU tetap eksis, sehat dan berkelanjutan.

Setelah seremonial pembukaan dilaksanakan Open Forum, semacam kuliah umum dari sejumlah aktivis/praktisi credit union dan tokoh credit union dalam beberapa tema. Setelah kuliah umum peserta dibagi dalam berbagai seminar dengan 9 tema khusus.

Salah satu pembicara dalam kuliah umum adalah Andreas Kappes, Kepala Departemen Hubungan Internasional dan Sekretaris Jenderal International Raiffeisen Union dengan tema: “Raiffeisen, Great Idea”. Kappes mengatakan bahwa lebih dari 22 juta orang di Jerman dan lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia saat ini adalah anggota credit union. Mereka bekerja di tim kecil, lokal maupun di perusahaan internasional. “Tujuan Tahun Raiffeisen 2018 juga untuk menyatukan orang-orang ini di bawah satu atap, untuk mengumpulkan kekuatan mereka dan untuk menunjukkan koperasi sebagai model masa depan,”paparnya.

Ia mengajak semua insan credit union untuk menghormati ide hebat Raiffeisen;  tidak hanya dimaksudkan untuk mengingat Raiffeisen dan perjuangannya; tetapi juga untuk mempromosikan ide tentang bagaimana koperasi menangani krisis keuangan, berkontribusi pada pencapaian SDG, khususnya pada tujuan pada kemiskinan, pemberdayaan perempuan, pendidikan untuk semua dan lingkungan.

“Gagasan Raiffeisen begitu kuat sehingga UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) mengakuinya sebagai Raiffeisen sebagai Warisan Budaya Tak Berwujud. Di atas segalanya, ini adalah waktu bagi semua pemimpin credit union untuk merefleksikan sejauh mana kita telah melakukan kerja sama. Apa yang tidak bisa dilakukan sendiri, bisa dilakukan bersama,”ajak Kappes.

Pada hari kedua sesi pleno juga dipaparkan tentang e-paymen platform yang dipakai seluruh koperasi kredit di Philiina yang diberi nama “Kaya”. Melalui aplikasi ini anggota dapat menabung, membayar pnjaman, mengirim uang dan melakukan transaksi jual beli online. Juga dilakukan demo demo pembayaran Kaya yang melakukan Kode Biru (blue code), pembayaran token QR atau barkod.

Tata Kelola dan Generasi Milenial

Tema-tema dalam seminar antara lain “Membangun Model Tata Kelola untuk CU” dengan narasumber Helmut Pabst, Direktur Proyek, Kantor Hanoi, Vietnam, Koperasi Jerman

DGRV dan Konfederasi Raiffeisen; “Mengukur Dampak Layanan Credit Union”; “memahami generasi milenial”; serta sharing pemimpin CU. Diantara tema-tema tersebut, seminar tentang tata kelola credit union sesuai ACCESS Branding dan bagaimana generasi milenial digarap CU hangat diperbincangkan.

Agar CU sehat, eksis dan berkelanjutan maka penerapan tata kelola CU berbasis ACCESS Branding tidak bisa ditawar, mutlak harus dilaksanakan.

Untuk keberlanjutan gerakan CU/koperasi, maka CU harus pro akif mengajak dan melibatkan generasi milenial dalam berbagai aktivitas CU. Mau tidak mau, suka tiak suka, generasi milenial sekarang inilah yang kelak akan menentukan masa depan,keberlanjutan gerakan credit union.

Sharing pengalaman pimpinan credit union menghadirkan Dolly Goh, Chief Executive Officer, Federasi Kooperasi Nasional Singapura Ltd; Babu Markus Gomes, Presiden, The Christian Cooperative Credit Union Ltd., Dhaka, Bangladesh dan Ablong, William E., Ketua, Koperasi Serba Guna DCCCO, Filipina. “Menjadi pemimpin CU adalah peluang  (yang orang lain mungkin tidak miliki) untuk mempengaruhi komunitas Anda atau negara Anda dan mengubah kehidupan anggota Anda,”ujar Goh dalam kesaksiannya.

Sertifikat Access

Pada acara pembukaan diumumkan penerima sertifikat ACCESS Branding Tahun 2018. Kabar gembira bagi gerakan credit union di Indonesia karena satu diantara delapan penerima sertifikat ACCESS Branding kategori Silver (dua dari Philipina; 5 dari Nepal). Penghargaan tersebut diterima Credit Union Sauan Sibarrung  (CUSS) dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tahun 2017 CUSS memperoleh kategori bronze. CUSS adalah satu diantara 43 CU anggota Puskopdit BKCU Kalimantan.

Kategori Bronze (perunggu) diberikan kepada 15 koperasi yang semuanya dari Nepal. Antara lain Budol Samudayik Saving and Credit Co-operative Society Ltd, Koliya Saving and Credit Co-operative Society Ltd., dan KisanSaving and Credit Co-operative Society ltd.

Menurut ACUU, koperasi/credit union yang menerima sertifikat ACCESS Branding telah membentuk dan menerapkan sistem manajemen yang dapat menyalurkan energi, kemampuan, dan pengetahuan khusus yang dimiliki oleh orang-orang dalam organisasi untuk mencapai tujuan strategis jangka panjang pada perspektif Keuangan, Anggota Pelanggan, Proses Bisnis Internal, dan Pembelajaran dan Pertumbuhan. “Audit dilakukan dan didokumentasikan dalam sebuah laporan. Bukti telah dilengkapi bahwa persyaratan sesuai dengan standar ACCESS terpenuhi. Klarifikasi lebih lanjut mengenai ruang lingkup sertifikasi ini dan penerapan Merek ACCESS dapat diperoleh dengan berkonsultasi dengan organisasi. Sertifikasi berlaku mulai 1 September 2018 hingga 31 Agustus 2019,”jelas Leanita, CEO ACCU dalam pengumuman penerimaan sertifikat ACCESS.***

 

Oleh Edi Petebang,

Ketua Puskopdit BKCU Kalimantan  

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *