Ada Potensi Pasar Ekspor untuk Plastik Daur ulang

Dengan 17.504 pulau, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki panjang garis pantai mencapai 95.181 kilometer, terpanjang keempat di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat dan Rusia. Dan 65% dari total 467 kabupaten – kota yang ada di Indonesia berada di kawasan pesisir.

Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) sensus penduduk tahun 2015 tercatat 238.518.000 jiwa. Tahun 2020 BPS akan mengadakan sensus penduduk. Diperkirakan jumlah penduduk meningkat menjadi 271.066.000 jiwa. Sebagian terbesar, lebih 80% hidup di kawasan pesisir.  

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Jenna Jambeck dari University of Georgia tahun 2015 terhadap 192 negara partisipan yang memiliki garis pantai, termasuk Indonesia menyebutkan bahwa jumlah keseluruhan sampah yang dihasilkan negara partisipan mencapai 2,5 miliar metrik ton, dan 275 juta metrik tonnya – setara 10%, plastik. Sebanyak 8 juta metrik ton sampah plastik itu mencemari laut. Dan yang mengejutkan, Indonesia dinyatakan sebagai kontributor sampah plastik terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok dengan estimasi laju input 0,48 – 1,29 juta metrik ton per tahun.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total jumlah sampah Indonesia di tahun 2019 mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14% dari total sampah yang ada. Hingga akhir tahun 2020 KLHK menargetkan pengurangan sampah plastik hingga 2 juta ton. Untuk itu diperlukan upaya sistematis pengarusutamaan ekonomi lingkungan yang berkelanjutan.

Majalah UKM merangkum diskusi tentang problem penanganan sampah dari aktivis lingkungan hidup, pelaku daur ulang dan pemerintah. Narasumber dalam diskusi tersebut adalah; Sekretaris Direktorat Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PSLB3 KLHK) Suaib Muhadar. Direktur Eksekutif Sustainable Waste Indonesia Dini Krisyanti. Direktur Sustainability Development PT Danone Indonesia Karyanto Wibowo, Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) Jabodetabek Daniel Lorence dan Direktur Eksekutif Divers Clean Action Swietinia Puspa Lestari, tersimpul bahwa persoalan sampah perlu ditangani secara serius dan fokus oleh semua pihak.

Dicontohkan, Jepang yang rakyatnya terkenal kedisiplinannya yang tinggi, dalam mengelola sampah sangat baik. Sebelum dibuang ke tong sampah, misalnya, warga memilah sampah sesuai katagori. Ada 4 katagori sampah yang harus dipilah; 1. Moeru gomi – sampah dapat dibakar, seperti kertas (tisu, popok bayi) dan sisa makanan. 2. Moenai gomi – sampah tak bisa dibakar, seperti logam, periuk, kaca, dan sebagainya. 3. Sodai gomi – sampah besar, seperti barang elektronik, sepeda, kulkas, dan teve. 4. Shigen gomi – sampah yang bisa didaur ulang, seperti kaleng, botol plastik, kertas koran atau majalah bekas.

Sampah-sampah tersebut dimasukkan ke kantong plastik transparan secara terpisah sesuai jenisnya. Di Negeri Sakura, kantong-kantong pembungkus itu berwarna-warni, misalnya, warna kuning untuk sampah makanan, warna putih untuk sampah plastic, warna hijau untuk sampah organik. Setelah penuh, sampah tersebut dibuang ke tong sampah sesuai katagorinya. Di sana juga ada jadual pengambilan sampah sesuai katagori sampah. Sampah-sampah itu kemudian dikirim ke industri daur ulang untuk disulap menjadi barang yang bisa digunakan kembali dan bernilai ekonomi tinggi.

Contoh lain, Swedia, negara ini juga berhasil mengelola sampahnya menjadi energy dan barang-barang yang dapat dimanfaatkan kembali. Ini salah satu circular economy – ekonomi sirkuler – ekonomi melingkar yang bisa menjadi contoh Indonesia. Negara ini mampu mengelola 90% sampahnya didaur ulang dan hanya 1% sampah residu yang masuk ke TPA. Uniknya, negara ini juga mengimpor sampah sebanyak 800.000 ton dari beberapa negara Eropa seperti Inggris. Sampah itu untuk menambah volume sampah yang dihasilkan warganya sebanyak 4,4 juta ton per tahun sampah rumah tangga. Dari jumlah itu dikonversi jadi energy atau waste to energy (WTE) dan sisanya didaur ulang.

Karena paham, sampah bermanfaat dan mempunyai nilai ekonomi, perspektif masyarakat tentang sampah pun berubah. Dengan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, mereka memilah sampah mulai dari rumah, tempat usaha hingga perkantoran. Sampah itulah yang dikirim ke WTE. Di pabrik WTE sampah dibakar dan uapnya digunakan untuk memutar turbin yang dapat memproduksi listrik.

Listrik yang dihasilkan dapat mencukupi kebutuhan panas bagi 950.000 rumah tangga dan memasok listrik bagi 2.600 rumah, memasok listrik untuk transportasi publik di kota Stockholm, Swedia. Lalu sampah jenis lainnya, sampah kertas didaur ulang jadi kertas, sampah plastik didaur ulang jadi perabotan rumah tangga, dan sampah organik jadi kompos atau gas.

Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) menyebut saat ini daur ulang plastik masih dipandang sebelah mata di domestik. Padahal plastik daur ulang di Eropa sudah dianggap sebagai salah satu solusi pengelolaan limbah yang cukup efektif. Ketua Umum ADUPI Christine Halim menyebut dari total plastik daur ulang yang dilakukan oleh anggotanya sebanyak 70%-nya diekspor ke luar negeri.

Selain harganya lebih kompetitif, apresiasi pasar di luar negeri juga lebih besar ketimbang market domestik. Barang-barang produk daur ulang yang diekspor ke Eropa dengan harga lebih mahal 50%. Kalau domestik hanya US$ 800, bila diekspor bisa US$ 1.200 per metrik ton. Menurut data di Kementerian Perindustrian, secara nasional kebutuhan plastik 7,2 juta ton, namun kita baru mampu memproduksi 3,2 juta ton saja. Kekurangannya disupply dari industri daur ulang. Namun mereka baru bisa mengisi supply 1 juta ton saja.

***

Marine debris – lebih dikenal sebagai sampah yang dihasilkan dari proses antropogenik berupa sampah padat (didominasi plastik) yang berada dalam ekosistem laut, baik yang sengaja atau tidak, berpotensi mengurangi daya dukung kelautan dan terjadi proses pencemaran. Sampah plastik yang bersifat polimer, kini dihasilkan dalam jumlah besar jadi sorotan utama sumber marine debris dan ramai diperbincangkan.

Tak dapat disangkal, kehidupan manusia sekarang ada ketergantungan terhadap plastik. Sifat materialnya yang kuat, elastik, tahan lama dan secara ekonomi terjangkau menjadikan penggunaan material plastik melampaui sebagian besar materi buatan manusia lainnya. Plastik dapat terfragmentasi menjadi ukuran lebih kecil dan memiliki peluang besar untuk terkonsumsi oleh bio laut, bahkan oleh invetebrata ukuran kecil sekalipun.

Publikasi Purnaningrum mengungkapkan bahwa komposisi dan material plastik adalah polymer dan zat additive lainnya. Polymer tersusun dari monomer-monomer yang terikat oleh rantai ikatan kimia. Global Environment Facility Council Meeting melaporkan bahwa produksi plastik convensional saat ini sangat tergantung terhadap bahan bakar fosil (gas alam dan minyak bumi) serta sumberdaya air dimana satu kilogram plastik membutuhkan 185 liter air untuk proses produksinya.

Kajian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI tahun 2018 menyatakan bahwa bio laut yang mengkonsumsi plastik dapat mengalami gangguan metabolism, iritasi sistem pencernaan, hingga menyebabkan kematian. Selain itu, sifatnya yang persisten memungkinkan kandungan plastik yang berada lama di dalam tubuh bio laut pindah ke manusia melalui skema rantai makanan. Kajian yang dilakukan lembaga Ocean Conservancy menemukan bahwa 28% ikan di Indonesia mengandung material plastik (telah mengkonsumsi partikel plasik).

Meningkatkan sampah plastik yang dikelola di daratan merupakan salah satu jawaban atas ancaman peningkatan jumlah sampah plastik di laut Indonesia, mengingat 60% sampah di laut berasal dari aktivitas manusia di daratan yang termobilisasi ke laut dan hanya 20%-nya timbul dari kegiatan perkapalan, transportasi dan pariwisata.

Hasil riset juga menyebutkan bahwa produksi sampah plastik di Indonesia  setiap hari mencapai 175.000 ton, 1 tahun hampir mencapai 64 juta ton. Sebenarnya, tidak hanya di Indonesia sampah plastik menjadi masalah pelik. Hampir semua negara di dunia menganggap pelik. Pertanyaannya, apakah kita harus melarang pengunaan semua jenis plastik. Apa ada masalah yang bisa diatasi, tidak menggunakan plastik.

Selain perannya yang cukup vital dalam rantai industri, plastik masih dipandang sebagai produk yang menghasilkan sampah, yang mengotori lingkungan. Hasil riset  menyebut, kurang dari 10% sampah plastik didaur ulang dan lebih dari 50% berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Sisanya berakhir menjadi sampah di lautan. Disisi lain kebutuhan dan ketergantungan yang masih tinggi terhadap plastik menyebabkan konsumsi plastik dipredikisi masih akan terus meningkat.

Saat ini konsumsi plastik orang Indonesia rata-rata sekitar 22 Kg per kapita per tahun. Ke depan dengan adanya teknologi baru jumlah itu bisa ditingkatkan mencapai 40 Kg per kapita per tahun. Jumlah tersebut tidak mungkin dicapai tanpa peran serta industri daur ulang. Untuk itu diperlukan setrategi kebijakan yang tak hanya fokus pada pengendalian, namun juga langkah solutif dalam manejemen dan pemanfaatan sampah plastik. Termasuk pengelolaan sampah plastik berbasis circular ecomoy – ekonomi sirkuler – melingkar yang kini dikembangkan sejumlah industri. Model ekonomi sirkuler memungkinkan sampah plastik diolah sehingga memiliki nilai ekonomi.

Daur ulang menjadi tumpuan untuk mengurangi timbulan sampah plastik dengan memproses menjadi barang yang bernilai ekonomi. Namun, penyerapan industri daur ulang saat ini belum optimal. Menurut catatan KLHK, serapan industri daur ulang untuk sampah plastik masih rendah, kisaran 10% – 12%. Minimnya serapan daur ulang menjadi indikator dominannya sampah plastik yang berakhir di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Ekonomi sirkular untuk mengatasi masalah sampah yang membanjiri tempat pembuangan, dan kelangkaan bahan baku plastik. Salah satu mata rantai penting penopang ekonomi sirkular, keberadaan bank sampah. Data di KLHK ada sekitar 7.500 unit bank sampah di seluruh Indonesia. Namun kontribusinya mengurangi sampah nasional baru 1,7%. Bank sampah diharapkan tumbuh lebih banyak untuk menyuplai industri daur ulang. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) sepakat daur ulang menjadi bagian penting dalam menciptakan ekonomi sirkular.

Konsep ekonomi sirkuler dapat lebih mudah dipahami jika meninjau aspek alam, dimana semua sistem kehidupan berfungsi secara maksimal karena satu sama lain komponen saling mempengaruhi. Produksi barang dilakukan dengan mendesain material agar dapat didaur ulang sehingga selalu ada nilai tambah dari setiap perubahan yang dilakukan dan menekan residu sampah hingga nol.

Implementasi dari ekonomi sirkuler membutuhkan keterlibatan dan komitmen tinggi dari berbagai stakeholders. Peran pemerintah adalah menyiapkan kerangka analisis acuan, aspek perencanaan, meyakinkan sektor industri dan bisnis, mendorong kesadaran konsumen, menguatkan keuntungan yang bisa dirasakan masyarakat luas.

Sektor bisnis perlu mendesain ulang supply chains secara keseluruhan untuk efisiensi sumber daya dan sirkularitas. Pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) disertai dengan transisi perubahan sosial yang baik menjadi motor utama program sirkuler ekonomi dapat terlaksana. Bentuk transisi yang menjadi fokus dalam sirkulator ekonomi adalah; reusing, repairing, refurbishing dan recycling produk dan material yang ada – dikenal sebagai sampah – menjadi sumber daya terbarukan.

Ekonomi sirkuler merupakan alternatif terhadap skema pengelolaan sampah yang linier, proses produksi, penggunaan, model ekonomi dimana mempertahankan sumber daya yang digunakan selama mungkin, untuk mengekstrak nilai maksimum yang ada dalam mekanisme penggunaan, re-cover produk, dan regenerasi produk atau material pada sisa usia penggunaannya. Ekonomi sirkuler mempromosikan model produksi dan konsumsi yang bersifat restoratif dan regenearif melalui suatu desain.

Desain yang dirancang harus dipastikan bahwa nilai produk, material maupun sumber daya diatur dalam skema ekonomi pada tingkat tertinggi utilitas dan nilai (dalam jangka waktu yang lama) dengan mengurangi produksi sampah. Konsep sirkukerl sirkuler dapat diimplementasikan terhadap aspek biologis maupun teknis dari material. Sistem ini mampu meningkatkan inovasi dan pemikiran untuk memastikan aliran material yang berkelanjutan melalui value circle bersama dengan industri manufakatur, sektor bisnis dan pemerintah.

Industri daur ulang plastik saat ini masih memiliki kapasitas menganggur 20%. Jika dioptimalkan, produksi daur ulang plastik bisa mencapai 2 juta ton per tahun. Utility industri daur ulang kini 80%, artinya masih idle. Masalahnya, sampah plastik dari hilir kerap tercampur dengan sampah lain sehingga sulit diproses. Nilainya jadi turun jika tercampur. Kita perlu mengubah paradigma pengelolaan sampah di hilir dari kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-proses.

TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang beroperasi sejak 1989, luas lahan 113,15 hektar terdiri dari landfill 81,40 hektar dan sarpras 23,30 hektar. Kapasitas total timbulan sampah mencapai 7.708 ton  per hari. Komposisi dan karakteristik sampahnya 43% sampah organik dan 35% plastik yang bisa didaur ulang – Poly Ethylene Terephthalate (PET).

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang jadi lokasi pilot project Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), proyek kerja sama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan Pemprov DKI Jakarta. Kapasitas 100 ton per hari, PLTSa menghasilkan output listrik hingga 700 Kw per jam, digunakan untuk keperluan internal PLTSa. Tahun 2020 PLTSa ditargetkan beroperasi penuh.

Pola pengelolaan sampah di TPST Bantar Gebang terlihat cukup menjanjikan. Ekonomi sirkuler pun mulai dijalankan. Dahulu sampah hanya menjadi sampah (waste to waste), kini dapat menjadi energi (waste to energy). Sesuatu yang positif – prospektif. Sejumlah terobosan yang dilakukan di TPST Bantar Gebang dengan landfill mining, pemanfaatan gas metana, dan PLTSa, jadi percontohan di Indonesia. Kedepan sampah jangan dilihat sebagai hal yang tidak berguna, tetapi harus berguna secara ekonomi. 

Komitmen penerapan ekonomi sirkular juga dibutuhkan dari produsen kemasan plastik. Produsen penghasil kemasan plastik bakal diwajibkan mengurangi sedikitnya 30% produksi dalam jangka waktu 10 tahun ke depan. Produsen juga akan diwajibkan mengambil kembali sampah kemasan plastik untuk didaur ulang. Regulasinya tengah dipersiapkan oleh pemerintah.

Tanggung jawab produsen akan berlaku secara fair bagi semua sektor penghasil kemasan plastik baik itu manufaktur, retail dan pusat perbelanjaan, serta industri jasa makanan dan perhotelan. Sampah menjadi tanggung jawab bersama bagi semua produsen. Peran mereka sangat penting dalam pengurangan sampah. (adit – mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *