Agung Sudjatmoko : 5 Sehat Koppas Kranggan Harus Dipertahankan

Koperasi Pedagang Pasar Kranggan (Koppas Kranggan) tumbuh dan terus berkembang maju dan besar karena pendekatan sosial dan budaya. Sosiokultur yang ada di Kranggan sangat berbeda dengan sosiokultur yang ada di daerah lain. “Dengan di daerah Jagasampurna, tidak jauh dari Kranggan saja sudah berbeda,” tutur Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Pusat, Agung Sudjatmoko, saat bedah buku berjudul; Membangun Ekonomi Rakyat Melalui Koperasi, yang ditulis wartawan Majalah UKM, D. Marjono, sebelum acara Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koppas Kranggan tahun buku 2017 yang dilaksanakan pada 27 Januari 2018, di Kantor Pusat Koppas Kranggan.

Di Koppas Kranggan, lanjutnya, anggota bisa menabung di rumah karyawan atau pengurus. Itu dulu, ketika Koppas Kranggan masih berkantor di salah satu pojok pasar. Menabung pun bisa malam hari, atau hari-harilibur, karena pasar tidak pernah libur kecuali Lebaran. Selama anggota punya uang, daripada uang itu disimpan di rumah lebih baik datang saja ke pengurus atau manajemen, ditabung.Dan itu diterima. Sekarang, Koppas Kranggan sudah menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia dan meraih predikat koperasi berprestasi nasional. Walau manajemennya sudah modern pelayanan kekeluargaan tetap dipertahankan. AnimImamudin, S.E., M.M. sebagai Ketua Umum Koppas Kranggan, misalnya, tetap preventif untuk melayani anggota di hari-hari besar, seperti libur Lebaran. Kalau ada anggota dalam kondisi darurat butuh uang untuk biaya rumah sakit, bisa dilayani.

Pendekatan sosiokultural, lanjut Agung, ada nilai-nilai penting yang dilayani Koppas Kranggan terhadap anggotanya. Pertama, pengurus dan manajemen dalam membangun Koppas Kranggan dengan sepenuh hati. Segala sesuatu jika dilakukan dengan keikhlasan, dan sepenuh hati pasti berhasil. Kedua, adanya nilai kekeluargaan,  kebersamaan, ditambah dengan nilai kejujuran, koperasi itu pasti berhasil. “Coba kalau datang ke rumah pengurus atau manajemen menabung pas hari Sabtu malam, masih ada satu hari, Mingu, sebelum dibawa ke kantor, dikuntit sedikit tidak ketahuan. Jika pengurus dan manajemen tidak punya hati keikhlasan dan kejujuran pasti uang tabungan anggota itu akan berkurang. Ternyata, hal itu tidak terjadi,”  kata Agung.

Kejujuran dan keikhlasan itu sama dengan nilai-nilai koperasi. Menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, kejujuran dan tanggung jawab bersama, adalah nilai-nilai dasar koperasi. “Jadi, membangun Koppas Kranggan seperti yang terurai dalam buku ‘Membangun Ekonomi Rakyat Melalui Koperasi’ ditambah dengan teori dan nilai-nilai atau prinsip koperasi sudah klop – sudah benar. Dan buku tersebut bukan buku untuk pencitraan, melainkan otobiografi organisasi Koppas Kranggan, plus pejuang-pejuang Koppas Kranggan,” tegasnya.

Dalam buku itu juga menyoroti; tidak mungkin anggota bisa sejahtera, tidak mungkin Koppas Kranggan bisa berkembang dan maju sampai mempunyai aset di atas Rp100 miliar, jika tidak ada usaha yang dikembangkan. Membangun ekonomi itu jauh lebih penting. Agung sangat mengapresiasi anggota yang menyimpan uang Rp100 juta,  transaksi bisnisnya sampai Rp1 miliar lebih, dan  akhirnya mendapatkan pembagian sisa hasil usaha (SHU) Rp60 juta. “Memang betul, SHU-nya 60% dari simpanan, tetapi tidak semua orang bisa melakukan hal seperti itu. Apa yang dilakukan anggota tersebut harus menjadi inspirasi anggota yang lain,” tegasnya.

Membangun keberdayaan ekonomi masyarakat – anggota, kata dia, harus ditunjang dengan manfaat ekonomi. Sebab, lahirnya koperasi karena kebutuhan ekonomi. Dalam perspektif teori dasar definisi koperasi secara umum bahwa koperasi mempunyai dua sisi; satu sisi sebagai organisasi sosial, karena koperasi merupakan kumpulan orang yang mempunyai kepentingan sama di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Di sisi lain, koperasi juga merupakan sebuah perusahaan untuk memenuhi kebutuhan anggotanya dalam perspektif ekonomi, sosial, dan budaya.

Yang ketiga; harapan, keinginan dan upaya untuk bisa membangun kekuatan ekonomi bersama. Keberhasilan koperasi sangat tergantung anggotanya. Anggota yang bukan hanya diam sebagai anggota, tetapi anggota yang aktif berpartisipasi. Kalau jumlah anggota penuh ada 400-an, sedangkan calon anggota 30.000 orang lebih, berarti partisipasinya sudah lebih tinggi dibandingkan koperasi lain. Mereka bukan hanya partisipasi pinjam uang, tetapi partisipasi modal juga menjadi penting.

Menurut para tokoh koperasi seperti Prof. Dawam Rahardjo, Prof. Thobi Mutis, dan Ibnoe Soedjono, partisipasi itu ada dua jenis, yaitu partisipasi organisasi dan partisipasi usaha. Di dalam koperasi ada dua fungsi anggota. Pertama, sebagai pemilik, dan kedua sebagai pengguna – pelanggan koperasi harus lebih banyak menyimpan sekaligus banyak memimjam. Jangan kebalik, atau tidak seimbang. Kalau anggota punya uang di bawah Rp10 juta, pesan Agung, jangan disimpan di bank. Sebab hanya mendapatkan kemudahan, setiap saat bisa ambil uang di ATM.

Tabungan itu tidak akan mendapatkan nilai tambah. Bahkan akan habis untuk biaya adminstrasi yang dibebankan oleh bank. Biaya administrasi Rp10.000 per bulan, ditambah biaya ATM Rp1.000 per transaksi. Karena itu, kalau uangnya di bawah Rp10 juta, tabung saja di koperasi pasti lebih menguntungkan dibandingkan ditabung di bank. Kedua, partisipasi organisasi, lebih pada anggota sebagai pemilik dengan aktif mengikuti rapat anggota yang diselenggarakan lembaga.

Partisipasi bisa dibangun jika koperasi melaksanakan pendidikan secara holistik. Bukan hanya pendidikan mensosialisasikan bagaimana berkoperasi secara benar, tetapi pendidikan yang mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilan anggota untuk berusaha. Pendidikan pengelolaan usaha menjadi lebih baik, manajerial tentang permodalan, produksi, pemasaran dan sebagainya. Pendidikan silahturahmi dengan banyak orang. Karena lebih banyak bersilahturahmi akan memperluas sumber rezeki.

Pendidikan bukan setiap waktu, sebulan sekali atau setahun sekali, di ruang kelas. Komunikasi ketua umum dan jajaran pengurus datang ke lokasi, sentra-sentra kelompok anggota juga proses pendidikan. Karena pendidikan sejatinya adalah komunikasi dua pihak untuk saling memberdayakan dan saling memberi informasi. Jika tidak ada komunikasi yang intensif di antara pengurus dengan anggota, koperasi tidak akan cepat berkembang dan maju.

Mempersiapkan regenerasi pengurus dari kalangan muda potensial dan membangun sistem manajerial yang baik, upaya menjaga keberlanjutan koperasi. Siapa pun yang akan menggantikan pada saatnya nanti sistem di Koppas Kranggan akan dapat berjalan dengan normal. Sebagai pimpinan Dekopin Pusat, Agung memberikan apresiasi luar biasa kepada seluruh jajaran Koppas Kranggan, karena dengan tekun dan penuh semangat bersama-sama membangun Koppas Kranggan yang akhirnya menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia dan berprestasi nasional. Secara subjektif, Agung juga mengatakan bahwa Koppas Kranggan mampu meraih 5 S yaitu; Sehat organisasi, Sehat Usaha, Sehat Modal, Sehat Manajemen, dan Sehat Anggotanya. “Lima sehat itu perlu dipertahankan agar Koppas Kranggan tetap berkelanjutan,” tegasnya. (my)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *