Ambu Naptamis, S.H., M.H. : Kopdit CU Betang Asi Menuju Access Branding

“Memasuki tahun 2018, kita harus memperkuat kebersamaan dalam semangat kerja sama, kerja bersama menuju CU yang tangguh, sehat, dan berkelanjutan,” tegas Ketua Koperasi Kredit (Kopdit) Credit Union (CU) Betang Asi, Ambu Naptamis, S.H., M.H., saat menyampaikan sambutan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) Konsolidasi tahun buku 2017 Kopdit CU Betang Asi, tanggal 9 – 10 Februari 2018 di Pusat Pelayanan dan Pembinaan Kristen, Kalimantan Tengah.

Sebagai pertanggungjawaban pengurus dan pengawas, menurut ketua panitia RAT, Yohanes Changking, CU Betang Asi selalu melaksanakan RAT secara rutin sejak didirikan 2003, sehingga RAT tahun buku 2017 yang mengambil tema; “Bersama Kita Bangun, Jaga Credit Union (CU) Yang Sehat, Kuat, dan Berkelanjutan Menuju ACCESS BRANDING” merupakan RAT ke-14. “Ini membuktikan bahwa Kopdit CU Betang Asi sejak berdiri dikelola dengan baik dan taat azas, sesuai Undang-undang (UU) No. 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian,” jelasnya.

Dijelaskan pula bahwa RAT dilaksanakan mulai dari tingkat kantor wilayah pelayanan (TP). Peserta RAT Konsolidasi terdiri dari utusan 8 TP dan 11 TPK (Tempat Pelayanan Khusus) sebanyak 125 orang sebagai representasi dari 38.706 anggota, staf dan manajemen 159 orang, kolektor dan kelompok inti 104 orang, komite pemberdayaan 4 orang, calon pengurus dan pengawas 6 orang dan panitia pemilihan pengurus dan pengawas 5 orang. Biaya RAT sebesar Rp370 juta berasal dari penyisihan hasil pendapatan CU Betang Asi dan iuran swadaya anggota Rp20.000 per anggota.

Segala hal yang sudah dilewati, kata Ambu, harus dijadikan pelajaran untuk lebih baik guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan, pelayanan sebagai upaya menjaga dan memelihara lembaga. Kopdit CU Betang Asi juga harus mampu menjalankan misinya, meningkatkan kualitas hidup anggota. Misi mulia credit union harus terus menginspirasi dan memotivasi untuk bekerja lebih baik, lebih keras, dan lebih cerdas.

Meniti perjalanan sepanjang tahun buku 2017, kata Ambu, Kopdit CU Betang Asi menghadapi banyak tantangan. Belajar dari pengalaman, optimalisasi pemanfaatan dari layanan CU Betang Asi secara produktif harus menjadi perhatian serius. Semangat kewirausahaan anggota harus terus menerus didorong secara inovatif dan kreatif. Pemanfaatan kemajuan teknologi sesuatu yang wajib. Jika diabaikan, bisa dipastikan CU Betang Asi yang kini (2017) memiliki aset Rp728,594 miliar, akan tertinggal. “Kopdit CU Betang Asi harus mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karenanya perubahan yang ada harus menjadi kesadaran kolektif agar lembaga tanggap terhadap situasi dan kondisi yang menuntut kita berubah melalui berbagai inovasi,” urai Ambu.

Dalam pengembangan Kopdit CU Betang Asi, lanjut dia, Pengurus, pengawas, dan manajemen selalu komit, konsisten, dan patuh dengan ketentuan tata kelola yang baik. Pengalaman di berbagai tempat, ketika sebuah CU primer abai terhadap tata kelola yang baik, maka akan menghadapi masalah. Kopdit CU Betang Asi sejak berdiri 2003 dengan sungguh-sungguh memperhatikan ketentuan tersebut, terus mengikuti dan mempelajari perkembangan keilmuan Credit Union dengan tetap teguh menjaga misi muliannya; menyejahterakan orang-orang kecil, miskin dan terpinggirkan. Untuk mendukung komitmen dan konsistensi itu, peningkatan kapasitas dan kaderisasi pengurus, pengawas, dan manajemen diseriusi secara tersistematis serta terorganisir dengan baik.

Sejalan dengan harapan dan tekad kolektif, Kopdit CU Betang Asi ingin menjadi andalan alat pemberdayaan komunitas. Karenanya, Kopdit CU Betang Asi harus dijalankan dengan benar dan baik. Dalam gerakan CU Asia, Association of Asian Confederation of Credit Union (ACCU) telah menyusun Access Branding sebagai alat untuk memandu agar CU primer dikelola sesuai standar. Dalam Perencanaan Strategis Kopdit CU Betang Asi tahun 2018 – 2020 disepakati untuk mengacu pada ACCESS BRANDING. Untuk mewujudkan harapan tersebut dibutuhkan kesungguhan serta tekad yang kuat dari seluruh insan Kopdit CU Betang Asi.

“Dan tahun ini (2018), atas kesepakatan dan tekad bersama, Kopdit CU Betang Asi memasuki tata kelola baru, mendaftarkan diri mengikuti Access Branding,” tegas Ambu penuh semangat. Access Branding, lanjutnya, adalah alat penilaian untuk kualitas tata kelola. Tentu, zonasi ini memiliki konsekuensi dan implikasi. Dan, Kopdit CU Betang Asi harus siap dengan semua itu. Orientasinya adalah kualitas. Baik kualitas pengurus, manajemen, komite, anggota, dan kualitas pelayanan. Disadari, ke depan masih penuh tantangan. Banyak hal yang harus diperhatikan dan dipenuhi. Segala ketentuan harus diperkuat, di-update bukan di-cupdate. Harus berani, siap mengambil risiko, siap menerima implikasi sebagai tuntutan dan kualitas yang ditetapkan standar tersebut. Karenanya insan gerakan Kopdit CU Betang Asi harus siap menghadapi tantangan tersebut. “Maka, kita membutuhkan kerja sama dan dukungan banyak pihak yang akan membuat kita lebih mampu mengelola tantangan,” jelas Ambu.

Kalau kita memilih opsi Access Branding, kata Ketua Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, Marselus Sunardi, S.Pd., dan melaksanakan tahapan langkah-langkah berdasarkan standar yang diatur oleh CU Asia secara benar, penilaiannya lebih objektif. Bebannya tidak lebih berat jika dilakukan bersama-sama. Access branding, tujuannya bukan semata-mata ingin mendapatkan sertifikat, melainkan untuk peningkatan kualitas dari proses tata kelola, supaya kita benar-benar bisa mengukur diri dengan alat ukur yang standar. “Seperti kita mau mengukur tensi darah, dengan tensi meter kita sudah pasrah sekian per sekian, tidak bisa ditawar dan tidak bisa diubah-ubah lagi. Bila nilainya ingin lebih bagus lagi, berproses lagi,” urainya.

Tata kelola dalam CU, lanjut Sunardi, pengertiannya luas. Disebutkan seluruh proses aktivitas apa saja yang dilakukan di CU. Namun dalam gerakan CU, tata kelola dibagi 3 yaitu; tata kelola internal, tata kelola eksternal, dan tata kelola individual. Dari ketiga tata kelola tersebut ada 10 sub. Puskopdit BKCU Kalimantan pun mengadopsi yang dikeluarkan oleh CU Asia, bukan menciptakan. Yang di CU Asia pun bukan soal enak – tidak enak, melainkan soal standar. “Jika semua dilakukan berdasarkan standar, Anda pas CU. Tetapi bila ini dilakukan, lalu ada yang dipilih untuk tidak dilakukan, baru mirip CU. Tata kelola memastikan kita benar-benar seperti gerakan credit union. Jangan namanya credit union tetapi lebih parah daripada renternir. Atau apa pun motifnya, itu keuntungan kelompok, keuntungan pribadi, bahkan menipu membohongi masyarakat,” pesannya kepada gerakan CU.

Suatu CU mampu meraih Access Branding, kata General Manager (GM) Kopdit CU Betang Asi, Ethos L. Lidin, S.E. dalam perbincangan dengan Majalah UKM, adalah suatu prestasi yang luar biasa, karena mampu membangun CU yang sehat dan berkelanjutan. Dari 817 CU primer di Indonesia baru ada satu CU yang meraih Access Branding (2017), yaitu CU Sauan Sibarrung, Toraja, Sulawesi Selatan, satu jejaring dengan Kopdit CU Betang Asi, yang bernaung di bahwa panji Puskopdit Badan Koordinator Credit Union (BKCU) Kalimantan. Untuk bisa mencapai Access Branding, kata Ethos, diawali dari access – tata kelola dahulu, baru branding-nya. “Jika mampu memenuhi kriteria access, maka CU itu sehat, bukan CU abal-abal, dan bukan pula mirip-mirip CU. Jadi, branding itu seperti mengukur kesehatan CU, dan memberikan penghargaan yang baik” urainya.

Untuk bisa meraih Access Branding, lanjut dia, tidak mudah. Ada 13 indikator, atau 73 item yang harus memenuhi kategori ideal. Sedangkan Kopdit CU Betang Asi yang bisa dikatakan ideal baru sekitar 60%. Sektor keuangan, khususnya terkait kredit lalai harus benar-benar dibenahi. Ada faktor-faktor utama yang saling berkaitan, misalnya; pertumbuhan anggota, pertumbuhan aset, pertumbuhan modal lembaga, pinjaman beredar pada anggota, NPL maksimal 5% dari penjaman beredar, Dalam access itu juga ada yang namanya instrumen balance for cat – keseimbangan. Dari beberapa prespektif harus menyatu, yaitu; perspektif anggota, perspektif keuangan, perspektif tatakelola, perspektif pelayanan, perspektif kepuasan, dan sebagainya. Jika hal itu terpenuhi, maka CU Anda sehat, dan berkelanjutan. Jangan CU itu kelihatan gemuk, besar, tetapi tidak sehat, dan mati siapa yang bertanggung jawab.

Menurut Sunardi, dalam melaksanakan diingatkan, orang CU harus benar-benar melaksanakan three in one – tiga dalam satu paket. Shampoo contohnya, three in one berarti ada shampoonya, ada anti ketombe, dan ada kondisionernya. Semua digabung menjadi satu. Kalau mengaku anggota CU, bukan hanya pengurus – manajemen. Anggota CU adalah semua. Mereka; pengurus, pengawas, dan manajemen harus menyadari diri sebagai anggota. Ketika seseorang menjadi pengurus, namun tidak menyadari sebagai anggota, bisa semena-mena. Hanya bisa membuat aturan-aturan, tetapi tidak bisa melaksanakan. Di CU tidak ada yang seperti itu.

DI CU, aturan yang dibuat oleh anggota, dan regulasinya dimandatkan kepada pengurus berlaku jiga bagi para pengurus, karena pengurus juga anggota. Tidak boleh menjadi pengurus CU bila bukan anggota. Manajemen pun harus merasa sebagai anggota. Dalam three in one, manajemen masuk leader – pemimpin. Jangan sampai manajemen merasa, kami kan pegawai CU. Baik pengurus maupun manajemen, masih harus dilengkapi dengan semangat sukarela. Relawan, merasa terpanggil karena memang harus dilakukan. Yang hidup dengan semangat sukarela itu banyak.

Di CU volunteer – sukarelawan harus tumbuh. Semangat sukarela harus tumbuh dari dalam diri kita karena kita memilih mau bersama-sama. Ketika mendengar ada orang mau masuk CU dia akan pinjam kemudian lari, tidak mau bayar, kita cepat-cepat datang ke CU memberi masukan kepada manajemen – pengurus. Ketika mendengar ada kawan kesulitan, sakit-sakitan, utang di CU mulai macet, dan tidak mampu datang ke CU, secara sukarela kita datang ke CU membantu menyampaikan kepada petugas CU bahwa anggota tersebut sedang menglami masalah.

Sebenarnya, menurut Ethos, sejak 3 tahun silam Kopdit CU Betang Asi telah berupaya untuk mencapai access, tetapi memang tidak semudah yang diperkirakan. Ibarat menjalankan bisnis, aktivitas sehari-hari mestinya berdampak pada laporan kinerja keuangan yang sehat, berdampak pada pengembangan usaha yang terus meningkat, berdampak pada kualitas pelayanan, berdampak pada kepuasan anggota, dan berdampak pada kepuasan staf. “Yang paling berat mengenai instrumen keuangan. Kita harus memenuhi perlindungan terhadap utang lalai dengan lebih banyak cadangan lembaga,” jelas Ethos.

Kriteria NPL ada dua jenis, yaitu NPL di bawah 12 bulan, dan NPL di atas 12 bulan. Kriteria kedua yang sulit terpenuhi, karena NPL-nya masih di atas 5%. Padahal batas atas keduanya maksimal hanya 5%, dan akan lebih baik jika di bawah 5%. Kesulitannya, anggota CU tidak seperti nasabah bank. Nasabah bank, jika tidak sesuai aturan, tidak sesuai kesepakatan yang mengikat bisa diputus begitu saja. Sedangkan anggota CU harus berkelanjutan. Anggota yang mempunyai kredit lalai tidak bisa serta merta diputus begitu saja. Manajemen harus kerja keras, dan mencari solusi untuk menekan kredit lalai.

Lantaran kredit lalai itu bisa berkembang, dan susah dikendalikan sehingga NPL-nya bisa lebih dari 5%. Sedangkan pinjaman di bawah 12 bulan, selalu bisa terpenuhni dengan NPL di bawah 5%. Memenuhi standar modal bersih lembaga juga susah karena ada kecenderungan aset terus bertambah besar. Itu, akibat dari CU memberikan jasa terlalu tinggi pada tabungan, dan simpanan sukarela anggota tak ada batasan, akhirnya menjadi beban lembaga.

Untuk mencapai terpenuhinya 4 perspektif, bagi Kopdit CU Betang Asi tidak terlalu berat,  2 – 3 tahun ke depan tercapai. “Tetapi sehat itu bukan hanya dalam waktu tertentu, melainkan harus berkelanjutan. Tidak boleh, misalnya, sekarang sehat, tiba-tiba 1 – 2 tahun kemudian tak sehat. Dan tidak sehatnya lama. Kalau seperti itu, percuma,” tegas Ethos. Karenanya, lanjut dia, sumber daya manusia (SDM) profesional sekarang betul-betul dipersiapkan, dan berkomitmen mengelola CU. Sense of belonging – rasa memiliki harus diterjemahkan secara benar. Bukan, misalnya; karena CU milik saya, maka suka-suka saya menggunakan uang CU.

Salah satu persoalan yang kini harus dihadapi credit union atau koperasi simpan pinjam (KSP) pada umumnya adalah kondisi eksternal – pesaing bisnis yang lain, dengan stimulus-stimulus, dan kemudahan yang diberikan oleh pemerintah terhadap lembaga keuangan lain. Bank contohnya, kredit untuk rakyat (KUR) bunganya terus turun, dari 22% menjadi 11% kemudian turun menjadi 9% dan tahun ini, 2018 turun lagi menjadi 7% per tahun. Hal ini mau tidak mau merupakan pesaing. Sekarang, CU dan KSP pada umumnya mengalami kesulitan menjual uang.

“Bisnis CU yang ideal 70% – 80% simpanan anggota harus beredar kembali ke anggota sebagai pinjaman. Itu juga salah satu persyaratan untuk mencapai access,” tegas Ethos. Menghadapi persaingan sangat ketat, lanjut dia, yang dibangun CU saat ini bukan dengan jasa murah, tetapi bagaimana membangun rasa memiliki. Itulah hakikat berkoperasi; dari anggota oleh anggota untuk anggota. Karena itu yang dibangun adalah komitmen dan militansi anggota. Jika anggota pinjam di tempat lain, misalnya, itu haram.

Sekarang banyak CU yang pinjaman beredarnya hanya mencapai 50%. Logika bisnis, CU seperti itu tidak sehat, tidak akan memperoleh laba usaha. Biaya modalnya saja tidak tertutup. Melihat bisnis seperti itu, karena merupakan ukuran kinerja, maka pengurus dan manajemen pasti dinilai kinerjanya negatif. Apa pun alasannya, menurut Ethos, CU harus dikelola sebagai bisnis murni. “Anda usaha harus menghasilkan laba. Jika tidak ada untung, bagaimana harus menjelaskan kepada anggota bahwa CU kita sehat. Bagaimana menjelaskan bahwa lembaga ini berkelanjutan, sementara neraca yang ditampilkan minus,” katanya penuh semangat. Di CU, lanjutnya, pendapatan usaha untuk membiayai kegiatan operasional mencapai 70%. Bila pendapatan di bawah 60% tetapi bisa plus, itu membingungkan. Kalau 65% masih bisa plus, tetapi sedikit. (damar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *