Anak Emas Itu Bernama UKM

Energi kreatif dari berbagai usaha mikro, kecil dan menegah (UMKM) di seluruh Indonesia begitu terasa pada pameran karya kreatif diberbagai kegiatan. Boleh dibilang tak ada hari tanpa pameran UMKM, baik tingkat lokal di daerah-daerah, tingkat nasional maupun internasional. Penyelenggaranya pun dari berbagai instansi dan lembaga, baik swasta maupun pemerintah, serta kelompok-kelompok pemerhati dan pegiat UMKM.

Ragam produk kain tradisional, fesyen, kerajinan dan olahan kuliner berkualitas tinggi meyakinkan kita, UMKM mampu mampu menyokong pembangunan ekonomi bangsa dan bersaing di kancah global. Presiden RI Joko Widodo menyatakan bangga atas daya saing produk-produk UKM yang mengalami lompatan dari sisi kualitas. Baik kualitas kemasan, kualitas membangun brand-nya, maupun desainnya. Produk-produk terseut dapat dipasarkan bukan hanya di Indonesia tetapi juga dikoneksikan ke market place global.

UMKM memegang peranan penting sebagai sumber ekonomi baru yang mampu mengakselerasi dan menginklusifkan pertumbuhan ekonomi. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan kita harus menggali potensi sumber-sumber ekonomi baru, dan UMKM adalah salah satunya.

Program pengembangan UMKM unggulan juga merupakan salah satu wujud kontribusi nyata BI dalam perekonomian nasional melalui penciptaan aktivitas ekonomi baru yang dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pengembangan UMKM unggulan dilaksanakan melalui pendekatan Local Economic Development (LED) yang mengedapankan proses penciptaan nilai tambah. Cakupan pembinaannya pun dilakukan dari hulu ke hilir dengan menggalang sinergitas bersama pelaku usaha dan berbagai pihak terkait.

Ketika BI melaksanakan festival Karya Kreaktif Indonesia (KKI) dirancang dengan format seperti perayaan kesuksesan UMKM yang dari tahun ke tahun dibina BI di berbagai daerah. Tahun ini, KKI dirancang secara lebih terintegrasi, tidak sekedar pameran produk unggulan dan pagelaran karya kreatif olahan desainer berbakat, dalam ajang ini ada pula talkshow, workshop, business maching untuk mendukung UMKM meluaskan pemanfaatan saluran digital dan melebarkan sayap untuk ekspor.

Selama 4 tahun menyelenggarakan KKI, business matching baru diadakan tahun ini. Ada 3 business matching pada KKI 2019, yaitu UMKM dengan bank untuk akses pembiayaan UMKM dengan e-commerce untuk pemasaran digital, dan UMKM dengan importer atau aggregator untuk urusan eksport. Hasil kesepakatan-kesepakatan itu membuahkan nilai sekitar Rp 66,52 miliar. selain itu terdapat komitmen antara UMKM dengan buyer dari Korea Selatan, Papua Nugini, dan Singapura dengan total kontrak sebesar Rp 3,2 miliar.

KKI 2019 diharapkan dapat memberikan wawasan dan peluang baru bagi UMKM yang terlibat, sekaligus pengalaman yang menarik bagi pengunjung sehingga lebih mencintai produk okal. Dengan begitu UMKM sebagai tulang punggung perekonomian daerah dan nasional dapat terus bertumbuh. Pelaku UMKM merasa sangat terbantu dengan campur tangan BI. Mereka dibantu untuk membedah produk, mengatur tata kelola keuangan, menerapkan strategi pemasaran yang efektif, dan lain-lain.

Saat ini ada 898 UMKM dari 46 kantor perwakilan BI di seluruh Indonesia. Dari 989 UMKM itu 173 UMKM sudah mendapat pembiayaan perbankan; 91 UMKM sudah ekspor dengan nilai Rp 1,4 triliun selama setahun terakhir, dan ada 355 UMKM yang sudah digital dengan nilai lebih dari Rp 32 miliar. Itu membuktikan bahwa UMKM kita memang benar-benar bisa go export dan go digital.

Produk kreatif UMKM yang ditampilkan pada KKI 2019 terdiri atas kain tradisional, fesyen, kerajinan, makanan, dan minuman olahan termasuk kopi. Produk-produk ini memiliki nilai orentisitas, nilai budaya, mengangkat citra daerah, bernilai ekonomi tinggi, dan berkualitas ekspor. Setiap hari selama pameran, ditampilkan pagelaran karya kreatif hasil kolaborasi para desainer ternama dengan UMKM di berbagai daerah. Para desainer ini mnegolah produk kain dari UMKM menjadi karya baru mernilai tambah tinggi dan siap menembus pasar eksport.

Produk spesifik buatan tangan, berpotensi besar masuk ke pasar global. Dan untuk memperluas jangkauan UMKM bisa memanfaatkan dalam jaringan. Oleh karena itu UMKM didorong untuk tumbuh kian modern dan masuk ke pemasaran dalam jaringan. “Masih banyak peluang, jangan masuk ke produk masal, kita kalah dengan negara-negara yang sudah memproduksi secara masal,” kata Presiden Joko Widodo.

Presiden mengaku melihat adanya peningkatan kualitas akan produk-produk yang dihasilkan. Utamanya, lompatan kualitas yang luar biasa dari sisi pengemasan dan juga pembentukan merek produk yang dijajakan. “Saya melihat produk-produk UKM-UKM yang didampingi, dikawal, dan dibina ada lompatan dari sisi kualitas. Karena itu saya senang dengan adanya inisiatif untuk memasukkan produk-produk UMKM ke dalam pasar digital. Dengan masuk ke pasar digital itu, bukan tak mungkin nantinya produk-produk UKM kita akan merambah hingga mancanegara,” jelas Kepala Negara.

Dalam pameran-pameran bertaraf nasional maupun internasional, produk-produk yang akan ditampilkan perlu diseleksi – dikuratori, agar diketemukan produk-produk premium dan kualitasnya tinggi sehingga dijual dengan harga sedikit lebih mahal pun orang yang beli akan senang. Untuk dapat bersaing dengan negara-negara lainnya, Indonesia harus lebih memfokuskan diri pada kekuatan utama dari sisi kerajinan. Produk-produk handicraft yang penuh dengan keterampilan tangan, handmade, adalah kekuatan kita. Karena produk-produk tersebut kelihatan kelasnya.

Pencanangan gerakan 100.000 UMKM Go Online secara serentak di 30 kota – kabupaten di Indonesia oleh pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai Digital Energy of Asia membektikan membuktikan bahwa UKM benar-benar anak emas. Gerakan yang diadakan di Creative Space Galeri Indonesia Wow, Gedung SMESCO UKM Jakarta bertujuan untuk memfasilitasi dan memberikan kesempatan pada UMKM di berbagai daerah untuk siap bersaing di pasar yang lebih luas.

Pemerintah, Kementerian Koperasi dan UKM bersama Kementerian Kominfo, berkomitmen untuk mengonlinekan 8 Juta UMKM sampai tahun 2020. Komitmen ini menunjukan keberpihakan pemerintah dalam memajukan UMKM sebagai salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia.

Para pelaku UMKM juga akan dibimbing mulai dari proses pengonlinean hingga manajemen dan promosi online. Proses promosi sendiri akan dibantu mulai dari pemotretan produk, deskripsi produk, harga, lalu juga mendapat domain sekaligus hosting secara gratis. Produk-produk UMKM yang telah terdaftar akan dipromosikan dan ditempatkan di marketplace besar seperti Tokopedia, Blibli.com, Elevania, dsb.

Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung G.N. Puspayoga mengatakan bahwa pemerintah dengan upayanya mendukung UMKM telah melakukan beberapa langkah, seperti pembiayaan keberpihakan untuk UMKM dengan menurunkan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi 7%.

Potensi besar UMKM Indonesia juga menarik minat pemodal dari Jerman untuk berinvesati di Indonesia. Empat CEO perusahaan multinasional – Volkswagen, Ferrostaal GmbH, Siemens, dan Accor Hotel, berencana meningkatkan investasi di Indonesia khusus untuk UKM. Penataan ekonomi Indonesia dinilai sudah berada di rel yang benar. Hal ini terungkap pada Business Luncheon yang dihadiri sekitar 80 pengusaha Jerman dan 40 pengusaha Indonesia yang diselenggarakan di Hotel Adlon Kempinski, Berlin, beberapa waktu yang lalu.

Wakil Kanselir Republik Federasi Jerman (RFJ) – Menteri Ekonomi dan Teknologi RFJ Philipp Rosler mengatakan, 70% lebih ekonomi Jerman digerakkan oleh UKM. Untuk meningkatkan kerja sama ekonomi kedua negara, UKM Jerman bersedia berinvestasi di Indonesia. Pemerintah Indonesia pun merespon positif tawaran tersebut. Dalam acara tanya-jawab, sejumlah pengusaha Jerman mempertanyakan kepastian hukum di Indonesia. Mereka mengharapkan Indonesia memberikan kepastian hukum kepada para investor, selain perlunya percepatan pembangunan infrastruktur.

Ekonomi Indonesia sudah melaju di rel yang benar. Ad00a dukungan infrastruktur dan kepastian hukum yang lebih baik, Indonesia akan luar biasa. Indonesia dan Jerman, kata Peter, sama-sama terbesar di kawasannya. Indonesia adalah negara dengan penduduk dan produk domestik bruto (PDB) terbesar di Asean. Sedangkan Jerman adalah negara dengan penduduk dan PDB terbesar di Eropa Barat. Kedua negara juga memiliki wilayah terluas di kawasan masing-masing.

Jerman memiliki luas wilayah daratan 357.021 km persegi atau terluas di Eropa Barat. Sedangkan Indonesia memiliki luas daratan 1,91 juta km persegi dan laut 3,54 juta km persegi. Indnesia, sudah memiliki Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yang antara lain memberikan pedoman kepada para investor. Dalam MP3EI, Indonesia mendorong perkembangan pusat pertumbuhan baru, yakni Medan untuk Sumatera, Bandung dan Surabaya untuk Jawa, Palangkaraya untuk Kalimantan, Makassar untuk Sulawesi, dan Merauke untuk Papua.

Presiden mengimbau media massa untuk ikut membangun optimisme bangsa. Kemajuan Indonesia mendapat apresiasi internasional. Sayang, kalau pers nasional tidak memberikan apresiasi. Terkait ekspor impor kedua negara cukup berimbang. Ekspor utama Indonesia ke Jerman antara lain alas kaki, tekstil, minyak sawit, karet dan produk karet, kopi, cokelat, udang, serta mesin elektrik. Sedangkan impor dari Jerman antara lain mesin, kendaraan bermotor, dan produk kimia.

Perkembangan UMKM di Indonesia tidak terlepas dari dukungan perbankan dalam penyaluran kredit kepada UMKM. Setiap tahun kredit kepada UMKM mengalami pertumbuhannya lebih tinggi dibanding total kredit perbankan. Jumlah pelaku usaha industri UMKM Indonesia termasuk paling banyak diantara negara lainnya, terutama sejak tahun 2014 terus mengalami perkembangan sehingga diperkirakan hingga akhir tahun 2019 jumlah pelaku UMKM di Indonesia akan terus mengalami pertumbuhan.

UMKM memiliki peranan sangat vital didalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia tetapi juga di negara-negara maju. Di Indonesia peranan UMKM selain berperan dalam pertumbuhan pembangunan dan ekonomi, juga memiliki peranan sangat penting dalam mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran. Tumbuhnya usaha mikro menjadi sumber pertumbuhan kesempatan kerja dan pendapatan.

Kontribusi sektor UKM terhadap produk domestik bruto meningkat dari 57,84% menjadi 60,34% dalam 5 tahun terakhir. Serapan tenaga kerja pada sektor ini juga meningkat dari 96,99% menjadi 97,22% pada periode yang sama. Menyadari pentingnya kontribusi UMKM dalam meningkatkan perekonomian Indonesia, 3 BUMN bersinergi dan berkomitmen untuk mendorong peningkatan UMKM, yaitu; PT. Permodalan Nasional Madani, PT. Asuransi Jiwaseraya dan Jamkrindo.

Sebagai orang Indonesia tentu pemandangan dan aktivitas kita sehari-hari tak lepas dari berbagai layanan dan barang hasil kreasi pelaku UMKM. Dimulai dengan aktivitas pagi hari ketika sarapan kita mencari bubur atau kue-kue makanan ringan yang dijual UMKM, membeli kebutuhan pokok di warung dekat rumah, sampai menitipkan anak di playgroupterdekat yang juga adalah UMKM.

Di era digital saat ini, bahkan ada pula yang tidak memiliki toko serta hanya memasarkan produknya secara online, dan belum memiliki perizinan usaha. Pelaku usaha dengan karakteristik tersebut dapat ditemukan disekitar kita baik itu saudara, tetangga, teman atau kita sendiri. Namanya UMKM, namun jangan salah si kecil ini memiliki kontribusi sangat besar secara makro.

Di Indonesia Undang-Undang yang mengatur tentang UMKM adalah UU No. 20/2008. Dalam UU tersebut UMKM dijelaskan sebagai: “perusahaan kecil yang dimiliki dan dikelola oleh seseorang atau dimiliki oleh sekelompok kecil orang dengan jumlah kekayaan dan pendapatan tertentu.” Berikut kriteria kekayaan dan pendapatan di dalam UU tersebut.

Kriteria UMKM dan Usaha Besar Berdasarkan Aset dan Omzet

Usaha dikategorikan ke dalam Usaha Mikro apabila memiliki aset maksimal Rp 50 juta dan omzet maksimal Rp 300 juta per tahun atau sekitar Rp1.000.000 per hari (asumsi beroperasional aktif selama 300 hari per tahun); sementara batas atas omzet untuk Usaha Kecil adalah sekitar Rp8,3 juta per hari; dan batas atas omzet Usaha Menengah adalah sekitar Rp167juta per hari. Kini kita dapat menentukan sendiri apakah usaha yang kita jalankan termasuk dalam usaha skala mikro, kecil, atau menengah dengan merujuk pada kriteria UMKM di atas.

Jumlah UMKM sangat banyak. Jika dibandingkan dengan jumlah unit Usaha Besar yang hanya sekitar 5.000 unit, maka jumlah UMKM lebih dari 10.000 kali lebih banyak! Berdasarkan data di Badan Pusat Statistik (BPS) secara umum bidang usaha UMKM dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu Pertanian dan Non-Pertanian.

Apakah struktur UMKM Indonesia yang sangat didominasi oleh Usaha Mikro ini sehat? Sekitar 98.7% UMKM kita adalah Usaha Mikro, dan struktur seperti ini tidak berubah dari 10 tahun lalu, mengindikasikan bahwa Usaha Mikro kita tak kunjung naik kelas menjadi Usaha Kecil atau Menengah. Namun sebenarnya struktur UMKM di negara yang sudah lebih maju ekonominya, seperti UMKM di Uni Eropa, kelompok mikro juga lebih besar.

Dari data di atas dapat dilihat bahwa ternyata di negara maju jumlah UMKM juga mendominasi proporsi jumlah unit usaha, yaitu 99.8%. Namun jika dilihat komposisi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengahnya, ada sedikit perbedaan dengan Indonesia; karena di Uni Eropa proporsi Usaha Mikro hanya 93%; sementara di Indonesia 98.7%. Terlepas terdapat perbedaan kriteria UMKM di Uni Eropa dengan di Indonesia, bisa diasumsikan bahwa struktur UMKM di negara yang sudah lebih maju lebih sehat daripada yang kita miliki saat ini.

Terlepas dari besarnya peran yang telah diberikan oleh UMKM untuk perekonomian, efektifitas pemberdayaan UMKM selama ini perlu dipertanyakan, karena struktur UMKM kita masih melulu didominasi Usaha Mikro. Selain itu, jika digunakan struktur UMKM di Uni Eropa sebagai benchmark, target pemberdayaan UMKM sangatlah besar. Bagaimana tidak, mendampingi 100 Usaha Mikro untuk naik kelas ke Usaha Kecil dalam 1 tahun saja tidak mudah, success rate 10% saja sudah bagus. Apalagi 3.4 juta? Kalau success rate 10% artinya perlu 34 juta juta pelaku Usaha Mikro yang mendapatkan pendampingan? Jika biaya pendampingan Usaha Mikro selama 1 tahun diasumsikan sekitar Rp12juta per Usaha Mikro, maka akan dibutuhkan anggaran sekitar Rp40.8 trilyun!

Jadi kalau ada kemauan, mestinya bisa disusun suatu program pendampingan Usaha Mikro dengan kurikulum yang terstruktur dengan alat monitoring dan evaluasi pendampingan yang juga jelas, dengan mengoptimalkan Dana Desa. Tapi siapa yang akan menjadi leading sector-nya? Kementerian Koperasi dan UKM RI, Kemendes, Kemenko Perekonomian?

Banyak problem di UKM-UKM kita berkaitan dengan bagaimana membangun brand, bagaimana membuat desain yang sesuai dengan keinginan pasar, bagaimana membuat kemasan agar menarik dibeli dan persoalan-persoalan lain, yang menyangkut modal, yang menyangkut akses pasar. Dengan kehadiran salah satu startup unicorn Indonesia, Bukalapak, ada peluang untuk memecahkan permasalahan tersebut.

Yang pertama, UKM-UKM yang sudah siap bisa langsung masuk ke toko online, ke Bukalapak. Bisa masuk, tetapi banyak yang belum masuk. Hal itu berkaitan dengan problem-problem tadi. Baik yang berkaitan kemasan, membangun brand setiap produk itu tugas kita bersama sama. Tugas pemerintah dan tugas dunia wiraswasta. Bukalapak diharapkan membangun ekosistem online supaya tersambung dengan ekosistem offline-nya.

Artinya seluruh UKM yang ada di Indonesia bisa masuk ke Bukalapak. Sayang kalau melihat sebuah produk, kualitasnya bagus, barangnya bagus, tetapi tidak bisa masuk akses pasar karena packaging-nya yang jelek. Jangan sampai produk kita tidak bisa masuk, bisnis online (dimasuki) barang-barang dari luar. (damianus)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *