Anim Imamuddin, S.E., M.M. Menolak Tawaran Koppas Kranggan Menjadi Bank

Salah satu tradisi, sekaligus promosi cerdas yang dilakukan oleh Koperasi Pasar (Koppas) Kranggan setiap menyelenggarakan kegiatan selalu mengundang tokoh-tokoh masyarakat. Dalam upaya memperkokoh keimanan, mental, dan spiritual karyawan sekaligus membangun militansi anggota yang dikemas dalam pengajian rutin bulanan, misalnya, juga mengundang warga sekitar kantor. Ketika melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT) tahun buku 2018 pada 26 Januari 2019 mengundang Ketua RW, Lurah, Kepala Sekolah, Camat, Danramil, Kapolsek, Pendeta, Kiai, dan tokoh masyarakat lainnya di wilayah Kranggan, Jatisampurna, Jatiasih, Jatirangga, dan sekitarnya.

Inovasi promosi cerdas itu membuahkan hasil luar biasa, berupa kepercayaan dari masyarakat luas. Dicontohkan Ketua Umum Koppas Kranggan, Anim Imamuddin, S.E., M.M. pada RAT ke-31, jumlah penabung (belum menjadi anggota) terus meningkat, kini lebih dari 17.000-an orang. “Ini kepercayaan yang luar biasa. Jumlah anggota biasa sebagai pemilik Koppas Kranggan memang baru 400-an. Apakah masyarakat yang ingin menabung di koperasi, karena percaya kepada koperasi tidak boleh dan harus ditolak? Masyarakat tertarik menabung di Koppas Kranggan karena mudah menabung, pengurusnya jujur, uangnya pasti aman, dan mudah ambil,” urai Anim.

UU No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian, memang mengamanatkan bahwa setelah 3 bulan menjadi calon anggota segera ditetapkan menjadi anggota biasa. Tetapi hal itu masih menjadi perdebatan di kalangan anggota. Dari data yang ada, banyak anggota baru membuat ulah. Mereka avonturir, hanya ingin memanfaatkan koperasi. Itu yang mengkhawatirkan. Melihat kasus tersebut anggota menyarankan agar penerimaan anggota baru benar-benar selektif.

Berbeda dengan kebanyakan koperasi. Untuk menjadi anggota, calon anggota harus menabung dulu. Tetapi Koppas Kranggan sebaliknya. Sebelum menjadi calon anggota mereka harus pinjam dulu 3 kali berturut-turut. Selama menjadi calon anggota, mereka wajib mengikuti pendidikan – bimbingan berkoperasi dan terus dievaluasi. Disiplinkah, rajin menabungkah, bisa dipercayakah. Mendidik orang-orang yang masih lugu, sederhana, bersahaja, tidak bisa membaca dan menulis justru lebih mudah, cukup dengan amanah dan kejujuran. Mereka tahu, kejujuran itu penting, tetapi tidak mengerti kalau itu ilmu koperasi.

Setelah dievaluasi, ternyata tertib menabung, dan disiplin membayar angsuran, boleh menjadi calon anggota. Dengan catatan, ada 2 anggota yang mereferensikan. Ketika diterima sebagai anggota pun selama 6 bulan statusnya masih percobaan, kartu anggotaannya belum diteken. Dampak dari selektivitas itu, setelah resmi menjadi anggota mereka bangga, karena leasing pun percaya. “Jadi, menjadi anggota Koppas Kranggan itu ibarat lulus ujian – wisuda kepercayaan. Mereka juga disumpah dan janji. Inilah bedanya Koppas Kranggan dengan koperasi yang lain,” tutur Anim.

Strategi untuk mengetahui seseorang serius berkoperasi atau tidak, lanjut dia, bisa diukur dari kesiapannya membayar simpanan pokok yang semula hanya Rp 3 juta sejak 2011 dinaikkan menjadi Rp 5 juta. Konsekuensinya, mereka yang simpanannya kurang dari Rp 5 juta, harus menambah menjadi Rp 5 juta. Jika tabungannya lebih dari Rp 5 juta sebagian bergeser menjadi simpanan pokok. Karena uangnya tidak berkurang tidak mempersoalkan.

Selain Simpanan Pokok, Simpanan Wajib, dan Simpanan Sukarela, Koppas Kranggan juga punya produk; Tabungan Cempaka, dan Tabungan Berjangka, sejenis deposito di perbankan. Untuk Tabungan Cempaka, bebas diambil kapan saja, seperti Simpanan Sukarela. Hal ini dimungkinkan karena Koppas Kranggan sudah punya sistem print banking. Anggota – calon anggota bisa mengetahui secara otomatis berapa saldo tabungannya. Total seluruh simpanan di Koppas Kranggan, per 31 Desember 2018 Rp 92 miliar. Dari jumlah tersebut, Tabungan Cempaka paling besar Rp 53 miliar. Hal itu membuktikan, walaupun tidak ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bagi koperasi, seperti halnya perbankan, namun kepercayaan masyarakat kepada Koppas Kranggan luar biasa.

Yang menjadi daya tarik Tabungan Cempaka karena setiap tahun – bulan Juli, sekaligus untuk memeriahkan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) diadakan undian. Setiap kelipatan Rp 200.000,- mendapatkan 1 kupon undian. Total hadiahnya ratusan juta, mulai dari alat-alat rumah tangga, kompor gas, kulkas, teve, 4 sepeda motor, dan tahun 2018 hadiah utama ibadah umrah ke tanah suci.

Terkait pinjaman, Koppas Kranggan hanya pinjam dari satu sumber yaitu Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), tidak punya utang dari bank. Semula LPDB menawari pinjaman Rp 20 miliar, tetapi oleh Anim dianggap terlalu besar, akhirnya hanya pinjam Rp 15 miliar. Sebagai koperasi sehat, Koppas Kranggan mengangsur pinjamannya sesuai perjanjian, dan kini utang di LPDB tinggal Rp 6 miliar. “Kalau mau dilunasi, juga bisa. Tapi waktunya masih panjang,” jelas Anim.

Sebagai koperasi pedagang pasar, jumlah anggota dan calon anggota yang pinjam di koperasi cukup besar, sekitar 9.000 orang. Jenis pinjaman; Pinjaman Modal Kerja jangka pendek (1-3 th) besarnya Rp 2 juta – Rp 200 juta, Pinjaman Modal jangka menengah di atas Rp 200 juta (1 – 5 th, dan pinjaman KPR dengan jasa 1% (5 – 10 th). Sebagai lembaga ekonomi kerakyatan, Koppas Kranggan juga punya produk Pinjaman Bina Usaha. Khusus untuk pinjaman bina usaha yang hanya Rp 1 juta ke bawah, tanpa agunan. Pinjaman Bina Usaha dikhususkan bagi usaha mikro, seperti; pedagang kaki lima, pedagang dorongan, semacam pedagang mie bakso, pedagang gorengan, dan sebagainya.

Sedikitnya ada 2.000-an pedagang binaan. Mereka itu wirausaha ulet yang perlu diperhatikan. Tiap pagi jualan pakai dorongan, tetapi setiap tahun pulang kampung bisa bawa uang sampai Rp 20 juta. Yang dikelola untuk Pinjaman Bina Usaha itu merupakan donasi dari salah seorang anggota DPR-RI, Syukur Nababan, yang juga anggota luar biasa Koppas Kranggan No. 712, sebesar Rp 40 juta. Setelah 2 tahun donasi digulirkan untuk usaha mikro, dana tersebut berkembang menjadi Rp 60 juta. Program pembangunan daerah kerja diwujudkan dengan merenovasi rumah warga yang kurang layak huni menjadi lebih baik. Sudah 18 rumah warga yang direnovasi, yang biayanya disisihkan dari SHU sebelum dibagikan kepada anggota.

Menurut Anim, usaha Koppas Kranggan selalu mendapatkan keuntungan. Untuk tahun buku 2018 meraih pendapatan kotor Rp 13,5 miliar, sedangkan biaya-biaya sebesar Rp 11,21 miliar, sisa hasil usaha (SHU) kurang lebih 11% atau setara Rp 2,2 miliar.  Bukti bahwa anggota aktif bertransaksi, ada anggota yang menyimpan Rp 230 juta, menerima SHU Rp 32 juta. Bahkan ada yang SHU-nya Rp 33 juta. Mereka adalah anggota teladan yang bisa menjadi contoh anggota lainnya. Yang juga penting bagi anggota menabung mudah, pinjam uang gampang, dan ambil SHU gampang. Jika pinjam uang sulit, anggota pasti hilang kepercayaannya. Aset Koppas Kranggan sampai akhir tahun 2018 mencapai Rp 115 miliar.

Melihat kiprah Koppas Kranggan begitu dinamis, terus bertumbuh, maju dan kepercayaan masyarakat luar biasa, memikat minat pemilik modal besar untuk menanamkan modalnya di Koppas Kranggan. Namun ada syaratnya, Koppas Kranggan beralih status menjadi bank. Bagi Anim yang darah dagingnya adalah koperasi, dan berhasil membangun kembali Koppas Kranggan pernah berada di titik nadir, tawaran itu sangat tidak menarik. Karenanya ditolak. “Saya tak mau menjadi pengkhianat koperasi,” tegasnya.

KOPERASI, oleh Anim diurai sebagai Kumpulan Orang Peduli Ekonomi Rakyat Seluruh Indonesia. Koperasi adalah alat perjuangan rakyat; para petani, nelayan, guru, karyawan, buruh, dan pedagang. Apa pun profesinya, untuk bisa lebih sejahtera berhak memperjuangkan nasibnya melalui koperasi. Koperasi bisa hadir memberikan solusi. Ruh mengelola koperasi adalah semangat. Dengan semangat kerja keras, punya impian, keyakinan, dan tekun berdoa, apa pun yang diinginkan bisa tercapai. Koperasi sebagai lembaga usaha, harus mencari untung. Tetapi tidak profit oriented, melainkan lebih mengutamakan manfaat bagi anggota.

Menjadi pengurus koperasi juga berat. Harus punya kemampuan ekstra; baik finansial, waktu yang cukup untuk mengurus koperasi, kemauan kerja keras, inovatif, ulet plus jujur, serta kemampuan sosial. Devinisi kemampuan sosial, Anim memberi contoh, misalnya; di masyarakat diakui sebagai tokoh, dipercaya, menjadi suri tauladan, atau panutan. Pengurus harus mampu merangkul semua lapisan masyarakat dari berbagai golongan; etnis – suku, kepercayaan – agama. “Jangan sampai menjadi pengurus bermasalah dengan masyarakat,” tegasnya.

Hasil dari semangat kerja keras, kerja cerdas, dan inovatif, tergapainya prestasi demi prestasi. Prestasi pertama, mampu mengembalikan kepercayaan anggota setelah mengalami titik nadir lantaran salah kelola. Untuk memperoleh kembali kepercayaan itu tidak gampang. Bersyukur, bukan saja kepercayaan telah pulih, Koppas Kranggan juga jadi kebanggaan. Dan bukan hanya kebanggaan bagi anggota, maupun masyarakat Kota Bekasi, Jawa Barat, bahkan menjadi kebanggaan nasional. Koppas Kranggan adalah salah satu koperasi besar di Indonesia.

Koppas Kranggan menjelma menjadi sebuah lembaga keuangan yang tangguh, terpercaya. Semua itu karena ada keinginan kuat dan kejujuran dari pengurus, pengawas, dan manajemen sebagai ujung tombak yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan anggota. Didirikan oleh para pedagang pasar pada 12 September 1987, dan memperoleh Badan Hukum (BH) No. 9184/BH/KWK.10/8 serta SIUP No. 194/10.8/PK/VI/1992, merupakan satu-satunya koperasi di Kota Bekasi yang berhasil meraih berbagai penghargaan dari tingkat Kota, Provinsi, sampai tingkat Nasional.

Tahun 2003, dalam puncak peringatan Harkopnas di Wonogiri, Jawa Tengah, memperoleh penghargaan dari Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai Koperasi Teladan Nasional. Kemudian Harkopnas tahun 2006, di Pekalongan, memperoleh penghargaan Bhakti Koperasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada Harkopnas ke-63 (2010) di Surabaya, memperoleh penghargaan Bhakti Koperasi dari Menteri Koperasi dan UKM, Syarif Hassan. Tahun 2012 di Palangka Raya memperoleh Setya Lencana Wirakarya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Koperasi Award (2016) pada puncak Harkopnas di Jambi – Riau.

“Penghargaan itu sangat membanggakan, dan mengharumkan kota Bekasi. Namun yang lebih membanggakan, anggota bisa menikmati manfaat dan hasil kerja keras pengurus,” tutur Anim seraya menambahkan bahwa cukup lama, 10 tahun mimpi bisa membangun kantor pusat baru menjadi kenyataan. Gedung megah 3 lantai seluas 570 meter persegi berhasil dibangun secara mandiri pada tahun 2012, saat Koppas Kranggan berusia 21 tahun. Setelah berhasil membangun Gedung Kantor Pusat, anggota punya impian baru, ingin punya klinik kesehatan sendiri yang bisa untuk rawat inap dan melayani BPJS.

Keinginan itu muncul, karena ada anggota Koppas Kranggan yang jadi dokter, dan banyak anak anggota jadi suster – perawat. Koperasi sudah punya tanah yang belum dimanfaatkan, sehingga bisa segera dibangun gedung untuk klinik. Jika punya klinik sendiri biayanya bisa lebih murah, pelayanan lebih baik, dan klaim BPJS menjadi milik klinik, sehingga uang yang dibayar oleh koperasi tidak ke mana-mana.

Kementerian Koperasi dan UKM menilai, Koppas Kranggan ajaib. Karena itu bila ada gerakan koperasi dari daerah seperti dari; Padang, Riau, Palembang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Gorontalo, Lampung, Kalimantan, menggadakan studi banding ke Kota Bekasi, pasti direkomendasikan ke Koppas Kranggan. Bahkan pernah dikunjungi organisasi koperasi internasional – International Cooperative Aliance (ICA) wilayah Asia Pasifik yang dipimpin oleh India. Delegasi dari ICA yang berkunjung ke Koppas Kranggan antara lain; Philipina, Malaysia, Singapura, Banglades, Thailand, China, Taiwan, dan Laos.

Mereka tertarik ke Koppas Kranggan karena jumlah anggota perempuan lebih besar dibandingkan jumlah anggota lelaki, yaitu 60 : 40. Demikian pula karyawannya yang kini berjumlah 128 orang, juga lebih banyak kaum perempuan. Itu sebabnya Kepala Dinas Koperasi Kota Bekasi menawarkan kepada delegasi tersebut ke Koppas Kranggan. “Artinya, koperasi yang ada di Kampung Kranggan ini bukan hanya dikenal oleh masyarakat Jawa Barat, atau masyarakat Indonesia, tetapi juga dikenal dunia internasional,” tutur Anim.

Semua kinerja karyawan dan anggota dievaluasi. Yang kerjanya disiplin dan tertib diberi penghargaan, baik berupa piagam, ada yang berupa barang, atau uang. Untuk menentukan anggota teladan ada 4 kriteria yaitu; jumlah simpanannya besar, lancar pengembalian pinjaman, aktif berkontribusi kepada koperasi. Yang tidak kalah penting, pemahamannya tentang koperasi juga baik. Suatu ketika Anim bertanya kepada anggota; “Menjadi anggota Koppas Kranggan apa yang dibanggakan?” Anggota tersebut menjawab; “Karena kebutuhan apa pun terpenuhi. Mau kredit barang; sepeda motor, sepeda onthel, kulkas, AC, kipas angin, teve, mebel, atau tempat tidur, ada. Pinjam uang, saat ini mengajukan, sebentar kemudian cair. Koppas Kranggan sudah seperti perbankan.”

Koppas Kranggan bukan saja besar, tetapi usahanya juga sehat. Pengelolaan keuangan acountable – bisa diterima semua lembaga keuangan. Kinerja keuangannya selalu diaudit oleh acounting public, dan mendapat kriteria wajar tanpa pengecualian (WTP). Termasuk tahun buku 2018, juga mendapatkan WTP. “Jadi, Koppas Kranggan clear – bersih – sehat, tidak ada rekayasa,” tegas Anim. Usaha utama Koppas Kranggan simpan pinjam, dan usaha tambahan; elektronik, furniture, bayar listrik, telepon, outsourching, menerima gadai, penjualan tiket kereta api, tiket pesawat, perparkiran dan yang baru bidang properti – Griya Koppas Kranggan untuk melayani masyarakat berpenghasilan menengah – bawah. Harganya cukup terjangkau, di bawah Rp 200 juta. Ada yang Rp 120 juta, bahkan ada yang hanya Rp 100 juta.

Untuk memudahkan pelayanan bagi semua anggota, kecuali di kantor pusat, Koppas Kranggan membuka cabang antara lain di Pasar Kranggan Mas, Cileungsi, Bojong Kulur, Cikeas, dan di Munjul, Jakarta Timur. Alasan invasi ke Jakarta itu dekat, dan ngetren – bergengsi kalau punya cabang di DKI Jakarta. “DKI itu Ibukota Negara, kalau ada cabang Koppas Kranggan di Jakarta, keren,” kata Anim menirukan alasan anggota. Dengan sistem operasional prosedur (SOP) pengurus tidak bisa sewenang-wenang mengeluarkan uang. Semua berdasarkan aturan. Ketika akan memberikan pinjaman melebihi Rp 500 juta, misalnya, harus diputuskan oleh komite.

“Salah kelola, bahaya! Hilang kepercayaan, itu yang harus dihindari,” tegas Anim. Pengurus koperasi harus jujur, punya kemauan kerja keras, cerdas, inovatif, dan mampu mengatur waktu. Ada pepatah mengatakan: “Orang yang berhasil adalah orang yang mampu mengatur waktu, tidak dibelenggu, dan tidak diatur oleh waktu.” Sebagai wakil rakyat di DPRD Kota Bekasi, Anim memenej waktunya dengan ketat, dan ikhlas sehingga semua mengalir begitu saja.

Kiat membangun kejujuran dan kebersamaan dengan karyawan, anggota, maupun masyarakat sekitar dilakukan melalui pengajian rutin setiap bulan. Bagi karyawan, kebetulan semua Muslim, wajib mengikuti pengajian. Ada peribahasa, sambil menyelam minum air, membangun mental karyawan dan anggota sekaligus mempromosikan koperasi ke masyarakat. Dalam suasana batin yang teduh semua diajak merenung, mengoreksi diri, adakah kelalaian melaksanakan tugas yang diberikan, pernahkah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan orang lain, sudahkah melaksanakan perintah agama dengan baik?

Ketika jamaah tengah memeriksa batin, mengoreksi perilaku diri sendiri, mereka diajak sejenak melupakan pekerjaan. Pelan-pelan disusupkan sentuhan batin, pesan moral untuk melangkah lebih baik, dan membangun sikap jujur. Saat suasana kebatinan teduh, sentuhan pesan-pesan itu sangat bermanfaat. “Berbeda, misalnya, kalau dia dipanggil dinasehati tapi pikirannya sedang kacau, tidak masuk dalam hati, bahkan bisa jadi tambah stress dan akhirnya timbul rasa dendam,” tutur Anim. Di samping melalui kerohanian, ada suasana kegembiraan dengan berbagai kegiatan, misalnya, olah raga bersama, main futsal, atau bulutangkis. Jadualnya malam hari.

Untuk mengetahui seberapa besar manfaat dari berbagai kegiatan yang dilakukan, ada evaluasi secara berjenjang mulai dari evaluasi mingguan, bulanan, dan akhir tahun buku. Karena ada evaluasi kinerja mingguan, maka setiap Sabtu Anim berkantor di Koppas Kranggan. Tengah hari ada rapat yang diikuti oleh seluruh manajer cabang untuk melaporkan kinerjanya. Apakah target omzet tercapai atau tidak. Bagaimana penyelesaian utang bermasalah, dan sebagainya. Rapat evaluasi menjadi kewajiban karena ada insentif prestasi, dan sanksi bagi yang tidak mencapai target.

Dalam rapat evaluasi akhir bulan, yang mencapai target dapat hadiah, yang gagal dapat sanksi. “Selama rapat, misalnya, yang gagal selalu pakai kalung bertuliskan janji; “Saya gagal, bulan depan tidak mau gagal lagi.” Kiat membangun koperasi, kata Anim, tidak hanya soal administrasi, tetapi juga moral, kinerja, dan loyalitas. Rapat akhir tahun mengevaluasi seluruh rekam jejak kegiatan yang dikumpulkan oleh manajer. Kemudian dibuat klasifikasi, baik dari perorangan, mulai dari daftar hadir, sampai kelompok cabang.

Koppas Kranggan punya aturan – Standar Operasional (SOP), untuk menentukan besaran bonus yang akan diberikan kepada mereka yang berprestasi, maupun sanksi yang tidak mencapai target. Cabang yang kredit macetnya paling rendah akan mendapatkan penghargaan. Hal itu dimaksudkan agar karyawan punya semangat kerja tinggi guna menekan NPL. Targetnya, NPL – kredit macet harus di bawah 5%. Kredit macet di setiap cabang berbeda-beda. Ada yang 3%, 4% namun diakui ada yang masih di atas 5%.”

Untuk menggapai prestasi, program kerja harus fokus dan berkesinambungan. Dalam menyusun program lembaga, ada program jangka pendek (1 tahun), program jangka menengah (5 tahun), dan program jangka panjang (10) dilakukan melalui rapat kerja (Raker) untuk kemudian disahkan di Rapat Tahunan Anggota (RAT). Program jangka panjang dijabarkan dalam program jangka menengah, dan diimplementasikan menjadi program jangka pendek. Untuk mengetahui seberapa besar capaiannya, setiap tahun dievaluasi. (mar – adit)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *