Apa yang Salah dari Kita

Perubahan dunia sekarang ini sangat cepat sekali. Tiap detik berubah, tiap jam, menit berubah, tiap hari berubah, tiap tia hari berubah, minggu berubah, tiap bulan berubah. Kalau kita kerja linier, kerja rutinitas pasti ditinggal. Coba kita lihat, ada internet, kita banyak yang baru belajar internet, sudah berubah ganti mobile internet. Kita masih bertanya-tanya, apa sich mobile internet? Sudah ganti lagi artificial inteligen – mesin cerdas. Apa lagi ini? Kita belum rampung belajar satu, sudah berubah yang lain. Perubahan dunia cepat sekali karena teknologi.

Kalau masih berkutat dengan ini itu, kita ditinggal jauh. Presiden mengingatkan kepada para menteri dan pimpinan lembaga. Kita lihat, Eloman berbicara masalah mobil fantastik masa depan. Gagasan yang lain, memindahkan orang dari satu tempat ke tempat yang lain sangatcepat. Berbicara secara specifik, bagaimana mengelola ruang angkasa agar berguna bagi manusia. Tetapi kita masih berkutat hal-hal yang tidak produktif. Urusan demo, fitnah, hujat menghujat sangat tidak produktif. Kita lebih senang mengembangkan negative thinking – berfikir negatif terhadap yang lain. Su’udzan terhadap yang lain. Fitnah,kabar bohong, apakah ini masih akan diteruskan?

Soal anggaran, juga besar. Tetapi jika tidak tepat sasaran, diatakakan merubah apa-apa. Soal anggaran hanya basa-basi, asal bisa menyajikan SPJ dianggap beres.Tidak tahu output-nya apa, tidak tahu outcome-nya apa. Kapan Negara ini mau maju? Kita harus sadar semuanya, dulu banyak yang belajar pada kita. Guru-guru Negara tetangga, Malaysia, belajar ke Indonesia. Kita pun mengirim guru-guru ke sana. Namun sekarang kita sudah kalah. Lalu infrastruktur, tahun 1970-an ketika kita membangun Jalan Tol Jagorawi – tol pertama di Indonesia, menjadi contoh Negara-negara lain. Tetapi 40 tahun, Indonesia hanya bisa membangun 780 Km. Sedangkan China yang dulu belajar ke Indonesia, sekarang sudah memiliki 280.000 Km jalan tol. Apa yang salah dari kita? “Itu harus kita evaluasi,” tegas Presiden.

Anggaran infrastruktur, di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saja, misalnya, tahun 2015 sebesar Rp119 triliun, tahun 2016 Rp98 triliun, tahun 2017 Rp103 triliun. Presiden mengingatkan, ini harus diawasi. Di Kementerian Perhubungan, tahun 2015 Rp43 triliun, lalu 2016 sebesar Rp20 triliun dan 2017 sebesar Rp26 triliun. Memang kita sekarang ingin fokus membangun infrastruktur karena sudah ketinggalan jauh dari Negara-negara lain di sekitar kita. Infrastruktur adalah basic untuk melangkah berikutnya. Anggaran Desa, tahun 2015 sebesar Rp20 triliun, 2016 naik 100% lebih, menjadi Rp47 triliun, dan tahun 2017 meningkat luar biasa menjadi Rp60 triliun. Hati-hati! Mengelola uang begitu besar, tidak gampang, dan harus diawasi. Kalau pengelolaannya baik, bisa membuat desa menjadi baik, tetapi jika tidak hati-hati, bisa membuat kepala desa menjadi tersangka. Aparat pengawasan harus betul-betul mengawal, mengawasi, mengontrol secara cermat agar ada output yang baik, dan ada outcome yang baik.

Presiden Jokowi mengaku terkejut ketika berkunjung ke PT Pal, Surabaya. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diresmikan oleh Presiden Soharto tahun 1972 itu diharapkan menjadi raksasa industri perkapalan, khususnya kapal-kapal perang untuk memperkuat armada TNI, dan kapal komersial, karena negara Indonesia merupakan kepulauan. Tahun 1973 Korea Selatan juga membangun perusahaan seperti PT Pal. Kita belum maju ke mana-mana Korea sudah membuat kapal selam. Apa yang salah dengan kita? Presiden mengingatkan kepada siapa pun; “Kita sekarang harus merubah pola pikir kita, merubah etos kerja kita, dan disiplin kita. Kalau kita tidak mau ditinggal Negara-negara lain.”(red)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *