Arisson Hendry : BMT Itu Pasti Syariah

Baitul Maal wa Tamwil (BMT) terdiri dari dua istilah, yaitu baitul maal dan baitut tamwil. Baitul maal lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang non profit, seperti zakat, infak, dan shodaqoh. Sedangkan baitut tamwil sebagai usaha pengumpulan dana dan penyaluran dana komersiil. Di Indonesia sendiri setelah berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) timbul peluang untuk mendirikan bank-bank yang berprinsip syariah.

Untuk mewujudkan masyarakat adil dan efisien, maka setiap tipe dan lapisan masyarakat harus terwadahi, namun perbankan belum bisa menyentuh semua lapisan masyarakat, sehingga masih terdapat kelompok masyarakat yang tidak terfasilitasi. Karena operasinalisasi BMI kurang menjangkau usaha masyakat kecil dan menengah, maka muncul usaha untuk mendirikan lembaga keuangan mikro, seperti BPR syariah, Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS), Baitul Qirad (BQ) dan BMT. Yang berkembang pesat, menjangkau daerah pinggiran dan perdesaan, terutama di kantongkantong kemiskinan di seluruh Indonesia adalah BMT.

DSCN8230“Awal berdirinya BMT dari kegiatan sosial pengumpulan dana zakat, infak dan shodaqoh. Tujuannya untuk membantu umat yang kurang mampu sehinga bisa ikut suka cita merayakan Idul Fitri,” ungkap Arisson Hendry, Direktur Utama Induk Koperasi Syariah (Inkopsyah) BMT membuka perbincangannya dengan Majalah UKM. Zakat fitrahnya, lanjut Arisson, harus dibagikan habis kepada umat yang berhak sebelum lebaran. Sedangkan infak shodaqoh boleh disalurkan setelah lebaran.

Karena ada dana lebih, maka kepanitiaannya berlanjut. Karena setiap tahun infak shodakoh jumlahnya semakin besar, kemudian dipikirkan bagaimana mengelola dana tersebut agar memberikan manfaat produktivitas penerima. Akhirnya muncul ide, dana tersebut boleh diputar dengan berbadan hukum yang resmi. Setelah dicari-cari, yang pas koperasi. Namanya; Baitul Maal wa Tamwil, terjemahan bebasnya; Baitul – rumah, Maal – harta, wa Tamwil – kelola. Bisa dibaca; tempat pengumpulan harta yang dikelola. Dana tersebut dikelola untuk pengembangan kegiatan yang sifatnya produktif, terutama untuk membantu para pedagang kecil, atau mereka yang akan membuka usaha tetapi tidak punya modal. Tujuannya, merubah paradigma dari tangan di bawah menjadi tangan di atas. Dari yang tadinya meminta, menjadi pendonor.

Tujuan tersebut, kata Arisson, perlahan-lahan mulai ada hasilnya. Dicontohkan, ketika sesorang menerima bantuan – soft down pinjaman modal Rp50.000,- misalnya, mengembalikannya juga Rp50.000,- tidak ada biaya apa pun, maksimal 1 tahun, lunas. Ketika pinjam lagi, dan mengalami kemajuan ditawarkan pinjaman semi komersial. Pada umumnya mereka mau. Pinjaman semi komersial ini akadnya adalah Qard. BMT menghimpun dana dari anggota dan calon anggota – masyarakat dengan akad Wadi’ah atau Mudhorobah/Qirodh atau Qard. Sedangkan peminjaman atau pembiayaan dengan menggunakan salah satu di antara lima akad Mudhorobah/Qiradh, Musyarokah/ Syirkah, Murabahah, Bai’ Bitsaman Ajil dan Qord Hasan. Dalam mu’amalah pola syari’ah tidak menggunakan imbalan bunga, tapi menggunakan imbalan bagi hasil untuk Mudhorobah dan musyarokah atau imbalan laba untuk Murabahah dan Bai’ Bitsamanil Ajil (BBA). Qord Hasan biasanya dipakai untuk kegiatan yang bersifat sosial (nirlaba).

Tabungan – Pemilik harta (Sohibul Maal) menyimpan dananya di BMT dengan akad Mudhorobah Mutlaq atau Qord atau Wadi’ah Yadud Dhomanah. Keuntungan bagi penabung: (1) pahalanya berlipat 18 kali apabila diniatkan untuk menghutangi, (2) aman dan terhindar dari riba dan haram (3) ikut membantu sesama umat (Ta’awun). (4) mendapat imbalan bagi hasil yang halal.

Jenis tabungan di BMT yaitu: Tabungan umum, yaitu tabungan yang bisa diambil setiap saat. Tabungan pendidikan yaitu tabungan yang akan digunakan untuk pembiayaan pendidikan. Dapat diambil untuk pembayaran pendidikan sesuai kesepakatan bersama. Tabungan Idul Fitri yaitu tabungan untuk memenuhi kebutuhan hari raya Idul Fitri dapat diambil satu kali dalam setahun, menjelang hari Raya Idul Fitri atau sebulan sebelum hari raya Idul Fitri. Tabungan ibadah Qurban yaitu tabungan sebagai sarana untuk memantapkan niat untuk melaksanakan ibadah qurban pada hari raya Idul Adha atau hari-hari tasyriq. Pengambilan hanya dapat dilakukan menjelang hari raya Idul Adha (sebulan sebelumnya). Tabungan Walimah yaitu tabungan yang digunakan untuk membiayai walimah (pernikahan dan lainnya). Pengambilan hanya dapat dilakukan menjelang pelaksanaan pernikahan. Tabungan Ziarah yaitu tabungan untuk keperluan ziarah. Pengambilan dapat dilakukan sesuai dengan kesepakatan penabung.

BMT, kata Arisson, memberikan pembiayaan dengan menggunakan skema sebagai berikut; Mudhorobah (bagi hasil). Pembiayan modal kerja sepenuhnya oleh BMT sedang nasabah menyediakan usaha dan menejemennya. Hasil keuntungan akan dibagikan sesuai dengan kesepakatan bersama berdasarkan ketentuan hasil.

Murobahah (modal kerja) Pembiayaan jual beli yang pembayaran dilakukan pada saat jatuh tempo dan satu kali lunas beserta mark-up (laba) sesuai dengan kesepakatan bersama. Misalnya seorang pedagang gorengan butuh penggorengan atau kompor, harganya Rp50.000,- misalnya, ditambahkan menjadi Rp60.000,- maka akadnya murobahah.

Musyarokah (penyertaan). Pembiayaan berupa sebagian modal yang diberikan kepada anggota dari modal keseluruhan. Masing-masing pihak bekerja dan memiliki hak untuk turut serta mewakili atau menggugurkan haknya dalam menejemen usaha tersebut. Keuntungan dari usaha ini akan dibagi menurut proporsi penyertaan modal sesuai dengan kesepakatan bersama.

Bai’ Bitsamanil Ajil (investasi). Pembiayaan dengan sistem jual beli yang dilakukan secara angsuran terhadap pembelian suatu barang. Jumlah kewajiban yang harus dibayar oleh nasabah sebesar jumlah harga barang yang di mark–up yang telah disepakati bersama. Dari contoh pedagang gorengan di atas, juga bisa dengan sistem angsuran, 1 tahun misalnya, maka Rp60.000,- dibagi 12 bulan, jadi 1 bulan Rp5.000,-

BMT juga melayani berbagai jasa – talangan untuk kebutuhan yang mendesak. Misalnya, ada anggota yang anaknya ingin melanjutkan sekolah – kuliah, isterinya mau melahirkan di rumah sakit, atau sakit dirawat di rumah sakit, tidak punya uang dalam bentuk tunai, bahkan untuk resepsi pernikahan, bisa pinjam di BMT. Orang tersebut sebenarnya mampu, tetapi sedang tidak punya uang tunai. “Maka syaratnya, sanggup membayar pinjaman. Soal angsuran, atau dibayar tunai, didiskusikan. Termasuk kesanggupannya memberikan jasa. Karena itu, orang yang satu dengan yang lainnya, jasa bisa berbeda. Karena dasarnya kesepatakan, tidak menimbulkan kecemburuan. Bahkan, lantaran merasa ditolong, sebagai ungkapan terima kasih melebihkan dari kesepakatan,” urai Arisson.

Menjawab pertanyaan tentang perbedaan antara BMT dengan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren), Arisson mengatakan; “BMT is BMT, dan memang berbeda.” Kopontren, lanjut Arisson, pada umumnya dibentuk oleh pemerintah – atas anjuran pemerintah, seperti koperasi pegawai (Koppeg), koperasi karyawan perusahaan swasta (Kopkar), juga Koperasi Unit Desa (KUD), Koperasi Usaha Tani (KUT). Namun, karena pesantren berbasis pendidikan agama, maka dicoba disarankan, maukah Kopontren menggunakan dasar syariah. Tapi tak dipaksa. Jadi, sebagai koperasi konvensional, pun boleh. Karena mereka menganggap koperasi itu sudah syariah.

“Kalau BMT, pasti syariah,” tegas Arisson seraya mengaku ingin belajar banyak ke koperasi-koperasi lain, termasuk menimba ilmu ke Credit Union (CU) sebagai upaya memperluas wawasan berkoperasi. Di pondok pesantren, yaitu Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur ada CU Semangat Warga. Perbedaan lain, antara Kopontren dengan BMT, soal dana dari pihak ketiga, hibah dari pemerintah misalnya, Kopontren sah-sah saja transaksinya tidak syariah. Tetapi untuk BMT, walaupun hibah, tujuannya harus jelas, akadnya pun harus syariah. “Supaya tidak menjadi beban,” tegas Arisson. (my)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *