Arnold – Motivator Kehidupan

Di dalam kitab suci umat Kristiani ada tertulis: “Orang buta menggendong orang lumpuh. Dan yang lumpuh menuntun arah. Sehingga mereka dapat berjalan dengan selamat sampai tujuan.” Makna yang terkandung di dalam kalimat tersebut memiliki roh, jiwa yang sangat mulia yaitu; tolong menolong, kerja sama, gotong-royong dan akhirnya menikmati kebahagiaan secara bersama-sama.

Dalam penafsiran bebas, serta dikaitkan dengan kontek kehidupan sehari-hari, Lumpuh, bukan karena kedua kakinya cacat total sehingga tidak bisa berjalan. Tetapi yang lumpuh adalah ekonominya karena miskin. Buta, bukan pula cacat kedua matanya tidak bisa melihat. Namun buta ilmu, buta pengetahuan karena miskin tidak punya biaya untuk sekolah.

“Jadi, bukan karena cacat fisik, melainkan cacat kehidupannya. Miskin dan tidak punya ilmu pengetahuan,” urai Jakobus Jano, Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Koperasi Kredit (Kopdit) Pitu Air, Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat berbincang dengan Majalah UKM, majalahukm.com dan Chanel UKM AUVI beberapa waktu yang lalu di kantornya yang megah. Dan koperasi, lanjut Jano, khususnya KSP Kopdit Pintu Air, berkewajiban – harus mampu melayani, menolong yang buta dan yang lumpuh menuju hidup yang lebih sejahtera.

Melayani menggendong yang lumpuh dan menuntun yang buta adalah kata kunci bagi kinerja KSP Kopdit Pintur Air yang berkantor pusat di Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kec. Nita, Kabupaten Sikka, NTT. Kecuali membangun kantor pusat di dusun kelahirannya sebagai monument dan kebanggaan masyarakat, juga membangun kantor cabang di berbagai daerah.

Cabang Kopdit Pintu Air per 31 Desember 2020 sebanyak 53 cabang dan 26 cabang pembantu, dan tidak hanya tersebar di Provinsi NTT, namun juga menyeberang lautan dan terbang tinggi ke hampir seluruh Indonesia, seperti; NTB, Bali,  Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jogyakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Ada yang berkelakar, dimana ada orang asal NTT, di situ ada Kopdit Pintu Air.

Kekayaan – aset lembaga yang dimiliki 279.734 orang per 31 Desember 2020, dimana anggota terbanyak dari kalangan; nelayan, tani, ternak dan buruh (NTTB), telah mencapai Rp 1,3 triliun. Sehingga KSP Kopdit Pintur Air dan menjadi koperasi terbesar di NTT, baik dari segi aset maupun jumlah anggota. Semangat kerja keras dan melayani yang terus bergelora menghasilkan buah karya luar biasa. Meski Pandemi Covic-19 belum berakhir, kepercayaan masyarakat terhadap Kopdit Pitu Air tetap besar. Sepanjang Tahun Buku 2020 terhimpun anggota baru 26.081 orang.

Keberhasilan itu, seperti di katakan oleh Vincensius Deo, Ketua Bidang Humas, bahwa siapa saja boleh menjadi anggota. Syaratnya hanya satu, punya niat baik untuk maju menuju sejahtera bersama. Dalam sosialsasi kabar gembira, kata Vincen, dilakukan sampai ke kampung-kampung terpencil. Ada cerita mengharukan, ada orang lumpuh, karena ingin tahu tentang Kopdit Pintu Air sampai minta digotong agar bisa ikut mendengarkan sosialisasi. Namun permintaan itu ditolak. “Jangan! Kami yang datang ke tempat beliau. Tugas kami membawa kabar baik, melayani,” kata Vincen. Dan orang lumpuh yang semangatnya luar biasa itu akhirnya menjadi anggota Kopdit Pintu Air.

Namun, orang yang dimaksud bukanlah Arnold, wirausaha sukses yang mengisi cerita sampul kali ini. Secara kebetulan Arnold pun mengalami lumpuh kedua kakinya saat usianya telah menginjak 22 tahun, dan pernah merantau ke negeri jiran, Malaysia, mencari modal untuk masa depan. “Waktu kecil, sehat-sehat saja,” tutur Arnold.

Setiap orang di dunia selalu diberikan keistimewaan yang berbeda-beda. Walau memiliki keterbatasan, namun itu bukan penghalang untuk menunjukkan kelebihan. Bahkan, batasan tersebut bisa jadi pemicu agar semakin bersemangat lagi untuk berkarya. Tentunya, ini membuktikan bahwa siapa saja mampu berprestasi. Termasuk juga bagi kaum different ability (difabel) yang sering dianggap memiliki kekurangan dibandingkan orang-orang pada umumnya. Padahal banyak kiprah karya mereka yang di atas rata-rata.

Contoh, misalnya Ariani Risma Putri atau yang biasa dikenal dengan Putri Ariani adalah penyanyi cilik berbakat indonesia asal Yogyakarta. Bakat Putri di dunia tarik suara sudah terlihat sejak umur 2 tahun. Walau sejak umur 3 bulan Putri sudah tidak dapat melihat dunia karena mengidap ROP (Retina Of Premature), Putri dapat menunjukkan bakatnya dalam bernyanyi dan bermain piano.

Hal ini dibuktikan dengan prestasi-prestasi Putri. Pada tahun 2014, tepatnya ketika berusia 8 tahun, ia sudah membawa pulang piala juara pertama pada ajang Indonesia Got Talent. Tidak hanya menjadi pemenang di ajang Indonesia Got Talent, Putri juga menjadi peserta The Voice Kids Indonesia pada tahun 2017. Putri pun sangat peduli dengan pendidikan. Ia kini menjadi Brand Ambassador dari Ruangguru yang selalu menginspirasi para pelajar dengan keterbatasan seperti dirinya untuk terus semangat mengejar impian.

Lalu Angkie merupakan wanita muda salah satu penyandang disabilitas yang sukses di Indonesia. Ia menderita tunarungu sejak usia 10 tahun yang diawali dengan demam tinggi yang tak kunjung sembuh. Namun, hal tersebut tidak menghambatnya. Angkie berhasil melewati tantangan demi tantangan hingga memiliki gelar magister (S2). Ia pun mendirikan enterprise khusus untuk penyandang disabilitas bernama Thisable Enterprise. Angkie pun sekarang menjabat sebagai Staf Khusus Presiden RI.

Ada lagi salah satu anak muda istimewa asal Indonesia yang kerap aktif menyuarakan hak-hak bagi para penyandang tuli. Bahkan, putra ketiga aktor Ray Sahetapy ini serius mendalami berbagai kebijakan pemerintah yang berhubungan bagi kaum difabel. Bukan hanya dikenal sebagai aktivis, ia juga merupakan seorang edukator.

Surya, sapaan akrabnya, turut menjadi pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia. Ia dipercaya untuk membagikan pengetahuannya mengenai Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Tujuannya, agar hambatan komunikasi yang ia alami sejak dini tidak akan dialami oleh penyandang tuli lainnya.

Masa kecil Surya yang penuh perjuangan dan sulit berbaur dengan teman-temannya membuatnya kini bersemangat untuk membantu para difabel. Semua usaha yang dilakukan pria usia 23 tahun ini semata-mata ingin membuat kaum difabel agar bisa lebih percaya diri. Oleh karena itu, ia tidak henti-hentinya mengampanyekan isu sosial ini melalui berbagai kegiatan. Baru-baru ini pun, Surya diundang sebagai narasumber di salah satu diskusi yang diinisasi oleh Kantor Staf Presiden Indonesia. Hebat!

Mereka adalah motivator kehidupan yang luar biasa. Banyak orang yang secara fisik sempurna, berpendidikan cukup tinggi, tetapi tidak punya pekerjaan, tak berkarya. Ketika mengalami sedikit kesulitan dalam kehidupan sehari-hari suka mengeluh, putus asa dan patah semangat. Bahkan da yang berbuat nekat, mengakhiri kehidupannya. Namun bagi Arnold, walau dalam beraktivitas sehari-hari harus menggunakan kursi roda, semangatnya luar biasa, dan dalam hidupnya tak ada kamus mengeluh.

Arnold mengaku, sebagai orang kampung dari keluarga sederhana hidup sulit itu sudah biasa. Sampai sekolahnya sebabnya sekolahpun tidak lulus SMP. “Kami hanya punya semangat. Itu sebabnya kami merantau mencari modal di negeri orang walau hanya sebagai buruh,” katanya berterus terang. Karena tidak punya apa-apa, lanjutnya, setelah ayahnya meninggal Arnold membuka usaha sendiri jualan sembako modal dari tabungan sebesar Rp 5 juta. Namun kondisinya waktu itu sudah tidak dapat berjalan.

Karena ada tetangga yang telah menjadi anggota Kopdit Pintu Air, Arnold disarankan masuk menjadi anggota agar bisa mendapatkan bantuan permodalan. Saran tersebut diikuti. Arnold sangat bersyukur, setelah menjadi anggota Kopdit Pintu Air kali pertama mengajukan  pinjam Rp 30 juta dikabulkan. Mendapat suntikan modal cukup besar Arnold semakin semangat.

Usahanya pun semakin berkembang bukan hanya sembako tetapi juga komoditas, antara lain; kemiri, cokelat dan mede. Jualan sembako, saat ini keuntungan bersih sebulan aekitar Rp 4 juta Rp 5 juta. Pengeluaran paling banyak untuk gaji sopir, yang juga masih kerabat sendiri, biaya kendaraan, dan biaya operasuional lainnya. “Karena usaha tetap ada untungnya, akhirnya bisa beli mobil dan bikin rumah lagi. Saya percaya bahwa hasil itu tergantung dari yang di atas – Tuhan,” katanya penuh syukur.

Pinjaman perdana lunas mengajukan pinjaman lagi Rp 50 juta juga dikabulkan dan sudah lunas. Pinjaman ketiga untuk beli mobil pic up agar bisa mengangkut komoditas lebih banyak, sebesar Rp 100 juta, juga hampir lunas. “Karena Kopdit Pintu Air selama ini sudah percaya, saya ingin pinjam untuk beli dump truck agar bisa melayani masyarakat sampai daerah terpencil.

Dump truck itu sisa juga disewa-sewakan untuk angkut yang lain. Namanya juga bisnis, untuk apa saja, yang penting menghasilkan. Walau keadaan seperti ini, saya tetap berusaha dan tetap menjamin pinjaman akan terselesaikan dengan baik,” jelas Arnold yang mengaku tidak pernah pinjam ke bank karena tidak dipercaya.

Sebagai anggota Kopdit Pintu Air, dengan palayanan yang sangat baik, Arnold mengaku sangat senang. Jika belum punya dana untuk angsuran pinjaman, misalnya, kita harus terbuka. “Jangan kita menutup-nutupi dengan berbagai alasan,” pesan Arnold yang bercita-cita ingin punya dump truck agar bisa mengangkut komoditi dari petani lebih banyak. Namun, lanjut dia, apakah koperasi percaya? “Saya harus tahu diri. Kalau memang diizinkan pinjam, sangat senang. Tetapi tidak bisa memaksa dan harus tahu diri. Kalau saya punya kaki. Ceritanya mungkin akan berbeda,” tuturnya.

Semangat Arnold untuk melayani pelanggan dan mitra usaha, kata Vincen, luar biasa. Untuk itu, lembaga sangat mendukung. Semangat adalah modal yang sangat besar sehingga lembaga tinggal memfasilitasi agar keinginan mengembangkan usaha dan pelayan kepada masyarakat di pedalam bisa lebih baik.

“Kalau datang rezekinya, terutama saat musim panen, dalam seminggu barang-barang yang datang tidak cukup diangkut dengan 2 pic up. Saya punya 8 orang mitra – pengepul hasil panen yang tinggalnya di pegunungan. Mobil pic up tidak bisa masuk. Untuk mengangkut  ½ ton hasil panen tidak mungkin pakai mobil kecil. Sedangkan mobil besar tidak punya. Terpaksa diangkut pakai motor, diangsur berulang-ulang. Tetapi kalau punya dump truck berani masuk sampai pedalaman.

Soal perkembangan harga, bisa tahu dengan baik karena seminggu 2 – 3 kali anak buahnya turun ke kota (Maumere). Disamping itu juga sudah punya jaringan kemitraan cukup lama, dan berjalan dengan baik, tinggal telpon saja. Soal kesulitan, yang namanya bisnis, persaingan pasti ada, tetapi tidak perlu dikeluhkan. Setiap bulan, setiap tahun  pasti ada keuntungan. Untuk mendapatkan barang dagangan kerja sama adik-adik sendiri. Tinggal kasih nota ke adik, antar ke toko muat muat barang.

Untuk komoditas, juga sudah ada yang mengurus. Arnold melepas modal, setiap minggu atar ke Maumere. Yang perlu dicermati saat musim panen. Kapan harga barang turun, dan kapan harga naik lagi. Untung tidak harus besar. Istilahnya untung Rp 1000,- Rp.2000,- cukup. Prinsinya, bekerja sama dengan mitra, keuntungan saling dirasakan bersama. “Kalau dapat untung Rp 1000, mitra Rp 500 saya 500. Yang penting kita sama-sama enak menikmatinya,” tutur Arnold tentang kiat bisinis.

Walau tidak punya isteri, namun Arnold mengaku punya 3 orang “anak”. Dua di antaranya sudah lulus SMA, dan satunya lagi masih di SMP. Ketiga anak tersebut anak saudaranya sendiri. Dua orang dibiayai sejak SMP dan satunya lagi menjadi anaknya sejak usia 8 bulan.

Mendapat informasi kegigihan Arnold yang luar biasa, Ketua Bidang Humas Kopdit Pintu Air, Vincensius Deo bersama team Majalah UKM menjemput Arnold  untuk diajak ke kantor pusat Kopdit Pintu Air, di Maumere agar bisa berbincang dengan Ketua dan Pehngurus lain. Usaha itu gagal. Arnold minta maaf tidak bersedia. Alasannya, selain perjalanannya cukup jauh, harus ditempuh kurang lebih 2 jam, waktunya tidak tepat. Hari itu, hari Jumat. Khusus hari Jumat dan Sabtu tidak bisa meninggalkan toko, karena untuk pelayanan mitra usaha dan pelanggan lainnya. (adt – mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *