Asah, Asih, Asuh di Padepokan Credit Union Cindelaras Tumangkar

Delapan puluh persen rambutnya berwarna keperakan menunjukkan usianya. Memasuki usia senja sama artinya menyambut masa-masa sepi. Dua anaknya yang mulai dewasa sudah meninggalkan rumah, merantau mengejar masa depan masing-masing. Prima Hapsari, anak sulungnya, jadi guru di Tasikmalaya. Anak kedua, Praseno Yudistiramengadu untung ke Papua. Matanya kelihatan berkilat saat mulai menulis nama anak-anaknya, seolah kedua anaknya yang tengah merantau itu tiba-tiba ada di dekatnya.

“Sambil memijat, dia (tukang pijat) selalu cerita tentang Credit Union Cindelaras Tumangkar. Dia sudah lama jadi anggota. Ceritanya membuat saya penasaran, akhirnya saya ikut mendaftar. Malahan dia yang mengantar saya,” lanjutnya, begitu usai mengisi formulir. Setelah jadi anggota baru ia merasakan bahwa menjadi anggota Credit Union Cindelaras Tumangkar banyak manfaat dan keuntungannya.

Kepercayaannya mulai tumbuh seiring dengan tumbuhnya simpanan. “Simpanan di Credit Union Cindelaras Tumangkar tidak ada potongan dan bunganya tinggi,” ungkapnya. Menabung di Credit Union Cindelaras Tuangkar tak perlu sampai jutaan, saldo Rp 25 ribu pun tumbuh. Di sinilah, ibu yang tinggal hanya beberapa puluh langkah dari kediaman Sultan Yogyakarta ini mendapatkan tempat menabung yang produktif. Dan karena itulah, dengan penuh keyakinan ia daftarkan kedua anaknya jadi anggota. Lalu, ia tabungkan uang kiriman dari kedua anaknya di Credit Union Cindelaras Tumangkar.

“Jaman sekarang, cari uang susahnya minta ampun, tapi membuangnya gampang. Daripada habis tidak karuan, lebih baik ditabung,” katanya. Tidak takut hilang? Atau ditipu?. “Kenapa tidak percaya? Di Credit Union Cindelaras Tumangkar yang jadi jaminan kan uang kita sendiri. Kalau uang kita sendiri kita pinjam, yang di credit union kan cuma catatan, uangnya kita bawa. Masa credit union mau bawa lari catatan,” begitu selorohnya sambil menambahkan bahwa adiknya, Maria Dyah Astutiyang tinggal di Jakarta juga sudah ia daftarkan jadi anggota Credit Union Cindelaras Tumangkar. Beruntung Credit Union Cindelaras Tumangkar mempunyai anggota yang berprofesi sebagai tukang pijat. Apalagi yang punya banyak pelanggan. Dialog yang intens antara tukang pijat dan pelanggannya bisa membuahkan kesadaran baru dalam persoalan financial seperti yang terjadi dalam keluarga Endang. Namun, pada kenyataannya tak hanya tukang pijat. Sudah muncul banyak relawan yang tanpa pamrih menularkan kabar tentang keberadaan Credit Union Cindelaras Tumangkar. Tak hanya tukang pijat, 4.500 anggota Credit Union Cindelaras Tumangkar terdiri berbagai profesi. Ada petani, pedagang, PNS, polisi, pendeta, guru, wartawan, dan banyak lagi.

Dan harus diakui, pertumbuhan anggota Credit Union Cindelaras Tumangkar justru dari testimoni para anggota sendiri. Misalnya Siti Aminah, yang terdaftar jadi anggota sejak 2009. Sudah lebih dari lima kali mengajukan pinjaman ke Credit Union Cindelaras Tumangkar, dan tak malu mengakuinya, karena justru dari meminjam ia mendapat manfaat lebih. Seluruh keluarganya sudah jadi anggota. “Rumah saya ini sebagian dibiayai dari pinjaman credit union. Saya bisa punya tabungan juga berkat credit union. Motor kami juga dari credit union,” ungkapnya saat salah satu staf melakukan survey ke rumahnya atas pinjaman yang diajukan.

Tentu tak hanya bercerita saja, penulis novel ini juga menulis sebuah artikel tentang Credit Union Cindelaras Tumangkar di blog pribadinya aminyk.blogspot.com: Credit Union Cindelaras Tumangkar meyakini benar bahwa yang dapat mengubah kondisi seseorang hanyalah orang yang bersangkutan. Namun kondisi riil masyarakat sekarang tidaklah demikian. Banyak orang berpikir bahwa pemerintah harus membantu mereka keluar dari kondisi tidak sejahtera dengan cara memberikan bantuan. Dalam kenyataannya serangkaian program pemerintah dengan nama ’bantuan’ tersebut justru merusak tatanan sosial.

Masyarakat harus segera naik kelas, jangan hanya berkutat sebagai penikmat bantuan. Barangkali itu yang diusulkan Siti Aminah agar terjadi perubahan. Karena bantuan hanya akan meninabobokan dan cenderung merendahkan martabat manusia. Melalui credit union masyarakat harus dicerdaskan. Bagaimana wujud konkritnya? Masyarakat dusun Payak, Bantul, DIY, bisa dijadikan contoh. Tahun 2006 Payak termasuk salah satu dusun yang hancur akibat gempa. Bisa dikatakan 90% rumah rusak berat, tak laik huni. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, yang lain buruh atau pencetak batu-bata. Sebagai upaya rehabilitasi ekonomi, masyarakat Payak menerima hibah melalui Yayasan Cindelaras Paritrana. “Total dana yang kami terima Rp51 juta,” terang Sumardiyonoyang bersama beberapa warga membentuk kelompok Dwi Manunggal, yang anggotanya terdiri 30-an orang. Kelompok Dwi Manunggal terdiri dua kelompok, yaitu Kelompok Ternak, dan Kelompok Tani. Melalui mekanisme credit union, pemanfaatan dana tersebut tidak lagi menggunakan pola lama. Dana diupayakan menjadi dana abadi komunitas, pantang dibagi habis. Metode gaduh gilir untuk kepemilikan sapi diganti dengan kredit kepemilikan sapi.

Samidi, 43, angota Kelompok Ternak adalah salah satu penerima manfaat dari program ini. “Awalnya saya dipinjami Rp 1.250.000 dari kelompok untuk disimpan di Credit Union Cindelaras Tumangkar. Dengan simpanan tersebut saya bisa mengajukan pinjaman Rp 5 juta dengan jaminan simpanan komunitas. Uang Rp 5 juta itu saya belikan sapi,” tutur Samidi. Ada 9 orang yang melakukan hal yang sama dengan Samidi. Singkat kata pinjaman dari credit union dibelikan sapi, diangsur selama 5 tahun. “Sekarang pinjaman saya sudah lunas. Sapi saya jadi tiga. Satu induk, dua anak. Yang seekor sudah saya jual, laku Rp 11 juta. Kewajiban saya hanya tinggal mengembalikan pinjaman dari komunitas,” imbuhnya.

Tak ada yang dirugikan. Bahkan, ketika lunas Samidi mendapat manfat ganda. Sapinya tumbuh menjadi 3 ekor, simpanannya tumbuh dua k ali lipat. Jadi kalau pinjaman dari dana kelompok dikembalikan, ia masih punya tabungan, minimal sama dengan yang dipinjam dari kelompok. Lalu bagaimana dengan dana komunitas? “Sekarang ini, dana komunitas belum dikembalikan. Tapi, saldo simpanan komunitas masih sekitar Rp 23 juta. Sebagian kami gunakan untuk membangun bak air di kandang, untuk kepentingan bersama,” jelas Sumardiyono. Sejak 2007, kelompok Dwi Manunggal menyewa tanah kas desa dan bersama-sama mendirikan kandang kelompok. Tahun 2011 kelompok yang sama berhasil mendirikan Lumbung Pangan Margo Mulyo. Kekayaan pangan di lumbung Margo Mulyo saat ini mencapai 1,5 ton.

Lain lagi yang dialami Soewardjo Ranu, 80, (No BA 200.100). Selain tercatat sebagai salah satu anggota paling sepuh, Pak Wardjo juga termasuk orang yang pertama-tama mendaftar begitu Credit Union Cindelaras Tumangkar berdiri. Meski bukan termasuk dalam posisi penggagas, pensiunan Brimob berpangkat Letnan Satu ini terlibat dalam lika-liku proses berdirinya Credit Union Cindelaras Tumangkar yang berawal dari komunitas buruh tani Lorejo.

“Waktu petani Lorejo berhasil merebut jatah tanah kas desa yang biasanya ditanami tebu, saya ikut menggarap tanahnya,” aku Pak Wardjo. Bicara tentang asal-usul Credit Union Cindelaras Tumangkar tak bisa dilepaskan dari eguh ewuh para petani tersebut. Dari situlah awal tumbuhnya kesadaran akan kemandirian dan kemerdekaan dalam berpik ir dan ber tindak . Selama lima tahun berbagai diskusi kritis dilakukan masyarak at Lorejo bersama Yayasan Cindelaras Paritrana. Dan puncaknya terjadi pada perhelatan Gerakan Sosial Baru (GSB) yang diselenggarakan di Lorejo 18-24 juli 2005 oleh Cindelaras Paritrana (Yogyakarta) dan Bina Desa (Jakarta). Acara tersebut dihadiri beberapa tokoh nasional, di antaranya KH Habib Qirsin, KH Said Agil Siradj, Uskup Sunarko SJ, Mochamad Sobari, George Aditjondro, Bambang Ismawan, Gunawan Wiradi,alm Mbah Marijandan banyak lagi.

Gerakan Sosial Baru melahirkan sebuah rekomendasi agar pengelolaan negara dikembalikan kepada pemikiran para founding father, yakni Bung Karno dan Bung Hatta melalui sistem ekonomi kerakyatan yang mandiri dan bersolidaritas sesuai pasal 33 UUD 1945. Rekomendasi tersebut ditindaklanjuti pada pertengahan Februari 2006 dengan menyelenggarakan Perencanaan Strategis (SP) yang diikuti 50 penggagas ekonomi kerakyatan dan difasilitasi BK3D Kalimantan atau Badan Koordinasi Credit Union Kalimantan (BKCUK). Dalam SP tersebut peserta meyakini bahwa Credit Union merupakan koperasi yang dapat mengakomodasi pemikiran Bung Karno dan Bung Hatta. Tanggal 16 Juni 2006, Credit Union Cindelaras Tumangkar didirikan di Lorejo, Moyudan, Sleman, Yogyakarta.

“Mestinya orang kecil dituntun dulu supaya berkembang. Setelah mampu baru ditarik pajak,” kata Pak Warjo. Maksudnya, Credit Union Cindelaras Tumangkar mestinya bisa jadi sarana untuk mengembangkan perekonomian anggotanya. Justru dalam hal ini Credit Union Cindelaras Tumangkar memiliki keunggulan. Seperti yang lazim diterapkan redit union yang tergabung jaringan Puskopdit BKCU Kalimantan; dalam hal berbagi – gotong royong, Cindelaras Tumangkar juga menerapkan sistem Balas Jasa yang sangat layak (Balas Jasa Simpanan s/d 13% p.a dan Balas Jasa Pinjaman 12% p.a). Sistem demikian yang memungkinkan setiap anggota memperoleh manfaat ganda dan menjalankan sistem perekonomian dua kaki. Satu kaki di sektor riil, kaki lainnya di sektor financial. Mirip dengan yang dilakukan Samididengan sapinya, namun dengan bidang usaha yang lain. Dua-duanya, baik yang riil maupun finansial tumbuh dan berkembang.

Ismadi, 37, (No BA 102.719), dan istrinya, Bironti, 35, (No BA 103.560), sudah mencoba menerapkan ekonomi dua kaki. Awalnya Ismadi menyimpan hasil penjualan motor seharga Rp 4,5 juta di Cindelarang Tumangkar, dan langsung mengajukan pinjaman Rp 15 juta. Yang Rp 4,5 juta dibawa pulang, rencananya untuk memulai usaha ternak bebek. Sisanya ditabung. Karena dukungan usaha telur asin yang dijalankan Bironti, pinjaman lunas hanya dalam waktu 3 tahun.

Saat ini Ismadi memelihara 100 itik, sedangkan istrinya memroduksi 500 butir telur asin per hari. Alhasil, mereka telah mengakses modal usaha yang masih berjalan hingga sekarang. Di sisi lain, simpanan mereka pun tumbuh dengan pasti. Sekitar 75% dari 2.840 peminjam di Cindelarang Tumangkar memanfaatkan pinjamannya untuk modal usaha dengan total nilai mendekati Rp 22 milyar sejak Cindelarang Tumangkar didirikan. Barangkali inilah yang dimaksud Pak Warjo dengan upaya menuntun agar anggota berkembang. Bila ingin mengetahui seberapa jauh keberhasilan masing-masing anggota, tentu perlu kajian tersendiri.

Ekonomi dua kaki juga coba diterapkan Anang Budi Winarko, 38, pengusaha bakpia, {No BA 100.343). “Dua tahun saya jadi anggota pasif. Waktu itu saya kurang faham manfaat apa yang diperoleh setelah jadi anggota credit union,” katanya. Buku-bukunya pun terhambur entah ke mana, tak terawat. Namun, pikirannya berubah ketika ayahnya, Ign Suhadi,meninggal. Saat meninggal ternyata sudah tercatat sebagai anggota Credit Union Cindelaras Tumangkar dan memiliki simpanan.

“Saya kira, ayah saya masih punya hutang di Cindelaras Tumangkar. Lalu saya tanyakan bagaimana posisi keuangan ayah saya di Cindelaras. Eh, ternyata malah diberi tahu, kami sebagai ahli waris akan menerima santunan. Malah hutangnya juga dilunaskan. Saya sama sekali tidak menyangka, ternyata credit union punya kekuatan untuk memperhatikan anggota sampai sejauh itu,” tuturnya. Fasilitas demikian tentu tak akan didapat kalau Credit Union Cindelaras Tumangkar tidak bergabung dengan Puskopdit BKCU Kalimantan. Hingga saat ini sudah > 40 anggota Cindelaras Tumangkar yang meninggal dan menerima santunan dari Jalinan BKCUK, dan hutangnya dilunaskan.

Credit Union Cindelaras Tumangkar bergabung dengan Puskopdit BKCUK tanggal 18 November 2008. Beban resiko menjadi ringan ketika sebuah credit union primer seperti Cindelaras Tumangkar didukung oleh kumpulan individu yang memiliki mimpi dan cita-cita yang sama. BKCU Kalimantan, melalui Silang Pinjam Daerah juga memfasilitasi pembiayaan dalam pengadaan kantor Padepokan Cindelaras Tumangkar TP-01 Condongcatur. Selanjutnya akan disusul dengan pembangunan Kantor Pusat yang akan menempati tanah di wilayah Moyudan, Sleman. Tak hanya pada soal santunan berwujud uang. Kebersamaan dalam BKCUK juga terlihat dari kerja sama antar credit union untuk memperluas dan sekaligus memperdalam cakrawala pengetahuan untuk meningkatkan kinerja dalam melayani anggota. BKCUK menyajikan sekian program pendidikan melalui berbagai Diklat, workshop, seminar, rapat kerja dan sebagainya demi meningkatkan kapasitas para aktivis credit union primer yang jadi anggotanya. Dengan demikian, credit union primer mampu menjaga salah satu pilar terpenting dalam koperasi, yakni pendidikan.

Credit union lahir dari pendidikan, berkembang melalui pendidikan, dan akan selalu bergantung pada pendidikan. Pendidikan menjadi penting karena credit union adalah kumpulan orang, bukan kumpulan uang. Hanya melalui pendidikan seseorang mampu mengubah diri. Selaras dengan pentingnya pilar pendidikan dalam keberlangsungan credit union, Cindelaras Tumangkar mengidentifikasi diri sebagai padepokan, tempat untuk memperoleh ilmu untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan diri.

Padepokan, berasal dari bahasa Kawi: dhepolum. Artinya tempat lesehan, tempat untuk duduk bersila. Padepokan dapat diartikan sebagai tempat untuk mendapat pendidikan melalui wejangan para guru yang di masa lalu dilakukan dengan duduk bersila. Padepokan menyiratkan adanya kerendahan hati untuk saling memberi dan menerima. Saling asah, asih, dan asuh demi kepentingan bersama. Dan pada hakekatnya di Credit Union Cindelaras Tumangkar sudah berlangsung, termasuk ketika seorang tukang pijit “mendidik” pelanggannya. (Sudarwanto)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *