Bangsa Indonesia Bangsa Pejuang

Sejak dilantik 20 Oktober 2014, berbagai upaya telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla (JK) untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah lesunya ekonomi global. Di bawah pemerintahan Jokowi – JK dengan Kabinet Kerja-nya mendapat pujian dari banyak Kepala Negara sahabat, termasuk; Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Saat menghadiri pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Pasfic Economic Cooperation (APEC) di Da Nang, Vietnam 10-11-2017, di depan Presiden Jokowi, Donald Trump puji Indonesia telah bangkit dari kemiskinan dan menjadi Negara dengan pertumbuhan tercepat di G20. Jika melihat APEC di Bogor, Indonesia (1994) yang menjadi visi – Goals 2020 yaitu Develop of Capital Good and Services. Karena itu Presiden memaknai bahwa dalam era liberalisasi pasar, dan keterbukaan perlu adanya daya saing. Bangsa ini harus punya daya saing. Presiden sadar betul bahwa untuk menjadi bangsa yang produktif, rakyat harus difasilitasi agar menjadi lebih produktif. Salah satunya pembangunan infrastruktur. Pembangunan ekonomi tanpa adanya pembangunan infrastruktur ibarat mesin tanpa oli; krek… krek.., krek, tidak bisa bergerak. Dengan adanya pembangunan infrastruktur, mesin ekonomi bisa bergerak lancar. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan dari 5,03% menjadi 5,06%.

Tetapi yang paling mendasar, bagaimana porsi konsumsi yang turun dari 58% menjadi 55,6% dari PDB. Sedangkan porsi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) aset ekuitmen; energy aset, transpotasi aset, dan seluruh ekuitmen bangsa ini menjadi produktif. Dulu porsinya 22,89% meningkat menjadi 30% lebih. Jadi, daya saing bangsa Indonesia meningkat, struktur ekonomi sesuai visi misi Presiden yang ingin merubah ekonomi Indonesia dari ekonomi berbasis konsumsi menjadi ekonomi berbasis produktivitas.

Bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang, bangsa pekerja, dan bangsa ini akan menjadi bangsa yang maju kelihatan sekali dari survay yang dilakukan oleh BPS. Saat ini telah diketahui ada perubahan yang sangat mendasar. Mengenai kemiskinan, kalau kita lihat dari tenaga kerja Indonesia 128 juta, sekitar 60% adalah lulusan SD – SMP atau setara 75 juta orang, lulusan SMA dan SMK 28% atau sekitar 33 juta sedangkan yang lulusan D3 dan S1 hanya sekitar 12% – 13% atau setara 15 jutaan pekerja.

Di sinilah Presiden sangat konsen, dan memerintahkan; belanja sosialnya diperbesar agar kesenjangan sosial semakin menurun. Presiden mengarahkan; investasi berjalan – boleh. Tetapi investasi bukan hanya pada modal dan padat teknologi, tetapi juga padat karya yang memberikan kesempatan kerja bagi seluruh bangsa Indonesia termasuk pekerja yang hanya lulusan SD – SMP.

Presiden Jokowi sadar betul bahwa bangsa Indonesia bangsa pejuang, karakter pembangunannya juga berjuang. Karena produktivitas meningkat, maka ekspor kita juga meningkat. Dari yang dirilis BPS belum lama ini ekspor Indonesia meningkat 17%. Dari sini kelihatan bahwa bangsa ini berubah, dan daya saingnya cukup tinggi. Otomatis, di balik itu ada keunggulan-keunggulan kompetisi, sehingga produk-produk kita mulai diminati bangsa lain. (red)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *