Bapak, Kapan Pergi Lagi?

Terpilih sebagai orang nomor satu di Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) dalam pemilihan pengurus yang dilaksanakan bertepatan dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) tahun buku 2009, di Grand Cempaka Hotel, Jakarta, Mei 2010, Romanus Woga yang akrab disapa Rommy, dalam hitungan putaran jam, akan mengakhiri masa pengabdiannya di Paris van Java – Bandung Lautan Api.

Benar-benar berakhirkah masa pengabdian Rommy sebagai Ketua Inkopdit? Masih tanda tanya, karena pendukungnya masih mencalonkan untuk bersaing dengan aktivis GKKI lainnya yang prestasinya menggerakan Credit Union (CU) tidak diragukan. Mereka yang memperebutkan kursi pengabdian nomor satu yaitu; Antonius, Juniono Raharjo, Laurentius Laki,Mangasi Situmorang, Marselus Sunardi, Munaldus,Petrus Langi. Rasyid Kamase, Romanus Mujiono,Syafrizal Ikram dan Romanus Woga. Sedangkan yang akan berebut sebagai pengawas yaitu; A Heru Listianto,Herkulanus Cale, Pujiono, Rere Paulina Bibiana, Rufinus

Sawe, Sitanggan, Sutanto V. Eddy Cahyono dan Wenslaus Naru.

Sebagai pengurus baru, kata Rommy menceritakan persoalan pertama yang dihadapinya, masalah Dana Perlindungan Bersama (Daperma). Waktu itu banyak sekali telpon mempersoalkan Daperma. Bahkan dari Puskopdit Bogor Banten mengancam; “Kalau Daperma tidak diurus dengan baik, kami akan keluar dari Daperma,” kata Rommy menirukan ancaman tersebut.

Untuk merespon keluhan anggota pengurus segera mengadakan rapat lengkap, membahas Daperma. Dalam rapat diputuskan untuk menyelenggarakan loka karya di Jogya, Oktober 2012. Dalam loka karya tersebut dihasilkan pedoman baru untuk Daperma. Sejak itu tidak ada lagi telpon keluhan. “Artinya, ada perubahan ke arah yang lebih baik,” kata Rommy yang sudah 40 tahun mengabdi di gerakan CU, dan kini juga menjabat sebagai Wakil Presiden ACCU Bangkok periode 2012 – 2014.

Tentang perkembangan Inkopdit, kata dia, sangat tergantung dari Puskopdit. Sedangkan Puskopdit tergantung dari primer, dan primer dari anggota perorangan. Karena itu setiap melakukan kunjungan ke daerah-daerah selalu menekankan kualitas pelayanan dari primer kepada anggota. Apa yang dibutuhkan anggota harus betul-betul diketahui oleh manajemen. Yang tidak kalah pentingnya tentu kebijakan pengurus.

Terkait dengan Visi GKKI tahun 2020, kata Rommy, karena kita ingin menjadi 4 besar di Asia, syukur 3 besar. Saat ini Indonesia baru ranking 7 Asia. Secara nasional anggota individu saat ini baru mencapai 2.070.024 orang dengan aset Rp 16,165 triliun. Waktunya tinggal 7 tahun lagi. Karena itu setiap kunjungan ke daerah-daerah Rommy selalu menekankan visi 2020. Bila setiap tahun jumlah anggota bertambah 1 juta lebih sedikit, target 2020 bisa terpenuhi.

“Soal aset, ikutan. Yang penting target anggota individu – perorangan tercapai. Jumlah penduduk Indonesia 240 juta jiwa, namun yang menjadi anggota CU baru 2.070.024 orang. Masih sangat jauh dari target. “Ini pekerjaan primer untuk menggaet anggota baru. Primer bisa berkualitas jika ada pelayanan pendidikan dan pendampingan dari Puskopdit. Demikian pula Puskopdit, perlu pelayanan dan pendampingan dari Inkopdit. Ketiga jenjang tersebut saling membutuhkan dan saling mengisi,” jelas Rommy.

Jika dilihat dari jumlah penduduk, kata Rommy, daerah potensial pengembangan anggota tentu di Pulau Jawa. Sekitar 60% penduduk Indonesia berdesak-desakan di Pulau Jawa. Namun perkembangan Kopdit di Jawa jauh ketinggalan. Bandingkan dengan Sumatera Utara, NNT atau Kalimantan Barat yang infrastrukturnya jauh tertinggal. Di Kalimantan, dari Pontianak ke Sintang, misalnya, kita harus tahan badan. Menempuh perjalanan panjang, bergelombang, berlubanglubang, badan terguncang-guncang, oleng ke kiri oleng ke kanan. Di NTT apalagi. Jalanan berkelok-kelok, berbukit dan berjurang, sempit dan berlubang. Namun daerah-daerah itu perkembangan kopditnya sangat maju. Bandingkan dengan di Jawa yang infrastruktur dan lainnya serba lancar, tetapi kopditnya sangat lambat.

Jika primernya tersendat-sendat, dengan sendirinya jumlah anggota tidak bisa berkembang dengan baik. Menurut pengamatan Rommy, tergantung pengurusnya. Kalau menjadi pengurus dengan semangat mengabdi, kopditnya akan bisa berkembang baik. Namun sebaliknya, jika pengurus itu mengabdinya masih berpikir imbalan, ini yang susah. “Jadi pengurus Kopdit tidak dapat apa-apa. Yang bisa didapat kepuasan bila anggota sudah berkembang. Saya sudah 40 tahun, kepuasannya hanya itu,” tegasnya.

Sebagai praktisi, Ketua Inkopdit, Ketua Puskopdit Swadaya Utama Muamere, Wakil Presiden ACCU, sekaligus motivator yang kaya pengalaman lapangan, ilmunya bisa ditularkan kepada banyak orang. Tetapi, kata dia, primer yang memintanya memberi semangat – motivasi kepada anggota hanya di luar Jawa. “CU Lantang Tipo yang sekarang anggotanya 139.446 orang, sudah booking saya bulan November 2012 untuk memberikan motivasi awal Februari 2013. Anggota yang hadir 700 orang lebih. Di Bondar, Sumatera Utara, juga demikian. Kekuatan saya memang memberikan motivasi. Banyak primer yang mengundang, tetapi di luar Jawa. Yang di Jawa belum ada,” tutur Rommy, orator pembakar semangat yang pernah terjun ke dunia politik, dan menjadi wakil rakyat di legislatif.

Sebagai pengurus Inkopdit, tugas sebenarnya ke Puskopdit, bukan ke primer. Karena melihat ada kebutuhan motivasi, di primer pun dilayani. Kalau dihadiri banyak anggota, sasaran member semangat kena. Pengalaman 40 tahun di CU, untuk menjadi bekal pengembangan keanggotaan dan Kopdit itu ada. Tetapi di Jawa, kata dia, hamper tidak ada yang mengundang. Mungkin mereka menganggap, tidak penting. Jika demikian, perkembangan Kopdit di Jawa harusnya lebih bagus.

Kopdit di Jawa, kata Rommy, bukan tidak pernah maju. Di Semarang, misalnya, tahun 1980-an ketika masih ada Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D), Semarang menjadi daerah contoh untuk pengembangan Kopdit di Indonesia. Dari Puskopdit Swadaya Utama Maumere, pernah melakukan studi banding ke Semarang. Kemudian Surabaya, tahun 1980-an juga masih lumayan. Sayang perkembangannya kemudian, menurun…., menurun…., dan terus menurun. BK3D Jogya juga begitu. Apakah karena pada waktu itu ada sponsor – kerja sama dengan pihak luar negeri sehingga cukup bersemangat. Di luar Jawa juga ada sponsor. “Bedanya, ketika sponsor berakhir, gerakan Kopdit di luar Jawa tetap bersemangat untuk maju, sementara yang lain mlempem. Barang kali perlu ada evaluasi khusus,” jelas Rommy.

Waktu rapat pengurus di Inkopdit beberapa hari yang lalu dilaporkan bahwa di Solo, Malang, misalnya, perkembangannya sudah mulai membaik, dan ada keseriusan untuk perbaikan. Yang perkembangannya paling baik Puskopdit Bogor Banten, dan Puskopdit Jawa Barat Bandung. Yang benar-benar harus dipancu Jawa Tengah, Solo – Semarang, dan Jawa Timur, Surabaya.

Kalau 10 Puskopdit di Jawa semua sehat, diyakini visi 2020 akan tercapai. Rommy memberi contoh, di Jawa Barat yang penduduknya lebih dari 30 juta, yang menjadi anggota Kopdit baru 30.000 orang, atau 0,01%. “Bisa 2% saja sudah lumayan. Apalagi mencapai 10%, luar biasa. Jawa Tengah dan Jawa Timur, penduduknya masing-masing lebih dari 30 juta. “Karena semangat mengabdinya mungkin beda, pertumbuhan kopditnya seperti ini,” kata Rommy.

Untuk menggapai mimpi besar 2020, kata dia, langkah ke depan yang akan dilakukan membangun semangat baru untuk pengurus dan manajemen Puskopdit di Jawa yang berjumlah 10 Puskopdit, yaitu; Puskopdit Jakarta, Puskopdit Bogor Banten, Puskopdit Jabar Bandung, Puskopdit Solo Surakarta, Puskopdit Semarang, Puskopdit Jatra Miguna Jogya, Puskopdit Jogya, Puskopdit Jatim Barat Surabaya, dan Puskopdit Jatim Timur Malang

Dalam pikirannya, Inkopdit memfasilitasi pengurus Puskopdit di Jawa berkumpul lalu manajemennya dievaluasi bersama. Misalnya, Puskopdit Bogor Banten, bisa jalan dengan baik. Jabar Bandung walau keanggotaannya lambat tetapi juga masih bisa jalan. Puskopdit Jawa Tengah tersendat-sendat. Apakah masyarakat Jawa dengan Sunda beda, belum tahu. Kalau mereka bertemu, saling terbuka, saling memberi semangat, saling memberi pengalaman, dan saling membagi kiat-kiat jitunya, akan sangat baik. “Berkaitan dengan visi 2020, kita harus mulai membangkitkan semangat Kopdit di Jawa. Karena penduduknya memang banyak di Jawa,” jelasnya.

Dua pekan silam ketika ke Sanggau, Kalimantan Barat, pakai travel Rommy dapat pengalaman menarik. Kecuali dirinya, di bangku belakang ada dua penumpang lain. Mereka bertanya; “Bapak mau ke mana?” “Saya mau ke Sanggau,” jawabnya. “Bapak dalam rangka apa?” Tanya kenalan barunya itu. “Saya ada pertemuan,” jawab Rommy. “Pertemuan apa, Pak?” tanyanya seakan ingin tahu benar. “Pertemuan di Puskopdit Kapuas,” jawab Rommy. “Oh, Bapak dari CU, ya? Bagus sekali! Dengan CU ini kami orang Kalimantan sekarang bisa hidup,” katanya.

Percakapan singkat – spontanitas itu, kata Rommy, memberi kesan mendalam bahwa masyarakat Kalimantan bukan saja mengenal CU, tetapi sudah CU mainded. Contoh lain, kalau kita di Bandara Samsudin Nur mau ke Pontianak, tanya alamat CU yang kita tuju, hampir semua orang tahu. Sangat berbeda dengan tempat lain. Seribu orang di Jawa, mungkin satupun tidak ada yang kenal CU atau Koperasi Kredit. Oleh karena itu, kata dia, perlu ada evaluasi untuk Puskopdit di Jawa.

Diakui, selama ini memang belum pernah diadakan evaluasi, atau penelitian mendalam, faktor apa yang menyebabkan Kopdit di Jawa kurang berkembang. “Kalaupun selama ini sering ada pertemuan, sifatnya umum, Pertemuan secara khusus belum pernah diadakan. Dalam pertemuan umum itu, masalah yang dibicarakan tidak tertalu tajam, perlu dipertajam,” jelasnya. Pemikiran itu, akan direalisir sebagai salah satu program Inkopdit bila masih dipercaya anggota sebagai ketua untuk periode mendatang. “Bukan saja mau mengejar target 2020, tetapi supaya ada keseimbangan perkembangan,”jelasnya.

Walau belum pernah diadakan evaluasi, sebagai orang nomor satu digerakan bisa menangkap apa yang dikeluhan pengurus Puskopdit di berbagai daerah. Keluhan umum, karena terjadi kemacetan pinjaman. Akibatnya, semangat pun mulai kendor. Ada juga penyalahgunaan keuangan oleh manajemen atau pengurus. Hal seperti itu membuat kepercayaan masyarakat pudar. Dengan adanya kemacetan pinjaman, dana operasional macet. Dana operasional itu diperoleh dari angsur pinjaman dan jasa. Jika pinjaman tidak diangsur, jasa tidak masuk. Itu yang membebani biaya operasional. Jika biaya operasional tidak ada bagaimana mereka bisa bergerak untuk pelayanan.

Kalau kita memberikan pinjaman hari ini, kata Rommy, besok sudah harus mulai tagih. Bila pinjaman mulai macet, berarti kanker mulai menyerang Kopdit tersebut, dan itu sulit untuk disembuhkan. Rata-rata kemacetan pinjaman di Jawa, baik Pus maupun primer, cukup tinggi, di atas 5%. Normalnya di bawah 5%. Orang datang mau pinjam, sembah sujud – hormat sekali. Tetapi setelah uang pulang, dia lupa sembah sujud itu harus mengembalikan lagi.

Tiga tahun menjabat Ketua Inkopdit, Rommy yang rajin mencatat seluruh kegiatan dalam buku harian, termasuk tiket pesawat, akomodasi, dan biaya lain yang terkait tugas gerakan, tercatat 91 tugas. Tugas pertama, meresmikan kantor Kopdit Takera, penandatangani prasasti 29 Mei 2010, Peresmian Wisma Inkopdit 14 Mei 2020. “Biaya perjalanannya belum dijumlah,” jelasnya. Begitu sibuknya urusan pelayanan, sebulan, seperti April silam, hanya 5 hari di rumah berkumpul dengan keluarga. Suatu ketika pulang tugas anaknya bertanya; “Kapan Bapak pergi lagi?” Sebuah pertanyaan yang menyadarkan bahwa keluarga pun perlu dilayani. (my)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *