Batu Akik, Akankah Bersinar Kembali?

Bagi sebagian masyarakat, tahun 2015 merupakan puncak euforia batu akik. Harga batu akik menyeruak logika, tak bisa dibayangkan orang biasa. Namun, seiring lambatnya pertumbuhan ekonomi, masyarakat menahan sikap konsumerisme. Dan pasar batu akik perlahan-lahan surut. Kini, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik. Tahun 2019 diperkirakan tumbuh 5,2%, berada di belakang China yang diperkirakan tumbuh 6,2%, sehingga kilau emas bisnis batu akik Indonesia yang sempat booming akan bersinar kembali, atau akan terus meredup?

Dulu, batu akik identik dengan hal-hal mistis. Bahkan perannya mengubah kelas sosial. Status masyarakat seolah naik kelas lantaran di jari-jemarinya melingkar batu akik yang digandrungi banyak orang. Hal itu yang membuat pasar batu akik bergerak suka-suka, naik turun bak roller coaster. Akibat eksploitasi sumber batu yang berlebihan menyisakan kerusakan alam.

Sejumlah problem pernah didiskusikan di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia (UI) bertajuk: “Batu Permata Asli Indonesia” dengan pembicara dari kalangan akademisi dan kolektor batu akik, Yudhi Soenarto. Dosen Program Studi Sastra Inggris UI itu menguraikan bahwa masyarakat Indonesia masih memandang batu akik dengan cara tradisional. Padahal, batu akik sudah dikenal dan digunakan sebagai perhiasan sejak ratusan – ribuan tahun silam.

Menurut kolektor batu akik dan batu mulia, cara pandang tradisional itu membuat pasar dan kebutuhan batu akik cenderung bersifat semu. Kebutuhan terhadap batu akik dengan mudah diciptakan dan cepat hilang dengan sendirinya. Akhirnya konsumen yang dirugikan. Di negara-negara lain, batu akik – batu mulia sudah dikembangkan menjadi industri yang dapat berkontribusi terhadap pendapatan negara.

Jika dijadikan industri dengan sistem yang terstruktur dan mendapat dukungan dari pemerintah, batu akik dan jenis batuan mulia lain asli Indonesia tidak akan bernasib seperti tanaman Anthurium atau ikan Louhan yang kini anjlok nilai jualnya. Perburuan batu mentah, pemotongan, dan penggosokan yang menjamur dimana-mana 3 tahun lalu merupakan puncak keberhasilan para pedagang sekaligus penanda berakhirnya demam batu akik.

Orang-orang yang latah ikut berdagang batu, padal tidak paham seluk beluk perbatuan, akhirnya menjadi korban karena tak tahu hukum supply and demand dalam dunia bisnis. Eksplorasi pengerukan batu Bacan di Pulau Kasiruta, misalnya, dilakukan sejak belasan tahun lalu oleh perusahaan asing. Begitu pula dengan penambangan batu Kalimaya di Banten. Perusahaan asing sejak lama telah membuat peta potensi batu mulia di berbagai wilayah Indonesia. Tetapi ilmu Gemology yang berkembang di banyak negara, belum dipandang serius di Indonesia. Alhasil, ketika sumber daya batu mulia di Tanah Air dikuasai asing dan produk turunannya dikirim dan dijual kembali ke Indonesia, maka kita yang dirugikan.

Harus diakui bahwa ahli Gemology di Indonesia masih sangat sedikit. Sedangkan negara lain memiliki banyak ahli Gemology. Sehingga, industri batu mulia mereka berkembang begitu pesat. Hal itu dibenarkan Gatot Mochamad Soedrajat, Ketua Komunitas Batu Nusantara dan Tilong Giek Pien, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI yang juga kolektor batu akik. Mereka sependapat seharusnya pemerintah juga lebih berperan dalam kegiatan industri batu mulia. Pemerintah tidak hanya berwacana tentang pengenaan pajak bagi pebisnis batu akik. Menyiapkan kredit permodalan, pendampingan peningkatan kualitas produksi dan mempromosikan hasil produksi adalah kebijakan yang sangat ditunggu para pebisnis batu mulia yang masih sekelas usaha kecil menengah (UKM).
Saat ini Sri Lanka merupakan pemegang merek batu-batuan, terutama produk batu Safir. Dari penjualan ekspor cenderung stabil. Puncaknya, tahun 2008 mencapai US$ 608,41 juta. Di negara itu ada dua lembaga yang berperan besar dalam pembentukan merek Ceylon Sapphires, yakni National Gems and Jewelry Authority (NGJA) yang dibentuk pemerintah dan Ceylon Sapphire Council Limited (CSCL) yang merupakan konsorsium pengusaha-pengusaha besar Safir Sri Lanka. Pembentukan dua lembaga merupakan langkah branding strategy untuk pasar AS, Eropa, Jepang dan negara lain. Lembaga itu mengatur segala hal terkait industri batu safir. Mulai dari izin penambangan, standarditasi produk, hingga perdagangan.

Sementara di Indonesia, masih individualis, hanya mencari keuntungan individu. Tidak ada sistem atau lembaga yang mengatur. Soal penambangan, NGJA memiliki aturana ketat. Terutama bagi penambangan menggunakan mesin. Untuk regulasi impor, Sri Lanka memberikan kemudahan impor bahan baku dengan memberlakukan tarif flat US$ 200.
Selain Sri Lanka, China juga dikenal sebagai penghasil batu mulia. Terutama sejak 1978 setelah kebangkitan ekonomi negara tersebut dan Oktober 2000, Shanghai Diamond Exchange (SDE) dibentuk. Lembaga ini juga mengatur segala hal terkait industri batu mulia. Mulai dari standardisasi produk, tarif impor dan ekspor, hingga pembentukan lembaga riset khusus di bidang Gemology.

Gemological Institute of Amerika telah memberikan pengajaran ilmu Gemology di Beijing sejak 1998. Melalui progarm ini, tercipta 30 lulusan terbaik setiap tahun yang disiapkan khusus untuk pengembangan industri batu mulia China. Gaji para ahli Gemology di China pun tak main-main. Khusus untuk pemotong dan desainer batu mulia mereka bisa mendapatkan penghasilan US$ 150.000 per tahun, atau sekitar Rp 2 miliar per tahun (kurs Rp 13.50 per dollar AS).

Yudhi Soenarto dan beberapa rekannya tengah berupaya mendorong pihak UI agar mengirimkan mahasiswa atau dosen untuk menuntut ilmu Gemology ke negara lain. Diharapkan suatu saat nanti UI bisa menjadi pionir yang memberikan pendidikan khusus di sekitar batu mulia sehingga bisa melahirkan ahli Gemology untuk mendukung pengembangan produk batu akik menjadi industri yang menyumbang devisa bagi negara.
Pasar Rawabening, yang indentik dengan sebutan pasar para pria, saat booming batu akik membuat kemacetan di sepanjang Jl Raya Bekasi Barat dan sekitarnya, kini kelihatan semakin sepi. Karena lokasinya sangat strategis, di depan stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, pengunjung dari ujung barat Pulau Jawa, atau Sumatera maupun dari ujung timur pulau Jawa dan Bali, akan dengan mudah menemukan Pasar Rawabening yang diklaim sebagai pusat pasar batu akik terbesar di Asia Tenggara.

Sejauh mata memandang, hanya tampak beberapa wanita di dalamnya. Perbandingan pengunjung wanita dan laki-laki bisa 1: 100. Artinya, hanya ada seorang wanita dari seratus pengunjung Pasar Rawabening. Pasar ini dikenal sebagai grosir khusus menjual batu mulia dari jenis kalimaya, bacan, rubi, hingga akik. Masing-masing pedagang, menggelar dagangan batu mulia serba gemerlap berwarna-warni.

Namanaya juga pasar, tak jauh berbeda dengan pasar tradisional umumnya, aktivitas di dalam pasar itu terjadi proses jual beli. Hanya saja, tak seramai tiga tahun lalu, ketika pasar batu akik sedang booming. Itu diakui Zulkarnaen dan Edo Jauhari maupun pedagang lainnya. Suasananya memang masih lesu. Tetapi belakangan sudah cukup lumayan. Pengunjungnya mulai ramai. Pasar yang buka pukul 08.00 Wib dan tutup pukul 16.00 Wib mayoritas pengunjungnya tetap kaum pria, dari berbagai usia, tua-muda.

Seperti diharapkan oleh Zul, salah seorang pedagang batu akik warga Rt 011 Rw 03, Kel. Pondok Bambu, Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur, setelah pesta demokrasi 5 tahunan, pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden periode 2019 – 2014 usai, gegap gempita dan gairah itu beralih ke pasar, sehingga para pedagang bisa meraih keuntungan. Edo Jauhari, asal Sumatera Barat yang sudah seperempat abad berdagang batu akik di Pasar Rawa Bening mengaku pernah mereguk keuntungan sehari sekitar Rp 2 juta dari pemburu batu bacan dan rubi. Tapi sekarang, bisa meraih sepertiganya saja sudah lumayan.
Tidak jauh dari Pasar Rawabening, ada Jakarta Gems Center (JGC), pasar modern, juga bursa batu aji dan batu permata. JGC terdiri 3 lantai, lantai dasar dikhususkan untuk pedagang batu mulia dan barang antik, lantai 2 pedagang obat-obatan, dan lantai 3 jajanan serba ada. Pasar modern ini mampu menampung 800-an pedagang. Meski tidak seramai waktu booming dulu, namun pengunjung GJC masih cukup ramai, karena suasananya lebih nyaman.

Pembeli, selain untuk dijual kembali, banyak juga yang untuk dipakai sendiri. Salah seorang pengunjung dari Bogor, Jawa Barat, Darmansyah Ali, yang sempat berbincang dengan Majalah UKM mengatakan; “Puas bisa berkunjung ke GJC, karena bisa memilih berbagai jenis batu mulia, yang membuatnya kebingungan memilih.” Yang berkunjung ke GJC banyak dari kalangan menengah – atas, kolektor batu mulia.

Zul yang juga grosir di GJC mengatakan, dalam dunia usaha ada masa dan masa panen. Saat booming, kata pemilik beberapa outlet di JGC itu, bisa meraup untung sangat besar. Tapi saat ini, bisa mendapat omzet Rp 5 juta – Rp 7,5 juta per hari sudah lumayan. Biasanya, bulan November – Desember banyak pembeli dari orang asing, seperti dari Jerman, Amerika, Korea, Thailand, Taiwan, Italia, dan sebagainya.

Orang yang senang pakai cicin batu akik, dulu hanya orang-orang tua. Tetapi sekarang, anak-anak muda tak mau ketinggalan. Ada yang mengatakan; tidak punya batu akik ketinggalan zaman. Tidak heran jika batu akik harganya juga mahal. Secara tradisi, cincin pengikat terbuat dari; logam mulia, perak, atau campuran dari bahan lain, seperti tembaga, perunggu, kuningan. Agar penampilan lebih indah, cincin diukir. (sutarwadi k.)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *