Berakhir Happy Ending Kopdit Pintu Air Intervensi Ala BRI

Melayani yang tak terjangkau, dan menjangkau yang tak terlayani, menopang yang lumpuh, menuntun yang buta dan merangkul yang mapan.

Ketika Romanus Woga (Rommy) salah seorang tokoh gerakkan Credit Union (CU) – Koperasi Kredit (Kopdit) di Indonesia yang kini menjabat Wakil Bupati Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta Yakobus Jano memperkenalkan credit union kepada 50 orang yang hadir dalam pertemuan pada 5 April 1995, mengaku tak pecaya.

“Bagaimana orang bank, sudah 30 tahun, mengundang untuk bicara koperasi. Namun, karena itu adalah kewajiban, maka saya pun datang untuk memperkenalkan koperasi kredit, terutama, di mana pun dan kapan pun,” kenang Rommy tentang kisah kelahiran Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kopdit Pintu Air yang kini telah menjadi koperasi primer tingkat nasional dengan total jumlah anggota 227.672 orang (Maret 2019) dan aset mencapai angka triliunan rupiah.

Setelah mendapat jawaban, Yakobus Jano pun mengatakan; “Bapa di bank kami bikin uang, di CU kami bikin manusia.” Jawaban Yakobus Jano itu membuat Rommy merasa yakin bahwa Raiffeisen muda asal Rotat ini akan mampu membawa CU seperti diharapkan Frederich William Raiffeisen pendiri credit union dunia. Raiffeisen memang sedari awal sudah berpesan; “Jangan berfikir tentang uang. Uang akan datang bila manusia mau bersatu.”

Di bawah pohon cokelat mereka berembuk – berdiskusi – rapat membicarakan bagaimana cara menanggulangi ekonomi yang saat itu bernar-benar morat-marit, banyak petani di kampung susah untuk menyekolahkan anaknya. Mereka saat itu juga banyak yang menjadi korban rentenir. Para rentenir memberikan pinjaman dengan bunga 30% per bulan. Ada yang 6 bulan bunganya 1 ½ kali dari pokok.

Akibatnya, banyak warga masyarakat yang sawahnya – sebidang tanah untuk kehidupan, terpaksa digadaikan karena sulit mendapatkan uang tunai untuk biaya keluarganya yang dirawat di rumah sakit, untuk pendidikan anak. Belum lagi urusan pesta adat dan lain-lain. Untuk membantu mengatasi kesulitan tersebut disepakati membentuk kelompok arisan, kemudian dinaikan menjadi simpan pinjam, setelah itu dialihkan menjadi credit union – koperasi.

Sebagai orang credit union, kata Rommy, harus selalu ingat tokoh-tokohnya. Baik tokoh internasional, tokoh nasional seperti Pater Alberch SJ pendiri Koperasi Kredit Indonesia, maupun tokoh lokal NTT seperti Pater Heinrich Bollen,SVD. Dia juga berpesan sekaligus mengingatkan, karena perintis Kopdit Pintu Air seperti Yakobus Jano dan teman-temannya semakin hari tidak semakin muda, tapi sebaliknya semakin tua, demi keberlanjutan lembaga, kaderisasi itu very-very important – sangat penting.

Rommy menceritakan pengalamannya selama memimpin Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Swadaya Utama Maumere, dan ketergodaannya dengan dunia politik. Pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 dia mencalonkan menjadi anggota Dewan, tetapi kalah. Karena di mana-mana saingannya mengatakan; “Hai, kamu mau CU hidup atau mau menjadi anggota Dewan? Kalau mau CU hidup, jangan jadi anggota Dewan. Urus CU dulu!” Jawaban Rommy sama; “Tidak mau CU mati.” Dunia politik itu menyadarkannya untuk segera mempersiapkan kader.

Untuk eksekutif – manajemen mempersiapkan sumber daya manusia (SDM). Ada 3 orang yang dipersiapkan, kini Fransu dinilai cukup mumpuni sebagai General Manager (GM) untuk mengendalikan operasional lembaga. Kemudian kader pengurus yang berasal dari primer, juga dipersiapkan melalui pendidikan kepengurusan. Jadi, ketika maju menjadi calon wakil bupati Sikka semua sudah siap. Rommy berpasangan dengan Fransiskus Roberto Diogo sebagai bupati, dan menang. “Karena itu saya pesan kepada Pak Kobus, bukan pengurus, lakukanlah kaderisasi,” tegasnya.

Kader itu, kata Rommy, tidak harus dari suku tertentu, katakanlah orang dari Flores, misalnya. Apalagi hanya memilih orang terdekat – kawan atau saudara. Tetapi siapa saja anggota Kopdit Pintu Air yang mau meneruskan dan memajukan koperasi ini. Beban tanggung jawab pengurus ke depan, akan semakin berat, karena Kopdit Pintu Air sudah berstatus Koperasi Primer Nasional, dan terus berintervensi ala Bank Rakyat Indonesia (BRI), ke berbagai daerah dan di berbagai provinsi, antara lain; ke Nusa Tenggara Barat (NTB) di Dompu, lalu menyeberang ke Jawa Timur membuka cabang di Surabaya, melanjutkan perjalanan ke Ibukota Negara, Jakarta.

Bulan Juli 2019, ketika gerakkan koperasi tengah merayakan ulang tahun ke-63 di Purwokerto, Jawa Tengah dipimpin langsung Yakobus Jano, pengurus Kopdit Pintu Air melakukan roadshow – safari ke Depok, Jawa Barat, dan DI Jogyakarta, melakukan sosialisasi. Seperti tak ada rasa lelah, Vinsen Deo salah seorang pengurus inti yang membidangi kehumasan, terbang ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Samarinda, Kalimanta Timur (Kaltim) melakukan sosialisasi tentang masa depan yang lebih sejahtera malalui koperasi dengan menjadi anggota Kopdit Pintu Air.

Konsep intervesi ala BRI ke berbagai daerah memang sangat dikuasai  Yakobus Jano, karena Ketua Kopdit Pintu Air ini mantan petinggi BRI Cabang Maumere. “Jembatan tol menyeberang” ke berbagai daerah melalui warga NTT yang bermigrasi – merantau di seluruh Indonesia. Meski berbau kedaerahan, itu hanya sarana untuk menyejahterakan seluruh masyarakat Indonesia. Karena yang menjadi anggota Kopdit Pintu Air semua lapisan masyarakat yang berasal dari berbagai suku dan agama yang ada di Indonesia. “Orang sukses itu bukannya tidak pernah gagal. Tetapi orang yang tidak pernah menyerah, berakhir happy ending – bahagia” tutur Romanus.

Berdasarkan hasil penelitian dari pengalaman CU Asia maupun CU di seluruh dunia ada 10 kunci sukses. Antara lain; SDM yang berkualitas. Ini penting. Karena itu di cabang-cabang SDM anggota perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Kreteria anggota berkualitas seperti hymne credit union; simpan teratur, pinjam bijaksana, angsur tepat waktu, terencana, pendidikan selalu ikut, dan rapat-rapat selalu ikut.

Kemudian, kepercayaan anggota tinggi. Jadi, setiap cabang harus selalu melihat dan memantau berapa, berapa banyak anggota yang betul-betul mempunyai kepercayaan tinggi kepada cabang tersebut. Lalu, pelayanan yang berkualitas menjadi batu penjuru. Tokoh, pimpinan yang kompak, strong – kuat. Tokoh – pimpinan itu bukan hanya di pengurus pusat, tetapi juga di cabang-cabang, maupun di kelompok basis. Semua harus kompak dan kuat, karena anggota akan melihat. Jika pengurusnya tidak kompak, yang lalai mulai merasa punya kesempatan. Tetapi, jika pengurus kompak dan kuat, mereka juga akan takut.

Rommy juga berpesan, rolling – safari kunjungan pengurus ke semua cabang harus tetap dilakukan. Jangan lihat biaya, tetapi yang harus dilihat hasilnya kelak. Dan, produk koperasi harus yang betul-betul dibutuhkan anggota. Media komunikasi pun termasuk salah satu dari 10 kunci sukses. Kopdit Pintu Air telah melaksanakan dengan menerbitkan Ekorantt.

Untuk meningkatkan loyalitas dan militasi anggota, hal yang paling utama adalah melalui pendidikan. Pendidikan di koperasi tidak seperti di pendidikan formal di sekolah-sekolah. Tetapi pendidikan pertemuan bulanan, dan itu harus net working – mata rantai masing-masing cabang yang harus mempertanggungjawabkan. Contoh, cabang A di Maumere, punya kelompok di dusun X, maka kelompok basis di dusun X itu yang harus dibimbing militansi. Artinya, memberi pemahaman orang per orang sehingga menjadi komunitas yang siap pakai. Satu kelompok anggotanya 10 – 20 orang. Masing-masing kelompok, setiap bulan wajib ketemu di tempat yang mereka sudah sepakati. Bisa saja di rumah pengurus kelompok, atau di tempat bangunan yang telah ditetapkan.

***

Kehadiran seorang tokoh – pejabat, bagi masyarakat – rakyat biasa dan terutama yang tinggal di perdesaan adalah kebanggaan. Apalagi jika yang datang tokoh nasional, atau pejabat tinggi dari pusat pemerintahan. Kehadirannya bukan sekedar menjadi prestise, pengakuan, penghargaan, tetapi juga akan menjadi motivasi, penyemangat untuk bekerja lebih keras agar mampu menghasilkan karya besar bagi masyarakat luas. Namun sebaliknya, terlalu berharap hadir seorang tokoh – pejabat tinggi, bisa membuat galau dan kecewa, bila yang diundang tidak bisa hadir. Atau sudah menjanjikan mau hadir, batal karena tiba-tiba dipanggil atasanya, gubernur atau presiden, misalnya.

Ada cerita menarik. Sebagai tokoh gerakkan koperasi, khususnya Kopdit,  Romanus Woga adalah tokoh. Sebagai Ketua Puskopdit Swadaya Utama Maumere, mantan Ketua Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) dan mantan Wakil Presiden Credit Union Asia (ACCU). Dan kini menjabat Wakil Bupati Sikka, NTT. “Mereka berharap betul saya hadir. Saya juga sudah bilang, bisa hadir. Tetapi tiba-tiba ada acara sangat penting, dan tidak bisa ditinggalkan. Besuk mau hadir, hari ini ada panggilan. Yang memanggil atasan; guburnur, menteri, bahkan tidak mungkin dipanggil presiden,” tutur Rommy.

Suatu sore, Rabu 1 Mei 2019, tanpa informasi – tidak telphon, orang nomor 2 di Kabupaten Sikka itu meluncur ke Rotat, menemui Yakobus Jano di kantor. Kehadiran Rommy itu tentu membuat Yakobus yang sedang galau terkejut. “Malaekat apa, utus?” kata Rommy menirukan kalimat yang diucapkan Jano. Ketua KSP Kopdit Pintu Air itu mengaku: “Bapa, kami sedang galau. Untuk acara besuk, gubernur tidak jadi datang. Wakil gubernur juga tidak jadi datang. Yang diutus, Ibu Kepala Dinas. Bubati belum ada kepastian, datang atau tidak. Dari Jakarta, menteri yang semula ingin datang, juga tidak bisa datang. Deputi Kelembagaan pun tidak bisa datang. Yang datang Asdep.”

Sebenarnya pada 5 Maret 2019 ketika pengurus audience dengan gubernur, telah dikatakan, 3 Mei 2019 tidak bisa datang. Yang datang mungkin Wakil Gubernur. Bagi pengurus atau gerakkan Kopdit Pintu Air, peresmian gedung kantor pusat adalah sejarah penting selama 24 tahun. “Saya juga ada perlu. Hari Kamis, saya juga ada tugas ke Makassar,” kata Rommy, membuat Jano makin galau. Padahal, hari Kamis itu Rommy harus menjadi nara sumber seminar yang diselenggarakan Kopdit Pintu Air dalam rangka RAT Tahun Buku 2018 dan peresmian Gedung Kantor Pusat Kopdit Pintu Air dengan tema; Geliat Ekonomi Kreatif dan Koperasi Menuju Masyarakat Nelayan, Tani, Ternak, Buruh (NTTB), Sejahjera dan Mandiri.

Monumen kepercayaan anggota itu merupakan gedung koperasi termegah di NTT. Itu sebabnya Pengurus – Panitia RAT mengundang; Menteri Koperasi dan UKM, Gubernur NTT, dan Bupati Sikka. “Masih mujur, hari Kamis pagi saya beri ceramah dulu. Siangnya lanjut ke Bandara, menuju Makassar. Namun hari Sabtu, 4 Mei 2019 pas RAT saya bisa datang karena pertemuan di Makassar hanya hari Jum’at. “Karena ini tugas negara, kami rela. Tetapi kalau menghadiri RAT koperasi lain, kami tidak rela,” jawab Jano.

Sebagai ketua, wajar Yakobus galau, karena 227.672 orang anggota juga ingin kerja kerasnya “diakui” petinggi negeri ini. Menteri Koperasi dan UKM tidak datang, namun hari berikutnya Gubernur NTT, secara khusus – istimewa, turun dari pesawat jet pribadinya meluncur ke Kantor KSP Kopdit Pintu Air, menandatangani prasasti. Maka, berakhirlah kegalauan itu dengan Happy Ending, dan membanggakan.

Cerita lain yang juga cukup menarik terkait pengharapan hadirnya Menteri Koperasi dan UKM, dialami Koperasi Pasar (Koppas) Kranggan, Kota Bekasi, Jawa Barat, ketika RAT tahun buku 2014, pada 31 anuari 2015. Kala itu Koppas Kranggan mengundang Menteri Koperasi dan UKM. Ketika dari protokol ada kabar Menteri pasti hadir, semua bangga. Apalagi, meski kantor Koppas Kranggan di perbatasan Jakarta, yang juga memiliki kantor cukup megah, 3 lantai, namun dalam sejarahnya baru kali pertama RAT-nya dihadiri menteri.

Bangga, berbaur rasa deg-degan. Persiapan panitia harus benar-benar prima, kesalahan sekecil apa pun tidak boleh terjadi. Maka, gladi bersih seluruh rangkaian acara, wajib hukumnya. Undangan, terutama orang dalam – keluarga besar diingatkan harus datang lebih awal, 30 menit sebelum acara dimulai. Itu pula yang dilakukan pengurus dan panitia Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Pasar (Koppas) Kranggan tahun buku 2014 yang dilaksanakan pada 31 Januari 2015, silam.

Menurut jadual, RAT akan dimulai pukul 13.30 Wib, tetapi tamu istimewa, Menteri A A Gede Ngurah Puspayoga, dan rombongan sejam sebelum acara dimulai sudah datang. Bisa dibayangkan betapa “galau” hati panitia, termasuk tuan rumah, Ketua Koppas Kranggan, Anim Imanuddin, SE, lantaran anggota peserta RAT dan undangan lain, termasuk pejabat Kota Bekasi belum datang. Baru kali ini, Menteri menunggu undangan, lebih dari sejam. Biasanya, undangan yang menunggu pejabat

Di ruang VIP, Anim menceritakan panjang lebar tentang perjuangan Koppas Kranggan hingga meraih sukses, menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia, dan Koppas terbesar di Jawa Barat. Salah satu cerita menarik yang mengesankan Menteri, tentang kebiasaan anggota kalau masuk kantor koperasi selalu tampil apa adanya, pakai celana pendek, sendal jepit, dan dengan senang hati melepas sandalnya, seperti masuk masjid. Ada juga nenek-nenek dengan pakaian “lusuh” nenteng tas kresek isi uang puluhan juta mau ditabung di koperasi. Cerita itu membuat Menteri kagum. “Benar Pak Anim,” komentarnya ketika memberhatikan salah seorang anggota teladan mengenakan sandal, maju untuk menerima piagam penghargaan, dan Menkop & UKM yang menyerahkan.

Para anggota teladan itu sangat bangga bisa bersalaman dengan menteri, dan dapat penghargaan. Yang menimbulkan pertanyaan besar, kenapa Menteri tidak memberi sambutan, dan pengarahan yang sangat ditunggu-tunggu? Sampai usia 27 tahun, kehadiran Menteri Koperasi & UKM memang sangat dirindukan. Dan baru kali pertama, ada menteri mau hadir di RAT Koppas Kranggan. Tetapi yang memberikan sambutan kala itu Deputi Kelembagaan, Drs Setyo Heriyanto.

Apakah Menteri kecewa karena harus menunggu cukup lama acara baru dimulai? Pertanyaan itu berkecamuk cukup lama. Terutama di benak panitia, karena Anim tidak memberi penjelasan. Baru saat rapat pembubaran panitia ketika banyak pertanyaan kenapa Menteri tidak memberikan sambutan, Anim mengungkapkan bahwa sebenarnya dia sudah merayu, agar Menkop berkenan memberikan sambutan, pengarahan dan wejangan. Tetapi tamu istimewa itu keukeuh, tidak mau, dan mengatakan ingin tahu, Koppas Kranggan dan RAT-nya seperti apa. Bahkan deputinya, yang diminta memberi sambutan sempat kaget, merasa tidak nyaman, karena tahu anggota Koppas Kranggan pasti berharap Menteri-lah yang ditunggu-tunggu.

Menkop kagum karena pedagang pasar tradisional di “kampung” Kranggan itu mampu berkoperasi dengan baik. Terbukti Koppas Kranggan meraih predikat koperasi besar, beberapa kali meraih penghargaan tingkat nasional, termasuk Satyalencana. dan dikunjungi delegasi gerakkan koperasi dari negara-negara ASEAN, antara lain; Philipina, Malaysia, Brunei Darusalam, dan Singapur.

***

Ketika RAT melampaui batas bulan April, banyak anggota mempertanyakan. Pintu Air semakin besar, namun penyelenggaraan RAT bisa terlambat. “Kami anggota mulai merasa kecewa dengan pengelolaan.” Kopdit Pintu Air melaksankan RAT tahun buku 2018 pada 3 Mei 2019. Bagi koperasi, RAT adalah wajib hukumnya. Koperasi tidak ada RAT, berarti sudah ada tanda-tanda. Mungkin koperasi itu sedikit sakit, lalu tidak bisa menyelenggarakan RAT.

Sebagai ketua Yakobus menjelaskan; “Kita terlambat bukan persiapannya diragukan, tetapi karena ada aturannya. Sebelum RAT harus ada audit eksternal. Apalagi Kopdit Pintu Air sudah primer nasional. Secara kebetulan, harus menunggu peresmian kantor pusat agar biayanya tidak dobel. Anggota sebagai pemilik hendaknya bisa memahami. Bukan karena pengelolaannya tidak benar, tetapi perayaan ini tidak bisa dibuat dua kali, satu untuk RAT, lainnya untuk peresmian gedung kantor pusat.”

Penjelasan itu perlu disampaikan agar elemen-elemen di lapangan, terutama para manajer cabang bisa menjelaskan kepada anggota agar tidak menimbulkan isu yang negative sehingga mencemarkan nama baik yang telah dibangun selama ini.

Hal ini saya sampaikan agar elemen-elemen di lapangan terutama manajer manajer cabang menjelaskan kepada anggota agar jangan sampai ada isu yang negative sehingga mencemarkan nama baik yang telah kita kerjakan selama ini. Sedih sekali kalau kita sendiri tidak mengerti. “Kemarin saya memang sedih – galau. Pada 5 Maret 2019 pengurus audience dengan Gubernur. dijelaskan bahwa 3 Mei 2019 tidak bisa hadir meresmikan Kantor Pusat Pintu Air. Beliau menjelaskan, yang akan hadir adalah wakil gubernur. Namun informasi sebelum terjadi kemarin, masih simpang siur.”

Andai benar tidak hadir, sungguh kecewa berat. Kalau Wakil Gubernur tidak hadir, Bupati tidak hadir, dari Jakarta, Menteri Koperasi dan Ukm juga tidak hadir. Itulah yang membuat mengelola menjadi galau. Akhirnya ada kepastian informasi, Wakil Gubernur hadir. Dan benar hadir. memberikan support dan wejangan sangat nyata dan bisa dilakukan siapa pun. Maka, berakhirlah dengan happy ending – semua bahagia.

Kepada gubernur Yakobus bilang, seumur-umur baru kali pertama masuk di ruang kerja gubernur NTT. Baik waktu masih kerja di bank maupun selama di Pintu Air. Itu bukan berarti dia kuper – kurang pergaulan. Tetapi dia menganggap untuk apa ketemu gubernur atau bupati. Dengan jumlah anggota begitu besar, bisa sangat mudah ketemu pejabat. Tetapi tidak dilakukan, untuk menghindari kesan meminta-minta segala sesuatu. “Kita bangun koperasi ini, tidak boleh minta kepada siapa pun, terutama minta bantuan. Kita harus mandiri,” tegasnya.

Gubernur, lanjut dia, bangga sekali dengan Kopdit Pintu Air. Dikatakan, orang yang masuk koperasi adalah orang yang mempunyai martabat, dan punya karakter. Cirri-cirinya; disiplin, jujur, dan bertanggung jawab. Kopdit Pintu Air merupakan kumpulan orang yang mempunyai mimpi besar. Karena pengakuan seorang gubernur, yang menjadi anggota koperasi harus bangga, dan harus mengaplikasikan orang-orang bermartabat itu seperti apa. “Jangan sampai pimpinan – orang nomor 1 di NTT mengakui bahwa kita adalah orang punya martabat, tetapi kita berbuat sebaliknya dari itu. Lebih khusus lagi para pengelola. Jika pengelola tidak punya karakter yang baik, apa jadinya koperasi ke depan,” kata Yakobus berpesan kepada anggota.

Kumpulan orang di Kopdit Pintu Air, lanjut dia, baru belakangan saja ada yang bergelar sarjana; S1, S2, S3 atau doktor. Sebelumnya orang tidak tamat SD, SMP, dan SMA itu sudah luar biasa. Apalagi sarjana muda – S1, mimpi. Dulu, banyak orang tidak mau masuk kerja di Kopdit Pintu Air. Ketika koperasi mulai memperhatikan karyawan seperti lembaga lain, ketika ketemu dengan anggota, berpapasan di jalan, diejek. Mereka bilang; “kau hanya koperasi saja pakai sepatu. Pakai sandal, pantas.” Begitulah nasib karyawan koperasi.

“Koperasi adalah milik kita, tetapi kita sendiri meremehkan. Mestinya, apa pun namanya, cintailah apa yang ada dan rawat dia. Awalnya, pegawai yang direkrut Pintu Air tidak karuan. Ada tukang ojek, penjual ikan, dan macam-macam model. Setelah masuk Pintu Air, mereka dibersihkan. Sekarang kelihatan cantik-cantik dan ganteng. Dulu, sebelum kerja mereka tidak tau mode. Setelah kerja di Pintu Air mereka luar biasa. Jadi, tinggal bagaimana menjaga dan merawat barang yang ada” kenangnya.

Yakobus pun kemudian mengajak seluruh anggota dan manajemen menjaga lembaga, Kopdit Pintu Air, karena ini merupakan sawah ladang untuk diwariskan kepada anak cucu kelak. “Jangan bayangkan anak cucu kita berhubungan dengan lembaga keuangan seperti bank. Saya ini pemain di bank kurang lebih 30 tahun. Tahu persis aturan konvensional begitu ketat. Jangankan nasabah, karyawan di dalam pun tidak segampang yang dibayangkan. Sulit sekali mendapatkan sedikit dana untuk membangun atau renovasi, rumah misalnya. Berbeda di koperasi, karena aturan dibuat bersama, tidak mencekik anggota,” urainya.

Saat ini, diusia genap 24 tahun Kopdit Pintu Air menjadi koperasi terbesar di NTT, baik dilihat dari jumlah anggota maupun dari segi aset. Sejak awal memang sudah punya mimpi besar. Suatu saat koperasi harus punya kantor yang representative dan kendaraan-kendaraan sendiri. Mimpi itu telah menjadi kenyataan. Mimpi ke depan akan mengembangkan berbagai sektor bisnis. Karena anggotanya tersebar di berbagai daerah, semua sektor bisnis perlu diambil, termasuk sektor ekonomi kreatif. Tidak tertutup kemungkinan merambah ke ekonomi menengah, termasuk bisnis transportasi. Kami mimpi ingin memiliki pesawat terbang untuk transportasi umum. Hal itu sudah dibahas dalam RAT Kopdit Pintu Air ke-21 pada 24 Februari 2017.

Sebelumnya, tahun 2012 sudah punya cita-cita memiliki kapal laut sendiri. Kala itu jumlah anggota baru 37.721 orang sudah memikirkan bagaimana punya hasil bumi komoditi di Flores bisa dijual ke Pulau Jawa, kemudian balik ke Flores membawa bahan pangan, seperti Sembako. Persiapannya, sudah beli lahan 2 hektar di pinggir pantai untuk pelabuhan sendiri. Ketika ke Jakarta, 2014 survei harga kapal dan mencari informasi tentang pengelolaan bisnis kapal laut, ternyata tidak mudah. Urusan surat izin saja sulit sekali.

“Belum lagi pengelolaannya. Akhirnya mimpi ditutup sampai disini. Namun bukan berarti tidak punya mimpi lain. Kami ingin terbang tinggi, punya pesawat komersial sendiri,” kata Yakobus optimis. Pengelolaan bisnis transportasi udara lebih mudah, bisa menggunakan sisyem KSO – joint operation – kerja sama operasional. Diharapkan mimpi itu terwujud tahun 2020 dengan bendera Pintu Air Asia.

Kalau jumlah anggota memadai, katakanlah tahun 2019 ini mencapai 250.000 anggota, kemudian tahun 2020 mencapai 300.000 orang, tentu akan mudah untuk membeli pesawat dengan harga, sekitar Rp 100 miliar. Menghitungnya, Rp 100 miliar dibagi 300.000 orang, maka masing-masing anggota hanya dibebankan Rp 300.000,- lebih sedikit. Dampak positifnya, menjadi promosi bahwa Pintu Air ini punya pesawat. Secara komersial pun pasti untung. (adit – mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *