Bersama CUKSMembangun Hidup Sejahtera

Era globalisasi memberikan dampak yang besar terhadap perubahan yang sekarang terjadi. Globalisasi ditandai dengan cepatnya pergerakan manusia, barang, jasa, dan informasi yang melintasi batas-batas antar negara. Kenyataan ini memberikan dampak perubahan yang besar terhadap ekonomi dan perdagangan dunia. Realitas perubahan dan persaingan menuntut usaha yang maksimal bagi setiap organisasi. Banyak usaha dan daya yang dilakukan untuk mengatasi, memenangkan serta mendapat manfaat dari perubahan itu sendiri.

Suatu gerak langkah maju ditunjukkan oleh Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Atambua. Betapa tidak, pada 26-30 November 2006 terjadilah kesepakatan dengan Uskup Atambua Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, agar Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) memfasilitasi pengadaan Credit Union (CU) dengan tata kelola profesional. Untuk merealisasikan maksud tersebut, Uskup Anton mengirim 3 utusan untuk magang di Credit Union Pancur Kasih, Pontianak. Alhasil, segera setelah itu, 8 Juni 2007 berdirilah koperasi di Keuskupan Atambua. Koperasi ini didirikan oleh 92 orang pendiri KS). Awal operasional, CUKS meminjam gedung Kantor Komisi PSE Keuskupan Atambua sebagai Kantor Pusatnya.

cuks3Dengan Visi: Menjadi lembaga pemberdayaan yang terpercaya dan profesional berbasis komunitas di wilayah Keuskupan Atambua, dan Misi: Meningkatkan kualitas hidup anggota melalui pendidikan dan pelatihan yang bermutu, pelayanan keuangan prima dan pendampingan yang berkelanjutan, inilah yang menjiwai setiap pegawai dan anggota CU KS untuk melihat bahwa gerakan CU bukanlah gerakan akumulasi modal seperti perbankan, atau gerakan untuk mencari keuntungan; akan tetapi lebih kepada memanusiakan manusia dengan prinsip dasar kristianitas. Tujuan dan sasarannya adalah memberdayakan, membebaskan orang miskin di masyarakat marginal, inferior serta tertindas secara ekonomis. Selain itu agar semua anggota dapat menjadi manusia yang sejahtera, bermartabat dan berdaulat atas hidupnya sendiri.

CU adalah sebuah lembaga keuangan koperasi yang dimiliki, diawasi dan dioperasikan oleh para anggotanya untuk tujuan mendorong pola hidup hemat, menyediakan pinjaman dengan suku bunga bersaing, dan menyediakan berbagai pelayanan lain kepada anggota. Sebagai lembaga jasa keuangan, CU mempunyai tanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya dengan berbagai macam produk layanan keuangan. Penciptaan kesejahteraan menjadi prinsip umum yang dipegang oleh para pegawai atau karyawan.
CUKS merupakan salah satu lembaga perekonomian milik umat Keuskupan Atambua yang bersinergi dengan pemerintah Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Malaka untuk meningkatkan kehidupan perekonomian umat melalui produk-produk unggulan yang dikembangkan lembaga CU. Lembaga perekonomian umat yang memiliki badan hukum BH: 07/BH/XXIX.2/IX/2008, awalnya hanya beranggotakan 92 orang dengan aset Rp 145.800.000,00. Namun jumlah anggota dan aset terus meningklat, sampai akhir tahun buku 2016, tercatat 26.304 anggota, aset Rp 341.686.478.137,- CU KS terus berkembang di seluruh wilayah Keuskupan Atambua, ditandai dengan dibukanya Kantor Pelayanan (KP) di beberapa titik. Ada KP Atambua, KP Kefa, KP Betun, KP Insana, KP Halilulik, KP Noemuti, KP Lakaan, KP Manulea dan untuk wilayah Dekenat Mena ada KP Pantura.

Pertumbuhan yang signifikan menunjukkan adanya peran positif dari CUKS. Perkembangan ini menuntut adanya komitmen yang tinggi bagi setiap karyawan untuk semakin meningkatkan kualitas maupun kuantitas mutu pelayan. Komitmen organisasi merupakan konsep penting dalam manajemen dan telah dipelajari secara luas oleh para peneliti organisasi, terutama dalam psikologi organisasi dan perilaku organisasi. Komitmen organisasi mengandung pengertian sebagai sesuatu hal yang lebih dari sekedar kesetiaan yang pasif terhadap perusahaan, dengan kata lain komitmen organisasi menyiratkan hubungan karyawan dengan organisasi atau perusahaan secara aktif.

Kunci keberhasilan dari CU ialah pendidikan. CU mendidik untuk mengubah pola pikir yang baik terutama dalam hal pengaturan keuangan. Melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan dalam CU tentu akan merubah pola pikir dan cara hidup kita. Menolong orang miskin bukan dengan memberi materi saja tetapi bagaimana membuat orang miskin bisa menolong dirinya sendiri dengan mengubah pola pikir dan cara hidup yang konsumtif, bermental malas menjadi manusia yang produktif.

Anggota CUKS didorong untuk semakin bijak dalam mengembangkan perekonomian rumah tangga. Para anggota datang dari berbagai profesi dari kelas bawah seperti petani, pedagang keliling, penjual sayur, buruh, tukang kayu dan batu, ojek hingga golongan kelas atas seperti pejabat teras dan pengusaha. Pelayanan yang diberikan tanpa adanya diskriminasi karena CU KS mengembangkan misi menyejahterakan anggota melalui pendidikan dan pelatihan yang bermutu melalui pelayanan yang prima.

***
cuks1Rapat Anggota Tahunan (RAT) merupakan forum tertinggi anggota, sekaligus menjadi kewajiban bagi CUKS seperti yang telah diamanatkan dalam AD/ART. Melalui moment ini Dewan Pengurus menyampaikan kepada Anggota laporan hasil kinerjanya selama tahun Buku 2016. Selanjutnya anggota yang hadir dapat menyampaikan kritik dan saran konstruktif demi perbaikan kinerja pengurus ke depan, peningkatan kualitas hidup anggota dan terutama keberlanjutan lembaga.

Tahun ini CUKS melaksanakan RAT ke-9 di Bale Biinmafo jantung kota SARI Kefamenanu Kab.Timor Tengah Utara (TTU), Prop. Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berlangsung selama dua hari, tanggal 26-27 Januari 2017 dengan terlebih dahulu diadakan pawai gembira keliling kota sehari sebelumnya. Inilah RAT pertama kali yang terjadi di luar kota Atambua setelah hampir berusia 10 tahun.

Hadir dalam RAT kali ini, Ketua Puskopdit BKCU Kalimantan, Marselus Sunardi,S.Pd; Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua (Vikjen KA), Rm. Dr. Theodorus Asa Siri,Pr; Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandez,S.Pt; Dewan Pengurus dan Badan Pengawas CU-KS; Komite dan Pokti; Manajemen dan anggota sebanyak 504 orang.

Hari pertama RAT, diisi dengan lokakarya dalam inspirasi tema “Bersama Membangun Hidup Sejhatera”. Kali ini nara sumber yang ditampilkan adalah Ketua Puskopdit BKCU Kalimantan, Marselus Sunardi, S.Pd yang didukung fasilitator internal Herman Abatan,S.Pd., M.A. selaku wakil Ketua DP CU-KS dan Kristoforus Eduk selaku General Manajer (GM) saat ini.

Marselus Sunardi, dalam materinya bertajuk “Tata Kelola Keuangan Credit Union”, menegaskan bahwa Credit Union bukan lembaga keuangan semata melainkan lembaga pemberdayaan. Dengan demikian, simpan pinjam dan layanan keuangan hanyalah produk yang disediakan untuk mendukung kesejahteraan anggota.

Lebih lanjut Nardi, demikian akrab disapa, CU adalah tempat kebersamaan anggota untuk mengelola kehidupannya dan keluarganya serta meraih tujuan utama secara bersama yaitu peningkatan kualitas hidup. Karena itu, anggota kiranya terus-menerus mengikuti pendidikan CU dan mulailah membuat perencanaan hidup untuk saat ini dan juga masa depan; segera belajar mengelola keuangan dengan efektif; hiduplah dalam batas kemampuan; berhemat dan menabung minimal 10% dari penghasilan demi perencanaan kebutuhan dan peningkatan aset; perlahan-lahan melunasi utang yg tidak perlu dan membebani; melakukan pinjaman di CU untuk pengembangan usaha produktif dan pengembangan Arisson Hendry, Direktur Utama Induk Koperasi Syariah (Inkopsyah) BMT.aset;lalu kembangkan usaha sebagai sosial bisnis.

Menurut Nardi, jika upaya-upaya cerdas tersebut yang dilakukan sebenarnya CU-KS sudah menerapkan tata kelola Credit Union yang ideal. Dan sudah pasti kualitas hidup seorang anggota CU akan meningkat dari saat ke saat. Otomatis selain memperoleh keuntungan pribadi, juga akan mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan bersama karena usaha yang dikembangkan berdampak sosial.

Dihadapan 504 anggota dan para aktivis peserta Lokakarya, Nardi anggota CU Katulistiwa Bakti Pontianak Kalbar itu, menuturkan bahwa selama ini ada anggota CU tertentu yang masih terbius dengan pandangan dan praktek yang keliru. Sebagai misal, bahwa bunga simpanan dan bunga pinjaman tidak boleh berubah (harus sama dengan waktu pendidikan awal); menuntut CU-nya harus memberikan bunga simpanan yang setinggi-tingginya tanpa memahami dari mana sumbernya; lalu jika CU rugi, semata-mata urusan Pengurus dan Pengelola tetapi masa bodoh dalam mencari solusi supaya untung bersama; menjadi anggota CU hanyauntuk menabung, tidak mau meminjam; bahkan fokus memobilisasi simpanan tanpa inovasi melakukan penjualan (kredit beredar) .

Karena itu, menurut putra kelahiran Sekadau Prop. Kalbar ini, sudah saatnya Pengurus menyadari diri sebagai penanggung jawab hukum dalam CU (Koperasi) sekaligus simbol lembaga dan melakukan tindakan-tindakan inovatif demi menjaga kesehatan, keamanan, kekuatan, kepercayaan dan keberlanjutan lembaga.

cuks5Jika Pengurus bertindak atas nama lembaga, kata dia, sesungguhnya tidak salah. Karena Pengurus dipilih dari anggota, oleh anggota melalui Rapat Anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Melalui RAT Anggota memberi mandat kepada Pengurus, sehingga Pengurus terpilih menerima dan menjalankan mandat yang diberikan oleh Anggota. Ketika lembaga sudah dirasakan mampu membiayai Pengelola, Pengurus dapat mengangkat Pengelola (manajemen) sebagai representasi Pengurus dalam mengelola usaha dan melayani anggota.

Ketua Dewan Pengurus CU-KS, Rm. Urbanus Hala, Pr dalam acara pembukaan menegaskan bahwa melalui RAT sesungguhnya seluruh anggota menyatakan kedaulatan penuh demokratis. Karena anggota adalah pemilik sekaligus pemegang kuasa tertinggi atas CUKS. Jika demikian, kiranya anggota memanfaatkan forum bermartbat ini untuk berdaulat dalam semangat konstruktif demi keberlanjutan lembaga dan kesejahteraan banyak orang.

Selain itu, Rm. Urbanus mengajak peserta RAT dan seluruh anggota untuk mensyukuri kebaikan Tuhan yang memungkinkan CUKS akan berusia 10 tahun pada 8 Juni 2017 mendatang. Bahwa, Tuhan menggunakan banyak orang untuk menyertai dan mencerdaskan semua komponen dalam mengelola Kopdit CU-KS.

Rm. Urbanus yang juga Wakil Ketua Puskodit BKCU Kalimantan, menguraikan bahwa perkembangan CUKS sampai 31 Desember 2016 mengalami peningkatan signifikan. Data menunjukkan anggota mencapai 26.304 orang; aset Rp 341.686.478.137; Kombas (Komunitas Basis) sebanyak 638; dikendalikan oleh 9 orang pengurus; dikontrol oleh 3 orang Pengawas; dikelola oleh 105 staf/pegawai; didukung oleh aktivis yang terdiri dari 33 Komite dan 143 Kelompok Inti (Pokti).
Pada kesempatan itu, Vikjen KA,Rm. Dr. Theo Asa Siri,Pr mengajak anggota untuk berjuang menemukan martabat diri dan hidupnya melalui lembaga ini. Karena esensi keberpihakannya tidak lain Bonum Comune (kesejahteraan umum). Semangat yang dikedepankan juga tidak lain adalah solidaritas, persaudaraan, kebenaran ,keadilan dan cinta kasih.

Rm. Theo juga menguraikan secara rinci tema “Bersama membangun hidup sejahtera”. Dia menggali makna terdalam dari tiga kata penting yaitu Bersama, Membangun dan Hidup Sejahtera. Sebagai seorang imam dan akedimisi ahli ajaran sosial Gereja, dia meneropongnya sebagai berikut:

Pertama, Bersama; Semua anggota CUKS harus bangun hidup sejahtera. Tidak boleh ada anggota yang melarat apalagi mati kelaparan dalam CUKS yang adalah rumahnya sendiri.

Kedua, Membangun; CUKS terpanggil untuk membangun. CUKS lahir dari rahim dan di tengah rahim Keuskupan Atambua. Maka perkembangan CUKS tidak dapat dibatasi pada pertumbuhan ekonomi melulu. Supaya CUKS itu otentik, perkembangan harus menyeluruh; harus memupuk perkembangan tiap anggota CU-KS dan diri mereka sebagai manusia seutuhnya.

Ketiga, Hidup Sejahtera; Orientasi sebuah Koperasi adalah kesejahteraan umum. Maka perlu diupayakan agar semua anggota bisa menggapai hidup sejahtera secara utuh dalam solidaritas konkret dengan orang lain.

RAT TB 2016 dibuka oleh Ketua Dewan Pengurus CUKS ,Rm. Urbanus Hala,Pr lalu sidang dikendalikan oleh pimpinan sidang yang terpilih dari anggota yakni Gregorius Am’isa, S.Pd selaku ketua dan Jemy Fallo selaku sekretaris. RAT berjalan hikmat. Seluruh anggota dalam keheningan dan bertekun mengikuti Laporan Pertanggung Jawaban kinerja Dewan Pengurus, Laporan hasil pemeriksaan Badan Pengawas dan Pleno Program kerja termasuk Manual Operasional (MO) Keanggotaan, Produk dan Pelayanan.

Setelah melalui kesempatan dialog dan diskusi dalam semangat persaudaraan, anggota pada akhirnya menyatakan menerima LPJ Pengurus dengan perbaikan. Juga mengakui keakuratan laporan Badan Pengawas dan relevansi program kerja termasuk MO keanggotaan, produk dan pelayanan Tahun Buku 2017. Semuanya demi tercapainya kesejahteraan hidup anggota dan lembaga Kopdit CUKS menjadi semakin Sehat, Aman, Kuat, terpercaya dan berkelanjutan seumur bumi.

***
Pertumbuhan dan perkembangan koperasi kredit, koperasi serba usaha (KSU) dan koperasi simpan pinjam (KSP) di Provinsi NTT cukup bagus. Posisi tahun 2016 tercatat 3.707 unit koperasi di NTT dengan total modal mencapai Rp 5,1 triliun. Semangat masyarakat menjadi anggota koperasi tidak lepas dari dorongan para pendiri koperasi di daerah ini. Tujuannya sama, memberdayakan ekonomi masyarakat melalui koperasi. Dan, sasaran akhirnya adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para anggota koperasi. Seperti yang dilakukan oleh pengurus CUKS. Koperasi ini sudah memberdayakan potensi pertanian dan perikanan, bahkan barang bekas diolah menjadi barang berharga, juga kain tenun, makanan dan minuman.

Untuk program pemberdayaan potensi ekonomi tersebut, pengurus CUKS membentuk Komunitas Basis (Kombas). Anggota Kombas inilah yang mengelola potensi-potensi sektor pertanian dan perikanan, barang bekas untuk dijual kepada masyarakat. Diharapkan koperasi di NTT melakukan terobosan-terobosan di bidang ekonomi kreatif yang bersumber dari potensi lokal dengan melibatkan anggota dan masyarakat. Itu artinya, kehadiran koperasi di daerah ini tidak hanya menghimpun dana dari anggota, tetapi bagaimana dana yang dihimpun itu, selain disalurkan kepada anggota, juga dimanfaatkan untuk membuka usaha kecil menengah dengan memberdayakan potensi lokal yang ada di daerah ini.

Ke depan, jangan sampai potensi sumber daya alam yang ada dikelola orang-orang dari luar NTT, kemudian dijual lagi kepada masyarakat di daerah ini. Apalagi dalam era pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sekarang ini, kemungkinan itu berpeluang terjadi. Karena itulah, peran koperasi tidak hanya menghimpun dana dari masyarakat, tetapi perlu memanfaatkan dana yang dihimpun itu untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Peran koperasi dalam pemberdayaan berbagai potensi ekonomi lokal tidak hanya membuka usaha kecil dan menengah, tetapi lebih pada sasaran memberikan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat, khususnya anggota koperasi tentang bagaimana cara mengolah potensi-potensi bahan pangan lokal menjadi produk yang bernilai ekonomi untuk di pasarkan secara luas. Apa yang dilakukan pengurus CUKS memberdayakan potensi ekonomi lokal melalui Kombas menjadi contoh bagi koperasi-kopersi di daerah lain untuk bersama masyarakat memberdayakan potensi ekonomi lokal di masing-masing daerah.
CUKS merupakan salah satu lembaga perekonomian umat Keuskupan Atambua yang bersinergi dengan pemerintah kabupaten Belu dalam meningkatkan kehidupan perekonomian umat melalui produk-produk unggulan yang dikembangkan lembaga ini. Sebagai salah satu koperasi CU terbaik dari 946 CU di Indonesia yang masuk dalam daftar 10 besar CU terbaik di Indonesia, CUKS melebarkan sayapnya, membentuk dan mendidik anggotanya untuk mengelola perekonomian umat secara bijak melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan.

cuks4Sebagai salah satu koperasi terbaik di Indonesia dan mendapat penghargaan dari pemerintah propinsi NTT, CUKS tidak berpuas diri begitu saja namun senantiasa mengembangkan sayapnya melalui inovasi dan kreatifitas dengan berusaha mengembangkan perekonomian umat melalui pendidikan dan pelatihan untuk memahami produk-produk unggulan CUKS seperti simpanan saham dan simpanan non saham seperti Fini (yang diartikan dalam bahasa Indonesia Benih atau bibit unggul), Sufa atau bunga harian, Lopo atau simpanan bunga berjangka serta berbagai simpanan lainnya seperti; Simpanan Pendidikan, Simpanan Perumahan dan Simpanan Berjangka.

Pengurus CUKS tidak hanya berfikir bagaimana meningkat kesejahteraan anggota, namun juga memikirkan bagaimana terjaganya keutuhan lingkunan hidup. Sejumlah pegawai, pengawas, pengurus dan anggota melakukan penghijauan di sekitar wilayah Embung dan rumah penyaringan air Haekrit. Sekitar 2000 anakan pohon yang terdiri dari pohon jati putih, sengon dan mahoni ditanam di sekitar areal Embung Haekrit. Embung ini dibangun Pemerintah Kabupaten Belu sebagai tempat untuk mengairi sawah serta lahan perkebunan yang ada di sekitarnya, sebab daerah ini merupakan daerah pemasok kebutuhan sayur mayur ke wilayah Kota Atambua dan sekitarnya. Dipilihnya lahan Haekrit karena wilayah ini memiliki potensi yang cukup besar bagi umat terutama dibidang pertanian. Hal itu menjaga sumber air yang ada dengan menanam anakan pohon.

Selain embung, terdapat pula rumah penyaringan air yang dibangun pemerintah setempat, letaknya berdekatan dengan embung, dan siap didistribusikan ke warga Kota Atambua dan sekitarnya. Embung ini sebagai sumber kehidupan bagi para petani disekitarnya mengingat dengan kehadiran embung ini para petani di sekitarnya kelimpahan air. CUKS bukan saja mengurus uang tapi lebih dari itu yakni mengurus kehidupan. Para anggota didorong untuk memiliki kepedulian agar peduli terhadap lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya.

Diharapkan anakan pohon yang telah ditanam mampu menghijaukan areal embung Haekrit, agar pada musim kemarau debit air di embung ini tetap terjaga, sehingga dapat mengairi lahan sawah maupun perkebunan yang ada disekitar embung tersebut. Selain itu, embung ini juga dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi masyarakat sekitar Kota Atambua. (Herman Abatan – mar)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *