Betang Asi Membuat Terobosan

“Banyak koperasi yang tidak bisa berkelanjutan suksesnya karena tidak dipersiapkan regenerasi pemimpinnya. Kemungkinan terburuk yang tidak bisa ditolak oleh semua manusia adalah takdir. CU Betang Asi telah mempersiapkan regenerasi,” jelas Ethos H Lidin, yang tidak ingin terlalu berlama-lama menduduki jabatan General Manager (GM) CU Betang Asi, karena ada rasa lelah.

Sebagai salah satu pendiri bersama Ambu Naptamis, SH, MH, (Ketua) yang telah lama saling menjalin kerja sama sejak di NGO, dan kini sama-sama menduduki posisi puncak, berusaha mempersiapkan grand design CU Betang Asi jauh ke depan. “Kami ingin menciptakan pemimpin-pemimpin yang handal di CU Betang Asi yang kini anggotanya lebih dari 33.000 orang, dan aset Rp 500 miliar lebih,” tutur Ethos yang sejak lulus kuliah tak pernah tertarik jadi pegawai negeri sipil (PNS), meski kesempatan itu banyak. “Berat meninggalkan CU,” tegasnya.

Sebagai “komandan tempur” Ethos punya segudang pengalaman, suka duka membangun Betang Asi. Perjuangan paling sulit, bagaimana mendorong anggota memahami apa ibu CU. Waktu mensosialisasikan CU ke masyarakat ada yang mencurigai, menyebarkan paham terlarang. Apalagi saat itu di Kalimantan Tengah sedang ramai soal Yayasan Amalillah. “Tetapi kami tetap berjuang dari satu desa ke desa lain. Image koperasi yang tidak memadai, karena banyak koperasi yang gagal lantaran salah kelola membuat masyarakat tidak percaya terhadap koperasi. Kesulitan lain, mencari sumber daya manusia (SDM) yang kompeten untuk mengelola lembaga keuangan,” urai Ethos.

Harus disadari bahwa ilmu koperasi dan ilmu CU terus berkembang. Belum lagi dihadapkan dengan eksternal industri keuangan yang maju demikian pesat. Sementara koperasi hanya dikelola oleh SDM setingkat SLTA. Untuk mengembangkan SDM sehingga mental, pola pikir dan kapabilitasnya seperti seorang sarjana butuh waktu panjang. Banyak CU punya target, tahun sekian semua SDM-nya sarjana. Karyawan yang belum sarjana diberi kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Ketika menerima karyawan baru salah satu persyaratan harus sarjana. Ethos mengakui, Betang Asi belum punya target seperti itu. Tetapi dalam rekrutmen karyawan baru mulai ada persyaratan yang lebih ketat.

“Saya lebih cenderung mensyaratkan komitmen. Lebih baik menerima lulusan Teologia daripada lulusan Akunting yang hebat. Teologia itu ajaran tentang moralitas hebat, dibandingkan akunting murni,” kata Ethos memberi alasan. Untuk kemajuan CU, lanjut dia, memang dibutuhkan orang yang punya kemampuan teknis luar biasa. Itu tidak bisa dihindari,” tegasnya. Yang juga sulit, lanjutnya, pengembangan teknologi informasi. Saat ini sudah eranya teknologi informasi. Tetapi CU terlalu hati-hati memilih teknologi yang digunakan. Sampai saat ini belum ada satu CU pun yang menggunakan system on line.

Terkait dengan peningkatan kualitas SDM, Betang Asi sudah memprogramkan bagi karyawan yang belum sarjana akan diberi kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Tetapi belum diimplementasikan. Program saat ini mengikutsertakan karyawan dalam pelatihan-pelatihan teknis CU yang terus dikembangkan oleh BKCU Kalimantan dan Inkopdit. Sekolah itu bukan semata-mata mencari ijazah. Pendidikan yang baik adalah yang memiliki keterkaitan khusus dengan pekerjaan. Tempat kuliah banyak, tetapi kalau keilmuannya tidak ada korelasinya dengan praktek kerja, dan hanya mengejar gelar sarjana, SH, misalnya, tidak efektif. Dalam konteks me-link-kan dengan pekerjaan, lembaga sekolah yang dituju tidak nyambung. Walau hanya lulusan SLTA, dalam struktur manajemen juga ada jabatan. Artinya, karyawan yang telah mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan, serta memiliki kemampuan khusus bisa menduduki jabatan-jabatan kunci. Kemampuan SDM di CU Betang Asi, kata Ethos, sebenarnya sudah banyak yang layak disebut Magister.

Menghadapi persaingan industri jasa keuangan yang luar biasa ketat, CU Betang Asi telah membuat grand design, membangun terobosan-terobosan baru. Konsep marketing yang dibangun berbagai lembaga jasa keuangan, dan selalu melakukan perubahan-perubahan, juga berdampak pada CU dan koperasi pada umumnya. Karena itu CU – Koperasi harus melakukan deversifikasi produknya agar mampu bertahan menghadapi berbagai gempuran. Kecuali kelembagaan yang memang tidak ada perubahan, kata Ethos, ada beberapa prespektif yang harus dibangun. Antara lain, membangun loyalitas – militansi anggota. Ini tidak mudah, dan merupakan perjuangan sepanjang masa, terutama karena tingkat pendidikan anggota yang tidak merata.

Tugas koperasi mensejahterakan anggota. Jika anggota sejahteran, pasti terbangun pola. Jadi, mensejahterkana anggota berarti membangun militansi – loyalitas anggota. Perspektif kedua, membangun standar-standar keuangan yang tersistem dengan baik. Tidak ada lagi kita bicara soal kredit lalai kalau loyalitas anggota tinggi. Kemudian prespektif bisnis internal dengan menciptakan produk-produk yang dibutuhkan oleh anggota guna mencapai kesejahteraan. Walau banyak lembaga keuangan memberikan tawaran dan iming-iming berbagai kemudahan dan hadiah, jika CU – koperasi memberikan pelayanan terbaik bahwa anggota adalah pemilik, dan produk yang dibangun bisa melebihi harapan, pasti akan mampu memenangkan persaingan.

Yang juga tidak kalah penting, perspektif pembelajaran dan keberlanjutan. Dalam hal ini yang dibangun adalah pengelolaan. SDM-nya harus terus belajar, mampu menciptakan inovasi-inovasi baru, dan tanggap zaman. Banyak CU – koperasi tidak bisa berkembang dengan baik karena tidak tanggap dengan perubahan zaman. Apalagi kalau pengurus dan pengelola takut dengan dampak dari perubahan. Misalnya, takut mengeluarkan biaya untuk perubahan. Padahal biaya yang dikeluarkan itu sebenarnya untuk mencapai prestasi yang lebih baik.

Setiap CU punya gaya yang berbeda. Gaya – ciri khas Betang Asi berjuang untuk masyarakat Dayak. “Meski demikian bukan primodial sempit, hanya orang Dayak saja yang boleh menjadi anggota CU Betang Asi. Bahwa membangun indentitas Dayak, iya. Secara tegas visi Betang Asi menyatakan; “Credit Union Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya.” Jika seluruh masyarakat Dayak di Kalteng jadi anggota CU, luar biasa. Anggota CU Betang Asi sekarang sudah lebih dari 33.000 orang.

Tentang penyelesaian kredit lalai di anggota, kata Ethos, hampir sama dengan CU atau koperasi-koperasi lain. Pendekatannya tetap mengedepankan kekeluargaan, persuasif, tidak seperti yang dilakukan oleh lembaga lain. Namun demikian, ketegasan itu tetap penting guna membangun loyalitas. Diakui, tidak sedikit yang bermasalah, dan kadang membutuhkan penanganan ekstra. Dengan gaya komunikasi yang dibangun dengan baik, hasilnya hampir tidak ada complain dari anggota. “Kalau di koperasi lain ada yang sampai proses ke pengadilan, tetapi di Betang Asi, tidak pernah sampai proses pengadilan. Anggota tunduk pada apa yang telah ditetapkan melalui rapat anggota,” jelas Ethos.

Dalam mengembangkan keanggotaan, kata dia, lebih mudah kea rah luar kota – pedesaan, dibandingkan di dalam kota. Dari segi pemberdayaan juga lebih mudah di kampung. Kalau di sautu desa CU dikembangkan, dan masyarakatnya ada perubahan-perubahan, bisa kelihatan dan bisa diukur. Orang dari ujung desa jauh tahu semua. Itu dalam konteks pemberdayaan. Di pedesaan, potensi yang bisa dikembangkan adalah semangat untuk menabung sangat besar.

Banyak kesaksian orang kampung yang sudah menjadi anggota CU, dampak paling nyata mereka punya simpanan, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan menyimpan dimanapun. Orang kampung yang menjadi anggota CU Betang Asi punya simpanan rata-rata Rp 10 juta. Balum lagi mereka bisa dengan mudah mendapakan pinjaman untuk mengembangkan usaha atau biaya sekolah anak-anaknya. Tentang pelayanan di kampung-kampung yang tidak dekat dengan kantor, melalui kolektor dibantu oleh staf. “Kami melakukan jemput bola sampai jauh ke pedesaan,” kata Ethos, seraya menambahkan bahwa target pengembangan aset dan anggota 5 tahun ke depan, aset Rp 1 triliun lebih, dan anggota 60.000 orang. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *