Bisnis Baby Shark di Muara Angke

Setiap hari kita bisa melihat orang yang mendorong gerobak berisi sirip, daging dan tulang ikan hiu di Pelabuhan Perikanan Muara Angke maupun Muara Baru di bawa ke pengasinan. Ada kulit ikan hiu yang panjangnya 1 – 2 meter. Sirip dan kulit hiu itu biasanya langsung dijemur di pusat pengeringan ikan, seperti milik Hariyanto.

Bisnis pengolahan ikan hiu memang marak di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Setelah diturunkan dari kapal dan masuk arena pelelangan, ikan-ikan hiu berukuran sedang dan kecil itu ada yang diangkut ke sejumlah lapak rumahan untuk diproses lebih lanjut. Lokasi proses ikan hiu itu di Pengolahan Hasil Perikanan Tradisional (PHPT) Muara Angke. Lokasinya di wilayah Pelabuhan Perikanan Nasional Muara Angke.

Ada yang menyebutkan, perdagangan ikan hiu di pelelangan ikan Muara Baru dan Muara Angke berjalan senyap. Dikatakan senyap, pengolahan ikan hiu dan ikan pari tak seramai usaha pengolahan jenis ikan laut lainnya yang ada di PHPT Muara Angke – Muara Baru. Usaha pengolahan kedua jenis ikan itu menampung puluhan tenaga kerja, yang kebanyakan berasal dari Indramayu dan Cirebon, Jawa Barat.

Untuk mengetaui bisnis baby shark wartawan Majalah UKM melacak ke lokasi. Ada 201 usaha pengolahan ikan hiu di kawasan Muara Angke. Setiap pengusaha menempati lahan seluas 150 meter persegi. “Mereka binaan Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) Provinsi DKI Jakarta” papar Kepala UPTD Pelabuhan Perikanan Nusantara Mara Angke, H.Mahad didampingi H. Hasan Syamsudin selaku Kepala Satuan Pelaksana (Kasatlak) pelabuhan Muara Angke.

Dari kapal-kapal nelayan, ikan hiu tangkapan yang menurut para nelayan tak sengaja dijaring tetapi terjaring ‘berenang’ jauh. Baby shark itu dimasukan ke gudang pembeku. Setelah dipotong-potong, masuk ke lapak pengasinan, dikirim ke toko obat dan restoran tertentu. Ikan predator di lautan itu punya penggemar khusus. Ada kesan kuat, longgarnya pengawasan larangan penangkapan hiu membuat ikan tersebut terus diburu.

Ketika Majalah UKM berkunjung ke lapak pengolahan ikan hiu dan ikan pari milik Sutadji (48 tahun) asal Indramayu, sejumlah pekerja sedang memotong daging kecil-kecil, memisahkan tulang dari daging dengan pisau setengah lingkaran. Ada juga yang mengaduk-aduk rebusan tulang-tulang atau daging hiu seukuran paha orang dewasa di dalam toren atau bekas bak mandi yang telah berisi air garam dan di bawahnya bara api kayu bakar. Setelah direbus, sisa daging yang masih menempel di tulang dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam lemari pendingin atau dijemur.

Sanuddin (60), seorang pekerja di pengasinan milik Hariyanto mengatakan, daging hiu yang diolahnya saat itu merupakan sisa hari sebelumnya. Karena pada hari pengasapan, bossnya mengambil kurang lebih satu truk engkol hiu dari gudang pemilik kapal. Daging-daging itu nantinya akan dikirim ke Bogor dan Bandung. Sedangkan kulit dan sirip hiu memiliki penampung dan pembeli yang berbeda.

Sutadji dan pekerjanya memasukkan tulang-tulang ikan hiu ke lemari pendingin, dan ada pula yang menjemur tulang ikan pari. Tak hanya mengolah tulang, Sutadji juga mengolah kulit kedua jenis ikan tersebut. Pengolahan kulit ikan, sangat sederhana. Dijemur di panas matahari sampai kering. Jika sinar matahri cukup terik, dijemur 2 hari saja sudah kering, dan siap dikirim ke berbagai mitra. Sutdji mengaku, bisnis pengolahan ikan, tulang ikan dan kulit ikan yang sebenarnya dilindungi negara, sudah ditekuninya sejak 30 tahun silam. Kini karyawannya sudah cukup ada15 orang.

Soal omzet, bisnis ikan hiu di Pelabuhan Muara Angke ini bisa mencapai Rp 300 jutaan per bulan. Kulit ikan hiu, kata Sutadji, banyak yang cari untuk kerupuk kulit, dan yang kualitas bagus diekspor. Kulit ikan yang untuk bahan krupuk harganya Rp 20.000,- per Kg. Sedangkan kualitas super untuk diekspor sebagai bahan baku kosmetik dan obat-obatan bisa mencapai ratusan ribu per Kg. Tulang hiu yang baik, dikirim ke restoran. Sutadji mengaku, tidak tahu untuk apa tulang-tulang hiu tersebut di restoran. Sutadji juga menjadi pengepul kulit dan tulang hiu dari lapak-lapak pengasinan. Menurut Sutadji, tidak semua jenis ikan hiu dilindungi. Ikan-ikan yang diolahnya termasuk jenis ikan hiu yang tidak dilarang. Jenis ikan hiu yang dilindungi antara lain hiu martil dan hiu gergaji.

Berbeda dengan Sutadji yang lebih fokus mengolah kulit dan tulang hiu, Deni (41 tahun) fokus mengolah dagingnya. Sehari bisa menghasilkan 3 ton daging olahan. Ikannya juga diperoleh dari Muara Angke dan Muara baru, yang sirip dan kepalanya sudah tidak ada. Biasanya, sirip dan kepala ikan hiu itu dipotong di atas kapal, disimpan oleh pemilik kapal, kemudian dijual ke luar negeri. Harganya, jauh lebih tinggi daripada harga di pasar dalam negeri. Harga daging ikan hiu di pasaranya sekitar Rp 20.000,- – Rp 30.000,- per Kg. Khusus tulang punggung ikan hiu dan ikan pari harganya Rp 40.000,- per Kg. Sedangkan tulang kepala lebih mahal, mencapai Rp 65.000,- per Kg.

Sanuddin, 1 dari 8 orang yang bekerja di pengasinan milik Hariyanto, mengaku, sehari harus bekerja 8 jam. Upah yang diterima Rp 100.000,- ditambah makan dan rokok dari pemilik pengasinan. Jika kerja lembur upahnya 2 X lipat upah harian. Namun, ia mengaku tak kuat duduk berjam-jam sambil memotong daging hiu. Karena itu sering menolak ketika ada kerja lembur.

Tak jauh dari pengasinan milik Hariyanto, ada pengasinan mengolah daging hiu di kolam garam berukuran 0,5 X 2 mrter. Hari itu ada Setiawan bersama 2 temannya sibuk memotong ikan-ikan hiu berukuran tak lebih dari telapak tangan orang dewasa yang disebutnya “baby shark”. Baby sharak adalah judul lagu kanak-kanak yang tengah popular di youtube. Lagu tersebut menceritakan tentang keluarga ikan hiu. Di tempat Setiawan (15 tahun) kerja yang khusus mengolah daging hiu, kata dia, ikan-ikan hiu kecil merupakan jatah karyawan.

Di area perkampungan itu 50% lahannya digunakan untuk pengasinan. Darsono (50 tahun), salah seorang pemilik pengasinan saat ditemui sedang duduk di depan warung kopi miliknya. Dia mengenakan celana pendek dan bersandal jepit. Ketika diajak berbincang, pria yang rambutnya telah mulai memutih itu suara lugas dan keras. Sambil menimang-nimang sebuah dompet miliknya dia mengatakan bahwa dompet terbuat terbuat dari kulit ikan pari. Kulit ikan hiu dan ikan pari dibuat kerajinan dompet punya nilai ekonomi tinggi. Namun belum banyak perajin dompet yang memanfaatkan kulit ikan hiu atau ikan pari.

Laki-laki asal Indramayu itu mengaku mulai menggeluti usaha pengasinan sejak 7 tahun silam. Produksinya didistribusikan ke berbagai daerah antara lain; ke Bogor, Bandung, Garut dan sebagainya. Khusus sirip hiu, dijual ke restoran-restoran mewah. Dalam satu bulan, Darsono mengaku, omzetnya bisa mencapai Rp 40 juta, dari 20 ton ikan hiu yang diolah. Walau ada yang mengatakan bisnis ikan hiu lagi senyap, namun menurut Darsono, sangat menjanjikan. Tinggal cara membangun jejaring berbisnisnya bagaimana. Bisnis itu harus selalu berinovasi.

Wandi (55 tahun), adalah salah seorang pengusaha yang khusus mengolah limbah ikan di Pelabuhan Muara Angke. Mulai usaha tahun 2013 silam. Dia mengaku, segala limbah ikan ia terima untuk diolah menjadi pakan ternak. Termasuk limbah ikan hiu, cucut dan ikan pari. Setelah limbah-limbah ikan tersebut diolah lalu dikirim ke Bali, Muncar dan Rembang. Limbah yang diolah berupa daging dan jeroan, direbus dalam sebuah bak besar dengan api dari kayu bakar. Setelah direbus, jeroan dan sisa daging itu dijemur sampai kering. Baru kemudian dikirim ke pelanggan untuk pakan ternak; lele, bebek, sapi dan sebagian untuk pupuk.

Dijelaskan Wandi, tak semua jeroan ikan dapat diolah menjadi pakan ternak. Jeroan ikan hiu, misalnya, jika direbus hanya akan berair. Jika terlalu banyak jeroan, ujung-ujungnya dibuang ke tempat sampah. Hanya sebagian limbah ikan hiu yang bisa diolah. Antara lain tulang sebagai bahan kosmetik dan kulit untuk kerupuk dan dompet. Wandi mengaku, sehari bisa mengolah sekitar 5 ton limbah di atas tungku tumpukan batu berukuran 3 X 3 meter, menggunakan kayu bakar. (sutarwadi.k)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *