Bisnis Harus Berorientasi Pada Proses

Pengusaha besar tidak turun dari langit. Apalagi disulap dari kantong ajaib. Juga tidak lahir dari keturunan orang kaya, menara kampus, garis darah atau kekuasaan. Tetapi dilahirkan dari kuasa militansi pikiran seseorang. Tumbuh dalam kebrutalan pasar, dibesarkan dari kegagal-kegalan, dan berkembang karena kesabaran. Bangkrut, bertahan. Bangkit, menolak mundur, apalagi menyerah. Karena pengusaha besar tahu, hanya ada dua jalan bagi menang; Terus melawan (dengan entrepreneurship) atau miskin – Gothang Wiyadi.

Pelaku usaha, terutama usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) di Indonesia harus mulai mengembangkan pola yang berorientasi pada proses, bukan hasil. Proses yang baik, akan memberikan hasil yang baik dan berkelanjutan menjadi usaha besar, multi nasional. Peningkatan atau perbaikan membutuhkan proses yang hasilnya tidak tampak dalam sekejap. Perbaikan – proses harus dilakukan tanpa kompromi untuk hal yang bersifat genting dan penting.

Pelaku UMKM harus fokus pada bisnis yang digeluti. Pelaku UMKM juga harus piawai mengubah kegiatan tak bernilai tambah menjadi aktivitas bernilai tambah. Menghemat 1 menit dalam satu tahapan pun menjadi penting ketika terakumulasi dalam satu proses produksi. Contoh, proses produksi yang menghasilkan 4000 unit. Jika dalam proses pembuatan dapat menghemat waktu 1 menit saja, penghematan waktu dalam satu hari dengan jumlah produksi yang sama bisa 4000 menit atau sekitar 6,5 jam. Tinggal menghitung, 6,5 jam bisa menghasilkan produksi berapa banyak. Itulah nilai tambah dari penghematan.

Dan penghematan itu kini bisa didukung dengan penggunaan informasi teknologi (IT) yang terus berkembang pesat. Diperkirakan, 10 – 15 tahun ke depan, pebisnis yang berhasil adalah mereka yang melek – menguasai IT. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir struktur ekonomi Indonesia telah berubah cukup siginifikan. Hal itu terutama dipengaruhi munculnya sektor ekonomi baru yang didorong oleh perkembangan IT.

Fenomena perubahan struktur ekonomi ini terlihat saat sensus ekonomi 2016, terutama ketika petugas menanyakan soal ada tidaknya usaha di rumah tangga yang dikunjungi. Petugas sejak awal diminta untuk jeli mengembangkan pertanyaan. Perdagangan online – daring itu tidak kelihatan, sehingga tidak akan terungkap jika tidak ditanyakan, dan diperdalam. Perubahan struktur ekonomi karena munculnya sektor berbasis perdagangan daring itu ikut menciptakan lapangan kerja baru. Hal ini tentu juga akan mengubah struktur ketenagakerjaan di Indonesia.

Perdagangan secara elektronik kian menjadi rujukan. Untuk memaksimalkan layanan, pelaku usaha melakukan inovasi dengan cara memperbanyak koleksi barang dan promosi tariff terjangkau. Saat sebagian besar kalangan menilai 2015 keseluruhan sebagai tahun tak menentu bagi bisnis, namun sektor e-dagang justru sebaliknya, terus berkembang. Bagi produsen lokal kelas UKM, e-dagang dinilai sangat efektif dalam hal penghematan biaya operasional. Dan e-dagang telah menjadi rujukan warga untuk berbelanja. Karena konsumen tidak melihat langsung barang yang dibeli, agar tidak kecewa, kualitas barang harus sesuai dengan yang diiklankan. Dan e-dagang adalah sebuah proses bisnis masa kini. (red)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *