Credit Union Harus Kembali ke Misi Awal

Selain peristiwa seperempat abad, (25 tahun) Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, tepatnya 27 November 2013, yang rencana puncak acaranya akan dilaksanakan bertepatan dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2013 di Surabaya, April 2014, pada September 2014 juga akan diselenggarakan kegiatan Credit Union Asia di Indonesia.

“Kita harus menghiasai kegiatan tersebut dengan keberhasilan CU dalam proses penyadaran dan pemberdayaan anggota. Misi Credit Union dunia masih diyakini berpihak kepada orang miskin, lemah dan terpinggirkan. Kita percaya, dengan bekerja sama, CU bisa mensejahterakan orang miskin dan terpinggirkan,” urai Ketua Puskopdit BKCU Kalimantan, Marselinus Sunardi, saat membuka Lokakarya bertajuk Kebijakan Pendidikan dan Pelatihan Credit Union BKCU Kalimantan, yang diselenggarakan selama 3 hari, 8 – 10 Oktober 2013 di Hotel UNY, Jogyakarta.

Sunardi yang juga menjabat sebagai Ketua I Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) mengajak peserta lokakarya yang terdiri dari pengurus, pengawas, manajer baik dari BKCU maupun primer-primer anggota untuk dapat mengimplementasikan sesegera mungkin keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam lokakarya di CU masing-masing. Dari 47 primer anggota dan calon anggota BKCU Kalimantan yang tersebar dari Riau sampai Papua, hanya satu primer, Barerot Gratia (BG), Jakarta, yang tidak mengirim utusan karena waktunya bersamaan dengan pembahasan renaca strategis (Renstra) jangka menengah dan jangka panjang (5 – 10 tahun), BG sendiri.

Karena yang datang dari berbagai daerah, dan jaraknya satu sama lain sangat jauh, Sunardi menyarankan kepada peserta lokakarya untuk bisa memfaatkan sebaik-baiknya kesempatan tersebut, bukan hanya melalui materi-materi pembahasan, tetapi terlebih dapat saling belajar dan saling tukar informasi. “Tidak perlu malu-malu mengungkapkan permasalahan-permasalah yang dihadapi atau peristiwa yang terjadi di CU masing-masing. Dengan saling belajar, dan saling tukar informasi, bukan saja akan semakin memperkokoh kebersamaan sebagai anggota gerakkan, juga akan bisa mendapatkan solusi terbaik,” pesannya.

Kegiatan lokakarya di gerakkan BKCU Kalimantan, kata dia, sebenarnya sudah beberapa kali diselenggarakan. Lokakarya kali pertama diadakan November 2009 di Kalimantan Barat menghasilkan beberapa keputusan sehingga perlu diadakan kegiatan lanjutan. Realisasinya diselenggarakan di Kaimana, Kalimantan Barat, Mei 2010, salah satunya pertemuan para fasilitator. Karena dalam lokakarya 2009 diputuskan bahwa perlu dikembangkan fasilitator yang bukan hanya dari kalangan pengurus BKCU Kalimantan, tetapi bisa dari gerakkan CU secara keseluruhan yang dikembangkan oleh CU Primer. “Sebagian sampai saat ini masih eksis melakukan kegiatan-kegiatan presentasi dalam rangka mengembangkan CU,” jelas Sunardi seraya berpesan agar kualitas sumber daya manusia (SDM) fasilitator terus dikembangkan supaya dapat mengikuti perubahan dan perkembangan yang demikian pesat.

Pada tahun 2010, kata dia, juga diselenggarakan lokakarya di Hotel Merpati, Pontianak. Sedangkan tahun 2011 dan 2012 tidak ada lokakarya. Baru 2013 pengurus memandang perlu meng-upgrade lagi hal-hal yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (Diklat) yang terkait dengan kebijakan-kebijakan baik di tingkat skunder BKCU maupun di primer masing-masing. Dari lokakarya itu diharapkan bisa mencapai tujuan gerakkan. Yang paling mendasar, kata dia, bisa merumuskan kembali kegiatan pelaksanaan Diklat dalam gerakkan BKCU Kalimantan.

Gerakkan ingin memperjelas bahwa apapun Diklat yang diselenggarakan itu berbasis pada misi Credit Union awal, ketika kali pertama dikembangkan, dan sampai saat ini masih relevan dengan keadaan terkini sehingga bisa berbasis kebutuhan kita. Lokakarya juga bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang jenis Diklat dan penyelenggaraannya atau realisasinya supaya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan  bisa sungguh-sungguh bermanfaat. “Kalau hanya dijadikan sebagai program kegiatan saja, tidak mempunyai manfaat atau nilai tambah maka hal ini akan menjadi kegiatan yang sia-sia,” tegas Sunardi.

Diakui bahwa kegiatan tersebut tidak mungkin langsung jelas, tetapi dicoba untuk melihat kerangka modul-modul yang bisa diresapi bersama untuk menuju memperjelas indentitas Credit Union yang ingin dikembalikan pada misi dasar, sebagai CU sejati. “Hal itu tentu harus ditindaklanjuti dengan pengembangan Diklat, dan pengembangan program-program Diklat pada tahun buku yang akan datang (2014). Diklat manakah yang dibutuhkan untuk diselenggarakan secara bersama-sama, dan Diklat yang bisa diselenggarakan oleh masing-masing CU,” tutur Sunardi seraya menambahkan bahwa Pengurus BKCU juga mengingatkan agar masing-masing primer menyelenggarakan Diklat secara internal sesuai kebutuhan CU masing-masing.

Kalau menyimak kondisi saat ini, lanjut dia, kita dapat merasakan bagaimana hal yang terjadi sekarang sebagai dampak dari apa yang dilakukan sebelumnya, terutama pertumbuhan dan pengembangan CU. Pada tahun ‘90-an ke bawah, seseorang yang datang ke kantor CU, mendaftar mau masuk jadi anggota tidak bisa langsung diterima. Dia harus mengikuti proses, mengisi formulir, menyatakan niatnya menjadi anggota, juga menyatakan siap melaksanakan kewajibannya, lalu masuk daftar tunggu. Salah satu tugas pengurus saat itu menseleksi calon anggota. Seminggu sekali pengurus mengadakan pertemuan, dan menseleksi satu persatu formulir pendaftaran, mana yang bisa diterima menjadi anggota, dan mana yang ditolak. Setelah diputuskan diterima jadi anggota, mereka dipanggil untuk mengikuti pendidikan dasar tentang Credit Union.

Sedangkan sekarang, pengurus – manajemen, khususnya petugas lapangan harus melakukan jemput bola, mendatangi warga masyarakat, terutama yang masuk katagori kurang mampu, miskin dan terpinggirkan, untuk dibimbing dan dibina menjadi anggota. Langkah tersebut dilakukan demi misi awal Credit Union, mengangkat derjat orang-orang yang termarjinalkan. “Apakah yang kita lakukan sekarang suatu hal yang salah, karena belum mendidik mereka tetapi sudah diterima sebagai anggota. Saya kira tidak dapat juga dikatakan sesuatu yang keliru,” kata Sunardi menjawab pertanyaannya sendiri.

Tetapi, lanjutnya, apakah kita menjamin semua anggota yang diterima itu dengan maksud kelak akan mendapatkan pendidikan dan pelatihan sebagai ciri utama gerakkan Credit Union. Jangan-jangan ada yang sampai hari ini, dia sudah menikmati banyak manfaat dari CU, tetapi belum mendapatkan pendidikan yang seharusnya diterima sebagai seorang anggota CU, dan sebagai indentitas anggota CU. “Ini pertanyaan dasar,” tegasnya.

Mungkin, lanjut dia, kita bisa sharing – tukar pikiran, karena kita bangga dengan berbagai capaian, misalnya, anggota bertambah sangat pesat, aset juga berkembang luar biasa. Sunardi kembali mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan sebuah CU tidak berdasarkan ukuran – besarnya aset dan pertambahan anggota, tetapi bagaimana anggota berubah. Karena sering kali dikatakan bahwa keistimewaan CU itu ada pada pendidikan, dimana pendidikan itu merubah pola pikir, membuat suatu penyadaran, dan meningkatkan pemberdayaan. Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab, sesungguhnya adalah Credit Union. Pertambahan anggota dan pertumbuhan aset itu merupakan akibat dari pemahaman orang yang baik tentang Credit Union itu sendiri.

Menurut catatan, sampai 31 Agustus 2013 jumlah anggota BKCU Kalimantan telah mencapai 407.683 orang. Cukup besar. Tetapi jika dibandingkan dengan populasi atau jumlah penduduk yang ada di sekitar CU, masih sangat banyak yang belum tersentuh. “Tidak perlu seluruh penduduk, dengan penduduk miskin di daerah masing-masing primer saja juga belum seluruhnya tersentuh oleh CU. Padahal, pendidikan – pelatihan – pengembangan – pendampingan sudah dilakukan. Mari kita konsisten, keberadaan CU menumbuhkan kesejahteraan masyarakat. Kalau belum berhasil menciptakan sumber pendapatan baru, belum berhasil membuka pikiran-pikiran baru, belum berhasil memperbaiki kehidupan bagi mereka, CU sama dengan lain, tidak ada istimewanya. Misi CU bisa diwujudkan jika proses pengembangannya melalui pendidikan. Fokus kita di sana,” tegas Sunardi.

Disadari bahwa masyarakat – anggota yang dilayani CU masih memiliki masalah. Bahkan berbagai masalah, dan terutama masalah kesejahteraan keluarga. Credit Union yang kita kembangkan, kata dia haruslah mampu menyediakan tawaran untuk menyelesaikan masalah-masalah yang mereka alami. Dengan efektifnya pendidikan yang diberikan, juga dampak pelatihan yang diberikan para aktivis atau pengelola CU, akan semakin terbuka pengalaman untuk mengangkat – melihat masalah-masalah yang ada. Sehingga solusinya akan semakin terbuka, untuk memperjelas perbedaan Credit Union dengan yang lain.

Dari sekian banyak anggota yang dilayani, Sunardi mengakui, tentu masih saja ada yang kecewa. Salah satunya karena dia belum merasakan solusinya. Kita ditantang, bagaimana sukses ke depan menjadi sukses menyeluruh. Kesejahteraan anggota menjadi lebih baik dari yang sekarang dialami. Kalau pola yang dilakukan oleh CU dikatakan berhasil – berkembang dengan baik, hanya karena satu saja; yaitu pendidikan yang terus menerus. “Jika kita sanggup membuat program pendidikan terus menerus kepada anggota sesuai dengan kebutuhan anggota, CU akan berkembang,” tegasnya. (my)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *