CU Keluarga Kudus Ibarat Mesin Terlambat Panasnya

Seperti kebanyakan Credit Union (CU) yang juga dikenal sebagai Koperasi Kredit (Kopdit), CU Keluarga Kudus, Kota Baru, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) juga lahir di lingkungan gereja – Paroki Keluarga Kudus. Penggagasnya seorang rohaniwan, Pastor Paskalis Soedirdjo OFM. Cap.

Bagi Romo Soedirdjo, membidani kelahiran CU Keluarga Kudus bukanlah kali bertama. Sebelumnya telah mendirikan CU di Sungai Ambawang, kemudian CU Stella Maris, yang kini menjadi salah satu CU besar di Kalimantan Barat. CU Keluarga Kudus didirikan pada 5 Oktober 2000, berdasarkan SK DPP KK No.: 04/SK/DPP-KK/IX/2000. Menurut Fransiskus Andi Azis, salah seorang pendiri yang kemudian dipercaya sebagai ketua pengurus sampai 3 periode, yang tercatat sebagai pendiri ada 30 orang, dan Pastor Soedirdjo menjadi anggota dengan No. Buku Anggota (BA) urutan ke-3.

“Menjadi ketua sampai 3 periode, sebenarnya tidak boleh. Tetapi dipaksa, maka terpaksa,” kata Andi saat berbincang dengan Majalah UKM beberapa waktu silam. Sebagai CU baru memang banyak yang harus dipersiapkan. Setelah tidak lagi menjadi pengurus, Andi yang kini menjadi Ketua Pengawas di CU Pancur Kasih, tetap saja tidak boleh jauh-jauh, apalagi lepas. Dia kemudian diikat sebagai penasehat. Mungkin ada yang bertanya-tanya, kok bisa ya pindah dari satu CU ke CU lainnya menjadi pengurus atau pengawas? Di gerakkan credit union, seseorang memang boleh menjadi anggota lebih dari satu CU. Tentu ada syarat dan konsekuensi, tetap harus disiplin terhadap aturan lembaga, termasuk memenuhi kewajiban bertransaksi. Dan jika dia memang oleh anggota dinilai punya potensi untuk memajukan lembaga, yang juga sebagai miliknya, maka layak diberikan kepercayaan.

Latar belakang didirikannya CU Keluarga Kudus, menurut Pius Daren, yang dulu pernah menjadi aktivis di CU Pancur Kasih, dan kini menjabat sebagai Wakil Ketua II di CU Keluarga Kudus, Pastor melihat keprihatinan, kalau ada umat yang sakit atau meninggal dunia bantuan-bantuan kesehatan tidak ada. Sedangkan kemampuan dari gereja juga sangat terbatas. “Dengan adanya CU umat sangat terbantu,” tegas Pius. Pada awalnya, lanjut dia, pelayanan kepada anggota dilakukan seminggu sekali, pada hari Minggu usai Misa. Pelayanan kapada anggota pun hanya 1 jam, menggelar 1 meja di bawah tangga sekretariat Dewan Paroki. Menurut Andi, pelayanan kepada anggota pada masa awal dilakukan oleh Pengurus, terutama oleh Bendahara dan Panitia Kredit, serta beberapa orang volunter. Baru pada bulan Februari 2006 Pengurus mengangkat 3 orang staf untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Pada tahun tersebut Paroki memberikan satu ruangan untuk pelayanan. Saat itu juga CU Keluarga Kudus menggunakan program akuntansi Sikopdit MD, sehingga buku anggota tidak ditulis tangan lagi dan sudah bisa dicetak.

Dengan adanya produk solidaritas CU banyak membantu umat ketika mereka mengalami kesulitan; sakit atau meninggal dunia. Ketika anak-anak harus bayar uang sekolah atau kuliah. Kebutuhan mendesak, yang tidak bisa ditangguhkan dan tidak bisa menyediakan – memikirkan sebelumnya adalah biaya yang harus dikeluarkan jika ada anggota keluarga meninggal dunia. Sehingga kematian selalu menimbulkan beban baru bagi kebanyakan keluarga. Dengan menjadi anggota CU, karena di CU ada dana kematian, maka beban yang datang mendadak ini teratasi.

Hal lainnya yang juga mdenarik, jasa simpanan – tabungan tetap menjadi milik si penabung, tidak seperti kita menabung di bank. CU juga sangat membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pelaku UMKM dapat dengan mudah mendapatkan modal usaha, dengan jasa yang rendah jika menjadi anggota CU. Ketika ada pembelian kendaraan roda dua dengan mengangsur, CU sangat menolong. Bisa beli kontan lebih murah dengan uang pinjaman dari CU dengan jasa rendah, dan jasa yang dibayar itu tetap milik sendiri, sebagai SHU yang diberikan setiap akhir tahun buku. Nilai yang di dapat “kebersamaan – gotong royong.”

Mendirikan lembaga baru itu mudah. Tetapi untuk mengembangkan, apalagi, lembaga tersebut mengelola keuangan, banyak tantangan yang harus dihadapi. “Yang manis banyak, yang banyak sekali. Membuat rasa pahit menjadi asam, kemudian menjadi manis, tidaklah mudah. Pengalaman menarik waktu di CU Bima. Ketika baru didirikan, semangat anggota yang sebagian besar pengurus Paroki, luar biasa,” urai Andi. Saat ini CU Keluarga Kudus sudah memiliki 1 Kantor Pusat dan 4 Tempat Pelayanan (TP), yaitu TP KS Tubun, TP Rasau Jaya, TP Siantan dan TP Bengkayang.

Dalam perjalanan, pernah terjadi pro kontra. Pihak Paroki bilang; “Ini bukan urusannya Paroki. Kalian harus berdiri sendiri.” Ketika mulai berdiri sendiri itu pahitnya mulai muncul. Tempat tidak punya, karena harus keluar dari Paroki. Fasilitas yang pernah dipinjamkan tak ada lagi. “Kami benar-benar drop, pahit sekali rasanya,” kenang Andi. Patah semangat lalu menyerah, tidak ada gunanya. Jiwa, cinta dan militansinya terhadap CU bagaikan magma. Anggota terus dimotivasi, diajak merayap. Tanda-tanda bertumbuh pun mulai tampak, rasa pahit mulai berubah menjadi asam, sedikit manis.

Tantangan yang tidak kalah berat, ketika ingin mempercepat pertambahan jumlah anggota. Jumlah umat Paroki Keluarga Kudus sebenarnya cukup besar, sekitar 5000 orang. Namun, semua pengurus yang ada sudah menjadi anggota CU di tempat lain. Contoh, kecuali anggota di CU Pancur Kasih, Andi juga anggota CU laboraturium, yaitu CU Khatulistiwa Bakti. Di Kota Baru, rata-rata orang sudah menjadi anggota CU. Karena di Kalbar gerakkan CU memang berkembang sangat pesat.

Di kota-kota kecil – kecamatan, misalnya, apalagi di perdesaan dan pedalaman, orang lebih mengendal CU daripada bank. BRI yang terkenal intervensinya sangat agresif sampai ke kecamatan-kecamatan, tidak mampu bersaing dengan CU. Kesulitan yang dihadapi pengurus, menurut Andi, orang menjadi anggota hanya untuk menyimpan – menabung. Sedikit sekali yang mau pinjam. Namun, mereka tidak bisa dipaksa pinjam karena sudah punya pinjaman di CU-nya pertama.

“Kalau dipaksa jadi beban, bahaya, bisa-bisa tidak bayar. Lebih baik menyimpan saja, sehingga bila ada anggota yang membutuhkan dana, siap,” jelas Andi. Akibatnya memang, lembaga harus memberikan balas jasa atas simpanan anggota. Karena tidak banyak yang pinjam jasa atas pinjaman anggota kecil, CU-nya tidak berkembang.
Mengembangkan keanggotaan CU ke pedesaan lebih cepat daripada di perkotaan. Tetapi karena di pedesaan penghasilan anggota kecil, kapasitas untuk menyimpan juga kecil. Sebaliknya, minat pinjam besar namun dananya terbatas.

Karena CU Keluarga Kudus merupakan cikal bakal CU Paroki, kata Andi, biar berjalan apa adanya. Tidak boleh kecil hati, apalagi putus asa. “Kecil, yang penting sehat,” tegasnya. Agar dana simpanan tidak mengenap di lembaga, kepada anggota yang punya kegiatan usaha mendapat prioritas pinjaman modal. “Sekarang cukup banyak anggota yang berwirausaha menggunakan permodalan dari CU,” jelas Andi. Bahkan mereka yang semula tidak tertarik berwirausaha, mulai ikut membuka usaha. Ada yang ternak ayam, ternak ikan lele, ada yang membuka bengkel. Banyak juga yang membuka warung pecel lele. Anggota yang punya kegiatan usaha diperkirakan ada sekitar 20%.

Untuk mengembangkan keanggotaan, CU Keluarga Kudus “go public” tidak lagi terbatas hanya umat Katolik yang boleh menjadi anggota. Semua etnis, juga tidak membedakan keyakinan – agama, siapa saja yang ingin berbuat baik, membangun kersamaan, dan ingin sejahtera bersama boleh menjadi anggota. “Kalau ber-CU bicaranya bukan soal agama, tetapi tentang ekonomi dan kesejahteraan bersama,” tegas Pius Daren.

Intinya, lanjut dia, ketika kita bicara tentang ekonomi, sebetulnya bagaimana kita memberantas kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup. Misalnya, yang awalnya mungkin sumber penghasilannya hanya dari satu sumber, dan sejenis, kemudian dikembangkan menjadi beberapa sumber penghasilan. Beberapa tahun terakhir, gerakkan CU, termasuk CU Keluarga Kudus telah mengembangkan pemberdayaan anggota untuk meningkatkan kesejahteraan. CU kini tidak lagi berbicara tentang uang saja. Pemberdayaan sosial dan ekonomi sesuatu yang harus berjalan bersamaan tidak bisa dipisahkan.

Uang, sering dikatakan hanya sebuah gagasan, atau ide saja. Sesungguhnya, uang itu bukan sesuatu yang nyata. Tetapi sebuah gagasan – memikirkan sesuatu, dimana pikiran itu tidak bisa dilihat, tidak bisa dipegang, juga tidak bisa diraba.

Tetapi, walau dibilang tidak nyata, ketika orang memikirkan pesawat terbang, pesawat terbang itu menjadi nyata, dan orang bisa naik. Dulu, ketika ada orang yang menggagas mau ke bulan, orang juga tidak percaya. Tetapi telah terbukti, manusia bisa ke bulan, dan kembali lagi ke bumi dengan selamat. Seperti itulah uang.

CU juga sudah digagas jauh oleh pendiri gerakkan CU, Walikota Flammersfield, Friedrich Wilhelm Raiffeisen pada 1849, adalah tentang kesejahteraan sosial. Tetapi kenyataan sekarang, khususnya di Indonesia, kita masih berkutat tentang finansial – uang. Sedangkan tentang sosialnya “terlupakan”. Padahal, ekonomi dan sosial adalah sesuatu yang tidak bisa terpisahkan. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, kata Pius, pemberdayaan ekonomi dan pemberdayaan sosial harus berjalan seiring. Tidak bisa ekonomi berjalan lebih dulu, baru kemudian sosialnya menyusul. “Terus terang, gerakkan CU baru 2 – 3 tahun terakhir tersadar, ada ketidakseimbangan,” kata Pius menjelaskan. Diskusinya, lanjut dia, di CU Pancur Kasih, misalnya, sudah cukup lama, belasan tahun silam. Namun untuk mengaplikasikan gagasan itu mengalami peredebatan panjang. Untuk memulainya terlalu lama.

Untuk tahun buku 2019 CU Keluarga Kudus telah menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebelum wabah Covid -19 melanda Indonesia. RAT dilaksanakan di Gardenia Resort and Spa, yang berada di jalan Ahmad Yani II, Arang Limbung, Kec. Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, pada Sabtu 18 Januari 2020. Kegiatan ini dihadiri dan dibuka oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalbar, Drs. Ahi, M.T. Hadir pula Pengurus Pusat Koperasi Simpan Pinjam Bumi Borneo, Andreas.

Ketua Panitia, Sisilia Ria Indrawati menjelaskan bahwa dalam RAT Tahun Buku 2019 kali ini, CU Keluarga Kudus mengusung tema “Mewujudkan Credit Union yang Sehat dan Terpercaya Melalui Pelayanan Prima dan Pemberdayaan Anggota yang Berkelanjutan”. Dalam tema yang diangkat pada tahun 2020 ini, bertujuan ingin mengedepankan atau mengangkat pemberdayaan anggota sebagai pelaksanaan misi sosial credit union. Pengurus ingin memberdayakan semua anggota yang ada, sehingga mereka bisa berjalan bersama beriringan dengan CU Keluarga Kudus dalam mencapai kesejahteraan secara bersama. Program pemberdayaan yang akan dijalankan CU Keluarga Kudus pada tahun 2020 ini ialah membentuk kelompok binaan, yang akan beriringan bersama dengan anggota yang nantinya akan menghasilkan produk-produk dari kelompok anggota binaan tersebut. Sehingga dari kelompok binaan tersebut, mereka bisa mendapatkan pendapatan tambahan, dan setiap anggota memiliki usaha masing-masing.

Ketua CU Keluarga Kudus, Ir. Marsianus Sy yang adalah mantan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalbar mengatakan bahwa saat ini jumlah anggota sebesar 4517 orang dari empat Tempat Pelayanan (TP) yang ada di wilayah Kalbar. Diakui bahwa masih banyak program yang dituangkan dalam program kerja 2019 yang belum tercapai. Misalnya, meningkatkan jumlah anggota. Sebenarnya masih banyak peluang dalam meningkatkan jumlah anggota CU. Di Kalbar terdaftar sekitar 5 juta penduduk, dan 1,5 juta yang menjadi anggota CU. Berarti masih ada sekitar 3,5 juta lainnya yang belum menjadi anggota CU. Tantangannya memang tidak mudah. Namun untuk tahun buku 2019 CU Keluarga Kudus mampu menambah anggota sebanyak 763 anggota, sehingga total saat ini sebanyak 4517 anggota.

Struktur manajemen telah diubah saat dilaksanakan Lokakarya Organizational Developmet pada 3 – 4 Januari 2020. Dan telah diangkat Kepala Bagian Pemberdayaan dan Staf Pemberdayaan yang akan fokus bekerja di bidang pemberdayaan anggota, sesuai dengan tema RAT. Di era digitalisasi saat ini juga telah mengikuti perkembangan teknologi dan telah meluncurkan Aplikasi Sikopdit Connect pada tahun lalu bekerja sama dengan Inkopdit. Aplikasi ini dapat digunakan dengan HP Android. Banyak kemudahan yang didapa8t dari Aplikasi ini, yaitu Informasi Saldo dan Kewajiban, Setor Simpanan, Setor Pinjaman, Transfer antar Sicantik, Pembelian Pulsa, Pembayaran PLN, PDAM, TELKOM, TV Berlangganan, Pembelian Token PLN, Pembayaran BPJS Kesehatan, dan Laporan Mutasi Rekening. (adit – mar)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *