CU Membangun UMKM

Dilihat dari manfaat keberadaan Credit Union (CU) dalam konteks peningkatan keuangan keluarga, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sangat besar. Frans Laten, General Manager (GM) Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, memberi contoh, ada sepasang suami isteri, sebut saja namanya Karyo dan Narti, bahu membahu mencari rezeki. Sang suami jualan bakso dengan gerobak dorong, isterinya jualan jamu gendong.

Bertahun-tahun pasangan perantau asal Wonogiri, Jawa Tengah itu berjualan keliling. Sebelum menjadi anggota CU Pancur Kasih yang kini diketuai Norberta Yati Lantok, tidak pernah berpikir bisa mengembangkan usahanya demikian pesat. Setelah jadi anggota CU dan memanfaatkan fasilitas keuangan yang disediakan, juga selalu mengikuti pendidikan dan pelatihan, kini pedagang jamu gendong itu punya 5 Ruko, yang dijadikan tempat jualan jamu. Sang suami sekarang jualan baksonya juga di Ruko.

Narti kini bisa disebut juragan jamu. Sebelum sukses memanfaatkan permodalan dari CU Pancur Kasih, kalau beli jamu ke toko jamu milik orang Tionghwa. Namun kini dia memfasilitasi teman-teman perantau dari Jawa yang masih jualan jamu gendong. Bahan bakunya didatang dalam jumlah besar dari Jawa. Ada juga orang Madura yang awalanya jualan makanan menggunakan tenda kecil. Setelah menjadi anggota CU dan memanfaatkan fasilitas yang disediakan, sekarang punya rumah – punya Ruko untuk berjualan. Bahkan punya 3 rumah makan di tempat yang berbeda. Itu hanya salah satu contoh dari jutaan anggota CU yang tersebar di seluruh Indonesia yang memanfaatkan produk CUMI (Credit Union Mikro) atau sejenis.

Manfaat produk yang ada CU bagi pemanfaat etnis Dayak, kta Frans yang juga asli Dayak,  secara umum baru pada tingkat perbaikan fasilitas kehidupan. Memperbaiki kondisi rumah yang mungkin tidak layak huni – reot – bocor menjadi lebih layak, fasilitas kendaraan dan biaya anak-anak sekolah. Bila diperhatikan, proses di CU sepertinya memang terjadi seperti itu. Setelah perbaikan sarana dan prasarana kehidupan rumah tangga dari keluarga, baru mereka mulai memikirkan aspek usaha produktifnya. Perbaikan kehidupan rumah tangga itu rata-rata berjalan antara 5 – 10 tahun. Setelah 10 tahun baru memikirkan aspek bisnis – aspek produksi tambahan daripada pekerjaan yang ada sekarang. Keberadaan CU bagi etnis Dayak merupakan kuda pacu untuk memperbaiki sarana dan prasarana kehidupan.

Bercerita tentang CU, khususnya manfaat bagi etnis Dayak, Frans selalu serius menjelaskannya. Kelompok masyarakat Dayak, terutama di pedalaman, kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Berbekal kemandirian dan semangat perjuangan, termasuk pengelola CU tidak terlalu berharap banyak kepada pemerintah. Bukan saja fasilitas yang mau diberikan oleh pemerintah terbatas, biasanya, perhatian kepada kelompok masyarakat Dayak lebih kecil.

Menghadapi tatanan perilaku pelayanan dari pemerintah yang dirasakan kurang adil, menumbuhkan militansi etnis Dayak dengan memanfaatkan CU sebagai media untuk menampung dan mengembangkan semangat, cita-cita yang tumbuh untuk memperbaiki kehidupan yang lebih baik. Kebetulan gayung bersambut dengan visi – misi Gerakkan Credit Union yang memang mengarahkan orang untuk mandiri dalam kehidupan. Selama puluhan tahun, masyarakat Dayak dimarjinalkan oleh sistem pembangunan Indonesia. Gerakkan CU membangun kesadaran, semangat dan militansi kemandirian untuk diarahkan ke hal-hal yang positif dan produktif.

Sebagai GM Puskopdit yang memiliki anggota 45 primer, dan merupakan Puskopdit terbesar, baik aset maupun anggota individunya, Frans memberi gambaran bahwa CU pada umumnya belum punya program pendampingan secara berkelanjutan bagi anggota yang mempunyai kegiatan usaha. Perhatian CU masih banyak pada tataran pelayanan pinjaman di kantor saja. Dengan kata lain, pelayanan pasca pemberian pinjaman seperti pendampingan, misalnya, belum banyak dilakukan. Saat ini masih ada keterbatasan sumber daya manusia (SDM).

Untuk merekrut petugas pendamping, kesulitan utama kurangnya pengetahuan dan ketrampilan SDM, tenaga pendamping. Untuk mendapatkan SDM yang berkualitas, perlu ada pendidikan dan pelatihan. Untuk sementara, kata Frans, seharusnya Gerakkan Credit Union belajar dari dunia perbankan yang saat ini memang memberikan pendidikan – pelatihan – pendampingan kepada para pekebun. Kurangnya SDM pendamping bisa dicarikan jalan keluar, misalnya, kerja sama dengan perguruan tinggi – akademisi yang memang pakar dari pengembangan perkreditan. “Namun ke depan, selayaknya setiap CU, khususnya CU besar memiliki deputi pendampingan untuk pengembangan sumber daya,” kata Frans seraya menambahkan bahwa pendidikan, pelatihan dan pendampingan bagi anggota sangat penting.

Di dalam manajemen kredit, kata dia, sebelum kita tahu berhasil atau gagal harus didampingi terus sampai penerima kredit bisa memberikan pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lain sehingga aspek bisnisnya bisa berkembang terus. Jangan seperti pemerintah, Kementerian dan seluruh jajarannya, Dinas dan Suku Dinas sebagai Pembina hanya bangga ada yang sukses, tetapi sebenarnya mereka tidak berbuat apa-apa. “Dari Kalimantan Barat harus ada CU yang memulai memiliki program pendampingan berkelanjutan bagi anggota wirausaha,” tegas Frans. Harapan Frans tidak berlebihan, karena Kalimantan Barat sampai saat ini memang menjadi kiblat pengembangan CU di Indonesia. CU Lantang Tipo, CU Pancur Kasih, CU Keling Kumang, CU Khatulistiwa Bakti adalah contoh CU yang telah mampu menggapai sukses besar, yang memiliki aset triliunan dan ratusan miliar.

Menurut Frans, ada dua hal yang harus mulai dilakukan oleh Gerakkan Credit Union di Kalimantan. Pertama, pendampingan pasca menerima kredit. Kedua, mulai mempelajari bagaimana memberikan pinjaman disesuaikan dengan profesi penerima kredit. Khususnya untuk pertanian, perkebunan dan peternakan perlu dilakukan deversifikasi produk pinjaman yang berkaitan dengan usia panen. Kalau ada orang pinjam untuk modal tanam kelapa sawit, misalnya, harus dihitung sekian tahun baru dibayar.

Bagi pekebun dan petani, mereka membayar pinjamannya setelah panen. Jika panennya gagal, utangnya harus direkstrukturisasi lagi. Demikian pula untuk peternak ayam – kambing – babi, bagaimana menghitung dan membuat kebijakan, sehingga peminjam membayar pinjamannya setelah ternaknya menghasilkan. “Sebelum menghasilkan, mereka memang tidak mampu membayar pinjaman karena uangnya masih dalam proses berproduksi. Baru setelah panen bisa membayar pinjaman. Pola pikir para pengelola CU masih pola pikir seperti orang mendapat penghasilan rutin bulanan, atau masih berlandaskan kebiasaan pendapatan para pegawai,” urai Frans.

Meski gerak langkah CU, khususnya di Kalimantan Barat, sangat fenomenal, dan memiliki dampak besar terhadap kesejahteraan masyarakat. Namun tidak cukup cepat menarik perhatian para pejabat dan kelompok-kelompok intelektual di daerah tersebut, atau wilayah-wilayah lain di Kalimantan. “Memang belum banyak pejabat dan kelompok intelektual yang tertarik, tetapi sudah mulai melirik keberadaan CU. Mereka mulai ingin tahu lebih jauh tentang CU, dan mau ber-CU,” jelas Frans.

Menurut Frans, ada dua hal yang menjadi penyebab. Pertama, keberadaan CU bermula dari lingkungan gereja, dianggap sebagai aktivitas internal gereja. Kedua, pola pikir masyarakat bahwa gerakkan itu dalam rangka Kristenisasi, sehingga mereka tidak tertarik untuk mempelajari lebih jauh tentang CU. Bahkan ada yang beranggapan, CU itu ada supporting dari luar negeri. Padahal sebenarnya itu adalah aktualisasi dari solidaritas – militansi untuk mengarah kepada perwujudan hal-hal yang menguntungkan dan positif bagi pengembangan diri.

Menurut Frans, Gerakkan CU harus segera mengambil langkah-langkah yang bisa mempercepat mengurangi image bahwa CU adalah aktivitas internal gereja. Kalau menunggu proses alami, terlalu lama. Strategi yang harus dilakukan, mendekatkan diri dengan pemerintah. Intesitas pendekatan yang sekarang ada, harus ditingkatkan. Tujuannya, menjelaskan keberadaan CU, membujuk para pejabat untuk mempelajari CU, kemudian ikut ber-CU sebagai anggota.

Yang dilakukan Gerakan CU Kalimantan Barat, saat ini memang baru dalam tahap meningkatkan intensitas pertemanan guna “mendobrak” sikap birokrat yang belum berubah. CU juga harus membaca – mendengar – melihat apa yang ada di dalam pikiran pemerintah, khususnya menyangkut kebijakan-kebijakan yang ada dalam tatanan pemerintah. Yang diharapkan dari pihak pemerintah, dengan pendekatan yang cukup intens Gerakkan CU ingin mendengar apa yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk melakukan perubahan-perubahan terkait dengan CU.

Untuk mengembangkan CU, jalan yang paling cepat melalui dunia pendidikan, termasuk melalui kelompok-kelompok akademisi. Karena kelompok akademisi ini berhadapan dengan kelompok generasi muda yang ada di bawah bimbingan dan kegiatan mereka. Kelompok akademisi lebih didengar oleh pemerintah ketimbang CU-nya yang bicara, karena dianggap kaum intelektual itu memiliki kapasitas untuk melakukan perubahan. Secara formal, kata Frans, belum ada kesepakatan yang dibuat antara Gerakkan CU dengan perguruan tinggi di Kalimantan Barat, misalnya. Namun secara informal, sudah cukup banyak kalangan akademisi yang studi dengan membuat karya tulis, desertasi, tesis atau skripsi bernuansa Gerakkan Credit Union.

Di Universitas Tanjungpura (Untan), khususnya di Fakultas Ekonomi, ada beberapa dosen yang menghendaki supaya diadakan semacam dialog – pertemuan antara mereka dengan insan CU untuk mempelajari lebih jauh agar mereka juga bisa membantu peningkatan eksistensi CU di tengah-tengah masyarakat. Gerakkan CU tentu menyambut positif keinginan tersebut. “Sedang dicari waktu yang pas untuk bertemu kembali,” jelas Frans. Ketika orang Dayak harus berkembang pesat, yang dibutuhkan adalah kesejahteraan. Kesejahateraan itu kaitannya adalah intelektual, dan intelektual itu adanya di kalangan akademisi – di kampus. Tetapi pemahaman seperti itu di kalangan CU belum cukup merata. Kalau bingkai perjuangannya ingin lebih cepat mensejahterakan masyarakat Dayak, Gerakkan CU harus segera melakukan langkah-langkah strategis. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *