CU Muara Kasih Diharapkan Menjadi Pagar hidup

DSCN3146Meskipun dalam perkembangannya kemudian keanggotaan Credit Union (CU) – Koperasi Kredit (Kopdit) tidak memilah atau memilih hanya untuk kelompok tertentu, umat agama tertentu dan suku tertentu, tetapi diperuntukan bagi setiap orang, warga negara Indonesia yang ingin berbuat baik, membangun kebersamaan, membangung kemandirian bersama, gotong-royong, dan sejahtera bersama, namun peran gereja dan yayasan-yayasan Krestiani terus berlanjut.

CU Muara Kasih adalah salah satu lembaga koperasi yang kebetulan diinisiasi oleh Dewan Pastoral Paroki (DPP) Gereja Katedral St. Yoseph Pontianak, Kalimantan Barat. Di dalam Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI), CU Muara Kasih bernaung di Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit), Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan. Tanda-tanda bahwa CU Muara Kasih dikelola dengan baik dan profesional terlihat dari; belum genap berusia setahun – diresikan 15 Agustus 2012 oleh Gunernur Kalimantan Barat (Kalbar) Drs. Cornelis, M.H pada akhir tahun buku 2012 telah menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk mempertanggungjawabkan kinerja pengurus sekaligus mempersiapkan program tahun buku 2013. “Karena ingin mengelola CU ini sebaik mungkin, sejak awal harus tertib” jelas Pastor Paroki Katedral Pontianak, Romo Damian Doraman OFM Cap, saat berbincang dengan Majalah UKM di Kantor CU Muara Kasih, Jln. Antasari No 56A, Pontianak, beberapa waktu silam.

Menceritakan ketertarikannya menerima tanggung jawab “sementara” mengurus lembaga keuangan, menurut Romo Damian, ada dua alasan; Pertama, sebagai Pastor yang baru 3 bulan ditugaskan di Paroki Katedral Pontianak, “dijadikan tameng” untuk menghadapi umat yang datang membawa masalah, ketika pulang harus membawa berkah. Banyak umat datang minta bantuan untuk uang sekolah, modal usaha, juga kebutuhan-kebutuhan mendesak lainnya, seperti sakit.

Bagi Romo Damian, hal seperti itu sudah biasa, karena pernah bertahun-tahun menghadapi umat di pedalaman yang miskin dan menderita. Yang membuatnya heran, justru di Katedral, di kota besar, masih banyak orang yang mengalami kesulitan. “Waktu bertugas di Paroki Kuala Dua, Bengkayang, Kabupaten Sanggau, Kalbar, tahun 1990-an melihat umat sangat menderita dengan urusan pinjam-meminjam. Umat datang ke Paroki untuk suatu kebutuhan yang riil, tetapi Paroki tidak punya dana. Karena Paroki tidak bisa memenuhi kebutuhannya, umat marah kepada pastornya,” kenangnya.

DSCN5009Teringat pengalaman-pengalaman Pastor Paroki sering menghadapi umat dengan berbagai kesulitannya, terutama terkait keuangan, sementara dana Paroki juga terbatas, Romo Damian berpikir; kenapa di Katedral tidak dibentuk CU saja. Dengan adanya CU – koperasi tidak ada lagi umat datang ke Pastoran minta – memaksa pinjam uang. Gagasan mendirikan CU untuk memberdayakan umat, didiskusikan di Dewan Paroki (DP) Katedral. Diundanglah orang-orang yang berpengalaman – profesional mengelola CU untuk memberikan pencerahan. Juga berdiskusi secara mendalam dengan Frans Laten, General Manager (GM) Puskopdit BKCU Kalimantan. “Akhirnya saya putuskan, umat Katedral harus ber-CU. Ke CU manapun, karena di Kalimantan banyak CU. Tetapi kawan-kawan bilang; CU masih sedikit, potensinya sangat besar. Mereka menyarankan, buka saja CU di Katedral, karena secara emosional mungkin lebih mudah gabung di Katedral daripada ke CU lain. Karena banyak yang mendorong untuk membuka CU baru, maka diintensifkan pertemuan-pertemuan pengkaderan pengurus. Ini pemicu pertama,” urai Romo Damian tentang berdirinya CU Muara Kasih.

Kedua, sejak Katedral dibangun baru sudah mulai muncul kecemasan orang. Bagaimana kelangsungan gereja, terutama keamanannya. “Saya pikir, kalau Katedral memberikan manfaat bagi lingkungannya, tidak mungkin orang akan merusak gereja. Lalu teringat biara di Gunung Poteng, yang adanya di hutan. Tidak mungkin biara itu dipagar. Bagaimana membuat lingkungan aman maka dibuatlah “pagar hidup”. Waktu itu orang Poteng kami rekrut, diajak dalam kebersamaan. Kalau ada acara diundang ke Biara sehingga mereka merasa memiliki Biara sebagai aset. Karena itu di Poteng tidak pernah ada pencurian, tidak pernah ada keributan. Bahkan kalau ada orang yang naik ke atas mecurigakan, orang Poteng sudah mencegatnya. Pengalaman itu yang ingin kami kembangkan di Katedral dalam bentuk yang berbeda, melalui CU. Prinsipnya, CU bisa dikatakan sebagai pagar hidup,” kata Romo Damian tentang kiatnya menjalin kebersamaan dengan lingkungan sekitar.

Jika kelak orang di sekitar lingkungan Katedral memperoleh manfaat layanan dari gereja, kata dia, tidak mungkin mereka akan merusak lingkungan gereja. Didorong oleh kedua pengalaman tersebut, dan saran koleganya dari BKCU akhirnya mendirikan CU Muara Kasih yang kelak diharapkan menjadi pagar yang kokoh, dan bermanfaat lingkungan sekitar – bahkan masyarakat luas. Karena tinggalnya di kota, untuk mengelola dan mengembangkan CU tentu membutuhkan konsep yang jelas, kerja keras dan perjuangan tanpa kenal lelah. Langkah awal yang dilakukan, memperkuat yang ada di lingkungan, yaitu mengajak umat Katolik untuk ber-CU. Jika umat sendiri sudah mengalami mafaat yang besar, mereka akan bercerita kepada yang lain. Sehingga ketika membuka jalan ke luar lingkungan gereja, cerita itulah pembuka jalan pertama.

Untuk menghilangkan image bahwa CU hanya untuk umat gereja, sekarang sudah dimulai dari ketua lingkungan umat Katolik yang potensial, secara teratur bergaul dengan masyarakat di sekitarnya, dan menceritakan tentang CU. Romo Damian sendiri mengaku, sudah akrab dengan masyarakat di lingkungan. “Orang Madura, orang Melayu di sekitar gereja sudah banyak yang saya kunjungi. Saya cerita-cerita tentang CU. Mereka pada umumnya menyambut baik, juga ingin tahu tentang Katdral. Namun untuk sementara pengembangan CU-nya ditahan dulu. Dikuatkan dulu di lingkungan umat. Jika pengurus – manajemen melayani anggota di lingkungan gereja sudah baik, baru dibuka kesempatan kepada masyarakat sehingga sosialisasinya tidak lagi dimulai dari nol,” katanya memberi alasan.

Upaya memberdayakan – memperkuat ekonomi umat di sekitar lingkungan antara lain mendukung permodalan para pedagang kecil, baik yang berjualan di kaki lima seperti pedagang gorengan, penjual gado-gado, pedagang bakso atau warung nasi, kemudian mengajaknya menjadi anggota CU. Dengan menjadi anggota CU mereka akan bisa meminjam modal lebih besar sehingga usahanya berkembang. Ada pedagang yang dulu omzetnya hanya Rp 750.000,- per hari, setelah mendapat penambahan modal omzetnya meningkat, menjadi lebih dari Rp 1 juta sehari. Setelah mereka bisa melihat para pedagang kecil itu omzetnya bisa meningkat karena CU, diharapkan yang lainpun mau menjadi anggota CU. Orang tidak melihat agamanya, tetapi melihat bahwa kehidupan ekonominya diberdayakan. “Terus terang, sampai saat ini belum merekrut anggota dari luar umat Katolik. Kami sedang cerita saja tentang CU,” jelasnya.

Tentang posisinya sebagai ketua, Romo Damian menceritakan; “Karena CU Muara Kasih dibentuk oleh Paroki, pengurus periode pertama ditunjuk oleh DPP. Kalau dilihat dari kapasitas pengelolaan uang, saya tidak punya kapasitas. Tetapi sebagai tokoh dan gembala umat, kasarnya, mereka “memanfaatkan” saya sebagai ketua CU.” Dijelaskan bahwa umat Katolik yang masuk wilayah Paroki Katedral sebenarnya hanya sekitar 1700-an jiwa. Tetapi umat yang ikut Misa di Katedral lebih dari 3.000-an.

“Keluarga-keluarga muda yang sulit bertahan di tengah kota, karena tidak mampu beli rumah yang harganya sangat mahal, biaya hidup juga mahal, sementara mereka baru memulai kehidupan baru, maka mereka lebih memilih beli rumah di luar kota, seperti di Sungai Raya, tetapi tetap kembali ke Katedral. Umat yang jumlahnya 3.000-an itulah potensi untuk mengembangkan CU Muara Kasih,” tutur Romo Damian seraya mengungkapkan optimismenya bahwa tahun 2014 ini jumlah anggota CU Muara Kasih bisa mencapai 1000 orang.

Seperti kebanyakan CU yang didirikan di lingkungan gereja, pada umumnya menggunakan fasilitas gereja, CU Muara Kasih pun demikian. Saat ini memang sudah berkantor di luar lingkungan gereja tetapi gedung yang direnovasi lalu dijadikan kator itu milik Keuskupan. “Biaya renovasinya bantuan sukarela dari umat Katolik, tidak diperhitungkan sebagai pinjaman, misalnya, tetapi tetap dicatat sebagai pengeluaran. Sedangkan modal untuk mulai mengelola koperasi – CU sebesar Rp 200 juta dari DPP. Dana tersebut untuk beli meja – kursi dan operasional lainnya. Targetnya tahun ini sudah dikembalikan ke Paroki. Jika pun belum semua, sisanya dianggap sebagai dana penyertaan. Mungkin kurang pas dalam system CU, tetapi inilah bentuk dukungan dari Paroki,” jelas imam yang mengaku ingin lebih mendalami CU.

Setelah menempati kantor di luar lingkungan gereja, kata dia, akan menerima anggota dari masyarakat umum, tanpa melihat apa agamanya, dan dari suku apa. Semua orang yang ingin berniat baik, memanfaatkan CU sebagai pemberdayaan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan membangun kebersamaan akan diterima menjadi anggota. Diakui bahwa belum semua umat Paroki Katedral menjadi anggota CU. “Yang dibayangkan tak selalu sama dengan di lapangan. Diakui, agak tersendat-sendat merekrut anggota. “Saya lihat, orang mau masuk CU sangat hati-hati. Karena itu memberikan pelayan baik untuk membangun kepercayaan, sangat penting,” tegasnya.

Membangun kepercayaan, membina umat, membina watak yang baik bukanlah karya mudah. Membangun CU adalah karya kasih. Kiatnya menarik umat mau ber-CU, memanfaatkan momen-momen penting, misalnya, kalau ada umat yang sakit selalu diprioritaskan untuk dikunjungi, dan jika diperlukan dana bantuan segera diberikan. “Kepada ketua-ketua lingkungan saya katakan, kalau ada umat yang sakit segera laporkan supaya cepat dikunjungi. Saat kunjungan itulah bercerita tentang CU. Strategi ini cukup berhasil. Banyak yang menjadi anggota CU setelah mendapat kunjungan. Ini dari sisi penguatan ekonomi. Dari sisi keimanan, ada hubungan timbal balik. Kalau dari segi ekonominya aman, orang lebih mudah – lebih leluasa pergi ke gereja. Jika berada dalam pelukan, pelan-pelan dibina imannya agar menjadi lebih kuat,” tutur gembala umat itu menceritakan kiatnya.

Setelah punya pengalaman mengembangkan CU di perkotaan tidak semudah mengembangkan CU di perdesaan, saat merayakan ulang tahun pertama CU Muara Kasih, diundanglah praktisi yang telah sukses membangun CU, yaitu Ketua CU Khatulistiwa Bakti, Dra. Seslilia, M.Pd, untuk memberi pencerahan. Banyak orang tersentak, karena diceritakan bahwa di CU Khatulistiwa Bakti anggotanya sekian banyak dokter, dan ribuan sarjana lainnya. Juga banyak orang yang mampu secara ekonomi karena ingin membantu yang kurang mampu melalui penguatan ekonomi. Banyak yang mau mengembangkan usaha lari ke CU, karena di CU tempat untuk mendapatkan pinjaman modal dengan mudah. Tentu, mereka harus jadi anggota CU. Ber-CU memberikan manfaat lebih daripada sekedar mengurus kesehatan orang.

“Dari sharing – tukar pikiran itu membuat kami tersentak. Mengapa tidak kita mulai palingkan pandangan ke atas, merekrut anggota dari kalangan terpandang? Kalau ada orang terpandang jadi anggota CU, akan terasa adem – tenang, dan menjadi akses pembuka jalan,” urainya. Setelah ada anggota dari kalangan terpandang, lanjutnya, setiap ada pertemuan di lingkungan yang elite, dia disuruh berbicara tentang CU. Tujuannya, untuk membuka pikiran orang yang secera riil tidak membutuhkan CU, tetapi demi manfaat yang lebih besar dari hartanya untuk orang lain, diharapkan mau menjadi anggota CU dan lebih sosial.

Jika penambahan anggota dari lingkungan terdekat sudah maksimal, ke depan akan dikembangkan ke tempat lain. Hal itu sudah dipersiapkan sejak awal, ketika mengurus badan hukumnya, bukan hanya di level kecamatan atau level kota – kabupaten, tetapi langsung level provinsi. Maksudnya, ketika akan mengembangkan wilayah operasional keluar bisa lebih mudah. Diakui bahwa anggota CU Muara Kasih sampai saat ini masih pada hitungan ratusan orang.Tetapi modal yang dikelola sudah lebih dari Rp 4 miliar. Sebagian besar dana dari anggota yang mempunyai uang lebih. Ada yang notaris, pengusaha, dan sebagainya. Boleh dikatakan bahwa dana tersebut telah melampaui kebutuhan internal.

DSCN5016Membangun kepercayaan tidak mudah. Mungkin, karena yang menjadi ketua seorang imam – pastor, mereka yang menyimpan uangnya di CU merasa aman. Karena Pastor Paroki penanggungjawabnya, dipercaya tidak akan mempermainkan uang. “Saya punya satu basis yang mungkin membuat orang merasa nyaman, yaitu keuangan paroki dikelola secara transparan. Kolekte Misa, misalnya, selalu diumumkan dan dijelaskan peruntukannya. Laporannya memang tidak dibagikan kepada umat dalam bentuk cetakan – printout tetapi selalu ditayangkan di screen – layar, sehingga semua bisa melihat tentang keuangan paroki, dan uang disimpan di mana – di bank apa, orang bisa tahu. Sejak awal, saya berpikir bahwa keuangan paroki harus dikelola secara transparan. Umat kaget, sebagai Pastor Kepala saya hanya dapat Rp 500.000,- sebulan. Padahal Paroki Katedral paroki besar. Mungkin dulu ada yang berpikir, saya ini sesuka hati mengambi uang paroki. Sistem ini dijadikan basis mengelola CU, bahwa CU tidak dikelola asal-salan, dan prinsip transparansi dipegang erat. Karena itu dalam RAT dijadikan ajang buka-bukaan. Anggota tahu ada aturan main yang sudah baku. Itulah antara lain kiat membangun kepercayaan,” urainya.

Karena pondasi dasar sudah diletakan secara benar diharapkan perkembangan CU Muara Kasih lebih cepat. Deret ukur anggota, pengurus membuat target tahun 2013 mencapai 1000 orang, tetapi tidak tercapai. Karena itu diadakan rapat khusus untuk mengecek di mana kendalanya. Semua dilakukan evaluasi. Kalau suatu program tidak terlaksana, tidak bisa dianggap normal, pasti upnornal. Dengan diadakan evaluasi, bisa segera dilakukan langkah-langkah terbaik. Membuat target memang harus realistis.

Yang menarik, dan itu diluar perhitungan, kata Romo Damian, kebutuhan keluarga-keluarga muda yang paling mendesak ternyata adalah rumah. Itu sebabnya saat ini CU Muara Kasih lebih banyak memberikan kredit perumahan. Karena ini peluang terbesar perlu digarap serius. Rencananya akan membuat produk parallel. Orang – anggota ingin meminjam untuk beli rumah atau membangun rumah, maka perlu produk tabungan perumahan. Tabungannya juga harus cukup besar. Dengan jumlah tabungan yang besar, salah satu cara membuat kelipatan aset lebih besar. Pinjamannya bisa diberikan mulai dari Rp 5 juta sampai Rp 300 juta. Dari stoc uang tidak kawatir. Justru kawatir jika uang itu tidak beredar, karena harus memberikan jasa kepada anggota yang menyimpan. Idealnya, modal berputar 75%, tetapi modal CU Muara Kasih yang beredar saat ini baru mencapai 50% lebih sedikit,” jelasnya.

Berani memberikan pinjaman cukup besar, perlu kewaspadaan – bukan kawatir. Kalau kawatir konotasi negatif, waspada itu lebih berhati-hati atau cermat. Kita juga harus waspada kondisi keuangan nasional, bahkan keuangan global. Kemudian karakter orang, karena perputaran modal itu resikonya besar. “Yang betul-betul perlu diwaspadai, karakter orang. Apakah dia menjadi anggota setia, merasa CU menjadi bagian dari hidupnya yang berdampak kepada orang lain. Apakah pengembalian pinjamannya teratur sehingga anggota lain bisa ikut memanfaatkan. Sampai saat ini pengembalian dari anggota yang meminjam cukup lancar,” jelas Romo yang ingin segera lengser dari jabatannya sebagai Ketua CU Muara Kasih, untuk kemudian dipimpin awam – bukan Pastor.

Pengkaderan dalam rangka pergantian pengurus sudah disiapkan. Sebagai lembaga baru, sistem kaderisasinya tidak hanya melihat kapasitas kinerja, kapasitas iman pun, kata Romo Damian, menjadi pertimbangan. Idealnya sebuah organisasi, apa pun, agar berkesinambungan secara sehat kepengurusan itu terdiri dari 3 lapis usia. Komposisinya selalu 30% usia muda, 40% menengah dan 30% lainnya yang tua. Atau persentasi diperbesar yang lebih muda 35%, misalnya, tetapi yang di tengah harus tetap lebih besar. Karena posisi tengah yang efektif bekerja. Sedangkan yang usianya sudah lebih tua boleh lebih sedikit 25% saja. “Saya sudah wanti-wanti kepada teman-teman, prinsip komposisi pengurus CU Muara Kasih ke depan seperti itu,” tegasnya. Diakui, saat ini masih konsep,  belum tertuang dalam anggaran dasar anggaran rumah tangga (AD – ART). Dalam RAT, harus diputuskan sebagai keputusan strategis. (mar)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *