CU Pancur Dangeri Menyatukan Potensi Warga Desa Asetnya Hampir Rp100 Miliar

Musim Rapat Anggota Tahunan (RAT) koperasi-koperasi yang tertib mematuhi perundang-undangan, UU No 25 tahun 1992 tentang perkoperasian yang mengharuskan setiap koperasi melaksanakan RAT minimal sekali dalam setahun, untuk koperasi primer biasanya melaksanakan RAT antara Januari – Maret. Memasuki bulan April – Mei baru RAT, bisa dikatakan memasuki zona kuning. Bagi massmedia yang segmentasi liputannya di bidang perkoperasian, seperti Majalah UKM yang terbit bulanan, sedikit mengalami kendala pemuatan beritanya lantaran keterbatasan jumlah halaman.

Contoh, di bulan Februari – Maret 2019, Majalah UKM, mendapat kesempatan dari 6 koperasi mitra di Kalimantan Barat, yaitu; RAT Credit Union (CU) Khatulistiwa Bakti, CU Stella Maris, CU Bonaventura, CU Pancur Dangeri, CU  Pancur Kasih, dan CU Muare Pesisir. Koperasi mitra di Jakarta yang RAT-nya hampir bersamaan antara lain; Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kodanua, Koperasi Serba Usaha (KSU) Tunas Jaya, Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta, Koperasi Karyawan Tankers Pertamina, Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ), Koperasi Pasar (Koppas) Kranggan. Lalu bergeser ke Kospin JASA Pekalongan, Jawa Tengah. Terbang ke Indonesia Timur liputan di KSP Kopdit Obor Mas dan KSP Kopdit Pintu Air di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT). Belum lagi mitra-mitra lain yang juga telah bertahun-tahun menjalin kerja sama, dan punya hak kegiatannya diberitakan maksimal 4 kali dalam setahun yang tetap menjadi komitmen Majalah UKM.

Meskipun bermitra sudah cukup lama, liputan RAT di CU Bonaventura di Singkawang dan CU Pancur Dangeri di Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) adalah pengalaman kali pertama. Laporan RAT dari CU Bonaventura dimuat di Majalah UKM Edisi bulan Maret 2019, bisa diklik di website; majalahukm.com, giliran kini CU Pancur Dangeri (CUPD), pemerintah menyebutnya; Koperasi Simpan Pinjam (KSP) – Koperasi Kredit (Kopdit) salah satu koperasi besar di Kabupaten Ketapang yang memiliki aset per 31 Desember 2018 sebesar Rp97,9 miliar.

Untuk sampai ke Kantor Pusat CUPD, di Desa Semandang Kanan, Kec. Simpang Dua, Kab. Ketapang, sangat mudah. Dari Pontianak, Ibukota Provinsi Kalimantan Barat bisa ditempuh dengan jalur darat (taksi, bus, mobil, dan motor), Trans Kalimantan dalam waktu kurang lebih 4 jam. Jalanan hotmix mulus dan lengang, kendaraan bisa dipacu dengan kecepatan rata-rata 80 Km per jam.

Namun, bagi yang baru kali pertama, khususnya orang dari luar Kalimanatan, melewati Trans Kalimantan (Pontianak, Kalimantan Barat – Palangka Raya, Kalimantan Tengah), sayang jika mobil dipacu terlalu kencang, karena tak dapat menikmati indahnya panorama hutan perawan di kanan kiri jalan. Perjalanan dari Ketapang, Ibukota kabupaten ada 2 jalur. Jalur 1 Perawas Melano kurang lebih hanya 3 jam menggunakan sepeda motor dan spead boat. Jalur 2 jalan Trans Kalimantan – Tayap – Siduk kurang lebih 7 jam menggunakan mobil, bus, atau sepeda motor.

Kec. Simpang Dua adalah kecamatan baru, pemekaran dari Kec. Simpang Hulu pada tahun 2003. Penduduknya sebagian besar petani dan pekebun. Produk unggulan bukan hanya padi dan karet, sekarang perkebunan kelapa sawit mendominasi seluruh wilayah Simpang Dua. Selain itu ada potensi pariwisata alam seperti Bukit Batu Daya dan Taman Nasional (TN) Gunung Juring. Simpang Dua mempunyai 3 suku besar yang hidup berdampingan dan harmonis, yaitu Suku Dayak, Melayu, dan Tiong Hoa. Bahasa yang digunakan sehari-hari dominan bahasa Dayak Simpang, dan sedikit bahasa Gerai.

CUPD tersemai – tumbuh di Simpang Dua tahun 1990-an, dan berangsur-angsur memberikan dampak positif kepada masyarakat. Orang mulai menyadari bahwa CU itu sebuah alat untuk mengubah kehidupan. Maka, orang mulai rajin menabung. Dalam kegiatan memotivasi, CU memberikan pendidikan dasar, dan pendidikan lanjutan. Sampai kini, menurut Camat Simpang Dua, Gerego saat berkenalan dengan anggota CUPD karena baru 1½ bulan dilantik, sekaligus memberikan sambuatn RAT, masih dianggap penting memberikan penyadaran dan kesadaran kepada masyarakat yang masih agak sulit dalam hal menabung. “Kita bersyukur, CU hadir di kampung-kampung. Entah itu CU Lantang Tipo, CU Semandang Jaya, CUPD dan sebagainya. Tentu, tujuan dan motivasinya sama, untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan keluar dari kemiskinan,” jelasnya.

***

CUPD saat ini merupakan satu-satunya lembaga keuangan di tingkat kecamatan sehingga sangat di diharapkan mampu menjadi motor penggerak perekonomian di Simpang Dua yang berpenduduk lebih dari 10.800 jiwa tersebut. Pihak kecamatan sedang berupaya memasukkan perbankan, tetapi juga belum berhasil. Kendalanya soal sinyal dan listrik yang masih ‘byar pet’. “Karena bagi pemerintah kecamatan – desa bank pemerintah itu sangat membantu untuk pencairan anggaran atau gaji pegawai yang tidak lagi dibayarkan oleh bendahara, tetapi langsung ke rekening bank. “Bisa juga kerja sama dengan CUPD, bagaimana caranya, itu yang harus dipikirkan” jelasnya.

CUPD melaksanakan RAT tahun buku 2018 pada 21 Februari 2019 di Aula Gereja Katolik St. Mikael, Paroki Simpang Dua. RAT ke-23 yang mengusung tema; Keluar dari Kemiskininan dan Bebas dari Ketergantungan, sekaligus mengadakan pemilihan pengurus dan pengawas periode 2919 – 2022. Ketua CUPD yang tahun lalu terpilih kembali sebagai Sekretaris Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, Agustinus Alibata, S.Pd., M.Si., tidak mencalonkan lagi dalam bursa pemilihan pengurus baru, karena sudah 2 periode menjadi pengurus. Apalagi dia juga mencalonkan diri dalam pemilihan calon wakil rakyat  – calon legislatif di DPRD Kabupaten Ketapang dari PDI Perjuangan.

RAT adalah kewajiban bagi koperasi – CU, dan menunjukkan bahwa koperasi itu masih hidup, masih bersama-sama anggota. Dalam UU No 25 tahun 1992 diatur bahwa jika selama 3 tahun berturut-turut koperasi – CU tidak melaksanakan RAT maka secara resmi dibubarkan oleh pemerintah. RAT merupakan forum untuk menyampaikan pertanggungjawaban kinerja pengurus dan pengawas selama satu tahun buku, dan bagi anggota merupakan forum untuk mengevaluasi, mengritisi atas realisasi program kerja yang telah ditetapkan pada awal tahun buku.

Dalam laporannya, Alibata mengatakan bahwa secara makro pertumbuhan CUPD cukup baik. Jumlah anggota, misalnya, tahun buku 2017 baru mencapai 13.542 orang, meningkat menjadi 14.312 orang sampai akhir tahun 2018. Demikian pula aset dari Rp89 miliar (2017) menjadi Rp98,6 miliar (2018). “Sampai akhir januari sudah naik menjadi Rp98,6 miliar. Berarti kurang Rp1,4 miliar mencapai Rp100 miliar. Saya yakin, akhir tahun buku 2019 sudah mencapai Rp100 miliar – lebih,” kata Alibata, optimis.

Untuk tahun buku 2018, CUPD membukukan surplus hasil usaha (SHU) sebesar Rp1,3 miliar. dari jumlah tersebut 50% dibagikan kembali kepada anggota dalam bentuk BJS dan BJP, dan 50% dari sisa – bagian 50% itu disisihkan kembali demi keberlanjutan lembaga dalam bentuk dana cadangan resiko, dalam bentuk dana cadangan umum, dalam bentuk modal lembaga dan dalam bentuk dana pendidikan tahun buku 2019. Harapannya, tahun buku 2019 CUPD bisa tumbuh secara linier.

Banyak yang mengharapkan, lanjut dia, agar CUPD tumbuh lebih besar lagi, dengan cara membuka tempat pelayanan (TP). Namun berdasarkan tata kelola CU, CU itu baik bukan diukur dari besarnya aset, atau diukur banyaknya anggota, juga bukan diukur dari banyaknya TP, tetapi diukur dengan analisis PERLS. Kesehatan CU diukur dari seberapa besar yang sehat menurut analisis PERLS. “Maka CUPD tidak berambisi untuk membuat TP yang banyak dan aset yang besar, tetapi ingin membuat anggota yang lebih tertata, anggota yang lebih sejahtera sehingga CU-nya menjadi lebih sehat,” urai Alibata memberikan alasan.

Terkait tema RAT; Keluar dari Kemiskininan dan Bebas dari Ketergantungan, kata Alibata, tema itu sudah dilokakaryakan sebanyak 6 kali di tingkat TP sekaligus pra RAT. CUPD memiliki 6 TP, dan setiap TP hadir pada pra RAT rata-rata 150 – 200 peserta. Total yang ikut pra rata sekitar 1.000-an orang. Mereka sudah mendengar bagaimana strategi keluar dari kemiskinan dan ketergantungan. Materi itu diramu dari perjalanan mengikuti lokakarya-lokakarya credit union tingkat internasional.

Tahun 2016 Alibata diutus Puskopdit BKCU Kalimantan untuk menyelesaikan pendidikan singkat credit union, developmet educator credit union di Bangkok. Tahun 2017 dikirim kembali ke Bangkok untuk menghadiri ACCU Forum dan tahun 2018 bersama ketua BKCU Kalimantan Edi V. Petebang, Sos., diutus untuk menjadi perwakilan credit union di Indonesia mengikuti ACCU Forum di Manila, Philipina.

Menurut credit union, kalau kita mau keluar dari kemiskinan dan ketergantungan ada tiga hal; Pertama, self help – menolong diri sendiri. Kalau ingin keluar dari lingkar kemiskinan, jangan minta tolong orang lain. Kita harus menolong diri sendiri. Setelah menolong diri sendiri, bantu orang lain. Kedua, melalui; self government – mengelola diri sendiri. Dan Ketiga, melalui; self wishes responsibility – bertanggung jawab kepada diri sendiri. Jika ketiga faktor itu lakukan, kita akan keluar dari lingakran kemiskinan dan ketergantungan. Itulah yang membuat misi sejati gerakan credit union sampai ke tujuannya, help people to help themselves, menolong orang untuk menolong diri sendiri.

Dalam gerakan credit union, Alibata mengakui bahwa CUPD bukan CU besar, tetapi juga bukan CU yang kecil. Di Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKK) di bawah naungan Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) CUPD menempati urutan ke-41 CU besar secara nasional dari 900-an CU primer. Sedangkan di jejaring Puskopdit BKCU Kalimantan, secara keanggotaan menempati urutan ke-11 dan secara aset diurutan ke-18 besar dari 43 CU primer. Namun diakui bahwa kredit lalai (KL) masih relatif tinggi, masih 18%, jauh dari kata ideal menurut standar ACCESS Branding CU Asia. Idealnya 5% ke bawah. “Banyak yang mau pinjam tak mau bayar. Ini penyakit yang membahayakan. KL itu pembunuh berdarah dingin,” tegasnya.

Namun KL paling besar sekitar Rp5 miliar adalah yang tidak membayar selama 1 – 3 bulan. Anggota pinjam, angsuran bulan pertama lancar, bulan ke-2 masih lancar, tapi bulan ke-3 macet, dan bulan ke-4 macet. Sedangkan yang macet di atas 12 bulan hanya Rp3,4 miliar. “Ini yang beresiko. Tetapi lembaga sudah menyiapkan dana risiko lebih dari 100% – Rp3,8 miliar. Artinya aman, CUPD tetap “pd” dan likuid.

Dana cadangan risiko itu disimpan di Bank BTN. KL yang besar 1 – 3 bulan, jika ditagih, dia bayar. Tapi kalau tidak ditagih, dia tidak datang ke kantor, bayar. Untuk mengurangi KL anggota Puskopdit BKCU Kalimantan telah menyepakati gerakan TWTJ – tepat waktu tepat jumlah. Kalau perjanjian pinjam angsurannya tanggal 2, maka tanggal 2 harus bayar, dan sesuai jumlah yang disepakati. Kalau perjanjiannya Rp200.000,- tetapi hanya dibayar Rp150.000,- artinya macet juga, tidak disiplin keuangan,” tegas Alibata, seraya mengungkapkan kata-kata mutiaranya; “Berikanlah pinjaman kepada orang yang tidak mengerti dengan tujuan pinjaman, maka kita sedang mendorong mereka ke jurang kemiskinan.”

CUPD, kata Alibata, selalu menyeimbangkan misi ekonomi dengan misi sosial. Secara misi ekonomi CUPD tahun 2018 membukukan surplus usaha sebesar Rp1,3 miliar. Misi sosial, tahun 2019 CUPD akan mendorong kembali pemberdayaan ekonomi produktif masyarakat – anggota. Sejak tahun 2016 ada program pemberdayaan kopi. Namun baru 18 orang anggota yang menanam kopi, dan baru ada 2 anggota yang mulai panen, 25 Kg kopi. Sekarang masih banyak bibit kopi di kebun kantor pusat CUPD. Pertimbangan pemberdayaan anggota menjadi pekebun kopi karena 99% kaum pria minum kopi. Kebutuhan kopi di Simpang Hulu (kecamatan induk) dan Simpang Dua menurut Alibata, kalau dihitung-hitung sekitar 18 ton setiap bulan. Namun kopi tersebut didatangkan dari daerah lain.

Mulai tahun 2019 pemberdayaan ekonomi juga dikembangkan peternakan babi. Di Kalimantan Barat pada umumnya, ternak babi merupakan salah satu kegiatan ekonomi produktif. Untuk itu CUPD telah membuat TOT pakan babi fermentasi. Tujuannya agar masyarakat – anggota mulai bergerak mengubah pola ternak dari kuli babi menjadi bos babi. “Sekarang, kita harus mulai tidak melepas babi lagi,” tegasnya.

***

Gerakan CU ke depan, kata Edi V Petebang,  telah menyepakati tahun 2018 sebagai tata kelola. Hal itu mengambil momentum dari peringatan 200 tahun lahirnya Frederich William Raiffeisen pendiri credit union. Gerakan CU harus kembali lagi memperkuat nilai-nilai dan prinsip-prinsip Raiffeisen. Keluar dari kemiskinan dan bebas dari ketergantungan adalah salah satu prinsip Raiffeisen yang harus dilaksanakan CU di seluruh dunia yang mengaku dirinya CU.

Sekarang ini, kata Edi Petebang, banyak yang mendirikan CU untuk menumpuk uang kemudian dipinjamkan tetapi tidak melaksanakan prinsip-prinsip Raiffeisen. “Itu berarti bukan CU, melainkan renterni berbadan hukum koperasi – CU,” tegas Edi.  Yang harus selalu dipegang teguh oleh gerkkan CU adalah apa yang dikatakan Raiffeisen bahwa: kemiskinan itu pola berfikir yang keliru. Kalau berfikirnya miskin terus tak bisa sekolah dan tidak bisa maju. Mereka yang berfikir maju, berani menyekolahkan anak-anaknya di kota maka akhirnya menjadi orang pandai dan maju. Kalau kita sebagai orang kampung berfikir miskin, lemah, itulah cara berfikir yang salah.

Raiffeisen juga mengingatkan bahwa kesulitan orang miskin hanya dapat diatasi oleh kaum miskin itu sendiri. Raiffeisen juga mengingatkan kepada kaum miskin harus mengumpulkan uang secara bersama dan meminjamkannya kepada sesama mereka juga. Banyak orang tak menyangka orang-orang sederhana di Desa Semandang Kanan yang menjadi anggota  CU bisa mengumpulkan uang sebesar Rp98 miliar. Bahkan ada CU yang uangnya ratusan miliar – triliunan. Di Sanggau, Kalimantan Barat orang bisa mengumpulkan uang Rp2,5 triliun.

Raiffeisen juga mengingatkan bahwa pinjaman harus untuk tujuan produktif yang dapat meningkatkan penghasilan. Saat ini gerakan CU di jejaring Puskopdit BKCU Kalimantan gencar mendorong anggota untuk melakukan kegiatan-kegiatan produktif. Kalau pinjam untuk beli motor, dan motornya untuk ngojek, atau untuk antar jemput, misalnya. Tidak baik pinjam uang untuk konsumtif. Pengalaman di CU, pinjaman untuk hal-hal konsumtif biasanya macet. Berbeda untuk kegiatan produktif yang bisa mendapatkan uang, pengembaliannya lebih lancar. Raiffeisen sudah mengingatkan sejak 200 tahun yang lalu.

Raiffeisen mengingatkan, jaminan pinjaman adalah watak si peminjam. Pinjaman itu yang pertama-tama jaminannya adalah waktak kita – anggota. Karena itu anggota tak bisa serta merta pinjam dalam banyak. Itu salah satu cara tes watak peminjam. Jika anggota mengembalikan pinjamannya tertib – disiplin dia boleh pinjam lebih besar lagi. Menurur Edi Petebang, di CU tidak ada budaya instan. Maka ada program-program pendidikan. Ada pendidikan wajib, pendidikan finansial lierasi dan sebagainya. Program pendidikan itu tidak hanya bagi anggota, tetapi terlebih bagi pengurus, pengawas dan manajemen. Raiffeisen mengingatkan adanya 3 prinsif dasar – pilar utama CU, yaitu; swadaya, solidaritas, dan pendidikan.

CU terutama di Kalimantan Barat, bahkan di seluruh wilayah Indonesia telah berkontribusi banyak untuk membuat orang lebih sejahtera. Mungkin kalau tidak ada CU saya tidak akan bisa menikmati kuliah di kota. Sekarang banyak orang Kalimantan Barat yang kuliah di Jawa; Jakarta, Jogya, Semarang, Surabaya dan sebagainya. Bahkan ada yang kuliah di luar negeri. Karena ada CU dan ayah menjadi anggota CU, untuk biaya sekolah anaknya pinjam ke CU. Karena ada CU di kampung-kampung  banyak orang yang berubah hidupnya menjadi lebih baik, lebih sejahtera,” urainya.

Yang paling terasa dampaknya, lanjut dia, CU mampu mengubah mindset – pola pikir anggotanya. Mereka yang dulu suka foya-foya, menjadi berhemat. CU mampu mengubah pola fikir anggota lebih bijaksana dalam mengelola keuangan keluarga. Orang-orang CU diajak berfikir untuk lebih produktif dan diajak memikirkan masa depan.

Puskopdit BKCU Kalimantan memliki anggota yang tersebar di 18 provinsi, dan merupakan satu-satunya Puskodit yang anggotanya tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Juga merupakan Puskopdit terbesar di Indonesia, memiliki aset gerakan Rp6,5 triliun, dan jumlah anggota perseorangan 459.000 orang. Tahun buku 2018 membukukan SHU sebesar Rp27 miliar. Pinjaman beredar Rp4,3 triliun. Yang juga sangat membanggakan dalam 5 tahun terakhir ada 750 kelompok binaan, dengan jumlah anggota 5.900 orang. Ada pula kelompok-kelompok basis, sekitar 1.300-an.

Gerakan Puskopdit BKCU Kalimantan bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi 1.900 orang pegawai. Kalau hari Kamis, 43 CU seluruh pengurus gerakan termasuk manajemen mengenakan seragam warna baju abu-abu. Jika ditotal seluruh pengurus, pengawas, kelompok inti – aktivis CU sudah lebih dari 3.000 orang. sudah menjadi suatu gerakan yang sangat besar.

Yang juga membanggakan, kata Edi, ada CU anggota Puskopdit BKCU Kalimantan memperoleh sertifikat Access Branding dari CU Asia, yaitu CU Sauan Subarrung. Di tingkat Nasional, ada juga CU yang mendapatkan penghargaan sebagai CU berprestasi nasional, yaitu CU Tillung Jaya di Putussibau yang piagamnya diserahkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

Dalam tata kelola CU, tidak ada tata kelola jenis lain. Hukum ekonomi pun tidak masuk dalam tata kelola CU. CU punya cara tersendiri dalam mengelola keuangan – tata kelola. Ada 3 perspektif dalam tata kelola CU, yaitu perspektif eksternal, perspektif internal dan perspektif individual. Jika ketiga perspektif ini baik, baiklah CU. Perspektif eksternal misalnya, apakah punya badan hukum (BH), punya nomor pokok wajib pajak (NPWP), dan sebagainya. Perspektif internal, apakah punya semua aturan yang CU. Perspektif individual, apakah staf-stafnya bekerja dengan baik, bersemangat, dan bekerja dengan sepenuh hati.

Harus diakui, memang masih ada pengurus – manajemen yang mencoba-coba dengan tata kelola. Bahkan coba-coba mengakalinya. Akibatnya ada orang-orang CU yang harus mengalami hidup di penjara. Karena melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam tata kelola CU. Misalnya, menerima gratifikasi. Di gerakan Puskopdit BKCU Kalimantan ada 1 – 2 orang dan sudah dikeluarkan dari CU-nya. “Karena itu pengurus, pengawas, manajemen dan anggota jangan coba-coba main-main dengan tata kelola. Taruhannya, kalau tata kelola CU tak baik, CU itu akan hancur,” katanya mengingatkan.

Secara umum, kata Edi, tantangan internal yang paling besar adalah masih terjadinya KL yang tinggi. Secara gerakkan, KL CU di jejaring Puskopdit BKCU Kalimantan masih 19%. Jauh dari ideal 5%. Namun patut bersyukur ada 10 CU primer yang KL-nya di bawah 5%, dan 3 CU yang KL-nya di bawah 1%. CU yang KL-nya di bawah 5% bukan hanya CU yang ada di bawah yayasan yang tinggal potong gaji. CU yang anggotanya berbasis masyarakat juga ada yang kredit lalainya di bawah 5%. Kita harus menyadari bahwa kredit lalai adalah pembunuh berdarah dingin. Pelan-pelan menggrogoti CU dan akhirnya CU itu mati.

Saat ini kita dihadapkan pada situasi ekonomi kurang baik. Harga karet dan sawit sangat rendah, membuat masyarakat – anggota terkendala memenuhi kewajiban membayar angsuran. Dibandingkan tahun 1990-an harga getah karet memang lebih tinggi. Kala itu harganya Rp1.000,- – Rp1.500,- per Kg. Tetapi harga beras hanya sekitar Rp500,-  – Rp750 per Kg. Sekarang, harga karet Rp7000,- per Kg tetapi harga beras Rp12.000,- ke atas, dan harga gula juga Rp14.000,- per Kg.

Artinya, kalau menoreh karet sehari dapat 1 Kg getah, tidak cukup untuk beli 1 Kg beras. Demikian harga sawit hanya Rp1.300,- per Kg. Ketika musim panen harga jatuh hanya Rp700,- per Kg. uangnya hanya cukup untuk membayar upah pemetik sawit. Kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan KL menjadi agak tinggi. Namun, kita perlu menghargai semangat menabung para anggota. Sebagai pimpinan di daerah yang dekat dengan warga camat dan kepala desa di Kecamatan Simpang Dua akan melakukan gerakkan “wajib” menabung, karena sangat terbantu dengan adanya CU di kampung-kampung. Nilai-nilai kemandirian itu dianggap sangat pas.

Agar CU sehat, kokoh dan berkelanjutan, seluruh elemen dalam gerakan credit union harus mengambil peran dan berkontribusi nyata.  Puskopdit BKCU Kalimantan sebagai salah satu elemen tersebut, sesuai dengan mandatnya, tentu telah, sedang dan akan terus berupaya memandu anggota menuju CU yang sehat, kokoh dan berkelanjutan. CU tidak boleh membatasi dirinya hanya sebagai pemberi pinjaman. Tujuan utama dari CU adalah mengontrol penggunaan uang, memperbaiki nilai-nilai moral dan fisik dari setiap orang, dan memberdayakan mereka untuk bertindak sendiri – mandiri.

Misi CU Sekunder (Puskopdit dan Inkopdit) adalah “memastikan pertumbuhan berkelanjutan dari jaringan credit union yang terintegrasi untuk memampukan mereka menyediakan pelayanan berkualitas, meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Sedangkan misi CU primer menyediakan layanan keuangan berkualitas untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Dengan kerja sama yang baik dari ketiga jaringan gerakan CU tersebut, terbukti CU mampu mengangkat derajat kehidupan jutaan orang di seluruh dunia. Di seluruh dunia ada 260.000.000 anggota CU, tersebar di 89.000 unit CU di 117 negara.  Di Asia ada 30.473 unit CU dengan anggota 35.100.000 orang; aset Rp169 triliun; 350,000 sukarelawan; 705.000 staf. (adt – dm)

 

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *