CU Pancur Kasih Sampai di Perbatasan Malaysia

Menyeberangi sungai-sungai besar yang masih dihuni binatang-binatang buas seperti buaya – ular berbisa, menerobos hutan pedalaman Kalimantan Barat (Kalbar), melewati jalan setapak nan licin, becek, dan berlumpur di kala musim hunjan, atau tersengat terik mata mari kala sang surya tepat di garis khatulistiwa, adalah medan perjuangan para aktivis Credit Union (CU) untuk mencapai desa-desa terpencil yang gelap gelap gulita kala malam tiba. Perjuangan tak kenal lelah itu untuk mewujudkan hidup sejahtera masyarakat tertinggal, miskin dan termajinalkan oleh pembangunan.

Cerita pejuang kesejahteraan dengan mengikbarkan bendera credit union, bukan koperasi, lantaran image – citra koperasi agak miring, di era global serba digital, banyak orang tidak percaya. Namun, itu benar adanya. Meskipun CU Pancur Kasih, salah satu CU primer terbesar di Indonesia, urutan ke-3 setelah CU Lantang Tipo dan CU Keliling Kumang, dimana total anggota CU Pancur Kasih per 31 Desember 2016 sebesar 140.934 orang, dengan total aset Rp 2.010.604.890.850,- dan merupakan CU pertama yang mampu memberikan layanan prima kepada anggota melalui jaringan hand phon (HP) berbasis android, namun dalam pengembangan wilayah kerja dan rekrutment anggota, tetap dengan cara tradisional. Yaitu mengadakan sosialisasi ke kelompok-kelompok warga desa, petani, pekebun atau pedagang kecil melalui pertemuan-pertemuan, sehingga terbangun kebersamaan dan kekeluargaan.

Para aktivis CU Pancur Kasih yang terus memperluas medan perjuangannya kini telah mencapai daerah perbatasan dengan Negara tetangga, Malasyia. Seperti dilaporkan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2016 yang dilaksanakan pada 27 Februari 2017 di Hotel Kapuas, salah satu hotel bintang tiga di Kota Pontianak, Kalbar, bahwa dari 40 Tempat Pelayanan (TP) yang tersebar di seluruh wilayah Kalbar, ada perwakilan dari TP di daerah perbatasan yang baru kali pertama mengikuti RAT. Bagi utusan dari daerah perbatasan, hal ini menjadi kebanggaan tersendiri. “Jangankan menginap di hotel berbintang, ke Kota Pontianak, Ibukota Provinsi Kalbar, ada yang baru kali pertama,” tutur Ketua CU Pancur Kasih, DR FY Khosmas, M.Si, saat berbincang dengan wartawan Majalah UKM, D Marjono. Keikutsertaan mereka dalam RAT, lanjut Khosmas, membangkitkan semangat luar biasa untuk mengembangkan CU di daerahnya. Hal itu pasti akan berdampak positif bagi kesejahteraan anggota, dan pembangunan di daerah setempat.

RAT yang mengusung tema; “Meningkatkan Kualitas Anggota Melalui Pelayanan Prima untuk Menghadapi Tantangan Ekonomi Global” bagi CU Pancur Kasih, bukan slogan kosong. Salah satu cara untuk memenangkan persaingan ekonomi global adalah terpenuhinya sumber daya manusia (SDM) yang handal dan mampu menguasai teknologi modern. Untuk mendapatkan SDM yang berkualitas – memiliki kompetensi dan kerja mumpuni, terutama untuk tenaga-tenaga muda, ketika merekrut karyawan, pengurus dan top manajemen melakukan seleksi sangat ketat. Untuk karyawan baru, strata (S1) diutama, minimal D3. Hal itu bisa dilihat, dari 366 orang karyawan S1 ada 142 orang, S2 ada 3 orang untuk D3 ada 77 orang dan D2 hanya 1 orang. Sedangkan lulusan SLTA ada 141 orang, dan lulusan SMP dan SD masing-masing 1 orang.

Keilmuan tersebut terus ditingkatkan dengan ilmu-ilmu yang terkait dengan creditunion, sesuai standar yang ditetapkan oleh Association Asia Credit Union (AACU) yang bekantor pusat di Bangkok, dimana Indonesia menjadi salah satu anggotanya, atau bahkan stadart World Council of Credit Union (WOCCU) – Credit Union Dunia. Sehingga seluruh SDM CU Pancur Kasih diwajibkan mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan; baik oleh CU Pancur Kasih sendiri, Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Burneo (Sekunder) maupun Induk Koperasi Kredit (Inkopdit). Program pendidikan bagi pengurus, pengawas dan manajemen selama tahun buku 2016 terealisasi sebanyak 34 kali. Guna meningkatkan kualitas ber-CU para anggota, manajemen yang dikomandani General Manager (GM) Domitius, SH,MH, dalam tahun buku 2016 menyelenggarakan berbagai jenjang pendidikan bagi anggota sebanyak 332 kali.

Diakui bahwa program kerja tahun buku 2016 secara keseluruhan masih ada yang tidak tercapai, yaitu pencapaian di bidang usaha dan keanggotaan. Menurut  Domitius, banyak faktor yang menjadi kendala, baik internal maupun eksternal. Faktor internal, misalnya, pembenahan SDM secara keseluruhan masih menjadi tugas yang berat untuk menyempurnakannya menuju terwujudnya SDM yang profesional dan berintegritas, juga penyesuaian perangkat-perangkat aturan dan tata laksana dalam pengelolaan lembaga. Namun upaya untuk meraih kinerja terbaik terus dioptimalkan.

Sedangkan faktor eksternal, regulasi pemerintah terhadap koperasi, khususnya terkait dengan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga yang semakin rendah, 9% per tahun. Belum lagi soal pajak dan BPJS. Harga komoditi karet dan sawit yang sangat rendah, padahal sebagian besar anggota CU Pancur Kasih pekebun karet dan sawit, berdampak kepada anggota dalam membayar kewajibannya. Jangankan untuk mengangsur pinjaman dan membayar jasa, untuk membayar simpanan wajib pun banyak yang mengalami kesulitan. Sebab, beban kebutuhan sehari-hari, khususnya menyangkut harga sembilan bahan pokok (Sembako) yang juga terus meningkat. “Belajar dari pengalaman tahun 2016, dengan terus memperbaiki kekurangan dan kelemahan, tahun 2017 diharapkan akan menjadi lebih baik,” tutur Domitius.

Menghadapi persaingan bisnis keuangan yang begitu ketat, baik dengan sesama lembaga keuangan; CU – koperasi, lembaga keuangan mikro (LKM), maupun perbankan, termasuk bank-bank asing yang kini telah merambah kegiatan ekonomi mikro – UMKM, manajemen CU Pancur Kasih tidak mau ketinggalan. Prasarana dan sarana pelayanan kepada anggota terus di-up date mengikuti perkembangan teknologi terkini. CU Pancur Kasih boleh dibilang paling depan dalam peggunaan teknologi terkini. Saat pemilihan pengurus baru 2 tahun silam, misalnya, CU Pancur Kasih telah menggunakan system elektronik, dimana anggota yang memilih tidak lagi menulis nama di kertas suara, melainkan menekan tombol sesuai nomor pilihannya.

Menurut Domitius, inovasi penggunaan teknologi terus dikembangkan, sehingga CU Pancur Kasih saat ini telah mampu memberikan layanan kepada anggota dengan online system. Dengan menggunakan apalikasi CUPK mobile para anggota yang memiliki HP andoid dapat bertransaksi tanpa batas waktu; kapan saja dan di mana saja. Ini merupakan prestasi inovasi luar biasa dan sangst membanggakan karena diciptakan oleh karyawan – staf bidang teknologi informasi dan computer (TIK) CU Pancur Kasih sendiri, satu-satunya di gunakan CU di Kalimantan Barat, bahkan di Indonesia. Dengan pelayanan yang cepat, tepat, mudah dan akurat, CU Pancur Kasih akan menjadi pilihan bagi masyarakat yang belum bergabung.

Untuk melayani anggota yang tempat tinggalnya jauh dari TP, CU Pancur Kasih membuka 6 sub tempat pelayanan khusus (TPK) yaitu; Sub TPK Sambih, Nahaya, Aruk, Cap Kala, Meranti, dan Batu Ampar. Dengan demikian CU Pancur Kasih memiliki 40 TPK dan 6 Sub TPK. Semakin banyak TP, didukung online sisytem dan perangkat IT terkini lainnya, maka semakin banyak masyarakat yang bergabung dan memperoleh pelayanan serta pembinaan keuangan keluarga, sehingga tercipta masyarakat cerdas financial – keuangan. Pengaruh positifnya, perekonomian di daerah-daerah pedalaman berkembang, kesejahteraan masyarakat semakin baik.

Sebagai lembaga berbadan hukum koperasi dengan kegiatan utamanya simpan pinjam, kata Khosmas, CU Pancur Kasih dihadapkan pada persoalan lama, yaitu terkait nama lembaga harus menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah, menggunakan kata Kredit Simpan Pinjam (KSP). Tanpa mengurangi makna credit union, maka nama itu kelak jika Rancangan Undang-undang (RUU) tentang perkoperasian diundangkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan disahkan oleh pemerintah menjadi UU, maka nama Credit Union Pancur Kasih kemungkinan juga akan mengalami perubahan menjadi Koperasi Simpan Pinjam Credit Union Pancur Kasih (KSP CU PK). “Namun semua itu menunggu perkembangan baru setelah UU Perkoperasian disahkan. Persoalan nama bisa disesuaikan, karena inti dari kegiatan CU Pancur Kasih adalah soal menyimpan dan meminjam. Tabungan yang diterima dari anggota akan dipinjamkan lagi kepada anggota,” urainya.

FY Khosmas menjelaskan bahwa kondisi yang ada di CU Pancur Kasih masih mengalami persoalan pada tabungan. Jika dicek satu persatu kepada anggota yang jumlahnya 140.934 masih banyak tabungan yang tidak berimbang dengan pinjaman. Kesannya tidak begitu memperhatikan tentang tabungan. Konsiderasinya pada penyelesaian pinjaman. Kalau diperhatikan antara simpanan dan pinjaman kurang berimbang. Akibatnya, tingkat kelalaian anggota dalam menyelesaikan pinjamannya kurang tertip. “Jika hal ini terjadi terus menerus, saya pikir tidak akan ada obatnya. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan pengurus, pengawas, manajemen dan para pasukan yang bertugas di lapangan diharapkan tahun 2017 ada perubahan. Anggota hendaknya tidak hanya menabung, tetapi juga meminjam sehingga dikemudian hari akan terjadi perimbangan. Dengan demikian tidak akan terjadi kondisi yang berbahaya,” tegasnya.

CU Pancur Kasih, lanjut Khosmas, adalah milik bersama; anggota sebagai pemilik dan anggota sebagai pengguna jasa. Karena CU Pancur Kasih tidak melayani yang bukan anggota, maka anggota harus betul-betul memperhatikan hal-hal sebagai berikut; Jangan merusak milik sendiri. Jangan mengabaikan lembaga milik sendiri. Jangan menimpakan kemarahan pada CU sendiri, pada petugas atau pada karyawan CU. Ingat, ketika kita sulit siapa yang membantu, siapa yang menolong, siapa yang meringankan beban kita. Anggota CU rata-rata sukses “Karena CU”. Jangan sampai ada pepatah: Ada uang CU disayang, tak ada uang CU ditendang. “Mari kita buktikan, anggota yang berkualitas adalah anggota yang sukses,” ajaknya. (mar)

 

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to CU Pancur Kasih Sampai di Perbatasan Malaysia

  1. Software spp says:

    Info yang sangat bermanfaat, di tunggu kunjungan baliknya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *