CU Pancur Kasih Siap Bayar Pajak

Credit Union adalah kumpulan orang-orang yang ingin sejahtera

Sejahtera tidak bermakna memiliki uang yang banyak atau mengandalkan uang

Uang dapat membeli darah, tetapi tidak kehidupan

Uang dapat membeli rumah, tetapi tidak kebahagiaan para penghuninya

Uang dapat membeli tempat tidur, tetapi tidak kenyenyakan

Uang dapat membeli jabatan, tetapi tidak rasa hormat

Uang dapat membeli sex, tetapi tidak rasa cinta

Uang dapat membeli obat, tetapi tidak kesehatan

Hal itu diungkapkan Ketua Koperasi Kredit (Kopdit) Credit Union Pancur Kasih, Dra. Norberta Yati Lantok, beberapa jam sebelum digantikan oleh ketua baru melalui pemungutan suara secara demokratis, karena masa baktinya sebagai ketua periode kedua telah berakhir, dan berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD – ART) lembaga, tidak boleh dipilih lagi. Penggantinya, FY Khosmas, sebelumnya adalah sebagai penasehat bersama Pastor Yeri.

Dipilih pengurus baru yang benar-benar jujur, terbuka, bertanggung jawab, peduli terhadap orang lain, berkomitmen tinggi untuk memajukan lembaga serta dapat dipercaya dapat membawa nama lembaga semakin maju, berkembang dan kuat sehingga menjadi pilihan utama bagi masyarakat luas. Hancurnya sebuah lembaga – koperasi – termasuk Kopdit Credit Union belum pernah kita dengar dihancurkan oleh orang luar, tetapi justru dihancurkan oleh orang dalam sendiri.

Menurut Yati, yang bersama pengurus dan pengawas serta jajaran manajemen berhasil menghantarkan Kopdit Credit Union Pancur Kasih pada akhir Desemeber 2013 memiliki aset lebih dari Rp 1,4 triliun dari 120.417 anggota, orang-orang credit union memaknai bahwa kesejahteraan tidak sekedar memiliki tabungan, memiliki aset, tetapi menjadi insan credit union yang sungguh-sungguh sejahtera, dalam arti luas.

DSCN7011Mengakhiri masa baktinya setelah mempertranggungjawabkan kinerja pengurus melalui Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2013 yang dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2014, dan diterima secara aklamasi, bagi Yati juga memberikan rasa plong, dan kebahagiaan tersendiri. Memimpin lembaga keuangan – koperasi demikian besar, baik aset maupun jumlah anggotanya, tidak mudah. Banyak tantangan; harus tegas, cermat, hati-hati dan tidak meninggalkan prinsip-prinsip koperasi credit union, yaitu; solidaritas – swadaya – mandiri.

Tidak pernah puas adalah sifat setiap orang karena ingin mencapai yang lebih baik. Itu pula yang mendasari dipilihnya tema RAT tahun buku 2013; Memperkuat Tata Kelola Eksternal Untuk Menjadi Credit Union Yang Tangguh dan Terpercaya. Tema ini, menurut Yati, menjadi sangat penting karena undang-undang (UU) No 17 tetang Perkoperasian yang ditetapkan pada 29 Oktober 2012, implikasinya adalah adanya perubahan penyesuaian yang harus dilakukan oleh gerakkan koperasi khususnya credit union agar tata kelolanya, secara internal maupun individual tidak menyimpang dari aturan yang sudah ditetapkan.

Yati mengaku, merasa perlu mengkilas balik perjalanan Kopdit Credit Union Pancur Kasih 3 tahun ke belakang, karena pada rapat anggota saat itu pengurus dan pengawas mengakhiri masa baktinya. Dianggap penting sedikit me-review apa yang sudah dilaksanakan, sebagai wujud dari tanggung jawab menjalankan mandat yang dipercayakan oleh anggota. Segala sesuatu ada waktunya. Demikian juga tantangan, tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh pengurus. Berbeda setiap zamannya. Kita ketahui, credit union adalah gerakkan yang muncul dari inisiatif masyarakat untuk menolong dirinya sendiri, yang pada umumnya masa awal pertumbuhan belum berbasis pada sistem manajerial yang baik, tetapi lebih mengandalkan sisi baik karakter orang untuk membangun organisasi itu sendiri.

Selama 6 tahun terakhir di Kopdit Credit Union Pancur Kasih pengurus berupaya secara maksimal untuk fokus pada membangun dan mengontrol praktek tata kelola credit union yang sehat. Tahun 2010 pengurus focus pada pembenahan tata kelola individual dan internal. Membuat sistem dan kebijakan yang menjadi landasan operasional, membuah road map – peta jalan lembaga sampai dengan tahun 2015. Pada tahun yang sama juga dilakukan pembenahan terhadap sistem soft ware – perangkat lunak, sehingga sekarang berhasil digunakan Sikopdit CS (clean server) yang lebih mengakomodir kebutuhan pelayanan dalam sistem pelayanan yang memadai.

Pada tahun 2012 Sikopdit CS sudah dikembangkan ke system online, yang pada akhir tahun 2013 sudah diuji coba dan hasilnya cukup baik. Demikian juga sistem yang digunakan oleh kantor Inkopdit di Jakarta. “Dan kini, masa kita betul-betul transisi dari konvensional ke pelayanan yang berbasis IT dengan sentuhan-sentuhan teknologi yang mau tidak mau – suka tidak suka harus disesuaikan, karena ini menyangkut kebutuhan kita sendiri,” tegas Yati penuh semangat.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) yang juga sering disebut General Manager (GM) Kopdit Credit Union Pancur Kasih, Marselinus Engkolon, SE, pihak manajemen terus berupaya meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada semua anggota. Beberapa upaya yang telah dilakukan diantaranya; mencukupi kebutuhan tenaga staf di setiap tempat pelayanan (TP) agar pelayanan kepada anggota lebih baik dan cepat, mengukur kinerja pegawai agar bisa diperbaiki dan ditingkatkan, membina komunitas dengan para anggota dan masyarakat melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan secara terus menerus, peduli kepada anggota dan masyarakat yang tertimpa bencana dengan memberikan bantuan-bantuan yang diperlukan sesuai kemampuan yang ada.

Dibidang keuangan, program kerja rata-rata tercapai dengan baik. Program pertambahan aset tercapai 98,09%. Program pinjaman beredar tercapai 88,69%. Program simpanan pokok dan wajib tercapai 96,19%. Program biaya terealisasi 73,65%. Program sisa hasil usaha (SHU) tercapai 97,52%, dan program total anggota tercapai 96,34%. “Persoalan penting yang masih membutuhkan perhatian serius adalah masalah kredit lalai. Kredit lalai masih cukup besar dan cenderung terus bertambah. Kredit lalai dapat menimbulkan masalah yang sangat serius bagi lembaga,” jelas Kolon, begitu biasa dia disapa. Berbagai upaya, lanjutnya, telah dilakukan untuk menangani masalah ini, namun belum memberikan hasil yang maksimal. “Agar masalah ini dapat tertangani dengan baik, diperlukan komitmen dan tekad bersama seluruh anggota,” jelasnya,

Pada tahun 2011, kata Yati, pengurus juga mengarahkan untuk melakukan manajemen resiko dengan memperkuat modal lembaga. Pemupukan modal lembaga dilakukan dengan gencar, namun karena tidak dilakukan sejak awal lembaga ini berdiri maka hasilnya belum mencapai posisi ideal. Terlepas dari itu Kopdit Credit Union Pancur Kasih mendapat penghargaan dari Kementerian Koperasi dan UKM atas upaya pemupukan modal lembaga yang tertinggi pada tahun 2012.

Pada tahun 2013 fokus pengurus lebih pada membenahi tata kelola eksternal, yaitu hal-hal yang terkait dengan peraturan perundangan yang merupakan kewajiban untuk melakukan – disesuaikan dengan UU No 17 tentang perkoperasian. Maka akan banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Penyesuaian yang sudah mulai dilakukan adalah mengubah sistem akuntasi keuangan ke format yang disebut dengan Sistem Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Format SAK ETAP sekarang ini sudah diterapkan oleh beberapa koperasi termasuk Kopdit Credit Union Pancur Kasih dalam laporan tahun buku 2013.

“Pada saat ini Credit Union Pancur Kasih juga sudah siap memenuhi salah satu kewajiban, wajib pajak atau mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Kita siap bayar pakjak. Suka tidak suka kita harus bayar pajak,” tegas Yati. Di samping sisi yang dapat dibanggakan, lanjutnya, tentu ada sisi-sisi lain yang belum berhasil dibenahi – memprihatinkan, misalnya, terkait pelayanan, kemanan di kantor, karena Pancur Kasih beroperasi di daerah-daerah terpencil dimana sarana infrastrukturnya kurang memadai, sehingga juga berpengaruh pada keamanan.

FOTO PEMBUKAAN RAT CU PANCUR KASIH TAHUN BUKU 2013Kopdit Credit Union Pancur Kasih tahun 2013 juga memenuhi satu kewajiban yaitu audit eksternal oleh akuntan publik independen. Hal ini dilakukan dalam rangka memenuhi kewajiban – standarisasi dari lembaga keuangan dimana audit dari akuntan publik diperlukan. Maksudnya bukan semata-mata untuk mengejar predikat 300 besar koperasi kelas dunia, tetapi untuk lebih memberi kepercayaan kepada anggota yang jumlahnya telah mencapai 120.417. Pengurus dan pengawas mengakhiri masa pengabdian dengan menghantarkan Pancur Kasih pada posisi aset Rp 1.470.470.105.758 dan memiliki gedung kantor yang cukup representatif di beberapa tempat pelayanan. Karyawan Kopdit Credit Union Pancur Kasih akhir tahun 2013 berjumlah 218 orang.

Audit yang rutin sangat memberikan manfaat bagi semua pihak. Bagi pengurus dapat mengurangi resiko yang diakibatkan oleh salah saji atas laporan keuangan yang menjadi tanggung jawabnya. Bagi pengawas dapat membantu tugas-tugas pengawasan dan memperoleh porsi yang lebih banyak untuk menekankan tugasnya pada aspek pemberian saran dan nasehat. Bagi Pembina, dalam hal ini pemerintah; dapat memperoleh informasi yang relevan dan mempunyai daya uji sebagai bahan pembinaannya. Bagi anggota dapat mengurangi rasa was-was, dan kurang percaya karena sepanjang perjalanan usaha koperasi telah dilakukan audit. Bagi manajemen dan karyawan dapat memperoleh suasana kerja yang kondusif akibat terciptanya lingkungan pengendalian yang baik atas komitmen pengurus. Dengan demikian dapat dihindari suasana saling curiga dan kontra produktif. Bagi koperasinya sendiri audit dapat diibaratkan sebagai upaya selalu mencuci diri sehingga selalu bersih dan mengurangi resiko terjangkitnya virus penyakit.

Akuntan publik melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar tersebut mengharuskan akuntan publik merencanakan, dan melaksanakan audit agar auditor memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji yang material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian bukti-bukti yang mendukung, jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh pengurus Kopdit Credit Union Pancur Kasih, serta penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.

Kopdit Credit Union Pancur Kasih belum memiliki NPWP. Oleh karena itu penyajian laporan keuangan tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2013 belum menyajikan kewajiban perpajakan sesuai dengan aturan perundang-undangan. Berdasarkan prosedur pengujian dalam rangka memperoleh bukti-bukti yang memadai untuk memberikan opini atas audit, auditor tidak menemukan adanya kekeliruan dan ketidakberesan, serta kesengajaan rekayasa laporan pengurus tahun buku 2013.

Menurut pendapat auditor dari akuntan publik Drs. Widartoyo dan Rekan, laporan keuangan Credit Union Pancur Kasih menyajikan secara wajar. Dalam hal semua yang material, posisi keuangan Kopdit Credit Union Pancur Kasih tanggal 31 Desember 2013 hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas untuk tahun yang berakhir tanggal tersebut sesusai dengan Sistem Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntansi Publik. Yang mempunyai arti bahwa tidak terdapat salah saji yang material, telah disajikan dan dilaporkan pada periode yang tepat.

Laporan pertanggungjawaban pengurus auditan mempunyai kualitas laporan yang memiliki daya prediksi untuk meramalkan, menganalisa sejauh mana kemampuan koperasi di masa depan dalam memenuhi kewajiban pengembangan usaha, membayar pajak, membayar SHU dan sebagainya, serta memberikan jawaban sejauh mana pengurus memanfaatkan sumber daya yang dipercayakan kepadanya untuk menjalankan visi misi dan tujuan koperasi.

Terkait masalah pajak, sebagai pengurus Puskopdit Borneo, dimana salah satu anggotanya Kopdit Credit Union Pancur Kasih, Thomas menyampaikan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bahwa Kopdit-kopdit primer anggota Puskopdit Borneo telah melakukan negosiasi dan koordinasi dengan pihak pajak yang difasilitasi oleh konsultan pajak. Alhasil disepakati untuk membuat NPWP pada waktu yang tepat. Bagi insan credit union di Kalbar mungkin terdengar agak asing, karena memang belum banyak yang memiliki NPWP. Namun di tahun 2013 sudah ada anggota Puskopdit Borneo yang memiliki NPWP, membayar pajak lembaga, dan membayar pajak penghasilan karyawan. Khusus pajak bunga atas simpanan anggota, Gerakkan Koperasi Credit Union di Kalbar meminta pemerintah memfasilitasnya agar bunga simpanan anggota tidak dikenakan pajak, atau setidak-tidaknya ditunda dulu pengenaannya, sampai anggota betul-betul siap.

Sebagai pengurus Puskopdit Borneo, kata Thomas, tetap akan berkoordinasi dengan gerakkan koperasi – Puskopdit yang lain, terutama di Kalimantan Barat. Karena kehadiran Koperasi Credit Union sebenarnya telah menciptakan banyak wajib pajak di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat. Banyak anggota Koperasi Credit Union yang telah memiliki kendaraan sendiri, baik mobil maupun motor, sebagainya. Diyakini mereka pasti membayar pajak.

Selain itu Thomas juga meminta pendampingan dari pemerintah daerah terutama untuk menyikapi UU No 17 tahun 2012. Karena masih ada bagian-bagian tertentu yang menurut Gerakkan Credit Union di Kalbar bertentangan prinsip-prinsip dasar berkoperasi itu sendiri. Contoh, dalam Bab VI, Pasal 55 ayat (1) pengurus boleh dipilih dari perseorangan baik anggota maupun non anggota. Ayat ini mengisyaratkan bahwa pengurus boleh dari orang yang bukan anggota. Sehingga ini bertentangan dengan prinsip dasar koperasi yaitu; dari anggota – oleh anggota – untuk anggota.

Disamping pajak, untuk membuktikan bahwa pengurus Kopdit Credit Union benar-benar menerapkan tata kelola berstandar nasional, dan internasional juga membuka diri diaudit oleh auditor dari kantor akuntan publik. Jangan mengatakan; “Aku ini sehat, tetapi tidak berani – takut diperiksa dokter.” Kopdit credit union tidak takut. Buktinya, telah diaudit auditor eksternal. Puskopdit Borneo senantiasa menyesuaikan diri dengan perundang-undangan, kebijakan serta peraturan pemerintah sehingga apa yang dijalankan betul-betul sesuai dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia, terutama pendiri koperasi. “Puskopdit selalu siap untuk bekerja sama dengan pemerintah guna memajukan masyarakat, khususnya di Kalbar melalui karya-karya di Kopdit Credit Union. Jika masyarakat maju, sejahtera dan makmur menjadi cerminan keberhasilan pemerintah,” jelasnya

Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, dalam sambutannya yang dibacakan oleh  Asisten II Sekda Provinsi Kalimantan Barat, Lensus Kandri SH, MH mengharapkan agar pengurus Koperasi Credit Union Pancur Kasih bekerja keras dalam mengelola badan usaha, sehingga Pancur Kasih tumbuh dan menjadi kuat sebagai gerakkan ekonomi kerakyatan di Kalimantan Barat. Dia yakin dan percaya, dengan pengalaman dan profesionalisme yang dimiliki pengurus, cita-cita dan komitmen yang ingin dicapai dapat diwujudkan. Dengan catatan, tentu perlu dukungan penuh dari segenap anggota dan manajemen Kopdit Credit Union Pancur Kasih.

Lahirnya UU No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian, membawa angin segar perkembangan koperasi di Indonesia, khususnya di Kalbar. Gubernur berharap ke depan koperasi dapat semakin maju, sejalan dengan adanya dukungan dan perhatian yang besar dari pemerintah terhadap pemberdayaan koperasi. Keberadaan koperasi bukan hanya sebagai gerakkan ekonomi rakyat, tetapi juga merupakan sokoguru perekonomian nasional.

Ditegaskan dalam UU No 17 tahun 2012 bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan untuk mewujudkan ekonomi Indonesia melalui sumber daya ekonomi dalam suatu iklim pengembangan dan pemberdayaan koperasi yang memiliki peran strategis dalam tata ekonomi nasional berdasarkan asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi dalam rangka menciptakan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Dinyatakan juga bahwa pengembangan dan pemberdayaan koperasi dalam sebuah kebijakan perkoperasian harus mencerminkan nilai dan prinsip koperasi sebagai wadah usaha bersama untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan anggota sehingga tumbuh menjadi kuat, sehat, mandiri dan tangguh dalam menghadapi perkembangan ekonomi nasional dan global yang semakin dinamis, dan penuh tantangan. Gubernur menegaskan bahwa badan usaha koperasi termasuk Koperasi Credit Union Pancur Kasih memiliki peran strategis dalam menggerakan ekonomi kerakyatan.

Dengan tumbuh dan berkembangnya koperasi kredit tidak bisa dibantah bahwa keberadaan koperasi credit union merupakan pahlawan penggerak perekonomian masyarakat kelas menengah ke bawah. Masyarakat yang berada di pedesaan, pedalaman, terisolir dan belum terjangkau oleh lembaga perbankan, ternyata telah dilayani – dijangkau oleh koperasi kredit credit union. Kini masyarakat di sana sudah memahami bagaimana mengelola keuangannya secara baik.

Pemerintah Kalbar dalam waktu dekat akan mendirikan PT Penjaminan Kredit Daerah – PT Jamkrida Kalimantan Barat. Proses pembentukannya sedang berjalan, telah memiliki payung hukum, yaitu Peraturan Daerah (Perda) No 7 tahun 2012 tentang Pembentukan Perseoran Terbatas (PT) Penjaminan Kredit Daerah Kalimantan Barat. Diharapkan pada akhir tahun 2014 PT Jamkrida telah dapat melaksanakan kegiatan operasional. Kegiatan usaha utamanya memberikan jasa pinjaman kredit penguatan modal koperasi dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Jika lembaga keuangan ini telah melakukan aktivitasnya, CU hendaknya dapat memanfaatkan sebagai mitra kerja.

Terkait sikap kritis gerakkan koperasi dalam menyikapi UU No 17 tahun 2012, Lensus Kandri mengatakan; “Kalau memang ada hal-hal yang dianggap merugikan, silahkan mengajukan yudisial revew – gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Perorangan, lembaga pemerintah, swasta, LSM maupun koperasi. Soal pengurus boleh dipilih dari non anggota, Lensus memaknai, karena pemilihan ketua dan jajaran pengurus sebagaimana diamanatkan dalam UU No 17 itu dipilih dalam forum RAT, maka anggota harus bisa memilih orang yang memang anggota koperasinya. “Saya kira tidak mungkin memilih orang yang bukan anggota. Di sinilah seleksinya secara alami, karena dipilih dalam forum RAT. Tetapi jika dianggap sebagai ganjalan boleh melakukan guggatan ke MK,” jelasnya.

Dia juga menyampaikan apresisasi dan penghargaan atas penilaian dari auditor independen bahwa Kopdit Credit Union Pancur Kasih telah memperoleh penilaian yang wajar. Kalau istilah pemerintah wajar tanpa pengecualian. Jika memiliki NPWP, akan mendapatkan katagori WTP dari auditor. Dengan kata lain, Credit Union Pancur Kasih sangat….., sangat sehat. Kondisi seperti ini harus tetap dipertahankan, bahkan harus ditingkatkan di masa yang akan datang. Dalam arti memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tentang saran agar Gubernur Kalimantan Barat mempertimbangkan pengenaan pajak atas jasa simpanan anggota, akan menjadi catatan yang harus diperhatikan. Kalau tidak memperhatikan, kata dia, 2 tahun yang lalu jasa simpanan anggota sudah dikenakan pajak. Tetapi Gubernur masih minta toleransi ke pihak pajak, supaya jasa simpanan anggota koperasi tidak dikenakan pajak. Tetapi kewajiban-kewajiban lain hendaknya segera dibenahi, disesusaikan peraturan perundang-undangan.

Kepada segenap pengurus Koperasi Credit Union, Lensus berpesan; “Berhati-hatilah dalam menerima transfer uang. Jangan sampai Koperasi Credit Union menjadi tempat pencucian uang. Banyak masalah dihadapi oleh lembaga pengelola keuangan, termasuk perbankan. Kesehatan lembaganya bisa terganggu gara-gara menjadi tempat pencucian uang. Kita harus melihat situasi dan kondisi saat ini, karena modusnya disimpan di pihak-pihak tertentu.”

Jika ada yang mencurigakan, transfer uang Rp 10 miliar, misalnya, perlu diwaspadai. Lensus mengingatkan hal ini, karena Koperasi Credit Union di Kalbar telah menjadi kebanggaan. Dengan keberadaan Koperasi Credit Union di Kalbar, sangat berkontribusi penting meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Di tahun 2013 pertumbuhan ekonomi di Kalbar sudah di atas rata-rata nasional. Salah satu yang memberikan kontribusi seperti itu adalah keberadaan Koperasi Credit Union. (mar)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *