CU Pancur Kasih Tanggap dan Siap Menghadapi Era Global

Meningkatkan Kualitas Anggota Melalui Pelayanan yang Prima untuk Menghadapi Tantangan Ekonomi Global, sebagai tema Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2016 CU Pancur Kasih, menurut Ketua Puskopdit Borneo Thomas S.Pd yang juga ketua CU Lantang Tipo, menunjukan sikap tanggap dan kesiapan CU Pancur Kasih untuk bersaing di era global. Kita ketahui, tantangan ekonomi global, tantangan sebagai pengelola lembaga keuangan, semakin berat, semakin besar. “Namun sebagai gerakkan, kita tidak perlu kawatir, dan tidak perlu takut. Karena sebagai gerakkan, kita kuat,” tegas Thomas saat memberi sambutan pada RAT CU Pancurkasih 27 Februari 2017 silam.

Banyak orang mengakui bahwa kiblat gerakkan credit union di Indonesia saat ini ke arah Kalimantan Barat. Setidaknya ada 3 CU primer terbesar di Indonesia yang memiliki aset triliunan, di atas angka Rp 2 triliun semua ada di Kalmantan Barat. Yaitu CU Lantang Tipo, CU Keliling Kumang da CU Pancur Kasih. Sedangkankan yang asetnya ratusan miliar juga belasan. Yang hanya pupuhan miliar, bertebaran. Sampai pelosok pedalaman. Di Kalimantan Barat ada 4 Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) yang anggotanya adalah CU CU primer yaitu; Puskopdit BKCU Kalimantan, Puskopdit Kapuas, Puskopdit Khatulistiwa dan Puskopdit Borneo. Si bungsu, Puskopdit Borneo beranggotakan 4 CU Primer, yaitu CU Lantang Tipo, CU Pancur Kasih, CU Keluarga Kudus dan CU Bahtera.

Sebagai gerakkan, kata Thomas, kita melangkah bersama-sama, dan bergerak bersama-sama untuk menghadapi tantangan-tantangan ke depan. Jika kita melangkah bersama, tidak ada yang mustahil, tidak ada yang tidak dapat kita lakukan. Puskopdit Borneo konsisten, untuk memastikan pilar credit union tetap berdiri tegak. Pilar utama ada 3 yaitu; pendidikan, swadaya dan solidaritas, serta satu pilar tambahan, inovasi.

Dalam hal pendidikan, Puskopdit Borneo bersama anggota-anggota CU Primer, terus menerus melakukan pendidikan dan pelatihan dengan berbagai materi yang sangat dibutuhkan untuk mengelola koperasi dengan sebaik-baiknya. Pendidikan dan pelatihan diberikan untuk meningkatkan kapasitas pengurus, pengawas dan manajemen, yang selanjutnya dapat diterapkan di koperasi – CU masing-masing. Sehingga pelayanan kepada anggota betul-betul semakin hari semakin meningkat, dan berkualitas. Layanan yang berkualitas akan meningkatkan kualitas anggota. Anggota semakin paham bagaimana ber-CU, anggota semakin paham bagaimana mengelola keuangan yang baik.

CU mengedepankan yang namanya swadaya. CU berusaha untuk memproteksi dan menjaga diri sendiri. Beberapa tahun yang lalu, terutama tahun 2014, kata Thomas, sempat agak ragu dengan penyelenggaraan perlindungan terhadap simpanan anggota, perlindungan terhadap piutang anggota, karena dianggap sebagai asuransi gelap. “Saya ingin katakana, CU bukan asuransi. Tetapi CU ingin melindungi dan menjaga diri sendiri. Masa sich melindungi dan menjaga diri sendiri tak boleh?,” kata Thomas.

Berbeda, misalnya, Thomas memberi contoh, ujuk-ujuk kita menjaga ladang orang tanpa izin yang empunya bisa dicurigai. Betulkah hanya sekedar menjaga? Jika terjadi kerusahan, Si pemilik akan mengambil yang ada didalamnya apa bisa, atau akan diakui oleh penjaga sebagai miliknya sendiri. “Tetapi dalam hal perlindungan terhadap warisan anggota, terhadap simpanan anggota, juga terhadap pinjaman anggota bagi CU adalah usaha untuk melindungi diri sendiri,” urai Thomas, saat menyampaikan sambutan dihadapan peserta RAT CU Pancur Kasih.

CU, lanjut dia, mandiri, tidak tergantung dengan orang lain. Yang dilakukan, yang dilindungi betul-betul anggota CU. CU tidak melayani masyarakat yang belum menjadi anggota. Puskopdit Borneo juga memastikan tetap tegaknya solidaritas. Saling membantu satu dengan yang lain. Yang kuat, membantu yang lemah.  Demikian juga yang lemah membantu yang kuat, melalui lembaga. “Namun ada sinyalemen, justru yang lemah membantu yang kuat,” katanya.

Yang terkait langsung dengan kepentingan anggota, kata Thomas, pengurus Puskopdit Borneo bersama dengan pengurus CU Pancur Kasih, pengurus CU Keluarga Kudus, pengurus CU Lantang Tipo, pada 28 Desember 2015 berangkat ke Jakarta untuk memperjuangkan agar balas jasa – bunga atas simpanan anggota di CU untuk tidak dikenakan pajak. Kalau pajak karyawan, pajak lembaga dan pajak atas simpanan di bank, telah dibayarkan. Dan totalnya cukup besar Rp 3,9 miliar. Itu adalah bagian dari keikutsertaan – sumbangsih CU Pancur Kasih kepada pembangunan Negara tercinta, Indonesia.

“Tetapi khusus bunga simpanan anggota, kami perjuangkan untuk dibebaskan dari pajak. Hal ini bukan tanpa alasan. Alasan pertama bahwa simpanan, yang ditabungkan di CU semua berasal dari anggota. Tidak ada satu sen pun tabungan di CU yang berasal dari bukan anggota, atau dari luar. Semua tabungan di CU berasal dari anggota, dan dipergunakan oleh anggota. Bunga pinjaman anggota dari CU, 60% juga dikembalikan lagi kepada anggota dengan istilah sisa hasil usaha (SHU), selebihnya untuk penguatan lembaga, kegiatan sosial, cadangan, pendidikan, dan sebagainya,” urai Thomas. Menurut undang-undang (UU) tentang Pajak, lanjut Thomas, penghasilan di atas Rp 240.000,- misalnya, Rp241.000,- sudah dikenakan pajak 10%. Namun kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), menetapkan bahwa penghasilan kena pajak adalah di atas Rp 4 juta. “Suatu kebijakan pemerintah yang luar biasa,” katanya memuji. Kalau penghasilan hanya Rp 250.000,- kena pajak, lanjut dia, kapan kita akan menikmati penghasilan pasif?

Alasan yang kedua, kalau kita lihat – simpanan, total aset CU Pancur Kasih per 31 Desember 2016 sebesar Rp 2.010.604.890.850,- bukan diraih dengan mudah, tetapi bertahun-tahun, dari tahun 1985, dan harus dikumpulkan dari uang “recehan”. Untuk mencapai jumlah anggota yang kini totalnya sebanyak 140.934 orang juga tidak mudah. Semua pengurus, pengawas, manajemen, maupun para aktivis harus terjun langsung ke lapangan, menyeberangi sungai-sungai besar, melewati jalan setapak licin dan becek kala musim hujan, terbakar terik matahari kala kemarau, dan menginap di rumah warga di pedalaman saat melakukan sosialisasi, adalah perjuangan panjang yang kini hasilnya menjadi kebanggaan. Namun, jika total aset itu dibagi dengan jumlah anggota, hasilnya rata-rata per anggota belum mencapai Rp 20 juta.

“Kami pengurus mengajak seluruh anggota untuk meningkatkan simpanannya di CU. Jika balas jasa – bunga tabungan mencapai jutaan rupiah sebagai penghasilan pasif, berarti dapat pensiunan dari CU,” jelas Thomas. Jika anggota memiliki kegiatan produktif – usaha dan modalnya dari CU, bukan saja akan mendorong CU lebih cepat bertumbuh, anggota juga menikmati keuntungan ganda. Yaitu SHU, bunga balas jasa dan keuntungan dari kegiatan usahanya sendiri. Anggota CU harus bisa menciptakan penghasilan –  menciptakan gaji sendiri.

Pengurus Puskopdit Borneo beserta pengurus CU primer anggotanya, kata Thomas, telah menyampaikan aspirasi anggota CU, bukan sekedar melalui surat, tetapi juga mengadakan audience dengan Menteri Koperasi dan UKM. Permintaan pembebasan pajak atas bunga simpanan tersebut dengan berbagai alasan yang juga tertulis. Surat telah disampaikan langsung ke Sekretariat Negara, DPR RI sebagai representasi rakyat, ke Kantor Menteri Keuangan dan Direjen Pajak. Menteri Koperasi dan UKM sebagai Pembina koperasi juga dikirimi surat serupa.

Dalam draf rancangan undang-undang (RUU) yang kini sudah di DPR untuk dibahas dengan pemerintah, Koperasi disebutkan sebagai kumpulan orang, bukan kumpulan modal. “Jika kelak diundangkan bahwa Koperasi Sebagai Kumpulan Orang, saya yakin, permohonan pembebasan atas bunga simpanan di koperasi – CU akan dikabulkan,” katanya optimis.

Sebagai Ketua Puskopdit Borneo, Thomas bertanya dan berpesan kepada pengurus CU Pancur Kasih, sekaligus kepada dirinya sendiri, sebagai pengurus CU Lantang Tipo; Apakah CU telah benar-benar berpihak kepada yang lemah? Sudah seberapa banyak anggota CU yang sejahtera, dan sudah seberapa banyak anggota yang bahagia. Seberapa banyak orang kaya yang tidak hanya menabung, tetapi juga meminjam. Jangan-jangan selama ini yang lemah membantu yang kuat.

“Saya mensinyalir, orang-orang kaya hanya menyimpan, tak mau pinjam. Kalau hanya menyimpan, berarti mereka hanya menikmati, tanpa bekerja. Kalau yang pinjam hanya orang-orang lemah, berarti merekalah yang membayar bunga, lalu untuk balas jasa simpanan, dan 60% sebagai SHU yang dibagi kepada anggota, termasuk yang tidak pinjam – tidak bekerja. Padahal CU Pancur Kasih, CU Lantang Tipo, CU Keluarga Kudus, CU Bahtera, dan CU CU yang lain usaha utamanya adalah simpan dan pinjam. Anggota CU wajib menyimpan dan wajib pinjam. “CU bukan koperasi simpan, juga bukan koperasi pinjam. Tetapi kedua-duanya, harus simpan dan harus pinjam,” urai Thomas.

Menurut Thomas, bagi yang hanya menyimpan, perlu dipikirkan terkait dengan balas jasa – bunga, tidak seperti anggota yang aktif menyimpan dan meminjam. “Harus dibedakan, harus Adil Ka’talino. Apakah semboyan tersebut benar-benar sudah dilaksanakan? Adil Ka’talino berarti harus adil kepada sesama – kepada anggota. Setidak-tidaknya, setiap saat mengucapkan kata Ka’talino tertanam dalam hati sanubari untuk melaksanakan Ka’talino kepada sesama.

CU Pancur Kasih telah mampu melaksanakan RAT tepat waktu, tepat saji, tidak ada sesuatu yang dimanipulasi, dan transparan. Keterbukaan – tranparansi harus tetap dilakukan agar CU Pancur Kasih berdiri kokoh dan betul-betul mampu bersaing dengan para kompetitor. Bersaing secara positif tanpa harus mengganggu satu dengan yang lainnya. (mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *