CU Sauan Sibarrung Meraih Penghargaan Internasional Access Branding

Berangkat dari keprihatinan gereja terhadap masalah sosial ekonomi masyarakat pada waktu itu, Gereja Katolik melalui Komisi Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Makassar akhirnya memprakarsai pendirian Credit Union (CU) Sauan Sibarrung. CU Sauan Sibarrung didirikan oleh 83 umat Katolik pada 6 Desember 2006 di Paroki Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Sauan berarti hembusan, Sibarrung berarti bersinergi. Sauan Sibarrung menunjukkan pada alat yang digunakan oleh pandai besi, yang terbuat dari 2 (dua) batang pohon nibung yang dilubangi, lalu diberi alat untuk menghembuskan angin ke bawah secara bergantian (bersinergi), sehingga bara api memanaskan besi yang akan ditempa. Sauan Sibarrung dalam mitologi agama asli orang Toraja adalah tempat menempa Bulawan Tasak (emas murni) menjadi segala sesuai yang ada; manusia, hewan dan tumbuhan. Di sana tergambar kehidupan baru, persaudaraan, cinta alam semesta, dan kerja keras.

Kantor awal CU Sauan Sibarrung berada di lokasi gereja. Ini menjadi tanda bahwa Uskup dan umat mendukung penuh gerakan CU untuk menyejahterakan masyarakat luas. Setelah 10 tahun berdiri dan melayani anggota, CU Sauan Sibarrung berkembang secara signifikan. Hingga Maret 2017 Anggota CU Sauan Sibarrung mencapai 31.750 orang dengan aset sebesar Rp403 miliar. Hampir sebagian besar anggota CU Sauan Sibarung adalah petani.

Anggota tersebar dan dilayani 12 kantor pelayanan (TP) di 7 Kabupaten – Kota di wilayah Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Kota Pare-Pare dan Palopo). Sebuah pencapaian yang bagi sebagian besar orang di luar mungkin adalah mukjizat, tetapi bagi aktivis CU Sauan Sibarrung ini adalah hasil kerja keras dalam kebersamaan dengan spirit pemberdayaan. Tidak lama CU Sauan Sibarrung bisa menemukan cetak biru cara kerjanya. Masyarakat yang dulu menjaga jarak, akhirnya berangsur-angsur berani menabung.

Untuk meningkatkan kualitas hidup anggota, CU Sauan Sibarung sejak awal mengembangkan jenis-jenis produk dan pelayanan bagi anggota. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan keuangan, dan non keuangan. Pelayanan keuangan dimaksudkan untuk membantu anggota menggapai aspirasi hidup mereka dan meningkatkan kualitas hidupnya. Sedangkan pelayanan non keuangan dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas keterampilan, perubahan pola pikir, perilaku, dan solidaritas antar anggota.

Pada awalnya, CU Sauan Sibarrung memiliki 3 jenis tabungan; Mana’, Banua Sura’ dan Panta’ nakan. Setiap nama jenis tabungan memiliki arti tersendiri. Mana’, berasal dari bahasa Toraja yang artinya Warisan. Semua anggota secara otomatis telah memiliki simpanan ini sejak ia terdaftar menjadi anggota dengan saldo minimal Rp500.000.  Sesuai dengan namanya, simpanan ini disarankan tidak ditarik selama menjadi anggota. Tujuannya adalah agar dapat menjadi warisan bagi anak cucu di kemudian hari. Selain itu simpanan ini juga menjadi jaminan utama dalam mengajukan pinjaman. Namun bila dalam keadaan mendesak, anggota bisa menarik simpanan ini jika dibutuhkan.

Bunua Sura’ terdiri dari 2 (dua) kata yaitu bunua yang berarti rumah dan sura yang berarti ukiran. Jadi, Bunua Sura’ adalah sejenis rumah yang berukir dan tidak semua orang bisa meiliki atau membangun rumah tersebut karena selain biayanya cukup besar, jenis ukirannya pun melambangkan kasta orang memilikinya. Tujuan simpanan ini adalah untuk membantu anggota merancang atau mempersiapkan modal untuk membangun atau merenovasi rumah dan untuk pembelian (kepemilikan) rumah atau tanah.

Panta’nakan dalam  bahasa Toraja berarti tempat penyemaian. Jenis simpanan ini ditujukan kepada pelajar dan mahasiswa. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan biaya sekolah bagi mereka dengan menyisikan sebagian uang jajan atau uang belanja. Biasanya produk ini juga dimanfaatkan oleh anggota untuk merancang atau mempersiapkan dan pendidikan bagi anak-anak mereka.

Semangat baru untuk menabung berkobar, dan harapan akan masa depan semakin besar. Mereka mulai menebus sawah yang dulu digadai, membeli anak babi untuk dipelihara, membeli motor untuk ojek, mesin penggiling kopi, membiayai anak sekolah da kuliah, membeli angkot. Ketergantungan kepada orang lain mulai dikikis. Rentenir mulai ditinggalkan. Inilah kabar gembira bahwa credit union telah mengajak semakin banyak orang untuk menabung dan mengumpulkan dana masyarakat lebih besar untuk kepentingan bersama.

Dalam berbagai kesempatan, Romo R.D. Fredy Rante Taruk, ketua CU Sauan Sibarung sering mengatakan bahwa credit union itu adalah salah satu pilihan pemberdayaan sosial ekonomi umat di tengah masyarakat. Untuk mempelajari lebih dalam tentang pemberdayaan tersebut, tahun 2009 CU Sauan Sibarrung memikirkan dan mengirim staf manajemen ke CU Lantang Tipo, Kalimantan Barat untuk mempelajari Credit Union Microfinance Innovation (CUMI), sebuah sayap layanan credit union untuk membantu para pelaku usaha kecil di pasar-pasar tradisional.

Program ini kemudian fokus membantu masyarakat lokal di Toraja untuk permodalan dan pengembangan usaha mereka. Dengan tabungan harian minimal Rp1.000 selama 100 hari, mereka lalu dapat meminjam Rp100.000 untuk membeli sayur dan kemudian menjualnya kembali di pasar. Selisih keuntungan kemudian digunakan untuk membayar angsuran mereka dan menambah tabungan. Secara perlahan mereka bangkit dari kekerdilan, dan berusaha merangsek ke tengah pasar untuk bersaing dengan pedagang-pedagang besar yang berasal dari luar Toraja. Inilah pemberdayaan.

Karena itulah CU Sauan Sibarung semakin memperkuat program dan strategi pada pemberdayaan kelompok-kelompok binaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, pelaku usaha kecil di pasar dan pelaku industri rumah tangga. Kelompok dipandang sebagai basis kebersamaan yang kuat, kohesif, dan mudah diberdayakan. Pemberdayaan anggota CU dalam kelompok akan lebih terukur, terarah dan lebih efektif. Karakteristik kelompok juga menentukan karakteristik pemberdayaan dan intervensi CU pada kelompok tersebut. Orang-orang kecil harus dibimbing, diberi pemahaman, dan diajak berproduksi. Dengan begitu pinjaman mereka akan lebih tepat guna dan bukan justru menjadi bumerang ketika pinjaman itu tidak dikelola secara bijaksana. Anggota masuk ke CU dengan tujuan hidup sejahtera, bukan kemudian jatuh miskin karena sertifikat tanah mereka disita oleh CU. Dengan demikian CU bukanlah lembaga pencair kredit, bukan pula pengumpul angsuran anggota.

Seiring perkembangan waktu dan kebutuhan anggota, sekarang terdapat 11 jenis tabungan. Keragaman tabungan menunjukkan bahwa CU Sauan Sibarrung untuk membantu anggota guna menggapai tujuan keuangan mereka seturut tahap-tatap kehidupan manusia. Seperti perkawinan, pendidikan anak, membangun rumah hingga kematian. Sementara itu terdapat juga beberapa jenis pinjaman bagi anggota yang diprioritaskan bagi pinjaman produktif untuk meningkatkan usaha dan produksi anggota, baik secara pribadi maupun kelompok.

Untuk mendukung pemberdayaan, CU Sauan Sibarrung, maka sejak didirikan terdapat 7 orang pengurus dan 3 orang pengawas yang dipilih secara demokratis dalam rapat anggota tahunan (RAT). Pengurus dan pengawas bertindak sebagai volunteer – sukarela dan menggerakkan roda organisasi bersama manajemen. Pengurus dibantu oleh komite-komite, baik komite kantor pusat maupun komite di TP yang kini berjumlah 39 orang. Selain itu, dan ini yang menarik, CU Sauan Sibarung memiliki volunteer yang disebut Sanayoka, sebuah kelompok kecil aktivis yang fanatik membantu di tengah masyarakat untuk mempromosikan, mengajarkan dan mempraktikkan ilmu credit union. Ada sekitar 260 Sanayoka yang mewakili komunitas-komunitas anggota.

Para aktivis itu adalah orang-orang yang tanpa lelah, mengorbankan waktu, tenaga, biaya untuk memberdayakan komunitasnya. Mereka mau melakukan ini semua karena merasa aktivitas itu adalah panggilan jiwanya untuk membantu sesama warganya agar hidup lebih sejahtera. Mereka menjadi berkat bagi siapa saja, apa saja dan di mana saja. Partisipasi aktivis dalam CU Sauan Sibarrung telah memberikan dampak positif yang signifikan. Mereka membantu pengurus dan manajemen untuk mengembangkan anggota. Kerja keras tak kenal lelah dari seluruh jajaran pengurus, pengawas, manajemen maupun para aktivis dengan dirigen Romo Fredy, CU Sauan Sibarrung, meraih penghargaan internasional, Access Branding; The Association of Asian Confederation of Credit Unions (ACCU)

***

Sebagai “komandan” dari 44 unit Credit Union (CU) primer dalam jejaring Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) – Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, Marselus Sunardi, S.Pd., merasa bangga dan bersyukur atas prestasi kinerja CU Sauan Sibarrung, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, meraih penghargaan internasional; Access Branding, The Association of Asian Confederation of Credit Unions (ACCU) tahun 2017, di Srilanka. “Walau saya bukan pengurus CU Sauan Sibarrung, tetapi capaian itu merupakan peraihan kami bersama, seluruh gerakan BKCU Kalimantan. Semua merasa bangga, semua ingin meraih prestasi. Dampaknya, keinginan itu semakin menggebu-gebu, ingin sharing dan belajar bersama,” urai Sunardi.

Karena access branding merupakan standar yang diciptakan oleh CU Asia untuk memperbaiki kinerja CU, maka, kata Sunardi, jika sebuah CU sampai bisa meraih access branding dan mampu mempertahankan terus, jaminannya adalah keberlanjutan CU itu sendiri. Jadi, bukan sekadar penghargaan yang didapat begitu saja, tetapi benar-benar karena prestasi – kenyataan. Untuk meraihnya pun banyak kriteria yang harus terpenuhi. Tidak bisa dipesan, dan tidak bisa dinegosiasikan. Namun karena benar-benar praktik yang dilakukan sesuai dengan yang distandarkan dalam indikator-indikator access itu sendiri.

Selaku gerakan, kata Sunardi, prestasi yang diraih CU Sauan Sibarrung itu sangat menggembirakan. Selama ini masing-masing Pus, masing-masing CU mengakui diri; “kami sudah baik …, kami sudah baik.” Bahkan, dengan berbagai cara apa saja ingin coba diraih. Tetapi untuk access branding tidak bisa bilang; “Kami sudah baik,” jika ternyata standar yang ditetapkan CU Asia belum tercapai. Dalam jejaring BKCU Kalimantan, sejak tahun 2006 sudah menjadi program gerakan untuk memperbaiki diri sesuai standar access.

Program di gerakan BKCU terbukti serius. Ketika ada yang ikut sertifikasi, baru kali pertama, langsung berhasil meraih penghargaan access branding. Sebenarnya, kata Sunardi, 3 tahun silam sudah ada CU yang mulai mencoba. Namun, entah apa hambatannya oleh Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) tidak didaftarkan ke CU Asia. Sambil introspeksi, terus berusaha memperbaiki diri. Buahnya, banyak CU di BKCU Kalimantan tata kelolannya semakin baik. Dan mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan. “Walau saya bukan pengurus CU Sauan Sibarrung, tetapi capaian itu merupakan raihan kami bersama. Seluruh gerakan BKCU Kalimantan semua bangga, semua ingin meraih prestasi. Dampak terbaiknya, ruh energi positif 90% mengalir ke seluruh gerakan sehingga membuat keinginan makin menggebu-gebu. Semua sepakat untuk sharing, belajar bersama menimba pengalaman dari Sauan Sibarrung,” uria Sunardi, yang telah 2 periode memimpin BKCU Kalimantan, berbunga-bunga.

Praktik yang dilakukan Sauan Sibarrung, kata dia, sungguh berbeda dengan CU pada umumnya. Sauan Sibarrung, tidak mencontoh dari mana-mana, melainkan kebutuhannya memang begitu. Sesuai panduan mendirikan CU, bukan dari atas tetapi digerakkan dari bawah. Potensi yang ada di anggota itulah yang diperkuat oleh CU melalui intervensi kelompok binaan – kelompok basis anggota (KBA). Karena mereka bisa melibatkan banyak orang, sehingga anggota pun merasa ini bukan hanya program CU saja, tetapi merupakan kebutuhan hidup kita sendiri. Bersyukur, CU memfasilitasi dan menunjukkan cara yang baik melalui berbagai kegiatan.

Secara nasional, dalam Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) sendiri, masih ada yang bersikap apriori dan mengatakan; “tidak mungkin CU di Indonesia bisa meraih acces branding. Itu bukan pesimisme, tapi apriori,” tegas Sunardi. Ketika dalam Rapat Anggota Tahunan Nasional (Ratnas) Inkopdit di Makassar Mei 2017 disebutkan bahwa CU Sauan Sibarrung akan memperoleh access branding, sambutannya tidak banyak yang gembira. “Buat saya tidak masalah, karena mereka tidak paham standar access branding. Mereka kira, standarnya seperti koperasi berprestasi nasional,” kata Sunardi.

Penghargaan, apalagi terbaik nasional diberikan oleh pemerintah pasti membuat penerimanya merasa bangga. Namun setelah dapat penghargaan biasanya lepas begitu saja, tidak ada tindak lanjutnya. Sementara access branding, beda. Menurut pengalaman Sauan Sibarrung, belum menerima penghargaan saja, sejak daftar akreditasi diakui ACCU setiap bulan harus melaporkan kegiatannya ke CU Asia. Kemudian dari CU Asia memberikan masukan dan saran-saran untuk diperbaiki. Ketika ditunjukkan hasil produk kopi kelompok binaan yang kemasannya masih kurang bagus, misalnya, anggota mendapat bimbingan dan pelatihan dari CU Asia, pelatihnya dari Philipina.

Di CU Sauan Sibarung banyak kelompok basis; ada kelompok petani padi, petani jagung, peternak babi, peternak ikan, perajin, pekebun kopi dan sebagainya. Semua masih perlu bimbingan untuk meningkatkan kualitas produksinya. Dengan adanya pelatihan, dan bimbingan pengemasan produk kopi yang lebih baik, tampilannya menarik, diharapkan nilai tambah dari jerih payah dan kemauan keras para petani anggota CU itu benar-benar makin menyejahterakan hidupnya. Secara berantai, mereka diharapkan bisa berbagi ilmu dan pengalaman kepada anggota lain sehingga sejahtera akan cepat merata ke semua anggota.

Karena telah diakui oleh ACCU sebagai salah satu koperasi standar Asia, kewajiban mereka harus menjaga standar tersebut jangan sampai turun, dan menjadi masalah. Keberhasilan CU Sauan Sibarrung menjadi motivasi 44 CU primer yang ada di dalam jejaring BKCU Kalimantan untuk secara bertahap berani membuat target tahun berikutnya, dan tahun berikutnya. CU Mekar Kasih, Makassar, Sulawesi Selatan, yang tidak lain adalah “adik kandung” CU Sauan Sibarrung, dinilai layak – siap diaudit ACCU.

Secara indikator kinerja keuangan lembaga, salah satu syarat penting terkait kredit lalai, CU Mekar Kasih yang diketuai Romo Linus Oge, Pr, menurut Sunardi, nilainya lebih tinggi dari Sauang Sibarrung. Namun Mekar Kasih belum mengajukan diri untuk diaudit CU Asia lantaran masih harus melengkapi beberapa persyaratan, termasuk memperbaiki dokumen-dokumen.“Tetapi indikator kuncinya CU Mekar Kasih sudah sangat baik. Boleh dibilang, tinggal selangkah lagi meraih access branding,” tutur Sunardi, optimis.

Access branding terdiri dari beberapa katagori yaitu; bronze, silver dan gold. Untuk meraih katagori tertinggi, gold, ada 13 komponen 84 indikator yang harus memperoleh nilai rata-rata baik. Sementara untuk katagori bronze, cukup dengan 4 komponen utama yang mendapatkan nilai rata-rata di atas 50%, yaitu;

1) Kinerja keuangan. Yang menjadi kunci kinerja keuangan ada 2 yaitu; (a) modal lembaga bersih minimal harus 5%. (b) kredit lalai idealnya 5% ke bawah. Modal lembaga sangat penting. Tidak boleh aset terus bertambah, simpanan anggota makin besar tetapi CU-nya tidak punya kekuatan. Membangun gedung pakai uang pinjaman, misalnya, berarti lembaga tidak berdaya. Membangun gedung harus dengan uang lembaga. Kredit beredarnya pun harus bagus. Bila kredit beredar tidak bagus dikatakan; CU tidak ada bisnisnya – tidak ada nilai tambah.

2) Perspektif bisnis internal. Bisnis internal itu praktik tata kelolanya member base – harus berbasis anggota. Kemudian membuat pelayanan yang menjawab kebutuhan, menjadi solusi atas masalah keuangan anggota. Maka produk-produknya harus membuat perpadanan, tidak hanya 1 – 2 produk saja. Cita-cita anggota punya rumah,  misalnya, harus ada produk yang berkaitan dengan kepemilikan rumah. Jangan hanya produk jangka pendek, sekarang menabung, besuk boleh diambil. Produk seperti itu perlu, tetapi utamanya seri wallet. Yaitu produk-produk yang membangun kekayaan, produk jangka panjang. Lama mengumpulkan, tidak bisa setiap hari ditarik, sehingga pada masa tertentu dia bisa menikmatinya.

3) Perspektif anggota sebagai pelanggan. Artinya CU harus fokus, bagaimana membimbing dan membina anggotanya. Melalui layanan yang baik, sehingga anggota berpartisipasi secara penuh. Bila anggota merasa puas, berarti berhasil menciptakan pelanggan. Dan jika pelanggan puas bisnisnya bisa jalan lancar.

4) Perspektif pertumbuhan pembelajaran. Anggota, pegawai, pengurus, pengawas harus terus menerus belajar. Pengurus belajar dengan pegawainya untuk mengembangkan lembaga. Maka ada pelatihan-pelatihan wajib bagi para pengurus, pengawas dan pegawai. Anggota belajar supaya bisa berkontribusi kepada lembaga. Anggota juga diberikan pendidikan terus menerus, bukan hanya pendidikan wajib saat masuk menjadi anggota. Yang dikembangkan BKCU Kalimantan, terutama pendidikan kewirausahaan.

Keempat bidang tersebut harus menyatu, tidak bisa satu nilainya bagus, lainnya jelek. Nilai rata-rata harus imbang di atas 50%. Dari 13 komponen, total ada 84 indikator. Awalnya, kata Sunardi, berat dan rumit seperti tidak mungkin. Tetapi ketika berfikirnya; CU ingin berkelanjutan, bukan untuk 1 – 2 tahun, dan bukan hanya bagus sekarang tetapi untuk selamanya, dan semua dilakukan dengan baik, ternyata menjadi budaya yang bagus. Itulah tujuan access branding.

Menurut Sunardi, banyak CU yang tidak terlalu besar (sedang) tetapi cukup baik, dan bisa mengajukan audit ke CU Asia. Untuk memperoleh access branding, tidak harus CU itu besar, melainkan tata kelolanya harus baik dan sehat. Terutama kinerja keuangan lembaga, kredit lalai ideal, tidak melebihi 5%.CU besar problem paling sulit adalah menjadikan kredit lalai maksimal 5%. Untuk itu harus ada terobosan baru. Misalnya, memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memberikan pelayanan yang lebih mudah dan lebih baik kepada anggota, khusunya pelayanan keuangan.

Diakui, karena sebagian besar anggota CU berada di perdesaan, daerah-daerah terpencil dan pedalaman, pelayanan masih manual. Petugas datang langsung ketemu anggota. Berbeda dengan di kota, bisa menggunakan akses satelit. Sedangkan di desa-desa terpencil – pedalaman Kalimantan, susah dapat sinyal. “Saya percaya, ketika teknologi dimanfaatkan secara baik oleh CU dan menggunakan aplikasi seperti halnya lembaga lain, paradigma masyarakat tentang CU akan berubah. Mereka akan berfikir; tidak bisa main-main lagi dengan CU,” urainya.

***

Tidak bermaksud menyombongkan diri, sekarang telah terpatahkan pandangan tidak mungkin ada CU di Indonesia bisa meraih access branding. Tidak dipungkiri, Puskopdit BKCU Kalimantan sebagai Puskopdit terbesar di Indonesia, dalam banyak hal ada juga yang tak senang. Hal itu tentu menimbulkan pertanyaan; “Apa salah kami,” kata Sunardi. Kalau besar tapi kacau dan anggota rusak, memang salah. Namun BKCU Kalimantan bukan saja besar, juga sehat. Buktinya, ada anggota yang berhasil meraih standar Asia. Sementara yang lain, belum. Padahal standar untuk CU itu sama.

Karena banyak CU anggota BKCU Kalimantan dimpimpin Pastor, bahkan dalam susunan pengurus & pengawas ada beberapa Pastor, juga banyak yang tidak setuju. Menurut mereka, Pastor itu tugasnya memimpin misa, bukan mengurus CU. Apreori seperti itu, kata Sunardi, tidak fair. Karena itu yang tidak setuju Pastor ngurus CU, dibantah terus. “Kalau dirunut, dia aslinya memang Pastor. Tetapi tidak ada Pastor di BKCU Kalimantan, tanpa mengikuti pelatihan CU.

Semua standar, siapa pun; baik Pastor, Pendeta, Ustadz atau awam yang aktif di CU, terlebih pengurus – pengawas – manajemen harus belajar CU, supaya tahu apa yang diurus. Di gerakan BKCU Kalimantan pengurus CU-nya memang ada Pastor, Pendeta, Ustadz dan awam. Walau saya guru, juga belajar CU,” kata Sunardi memberi contoh. Kalau mau mengurus orang lain, lanjutnya, harus mampu mengurus diri sendiri. Itulah ilmu credit union yang paling dasar. Yang sering menjadi persoalan, para pengurus, pengawas dan staf kurang beres mengurus diri sendiri, tetapi mengurus orang lain. Titik lemahnya, orang yang ada di belakang credit union tersebut. Mereka yang diharapkan menjadi suri tauladan, tetapi tidak mampu memenej diri sendiri, bagaimana memenej orang lain.

Anggapan bahwa Pastor memimpin CU tidak benar, juga telah terpatahkan. CU Sauan Sibarung peraih access branding pertama di Indonesia, dipimpin Pastor, Fredy Rante Taruk. Jika tahun depan (2018) CU Mekar Kasih yang dipimpin Pastor Linus Oge Pr berhasil meraih acces branding, akan semakin memperkuat bahwa Pastor pun mampu memimpin CU. Walaupun dipanggil Pastor, namun dia tidak membawa kepemimpinan di CU-nya seperti memimpin di gereja, melainkan tetap menganut model kepemimpinan di CU. Terbukti, anggotanya terdiri dari berbagai pemeluk agama yang berbeda, juga dari berbagai suku bangsa. (mar)

 

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *