CUAL Mulai dari Nol Ilmu dan Nol Rupiah

MARIACredit Union Angudi Laras (CUAL) digagas tahun 2010 oleh para aktivis gereja yang “kebetulan” berada dalam Kepengurusan Badan Pelaksana Klasis (Koordinasi Gereja Kristen Jawa) se-Purworejo, Jawa Tengah. Salah satu agenda yang selalu muncul setiap tahun dalam Sidang Klasis yang anggotanya terdiri  11 GKJ Purworejo, adalah tentang peningkatan ekonomi jemaat – umat. “Namun tidak pernah dilakukan formulanya seperti apa untuk membantu meningkatkan ekonomi – kesejahteraan jemaat,” tutur Maria Christiani, saat berbincang dengan Majalah UKM, di Jakarta.

Mendapat amanat dari Sidang Klasis (2010), lanjut dia, para pengurus Badan Pelaksana Klasis, mencari dan mejajaki model seperti apa yang cocok untuk peningkatan ekonomi – kesejahteraan jemaat. Setelah mendapat informasi tentang CU, waktu itu jangkan paham, menengar nama CU belum pernah, akhirnya mengundang nara sumber untuk bercerita tentang CU. Nara sumber yang diundang untuk sosialisasi tentang CU Fransis Wahono, Penasehat CUCT (Cindelaras Tumangkar), dan Sudarwanto, manarjer CUCT. Sebagai penyeimbang juga diundang nara sumber dari Dinas Koperasi dan UKM Purworejo untuk bercerita tentang koperasi. Setelah mendapat gambaran tentang CU dan Koperasi, hasil akhir dari pertemuan – sosialisasi itu dipertimbangkan, kemudian dipilih yang lebih cocok, dan akhirnya diputuskan CU dinilai lebih cocok.

Ada pertimbangan lain, di Purworejo sebenarnya pernah ada koperasi yang sangat besar. Punya gedung kantor megah dua lantai, asetnya pun miliaran, tetapi karena salah kelola, ambruk, dan dana gereja banyak yang tidak kembali. Koperasi itu, kata Maria, tanpa menyebut nama koperasinya, bukan koperasi yang berada di bawah naungan lembaga gereja, tetapi ada dana gereja yang disimpan di koperasi tersebut. Akibatnya menimbulkan trauma yang luar biasa terhadap nama koperasi. Karena itu, dipilihlah nama CU, sedikit agak berbeda, walau sebenernya juga koperasi, yang lebih dikenal dengan sebutan Koperasi Kredit (Kopdit).

Tetapi memang, dari sosialisasi itu visi – misi credit union asyik, ada yang baru. Maka, kegiatannya tidak sekedar sosialisasi lalu berhenti, tetapi ada rencana tindak lanjut, disepakati setiap gereja mengirim perwakilannya 1 – 2 orang untuk belajar tentang CU di Jogya. Karena tidak ada dana, sementara subsidi dari Klasis hanya untuk sosialisasi, tidak untuk rencana-rencana berikutnya, setelah dihitung-hitung, lebih baik mungundang nara sumber. Bukan saja biayanya lebih murah, daripada ramai-ramai belajar ke Jogya, yang ikut bisa lebih banyak, tidak ada lagi miss – salah untuk bercerita. Lantaran greged-nya ingin mendirikan CU, langsung diarahkan Strategic Planing dan Businiss Plant (SPBP) persiapan membentuk CU. Dalam SPBP itu sudah dicanrang target-target yang ingin dicapai apa.

“Puji Tuhan kami berhasil dengan dana mandiri, mengumpulkan dari donator. Memang ada subsidi dari Sinode, tetapi tidak ada dana dari Klasis sama sekali. Output-nya, akhir September 2010 keluarlah nama Credit Union Angudi Laras, lengkap dengan struktur organisasi dan produk-produk awal, dengan target lounching 3 Januari 2011, sebagai hari pertama tahun buku perdana CUAL. Hanya punya waktu 3 bulan untuk menyiapkan semuanya. Diawali dari nol rupiah dan nol ilmu, akhirnya buku siap, kantor pun siap. Sehingga kelahiran CUAL direspon positif oleh jemaat,” urai Maria, yang kemudian dipercaya sebagai manajer CUAL.

Untuk mengawali kegiatan operasional, lanjut Maria, karena punya niat dan greged yang sama, ada 12 – 13 orang sepakat iuran. Ada yang Rp 500.000,-  ada yang Rp 1 juta, Rp 2 juta akhirnya terkumpul Rp 15 juta untuk beli computer, pasang telpon, pasang listrik dan sebagainya. Termasuk untuk uang saku yang magang di CUCT selama 1 bulan. Dari sisi sumber daya manusia (SDM) bingung juga siapa yang akan magang. Karena waktu itu saya posisinya sebagai bendahara, dan pernah kerja di bank, menjadi target utama untuk magang. Selama magang, setiap hari Sabtu pulang ke Purworejo, membawa oleh-oleh apa yang bisa dikerjakan, sementara pengurus lain mempersiapkan segala sesuatu untuk lounching.

Greged dan kebersamaan waktu merintis (2010) boleh dibilang luar biasa. Pulang magang menjadi staf, didampingi satu staf lain, sementara pelayannan hanya 3 hari dalam seminggu. Yang mengelola juga belum dapat gaji, baru sekedar uang transport, kecil sekali. Karena hanya dua orang, hanya berkutat di administrasi, tidak bisa berbuat apa-apa, belum bisa improve pemberdayaan dan sebagainya,” jelas Maria. Karena percaya diri (PD-nya) besar sekali, sejak SPBP telah mentargetkan, bisa menjaring 700-an anggota. Apalagi jemaat di Klasis Puroworejo cukup besar, sekitar 5000-an orang. Ternyata, susahnya luar biasa. Karena CU itu sesuatu yang baru dikenal di lingkungan GKJ. Nama CU tidak kenal, apalagi ada trauma, dan berbagai macam tantangan; Pendeta kok ngurusi uang. Dinamika di awal, luar biasa. Namun saat lounching telah terjaring 183 anggota, dengan aset Rp 70-an juta.

Taktik promosinya, harus ada sesuatu yang menjadi perhatian, agar masyarakat segera mengenal CUAL. Maka, waktu lounching diselenggarakan besar-besaran. Nanggap campursari ada gamelannya sehingga mengundang perhatian. Tetapi sebenarnya ingin menyatakan; “mendirikan CUAL ini serius, bukan sekedar dibentuk.” Akibatnya, tahun pertama, minus Rp 3 juta lebih. Sebab, belum ada pendapatan, dan sudah banyak pengeluaran,” kenangnya.

Soal dana awal yang terkumpul Rp 15 juta, disepakati sebagai pinjaman tanpa jasa. Tetapi pinjam tanpa jasa itu sepertinya tidak elegan, lembaga seakan-akan tidak punya kekuatan. Akhirnya diputuskan bukan utang, melainkan sebagai tabungan. Namun diblokir, tidak boleh diambil sampai CUAL mampu membiayai sendiri. Ada kesadaran dari pengurus, agar uang berputar dan memperoleh jasa – bunga, pengurus “wajib” pinjam dengan jaminan tabungannya sendiri. Maria mengaku, lantaran  nol ilmu nol rupiah, belum ada gambaran bagaimana mengelola CU. Pengalaman kerja di bank selama 5 ½ tahun, membuat paradikma berfikirnya masih seperti di bank. Padahal, CU itu sangat berbeda dengan bank.

Di tahun pertama, minusnya terus berkurang, dan pada bulan Agustus sudah break event point (BEP) pulang pokok. “Setelah Agustus saya berani bilang kepada pengurus; silahkan kalau uangnya mau diambil (uang talangan), CU sudah mampu membiayayai sendiri. Namun mereka tidak mengambilnya, karena menabung di CU uangnya tidak berkurang, malah bertambah,” jelas Maria seraya menambahkan bahwa sampai akhir tahun buku 2011 (tahun pertama) jumlah anggota telah mencapai 300 orang dan aset sebesar Rp 700 juta. Sedangkan RAT tashun kedua, aset telah mencapai Rp 1,8 miliar. Dan pada RAT tahun ke-5 aset telah mencari Rp 7 miliar, namun anggota belum lebih dari 1000 orang. Peningkatkan yang luar biasa. Ketakutan-ketakutan yang pada awalnya sempat mengahntui akhirnya lenyap, berganti optimisme menyongsong situasi ekonomi anggota yangn lebih baik. Terutama setelah bergabung dengan Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan jejaring sekunder (Puskopdit) yang juga merupakan tempat menimba ilmu.

Lantaran tidak paham tentang CU, perjalanan selama 5 tahun menghadapi, tantangan yang luar biasa. Ada hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya terjadi. Soal kredit – pencairan dana, misalnya, naib sekali – tidak paham. Juga  ada hal yang lucu. Karena selalu mendengar cerita dari fasilitator tentang Jalinan Kalimantan, dan kalau menjadi anggota bisa belajar, ada pendapingan dan sebagainya, maka  tahun 2015 mengirim surat lamaran ke BKCU Kalimantan. Isi surat; Ingin Menjadi Anggota Jalinan BKCU Kalimantan.

Jawaban lewat komunikasi telpon, ditolak. Maria pun kaget, kenapa? General Manager (GM) BKCU Kalimantan Frans Laten, yang berbicara di seberang lautan menjelaskan; karena CU Angudi Laras bukan anggota Puskopdit BKCU Kalimantan.  Jalinan Kalimantan adalah produk layanan bagi anggota Puskopdit BKCU Kalimantan. “Maksudnya kami yaitu Pak, ingin menjadi anggota BKCU Kalimantan,” kata Maria.  “Tapi isi suratnya Jalinan,” jawab Frans Laten.  “Antara Jalinan dengan Jaringan saja tidak ngerti, lucu kan. Ditolak karena salah isi surat,” kata Maria sambil tertawa ngakak. Setelah surat diperbaiki, lanjutnya, barulah diterima sebagai calon anggota – magang.

DSCN7903CUAL memperkenalkan diri dengan keluarga besar BKCU Kalimantan Juli  2013 ketika diselenggarakan pelatihan Financial Literacy – cakap mengelola keuangan, di Jogyakarta. Tuan rumahnya CU Cindelaras Tumangkar. Kebetulan Maria dekat dengan Wiwiek, salah seorang pengurusnya, memberi informasi, ada kegiatan pelatihan yang materinya sangat menarik. Karena CUAL bukan anggota, kalau mau ikutan disarankan menghubungi langsung ke BKCU Kalimantan, boleh atau tidak. Ketika menghubungi Frans Laten, Puji Tuhan, diizinkan untuk ikut. Namun ada syaratnya; berkontribusi. “Tak masalah, yang penting sedikit demi sedikit ilmu tentang CU dapat, dan bisa berkenalan dengan para akvitis CU yang sudah berpengalaman,” jelasnya.

Saat rehat makan siang, fasilitator yang juga pengurus BKCU Kalimantan, Romo Fredy Rante Taruk, PR, berbincang dengan peserta dari CU Semangat Waraga, Jombang, Jawa Timur, “anaknya CUCT, karena dulu mereka belajarnya juga di CUCT. CU Semangat Warga ini istimewa, berbeda dengan CU CU lainnya yang didirikan oleh komunitas gereja, tetapi CU Semangat Warga didirikan dan berbasis dari kalangan Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. CU Semangat Warga waktu itu juga belum resmi menjadi anggota BKCU Kalimantan, tetapi sudah dalam proses bergabung. Yang diperbincangkan waktu itu tentang Standarisasi Kebijakan yang akan diselenggarakan di Kaliurang, Jogya. Maria yang haus ilmu, nguping – serius mendengarkan.

Karena yang diperbincangkan menarik, kebijakan, berarti tentang tata kelola CU akhirnya Maria mendekat bergabung. Perbincangan semakin serius, dan semakin menarik. “Romo, boleh gak kami bergabung di acara itu?” tanya Maria. “Wah kami tidak bisa memutuskan. Hubungi BKCU Kalimantan,” jawab Romo Fredy menyarankan. Tidak ingin melewatkan kesempatan emas, Maria segera menghubungi Frans Laten. Nasib baik, diizinkan sebagai tamu, mengikuti acara yang sarat ilmu tersebut. Alhasil, kecuali dapat ilmu, juga semakin banyak mengenal aktivis CU, sebab pesertanya terdiri dari pimpinan manajemen, pengurus dan pengawas dari seluruh CU Primer anggota BKCU Kalimantan.

Kesempatan baik semakin terbuka. Kebetulan ada satu moment bagus, saat pimpinan manajemen, pengurus dan pengawas BKCU Kalimantan keluar bersama-sama ingin menikmati hidangan sate kelinci. Maria yang seorang diri dari CUAL, juga belum menjadi anggota, memanfaatkan kesempatan emas tersebut untuk bercerita tentang CUAL dari A – Z. Sebelum resmi diterima sebagai anggota BKCU Kalimantan, salah satu persyaratan dasar yang harus terpenuhi adalah mengikuti SP2 (ulang) dengan standar BKCU Kalimantan. Lantaran jelang akhir tahun, fasilitator jadualnya sudah penuh, juga ada persiapan RAT di Surabaya, maka tidak bisa diselenggarakan SP2 dalam waktu singkat.

Paling tidak, komunikasi untuk bergabung menjadi anggota semakin lancar. Maret 2014 Romo Fredy datang ke CUAL melakukan verifikasi; mana kantornya, bagaimana visi – misinya, produknya apa saja, dan bagaimana tata kelolannya. Rekomendasi dari verifikasi tersebut; CUAL dianggap layak menjadi anggota BKCU Kalimantan. Dengan catatan, SP2 tetap harus dilakukan, jadual dan fasilitator disusun oleh BKCU Kalimantan. SP2 dijadualkan bulan Juni, dan Mei 2014 BKCU Kalimantan RAT di Surabaya. Untuk kali yang pertama secara resmi CUAL diundang sebagai calon anggota. Kami belum sebagai utusan, baru sebagai peninjau. Tetapi mulai masuk tidak sebagai ‘penyelundup’ lagi. Karena semua persyaratan telah terpenuhi, bulan Juli 2014 CUAL resmi menjadi anggota BKCU Kalimantan dengan nomor anggota 82, anak bontot. Kemudian pada RAT di Makassar, Sulawesi Selatan, dikukuhkan,” kata Maria berbunga-bunga.

Bisa bergabung dengan BKCU Kalimantan, persyaratannya anggota harus sudah mencapai minimal 500 orang dan aset minimal Rp 1 miliar. Kalau tahun pertama baru 300 anggota, pertengahan tahun kedua sudah mencapai 500 orang lebih. Aset pun telah lebih dari Rp 1 miliar.  “Namun, yang kami alami tidak seindah bayangan semula. Mencari anggota ternyata tidak mudah. Walau pengurusnya ada pendeta, dengan harapan semua umat ikut menjadi anggota, ternyata tidak. Tantangan terbesar justru di jemaat gereja. Ada anggapan bahwa pendeta itu seharusnya urusan surga saja, tidak ngurusi soal keuangan,” urai Maria, yang mengaku kini terus mendalami CU yang dinilainya sangat berbeda dengan lermbaga keuangan lainnya, perbankan, atau koperasi simpan pinjam lainnya.

Untuk meyakinkan jemaat gereja, lanjut Maria, memang butuh perjuangan, dan tidak mudah. Diakui, sampai saat ini yang menikmati pelayanan dan keuntungan baru umat GKJ Purworejo, tempat kelahiran CUAL. Umat dari GKJ lain yang kebetulan di pinggir sudah ada yang bergabung tetapi belum sebanyak umat GKJ Purworejo. Umat GKJ yang jaraknya jauh dari Purworejo jumlahnya sedikit. Krentek – impian awal berdirinya CUAL untuk meningkatkan ekonomi – kesejahteraan umat Klasis Purworejo, bukan hanya umat GKJ Purworejo. Artinya bagi seluruh umat 11 GKJ yang ada di Klasis Purworejo. “Mungkin karena pandangan masing-masing pendeta tentang CU berbeda-benda, maka mimpi indah itu harus terus diperjuangkan. Kalau pendetanya masuk dalam kepengurusan, bisa dipastikan banyak umat yang masuk menjadi anggota. Untuk menjawab tantangan itu harus mampu meyakinkan kepada umat bahwa CUAL adalah alat yang tepat untuk membantu meningkatkan kesejahteraan,” tegasnya.

Yang telah dilakukan selama ini road show – keliling mengadakan sosialisasi dan untuk mempermudah anggota juga ada kas keliling. Namun, karena CU merupakan sesuatu yang baru, tidak mudah diterima. Atau mungkin, karena ada kebiasaan masa lalu, dimana GKJ selalu mendapat bantuan dari Belanda, sehingga terbiasa tangan di bawah. “Masih ada anggapan, kalau badan – lembaga itu dari gereja harusnya umat dapat bantuan, cuma-cuma. Sedangkan CU tidak seperti itu. CU menempatkan orang, harus mengandalkan kemampuan diri sendiri – mandiri. Untuk membalikan budaya tangan di bawah (menerima cuma-cuma) memang tidak mudah,” tegas Maria yang kini mengaku menikmati lahan perjuangan dengan ber-CU.

Terkait dengan pengembangan keanggotaan, karena CUAL sebagai koperasi tetap menganut system keanggotaan terbuka dan sukarela. Sekarang, umat non kristiani pun sudah semakin banyak yang bergabung menjadi anggota. Biasanya yang mengajak adalah anggota, mengajak teman-temannya atau sanak keluarganya. CUAL tidak membeda-bedakan agama, suku, ras dan golongan. Yang percaya bisa sejahtera bersama CUAL, dipersilahkan bergabung menjadi anggota.

Arah pengembangan CU saat ini tidak seperti dulu lagi, yaitu ekspansi mencari anggota dua kali lipat, aset dua kali lipat, namun telah berubah, bagaimana CU lebih bermanfaat bagi anggota, lebih berkualitas dalam pemberdayaan anggota. Bahkan sejak RAT di Makasar, penekanannya lebih pada pemberdayaan agar kualitas hidup anggota menjadi lebih baik. CUAL tentu saja mengikuti road map – peta jalan yang terus dikembangkan oleh BKCU Kalimantan, tidak lagi mengejar jumlah anggota dan aset lembaga, melainkan meningkatkan pemberdayaan agar anggota bisa merasakan manfaatnya menjadi anggota CUAL. Maka CUAL kemudian fokus di pembinaan dan fokus di kewirausahaan anggota. Karena staf sudah bertambah, Maria tidak lagi fokus pada urusan administrasi, sehingga bisa memikirkan konsep-konsep baru untuk berinovasi. Terutama pemberdayaan komonitas basis.

Diakui belum terstruktur, maka yang dilakukan adalah pendampingan personal, satu dua orang. Seperti mengadakan pelatihan dari hoby atau pelatihan dari minat. Karakter CUAL, kata Maria, memang sangat berbeda, misalnya, dengan karakter CU Sauan Sibarrung, CU Sinar Saron, Maumere atau CU Kasih Sejahtera, Atambua, dimana anggotanya lebih homogen. Anggota CUAL sangat heterogen. Terbanyak kuliner sncack kecil-kecilan. Karena Purworejo bukan daerah tujuan wisata, usaha kuliner untuk berkembang, sulit. Produksinya sebatas pesanan rumah tangga. Jadi, mencari oleh-oleh produk kuliner hampir tidak ada. Purworejo juga bukan daerah industri. Pertanian pun terbatas. “CUAL berangkat dari jemaat gereja yang tinggal di perkotaan. Lalu, apa yang harus kami lakukan?” tanya Maria, seakan bingung untuk berinovasi.

Sebenarnya, lanjut Maria, tahun 2014 sudah mencoba menginisiasi 6 usaha yang paling mayoritas dari anggota. Yaitu, kuliner, salon, gula jawa – gula merah, ternak kambing, jahit dan kelontong. “Tetapi susah. Usahanya sama, sudah punya usaha terlebih dahulu, menjadi anggota, tetapi tempatnya berpencar. Beda desa – kelurahan, bahkan beda kecamatan, sehingga untuk berkumpul mereka harus ke kantor CU, tidak ke tetangga. Kalau diundang, satu dua kali bisa datang bersamaan. Namun lebih sering datangnya seperti gantian. Ketika si A bisa datang, si B tidak bisa datang. Begitu sebaliknya. Kelompok paling kompak, kelompok kuliner yang anggotanya sudah 20 orang. Mereka juga paling rajin mengikuti pelatian sebulan sekali di kantor CUAL. Setiap bulan mempelajari satu menu masakan. Namun tataranya masih hoby, belum bisa masuk industri bersama, misalnya. Namun pelan-pelan akan mengarah ke sana. Satu dua orang sudah masuk tataran industri rumah tangga. Pelan-pelan mengarah ke sana, dan mereka terus mendapat pendampingan,” jelasnya.

Bagi mereka yang sudah masuk dalam katagori industri rumah tangga, didamping untuk mendapatkan Nomor Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas UKM Kabupaten Purworejo. Kebetulan, salah satu anggota pemberdayaan CUAL selalu mendapat quota dari Dinas UKM untuk mencari wirausaha industri rumah tangga untuk didaftarkan agar memperoleh PIRT gratis. Jika quota tersebut tidak terpenuhi, dia tidak akan dapat quota lagi. Karena itu dia mendorong anggota CU yang produknya sudah stabil, sudah dijual dalam bentuk kemasan untuk mendapatkan PIRT. Setelah mendapatkan PIRT, ditingkatkan lagi untuk mendapatkan sertifikat halal, kemudian BPOM.

“Enaknya, karena punya link, bagi anggota yang telah mendapatkan PIRT, ketika ada sosialisasi dan pelatihan yang melakukan adalah Dinas UKM. Anggota CUAL terdidik, para peserta mendapat uang saku. Sedangkan CUAL sama sekali tidak keluar biaya. Untuk mencerdaskan anggota kami menggunakan tangan orang lain. Hal itu berhasil karena pendidikan dasar dan financial literati jalan dengan baik, sehingga pola pikirnya juga sudah berbeda,” urai Maria. Responnya, lanjut dia, mereka lebih siap dan permanen. Setelah mendapat pendidikan teknis, mereka mampu menghasilkan produk-produk yang kualitasnya lebih baik.

Kelompok produsen gula Jawa, produksinya cukup banyak. Namun karakter distribusinya sudah jaringan yang sangat kuat, dan sudah dikuasai tengkulak. Kadang, tengkulaknya itu saudara, atau kepala desanya. Sistemnya pun ijon. Artinya, kebutuhan – uang sudah dicukupi, diterima duluan, tinggal menyerahkan gulanya. “Sebenarnya kasihan. Dari sisi harga mereka tidak bisa menaikan lagi. Padahal, kualitas gula produksi komunitas anggota CUAL itu bagus. Kalau mau beli dalam jumlah besar, belinya ke tengkulak, namun harganya sudah cukup mahal.

Untuk memotong system ijon, tidak gampang. Karakter desa di Pegunungan Menoreh, kadang satu desa semua saudara. Ini tantangan,” jelas Maria yang kini terus berusaha mencari jalan keluar agar anggota tak terjerat ijon. Salah satu cara, pengijon ditarik menjadi anggota CUAL, tetapi itu juga tidak mudah. Ada kesulitan juga dari sisi kontinitas dari kapasitas produksinya. Saat ini semakin sedikit tenaga muda yang mau menderes. Mereka lebih senang pergi merantau mencari pekerjaan di kota-kota besar. Dengan mimpi penghasilannya lebih baik. Yang mau menderes hanya orang-orang tua yang telah menekuni pekerjaan tersebut puluhan tahun.

Untuk kelompok peternak kambing, menurut Maria, sampai saat ini baru dalam tahap inisiasi. Anggoatnya pun baru 4 orang. Karena sumber daya manusia (SDM-nya) masih terbatas, baru 5 orang, termasuk Maria, maka yang terpenting, kata dia, apa yang bisa dimulai, lakukan saja. Mulainya dari yang terdekat dan termudah, yaitu dari sisi kewirausahaan. Maka muncullah program pelatihan pijat refleksi, pelatihan foto, pelatihan hedrobonik, dan sebagainya. Khusus untuk pijat refleksi, salah satu anggota CUAL adalah asesor pijat refleksi tingkat nasional. Karena itu sangat mampu untuk melatih. “Yang kami lakukan, menyediakan opsi sebanyak-banyaknya bagi anggota. Sehingga anggota CUAL merasakan benar manfaatnya ber-CU,” katanya penuh semangat. (my)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *