CUMP, Ibarat Gadis Remaja, Banyak yang Memperebutkan

DSCN3309
Membangun Credit Union Muare Pesisir (CUMP) yang belum tertata dengan baik dan banyak intrik, tidaklah mudah. Itulah yang dialami H Agus Rahman, seorang Kepala Desa di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, ketika kali pertama dipercaya oleh sebagian besar anggota CUMP menjadi ketua.

Karena sebagian besar anggota CUMP ingin ada perubahan, Agus yang oleh tokoh CUMP sendiri dianggap “anak bawang” belum tahu banyak tentang credit union, justru memberikan kepercayaan. “Waktu itu kami tidak kampanye, sementara yang lain kampanye habis-habisan,” kata Agus yang juga sering dipanggil Pak Uztad, suatu sore bercerita dengan Majalah UKM. Bertrio dengan drg. Thomas Aquino BV (Bendahara) dan Burhanudin (Sekretaris), diawasi oleh Arief Suhartono SE dan M Saleh,S.Si.Apt, mereka mampu memenuhi harapan anggota. Itu sebabnya untuk kali yang kedua mereka dipercaya lagi mengembangkan CUMP.

“Waktu kami dipilih jadi pengurus, belum punya kantor sendiri. Sekarang, CUMP sudah punya 10 kantor (milik sendiri), 6 kantor besar dan 4 kantor unit. Dulu, ketika aset baru Rp 10,209 miliar, kredit lalainya Rp 1,561 miliar. Sekarang aset Rp 35,095 miliar kredit lalainya juga hanya Rp 1,515 milar (6% lebih dikit), hampir menyentuh titik ideal 5%. Secara prosentase lebih rendah dari 5 tahun silam,” kata Agus ketika berbincang dengan Majalah UKM jelang Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2014 yang dilaksanakan pada 1 Maret 2015, di sebuah hotel di Pontianak, Kalimantan Barat. Meski mampu menekan kredit lalai, dan tahun buku 2014 telah menghasilkan sisa hasi usaha (SHU) Rp 193.919.209,- Agus mengakui bahwa SHU-nya masih kecil, tetapi kepercayaan masyarakat sangat besar. “Itu karena CUMP kini sudah punya kantor sendiri,” tegas Agus. Dia menambahkan bahwa pengurus mendatang relatif lebih mudah mengembangkan, karena masyarakat sudah percaya CUMP itu baik adanya.

Agus yang tinggal setahun lagi masa pengabdiannya periode kedua (2010 – 2012 dan 2013 – 2015), dan tidak bisa dipilih lagi sebagai ketua, sambil ngopi, bercerita tentang awal kepengurusan dan harus membangun CUMP yang kala itu banyak friksi. Awalnya, seperti mengumpulkan barang yang terserak, kemudian dibetulkan dan ditata. Banyak juga yang tidak sependapat, bahkan mencemooh. Itu 5 tahun silam. Kini, ibarat seorang gadis remaja. Cantik, cerdas, dan masa depannya cerah. Karena itu banyak pemuda ingin mempersuntingnya. CUMP yang terus tumbuh dengan sehat, memberi banyak manfaat kepada masyarakat, membuat banyak orang berebut simpati.

Agus Rahman yang merasakan benar bagaimana susah payahnya membangun CUMP, namun karena peraturan organisasi harus mengakhiri masa kepengurusannya pada tahun buku 2015, dan mempertanggungjawabkannya pada RAT 2016 mendatang, mengaku ada sedikit kekawatiran tentang CUMP ke depan. Analisis yang sangat sederhana, dan mudah dipahami, kata Agus, kalau sudah kelihatan cantik, yang di luar banyak yang naksir. Dan yang di dalam, kadang juga ada yang mengajak selingkuh dalam perjuangan. Hancurnya sebuah lembaga biasanya bukan semata-mata faktor eksternal, tetapi justru faktor internal.

“Ketika lembaga itu tumbuh dan berkembang, justru kondisi internal yang harus diwaspadai. Siapa pun tidak mau, sudah kerja capek-capek ketika ditinggalkan hancur lebur. Ini yang harus dijaga,” tegas Agus seraya menambahkan bahwa kekawatiran secara pribadi, ada. Tetapi bukan bermaksud serakah dengan kekuasaan dan ingin tetap jadi ketua. Yang harus dipikirkan, kata dia, nasib 27 orang karyawan dan keluarganya yang telah bertahun-tahun setia membangun CUMP dan menggantungkan kehidupannya pada CUMP. Kemudian anggota yang jumlahnya 3.489 orang. “Kalau kepercayaan yang dibangun dengan susah payah itu hancur, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Andai kelak tidak menemukan pemimpin yang mampu membangun CUMP, akan sia-sia perjuangan selama ini,” kata Agus yang mulai masuk CUMP tahun 2010, dan pada tahun itu juga terpilih sebagai ketua.

DSCN3376
Membangun credit union (CU), tidak seperti membangun perusahaan, seperti PT, misalnya. Membangun CU – mengurus CU harus dengan hati, merasa memiliki, konsekuen dan konsisten dengan apa yang telah dikerjakan sesuai aturan. Sebuah lembaga, bukan hanya di CU, ketika sudah besar sering menjadi rebutan. Dan itu lumrah banget. Meski pemilihan pengurus baru masih cukup lama, setahun lagi, namun Agus sudah berpesan, mewanti-wanti kepada para anggota agar kelak selektif memilih figur – pengurus baru, khususnya untuk ketua. Tidak salah pilih, kata Agus, adalah langkah awal terjaganya kesinambungan perkembangan CUMP.

Dicontohkan, sejak 2003 – 2009 CUMP belum punya kantor. Padahal, uang punya. Baru tahun 2010 punya kantor sendiri, dan terus bertambah, sampai 2014 sudah punya 10 kantor. Akumulasi nilai investasinya kurang lebih Rp 4,2 miliar, tetapi sekarang nilainya sudah mencapai sekitar Rp 6,5 miliar – Rp 7 miliar. “Saya tidak mengajak teman-teman CU berbisnis, tetapi harus berpikir bisnis, sehingga jika terjadi apa-apa masih punya harta benda – aset berupa bangunan,” katanya memberi alasan.

Kepada anggota, juga manajemen, Agus mendorong untuk selalu berpikir yang besar-besar, bukan mengurusi yang remeh temeh, kecil-kecil, apalagi yang tidak perlu. Kebijakan pengurus, kata dia, tidak selalu berjalan mulus. Ditentang anggota itu biasa. Namun ketika diyakini bahwa kebijakan itu lebih besar manfaatnya bagi anggota, Agus bersikap tegas, kalau tidak dikatakan “otoriter” dengan mengatakan; “Ini lho yang mau kita tuju. Kalau ada yang tidak sependapat pilih saja, mau bersama CU atau bercerai.” Sikap tegas itu dimaksudkan daripada membuat repot di dalam.

Cara menjaga agar CUMP yang dibangun dengan susah payah, dan kini telah menjadi CU kebanggaan di Kabupaten Kubu Raya, terus berkembang, kata dia, yang paling berperan adalah manajemen. Roh kehidupan – aset paling kuat bagi CU itu di manajemen. Pengurus hanya membuat kebijakan, sedangkan manajemen adalah pelaksana – pengimplementasi. Karena itu di manajemen harus orang yang benar-benar merasa memiliki – militan. “Mereka kerja di CU itu terhormat, bergensi, tak kalah dengan lembaga keuangan lain, bank, misalnya,” tegas Agus seraya mengingatkan seluruh jajaran pengurus, pengawas dan manajemen harus sadar bahwa hari ini sudah siang, dan jangan bangun kesiangan lagi. Dan yang paling penting, kita harus menjaga kekompakan di dalam. “Bukan tidak boleh ada konflik internal. Konflik bisa dimaknai sebagai energy, kalau sifatnya membangun. Tetapi jangan berpikir hal-hal negative yang justru akan merusak diri sendiri,” jelas Agus penuh semangat.

Dia mengharapkan, seluruh staf CUMP mulai dari tingkat paling bawah sampai pimpinan manajemen, General Manager (GM), termasuk pengurus dan pengawas, ketika sudah pulang kantor pun tetap memikirkan CUMP. Khusus untuk manajemen, tentu ada perimbangannya, kesejahteraannya harus diperhatikan. “Jangan sampai kerja di CU penghasilannya tidak cukup, akhirnya mendua, mencari penghasilan sampingan. Orang yang mendua tidak akan sempurna – kerja optimal. Tetapi jika di CU diberikan penghasilan yang layak, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dia tidak perlu mencari penghasilan di tempat lain, kerjanya di CU akan menghasilkan lebih baik,” urainya, memberi alasan.

Untuk memberikan kesejahteraan kepada karyawan, sangat tergantung dari keberanian pengurus. Sementara pengurus juga dibatasi oleh periodenisasi. Hal ini bisa menjadi persoalan lain. Agus mengaku, selama jadi ketua telah melakukan banyak hal. Dia ingat betul, saat masuk sebagai pengurus gaji karyawan CUMP hanya ratusan ribu, tidak sampai Rp 1 juta. Suatu ketika, Agus lupa tahunnya, saat CUMP dalam kondisi SHU minus, justru menaikan gaji pegawai 23%. Kebijakan itu membuat banyak orang kaget. Demikian pula ketika menaikan gaji karyawan di atas 40%, banyak yang terkejut. Setiap membuat keputusan, kata dia, memang tidak tanggung-tanggung. “Kita harus berani mengambil keputusan yang ekstrem. Kalau tidak berani, jangan berharap akan terjadi perubahan,” katanya penuh semangat.

Faktanya, lanjut Agus, tahun berikutnya CUMP surplus luar biasa. Itu karena manajemen mau kerja keras. Hitung-hitungan pasti ada. Menaikan gaji karyawan juga dihitung dengan cermat. Karyawan pun ditutut secara ekstrem, kerja keras. Pilihannya hanya ada 2, yang mau kerja keras lanjutkan, yang tidak sanggup, dipersilahkan keluar. Semua harus tegas, dan berani mempertaruhkan kredebiltas. Akhirnya terbukti, setiap tahun selalu ada SHU, tidak pernah rugi. Artinya, suport system itu sangat penting bagi pegawai. Makin besar sebuah lembaga, makin besar pula resikonya. Kita akan berhadapan dengan banyak persoalan. Baik dari internal maupun eksternal. Karena itu, waspada dan kehati-hatian menjadi hal penting,” kata Agus yang pernah pegang posisi penting di sebuah perusahaan modal asing yang memproduksi obat-obatan.

Agar CUMP yang 4 tahun silam dianggap rapuh, menakutkan, bisa tetap eksis dan berkembang cepat, lanjutnya, kebersamaan pengurus, pengawas, manajemen serta dukungan aktif anggota, sangat penting. Sukses itu proses. Kegagalan adalah bagian dari proses sukses itu. Kondisi CUMP saat ini adalah jawaban. Tidak perlu berdebat. “Sebagai pemimpin, jangan sekali-kali takut membuat keputusan,” pesannya, lalu mengaku bahwa dia hanya belajar dari alam. Mengikuti alur berpikir, sebagian kecil hidupnya dipersembahkan untuk orang lain. Alur berpikirnya saat ini, walau pemilihan pengurus masih cukup lama, Agus mengingatkan agar pergantian itu tidak “tebang habis”. Artinya, semua pengurus dan pengwas harus diganti. Yang ideal, pergantian itu maksimal 40%, dan 60% selebihnya pengurus lama, sehingga tidak akan terjadi stagnan untuk penyesuaian. Agus mengaku, walau tidak jadi ketua, masih ingin berada di lingkaran kepengurusan. Apa pun jabatannya.

“Yang harus diamankan bukan jabatan, tetapi keberlangsungan hidup lembaga, dan kepercayaan masyarakat – anggota khususnya. CUMP saat ini masih perlu dikawal. Saya tidak mau melihat CUMP mengalami kehancuran. Bisa dibayangkan, jika lembaga itu dimpinpin orang yang tidak dipercaya, pasti lembaga itu akan ditinggalkan, kemudian tinggal nama,” jelas Agus, lalu mengakui bahwa kaderisasi yang dilakukan sedikit terlambat, lantaran fokus membangun kepercayaan. Kekuasaan tertinggi ada pada anggota, apa pun yang diputuskan anggota harus dipatuhi. Termasuk, misalnya, tidak terpilih jadi pengurus, Agus akan patuh. Membangun jejaring – kerja sama pun tidak cukup hanya di lingkungan credit union. Kerja sama dengan pemerintah sifatnya wajib, dengan konsultan hukum, pun penting.

Menceritakan pengalamannya memimpin lembaga, Agus yang pernah memimpin sebuah devisi penting, Pemasaran, di perusahaan asing, juga pernah memimpin di perusahaan dalam negeri, dan kini menjabat Kepala Desa, memimpin CU beda banget. Seninya banyak sekali. Yang paling disuka, dan itu dinikmati banget, yaitu menyelami perbedaan, yang kata banyak orang sulit, tetapi bagi Agus menyenangkan karena bisa menyatukan perbedaan itu. Perbedaan yang dimaksud, soal keyakinan. Selama ini CU dikesankan hanya untuk orang Kristiani (Katolik) padahal semua orang, dan apa pun sukunya boleh menjadi anggota CU.

Kesan itu memang tidak salah, karena awalnya CU memang dikembangkan dari lingkungan gereja – umat Katolik. Tapi kini ada CU yang lahir dan dibesarkan di lingkungan Pondok Pesantren. Credit Union Semangat Warga (CUSW), lahir di Pondok Pesantrer Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. CUMP yang hampir 98% anggotanya umat Muslim, bagaikan mutiara indah, yang mampu menghapus keragu-raguan. Agus mengaku seperti menemukan hidup baru. Begitu banyak bergaul dengan orang yang berbeda cara memuliakan Allah, Agus merasa betapa nyamannya bergaul dengan Pastor, Pedeta, maupun umat Hindu, dan Budha yang ada di dalam gerakan CU.

“Indonesia kita harapkan, seperti di CU. Berbeda namun tetap satu, bersaudara. Indah sekali. CU terlahir sebagai sosok yang bisa masuk ke segala ruang,” kata Agus yang sejak beberapa bulan terakhir siaran di RRI, Pontianak, untuk acara Pantun dan Mantera – Jampi. “Tapi saya bukan dukun, ya,” selanya. Dari 930-an unit CU di seluruh Indonesia yang anggotanya 100% umat Katolik bisa dihitung dengan jari tangan. Anggotanya juga sedikit, ribuan saja. Padahal anggota Gerakkan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) nama yang diakui pemerintah, untuk CU, lebih dari 5 juta orang. (mar)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *