Dampak Kenaikan Kurs Dolar Bagi Perekonomian

Nilai tukar rupiah semakin melemah, akibat kebijakan moneter luar negeri AS yang menaikkan suku bunga acuan. Nilai tukar rupiah pada 4/09/2018 berada di level Rp14.910,- terhadap US$. Kondisi itu menimbulkan kepanikan masyarakat, karena masih trauma krisis yang terjadi tahun 1998. Melemahnya nilai tukar rupiah, berdampak terhadap aliran modal asing yang keluar dapat semakin tinggi.

Penyembab melemahnya kurs rupiah yaitu; faktor eksternal dan internal perekonomian. Mulai dari diferensiasi inflasi, diferensiasi suku bunga, defisit neraca berjalan, utang publik, ketentuan perdagangan, sampai stabilitas politik dan ekonomi. Faktor eksternal yang paling umum diketahui adalah perekonomian AS memang semakin membaik. Berdasarkan data yang ada, pertumbuhan ekonomi AS mencapai 2,5%. Angka ini sudah melebihi target sebesar 2%. Dikabarkan, inflasi AS 1,6% angka ini dikategorikan baik karena tidak mencapai 2%. Daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor, menjadi melemah, lantaran beberapa sektor industri bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal.

Presiden Joko Widodo menegaskan melemahnya nilai tukar rupiah belum mengkhawatirkan. Meski kurs tengah bergejolak, indikator makro ekonomi Indonesia dinilai masih baik. Sebagai contoh, ia masih melihat inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan nilai ekspor yang berada pada level wajar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan dan inflasi tahun kalender sepanjang kuartal I 2018 masing-masing tercatat surplus US$ 280 juta dan inflasi 0,99%. Presiden yakin, fundamental ekonomi Indonesia ini baik. Fenomena yang terjadi tidak hanya menimpa Indonesia, tetapi juga negara lain di dunia. Ini fenomena pasar global, semua negara juga mengalami. Semua negara juga sedang bergejolak, kursnya kena dampak dari kebijakan-kebijakan, terutama kenaikan suku bunga di AS.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengatakan, tren pelemahan rupiah pada saat ini tidak terlalu berdampak pada permodalan perbankan. Bahkan, kata dia, sudah ada stressed test berupa simulasi yang menakar ketahanan permodalan bank. Menurut Wimboh, hasil simulasi memperlihatkan pelemahan rupiah masih dalam batas aman yang tidak membahayakan ketahanan permodalan perbankan. “Itu pun kalau kami simulasi, dollar AS sampai Rp 20.000 juga masih aman. Perbankan kita tetap kuat,” kata Wimboh. Meski begitu, simulasi bukan berarti kenyataan yang harus selalu jadi kenyataan. Yang diharapkan rupiah tidak sampai menyentuh level Rp 20.000,- per US$. Dinamika nilai tukar rupiah bukan faktor tunggal yang perlu disimak pada saat ini. Harga minyak dunia yang memperlihatkan tren kenaikan, salah satu contoh hal lain yang perlu juga dicermati.

Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan dan Industri (Menko Ekuin) Darmin Nasution menjelaskan besaran pelemahan rupiah pada 1998 jauh berbeda dengan saat ini. Pada 1998, rupiah terdepresiasi 400% dari Rp2.800 per US$ menjadi Rp14.000,- per US$. Sementara, sepanjang tahun 2018, rupiah melemah sekitar 9%. Ia juga menyebut kondisi makro ekonomi pada 1998 berkali lipat lebih parah dibanding saat ini. Ia mengambil contoh inflasi yang sempat menembus 77% kala itu. Sedangkan saat ini, inflasi secara tahun kalender masih mencatat 2,3%. Bahkan, Agustus 2018 Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,05%. Data Bank Indonesia per akhir kuartal II menunjukkan defisit transaksi berjalan mencapai US$8 miliar atau setara 3 persen dari Produk Domestik bruto (PDB). Ini merupakan defisit terdalam sejak kuartal II 2014 sebesar 4,3% dari PDB.

Pelemahan rupiah kali ini merupakan yang terburuk di antara mata uang negara-negara lain di kawasan Asia. Setelah rupiah, pelemahan tertinggi dialami oleh ringgit Malaysia minus 0,49%, rupee India minus 0,1%, dan dolar Hong Kong minus 0,01%.  Sedangkan beberapa mata uang Asia lainnya justru berhasil menguat dari US$. Dolar Singapura menguat 0,07%, baht Thailand 0,08%, renmimbi China 0,13%, peso Filipina 0,14%, dan won Korea Selatan 0,24%. Hanya yen Jepang yang bergerak stagnan. Sebaliknya, kebanyakan mata uang utama negara maju justru melemah dari US$. Rubel Rusia melemah 0,69%, poundsterling Inggris minus 0,64%, franc Swiss minus 0,13%, dan dolar Kanada minus 0,1%. Hanya euro Eropa dan dolar Australia yang menguat dari mata uang Negeri Paman Sam, masing-masing 0,02% dan 0,23%.

Untuk mengatasi kondisi yang lebih buruk, Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempersempit transaksi dolar di pasar valuta asing. Nantinya, transaksi yang dicurigai sebagai aksi spekulasi mata uang akan kena tindakan tegas. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ketiga pihak itu akan memformulasi kebijakan tersebut dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Pemerintah akan membagi dua jenis kegiatan transaksi pasar valas, yakni transaksi sah (legitimate) dan tidak sah.

Transaksi legitimate adalah permintaan dolar AS untuk keperluan bahan baku, barang modal, dan pembayaran utang korporasi. Di luar itu, ia menganggap permintaan US$ di pasar valas sebagai tindakan spekulasi mata uang. “Kami akan meneliti dan memonitor secara detail tingkah laku pelaku pasar terkait transaksi yang legitimate demi memenuhi keperluan industrinya, atau tidak legitimate. Kalau tidak legitimate, kami akan lakukan tindakan tegas agar tidak menimbulkan spekulasi atau sentimen negatif,” jelas Sri Mulyani.

Pengetatan transaksi di pasar valas tidak hanya berlaku bagi pelaku usaha biasa, tetapi juga bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dicontohkan, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) perlu meneliti kebutuhan impor yang bisa ditunda agar suplai dolar di pasar valas tetap tersedia. Bagaimana suplai dolar ini tetap ada tanpa mengubah sentimen market. Untuk BUMN dilakukan intervensi khusus oleh pemerintah karena market saat ini dianggap sensitif dengan pergerakan seberapapun kecilnya.

Sri Mulyani tidak menampik bahwa ini ditujukan untuk menjaga devisa. Pengendalian devisa merupakan satu-satunya intervensi jangka pendek yang dilakukan pemerintah demi menjaga rupiah yang terseret sentimen eksternal yang tak kunjung henti. Terlebih, saat ini cadangan devisa sudah terkuras US$13,68 miliar sejak awal tahun demi menghalau depresiasi rupiah terhadap US$ yang mencapai 9%. Di sisi lain, upaya penguatan cadangan devisa tidak optimal lantaran defisit transaksi berjalan yang melebar. Hingga akhir kuartal II, defisit transaksi berjalan malah mencatat US$ 8 miliar atau 3% dari Produk Domestik bruto (PDB).

Langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam jangka sangat pendek adalah melakukan pengendalian dari sisi kebutuhan devisa, karena ini memang yang bisa dikontrol. Selaku Ketua KSSK, Sri Mulyani memastikan terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk mengantisipasi dampak pelemahan rupiah serta terus menjaga kondisi agar dinamika itu tidak mengganggu pelaksanaan APBN 2018. Pemerintah akan memanfaatkan kenaikan harga minyak yang berdampak positif terhadap penerimaan negara untuk masyarakat miskin.

Untuk melanjutkan pembangunan pemerintah dan swasta sering mengajukan utang ke luar negeri dalam bentuk US$. Total utang Indonesia, baik utang pemerintah, BUMN maupun swasta sekitar Rp 9 triliun. Namun utang pemerintah sendiri per 31 Mei 2018 adalah Rp 4,169 triliun. Utang tersebut digunakan untuk menutupi kebutuhan negara yang kian meningkat. Mau tidak mau pemerintah harus utang meski dimaki-maki oleh rakyatnya. Karena utangnya dalam bentuk US$, maka pengembaliannya pun harus dilakukan dengan mata uang yang sama, walau kurs rupiah saat pengembalian utang berbeda dengan saat pemberian utang.

Contoh, utang US$ 1 juta, saat kurs rupiah masih Rp 12.000,- per US$ 1, atau kita mendapatkan dana sebanyak Rp 12 miliar. Perjanjiannya, 1 tahun kemudian kita harus mengembalikan utang tersebut US$ 1 juta plus bunga 2% (US$ 20.000). Namun yang terjadi, belum tentu membayar Rp 12 miliar ditambah bunga Rp 240 juta. Bila ketika jatuh tempo kurs rupiah melemah hingga Rp 15.000,- per US$ 1, maka kita harus mengembalikan Rp 15 miliar tambah bunga Rp 260 juta.

Adanya selisih kurs yang terjadi akan membuat pemerintah harus mengeluarkan dana yang lebih besar untuk melunasi pokok dan bunga utang yang sudah jatuh tempo. Di sisi lain hal ini bisa saja menganggu pembangunan ekonomi yang disusun oleh pemerintah. Ketika kondisi rupiah mengalami pelemahan, maka hal itu dapat berdampak meningkatkan jumlah utang yang harus dilunasi sebab mata uang dalam negeri yang jauh lebih rendah harganya dibandingkan dengan US$. Bagi pemerintah, hal ini tentu akan membebani Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN). Pasalnya pemerintah telah menetapkan asumsi nilai tukar pada APBN 2018 di kisaran Rp 13.400.

Kondisi tersebut bisa saja terjadi karena dana yang seharusnya diposkan untuk anggaran pembangunan justru terserap untuk membayar kewajiban utang yang dimiliki sehingga anggaran pembangunan yang direncanakan menjadi berkurang. Sementara dari sisi swasta, dengan adanya pelemahan ini juga akan membebani kondisi finansial mereka sehingga menghambat proses produksi. Dampaknya tentu akan menurunkan tingkat produktivitas dan lebih luas lagi pertumbuhan ekonomi nasional dapat tertahan.

***

Kegiatan perdagangan merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dihindarkan pada era globalisasi ini. Indonesia sebagai negara berkembang perlu menjalin kerja sama perdagangan dengan negara-negara lain guna memenuhi permintaan dalam negeri maupun meraih keuntungan – surplus untuk meningkatkan cadangan devisa yang dimiliki. Dengan kondisi pelemahan rupiah, sebenarnya menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan surplus perdagangan yang mereka raih.

Dalam konteks perdagangan internasional, sebagian besar perdagangan luar negeri Indonesia dijalankan dengan menggunakan US$, sehingga mahalnya US$ akan membuat harga barang impor menjadi mahal. Bagi industri tempe, misalnya, kenaikan harga impor sangat merugikan. Karena bahan baku tempe; kedelai, saat ini sebagian besar masih harus dipenuhi lewat impor. Maka, ketika kurs rupiah terus melemah, harga kedelai makin melonjak. Ketika harga tempe dan tahu mengalami kenaikan, rakyat akan tercekik dan industrinya bisa bangkrut. Akibatnya terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Kita tahu, Indonesia masih belum mampu membuat barang elektronik canggih. Sebut saja ponsel pintar, laptop, hingga perangkat rumah lainnya. Selain itu, barang-barang yang berasal dari luar negeri pasti harganya makin meroket. Jika US$ kian kokoh, sektor impor akan terus tertekan. Mau tidak mau importir akan menaikkan harga barangnya jika ingin dapat untung. Namun apa yang mereka lakukan justru membunuh calon pembeli. Dampaknya, barang tidak laku dan mereka semakin merugi.

Kalau dolarnya mahal, biaya produksi pasti naik. Ujungnya harga barang jadi lebih mahal. Sementara konsumsi domestiknya masih stagnan, maka pengaruh ke profit ke pengusaha juga dapat semakin rendah. Risiko berikutnya, beban pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri makin besar. Risiko gagal bayar apalagi utang swasta yang belum dilindungi nilai (hedging) akan naik. Indonesia sebagai negara importir minyak mentah sangat sensitif terhadap pergerakan dolar. Tercatat impor minyak Indonesia sebanyak 350-500 ribu barel per hari, karena produksi dalam negeri tidak mencukupi konsumsi BBM. Jika dolar menguat terhadap rupiah, harga BBM akan tertekan baik yang subsidi maupun non-subsidi. Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jenis diprediksi akan terus dilakukan.

Belum lama PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga BBM non-subsidi berkisar rata-rata Rp100,- Rp 300,- per liter, di semua wilayah. Sebelum kenaikan tersebut terjadi, harga acuan minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) telah naik terlebih dahulu. Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan, dari hasil perhitungan Formula ICP, harga rata-rata ICP mencapai US$ 65,59 per barel, naik sebesar US$ 4,69 per barel dari US$ 60,90 per barel. Karena harga ICP saat ini lebih tinggi dari patokan APBN 2018, yang sebesar US$ 48 per barel, maka dilakukan perhitungan kembali terhadap patokan ICP dan alokasi subsidi energi untuk APBN-P 2018. Dalam APBN 2018, pemerintah menganggarkan subsidi energi sebesar Rp94,55 triliun. Dari angka itu, subsidi BBM dan LPG 3 kilogram sebesar Rp46,86 triliun dan subsidi listrik Rp47,66 triliun.

Ketika kurs rupiah melemah, nilai US$ meningkat, mereka yang bergaji US$ akan diuntungkan. Sebab dolar yang didapat bila dikonversikan ke rupiah, jumlah rupiah yang didapat lebih banyak dari sebelum melemahnya rupiah. Sebagai contoh, sebut saja namanya Indrawati Kusumaningrum yang bekerja di Australia dan mendapat gaji tiap bulan dalam bentuk dolar. Suatu kali Indrawati memutuskan kembali ke Indonesia. Saat itu dolar sedang menguat menjadi Rp13.000,- per US$ 1. Padahal, sebelumnya berada di kisaran Rp11.000,- per 1 US$ 1.

Indrawati melihat kenaikan kurs dolar sebagai kesempatan. Dengan keyakinan yang didasarkan pengetahuan dan informasi, ia percaya rupiah akan kembali menguat. Ditukarlah tabungan dolarnya senilai US$ 50.000 saat kurs jual US$ 1 = Rp13.020 maka rupiah yang didapat sebanyak Rp651.000.000,-. Padahal, kalau menggunakan kurs Rp11.000, dia hanya mendapat Rp550.000.000. Benar saja, dalam tempo 3 bulan, rupiah kembali menguat. Kinerja yang ditunjukkan pemerintah bersama bank sentral sukses menjaga dan membuat rupiah menguat kembali. Ditambah faktor eksternal yang mendukung penguatan rupiah. Rupiah yang 3 bulan sebelumnya Rp13.000,- per US$ 1 menjadi Rp11.500,- per US$ 1. Tentu saja Indra untung dari penukaran dolarnya.

Akibat kurs rupiah melemah maka banyak permintaan dari luar terhadap produk-produk Indonesia. Meningkatnya pembelian produk-produk dalam negeri tentu saja meningkatkan keuntungan eksportir Indonesia, seperti eksportir mebel dan tekstil. Kondisi ini logis, karena bila barang-barang dalam negeri dijual dengan mengacu pada rupiah, sudah tentu importir yang membelinya dengan mengonversi dolarnya ke rupiah akan mendapatkan barang dalam jumlah lebih besar daripada sewaktu rupiah menguat.

Sayangnya, keuntungan tersebut tidak dirasakan semua eksportir. Bagi eksportir yang produk-produknya mengandalkan bahan baku dari luar negeri, melemahnya rupiah justru memaksa mereka untuk menaikkan harga jual produknya. Naiknya harga jual produk yang sebanding dengan menguatnya dolar tidak membawa keuntungan berarti bagi eksportir tersebut.

Dampak yang sangat terasa melemah kurs rupiah adalah harga produk impor yang semakin mahal. Naiknya harga barang impor akan membuat masyarakat beralih ke produk lokal yang harganya lebih terjangkau. Sebagai contoh, karena rupiah melemah, harga buah impor mengalami kenaikan. Masyarakat pun menjadi enggan untuk membeli buah impor dan memutuskan beralih mengonsumsi buah lokal. Jika lebih banyak orang memilih buah-buahan lokal, buah-buahan impor jumlahnya akan surut. Situasi ini membuat importir buah mengalami penurunan omzet. Namun, saat yang bersamaan, petani dan pedagang buah lokal memperoleh keuntungan.

Melemahnya rupiah menjadi dilema bagi BI sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas urusan moneter dalam negeri. Bersama dengan Pemerintah, BI terus menstabilkan nilai rupiah yang turun dan menjaga rupiah agar tidak melemah. Menaikkan suku bunga merupakan langkah yang mau tak mau harus dilakukan. Lalu, apa dampak dari dinaikkannya suku bunga? Paling jelas adalah pertumbuhan kredit menjadi melambat. Orang-orang enggan untuk mengambil kredit sebab bunganya yang mahal. Selain itu, bukan tidak mungkin meningginya kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) sebagai dampak dari kenaikan suku bunga.

Dampak negatif dari melemahnya kurs rupiah juga menyasar ke perdagangan obligasi dan Surat Utang Negara (SUN). Dengan mengacu pada lemahnya kurs rupiah, investor-investor akan menjual obligasi dan SUN yang telah mereka beli. Situasi kian buruk jika tidak ada yang membeli obligasi dan SUN. Harga obligasi dan SUN bisa merosot dan dapat berakibat terhadap kurs rupiah. Karena itu, dalam situasi ini BI akan mengambil tindakan dengan membeli obligasi dan SUN yang dijual investor-investor asing. Hal ini bertujuan untuk menstabilkan pasar uang.

Dari dampak-dampak melemahnya kurs rupiah di atas, ada yang bisa kita pelajari. Tidak selamanya melemahnya rupiah berakibat buruk. Ternyata ada sisi positif yang bisa memberikan peluang. Karena itu, penting sekali untuk mencermati dan memahami perubahan kurs rupiah agar bijak dalam menyikapinya. Imbas melemahnya rupiah terhadap dolar membuat barang dari luar negeri mengalami naik harga. Mulai dari benda elektronik, otomotif, pakaian, hingga makanan. Banyak orang akan berpikir dua kali untuk menebus benda ini dan dibawa pulang. Sementara itu, produk dalam negeri harganya masih akan stabil, walau ada kenaikan mungkin tidak signifikan. Momen langka ini seharusnya bisa digunakan oleh pelaku UMKM di Indonesia untuk mempromosikan produk mereka.

Orang Indonesia cenderung mencari barang yang lebih murah daripada barang mahal namun fungsinya sama. Promosi besar-besaran bisa dilakukan agar barang lokal Indonesia laku di negerinya sendiri. Selama ini kita lebih banyak menggunakan barang dari luar negeri yang sering kena pajak. Saat pajak kian naik, dan harga kian mencekik, mau tidak mau kita harus beralih ke produk yang lebih murah. Salah satunya memilih produk lokal yang secara kualitas sama namun harga bersahabat.

Kita semua sadar, masyarakat Indonesia memiliki sifat konsumtif sangat tinggi. Sedikit-sedikit ingin membeli barang yang katanya lebih bagus, lebih hebat, dan lebih-lebih lainnya. Kita gampang sekali termakan iklan hingga akhirnya tabungan harus rela diusik ketenangannya. Saat dolar naik tak terbendung, dengan sangat terpaksa harus berhemat dalam membeli barang-barang. Terutama yang berasal dari luar negeri. Jika terus saja boros, kebutuhan selama sebulan tidak akan mencukupi, bahkan bisa jadi minus. Untuk itu, saat dolar sedang naik daun, anggap saja sedang puasa. Menahan diri untuk tidak membeli ini itu. Hemat tidak akan membuat kita mati, kok. Apa lagi sampai jadi orang yang pelit dan terlalu perhitungan.

Wisatawan merupakan salah satu faktor yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia khususnya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah yang memiliki potensi tempat wisata. Dengan adanya wisatawan ikut membantu perkembangan sektor riil di sekitar tempat wisata dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dan pemerintah daerah. Data dari Kementerian Pariwisata per Februari 2018, Jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia per Januari-Februari 2018 mencapai 2,3 juta orang. Angka ini meningkat sebesar 8% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Adanya pelemahan rupiah menjadi momentum Indonesia untuk mendapatkan keuntungan bagi Indonesia dari para wisatawan mancanegara tersebut. Ini karena jumlah uang ditukarkan oleh wisatawan akan jauh lebih besar dan berpotensi meningkatkan tingkat konsumsi para wisatawan. Kondisi tersebut secara tidak langsung akan mendorong perekonomian di daerah akan lebih maju lagi karena adanya peningkatan pendapatan masyarakat. Peningkatan pendapatan masyarakat artinya pola konsumsi masyarakat dapat bergerak lebih tinggi dan membantu tingkat pertumbuhan ekonomi nasional lebih baik lagi.

Meski demikian, efek untuk sektor pariwisata biasanya musiman. Dolar tak akan selamanya berada di puncak kemenangannya, bisa jadi beberapa bulan kemudian akan terjun. Itu sebabnya saat dolar naik, orang-orang dari sektor pariwisata gencar melakukan promosi. Semakin banyak turis yang datang, geliat pariwisata di Indonesia semakin bagus. Dampaknya, keuntungan besar bisa diterima Indonesia dari sektor yang mulai berkembang ini.

Salah satu faktor penguat dolar di pasar valuta asing adalah imbas devaluasi mata uang China, yuan. Akibat devaluasi ini, nilai yuan jadi menurun di pasaran global. Produk-produk China pun mau tidak mau mengalami penurunan harga. Hal ini mengakibatkan tingkat invasi produk China ke negara-negara seluruh dunia meningkat, salah satunya ke Indonesia. Barang-barang yang berasal dari China telah menguasai Indonesia.

Produk indonesia harus bisa bersaing dengan produk China yang melimpah. Kita semua dituntut untuk lebih kreatif lagi membuat suatu inovasi baru. Jika tidak, pasar lokal Indonesia akan kebanjiran produk China yang murah meriah dan jumlahnya sangat banyak. Momen berkuasanya dolar ini harus digunakan oleh pelaku kreatif untuk lebih mengasah kemampuannya. Dengan begitu, kita semua tidak akan khawatir jika benda berlabel made in China menyesaki pasar indonesia.

Tak bisa dipungkiri lagi jika dunia internet memberikan dampak besar bagi seluruh orang di dunia. Termasuk kita yang berada di Indonesia. Belakangan ini sebuah peluang bisnis baru banyak bermunculan di internet. Salah satu yang kian tenar adalah internet marketer. Pelaku di bidang ini lebih banyak menggunakan dolar untuk segala transaksinya. Saat dolar naik tentu mereka kebagian untung meski mungkin dampaknya hanya sementara.

Surplus yang diterima dapat lebih besar jika Indonesia dapat menggenjot tingkat ekspor lebih tinggi lagi terutama ke negara-negara mitra dagang utama seperti China, Australia, Malaysia hingga AS. Di antara komoditas ekspor yang dapat dimaksimalkan selain minyak dan gas di antaranya kelapa sawit/CPO. Indonesia bersama Malaysia merupakan pengekspor utama CPO di dunia dengan pangsa pasar hampir 50%. Indonesia perlu memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan nilai tambah dari produk CPO sehingga mampu meningkatkan jumlah surplus yang diterima ke depannya. (d marjono)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *