Dampak Turunnya Harga BBM Positif

“Turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal April 2016, walau tidak cukup signifikan, tetapi berdampak positif, bisa menekan berbagai biaya, termasuk biaya transportasi dan biaya barang. Sehingga harga-harga bisa lebih stabil, dan daya beli masyarakat menjadi lebih baik” kata Ketua Kospin Jasa Pekalongan, Andy Arslan, saat berbincang dengan Majalah UKM di kantornya, di Jl Jnd. Gatot Subroto, Jakarta, April silam.

Ketika daya beli masyakat baik, maka ekonomi bergerak. Yang kita harapkan, kata Andy, pergerakan itu di sektor riil. Kalau kita bicara secara umum – global, memang belum ada perbaikan yang cukup signifikan. Sejak smeter II-2015 sampai triwulan I-2016 tidak ada pertumbuhan yang cukup signifikan. Triwulan I-2016 tumbuh, sedkit. “Kita terus berharap, stabilitas politik terjaga, harga minyak dunia tidak melonjak, sehingga sektor usaha terus bergerak,” tutur Andy.

Kalau sektor riil dan ekonomi tumbuh, mau tidak mau, apa pun usaha, swasta termasuk koperasi simpan pinjam (KSP) dan perbankan dipastikan akan menjadi lebih baik. “Salah satu kunci daripada ekonomi itu adalah keuangan. Ekonomi tidak akan bisa bergerak tanpa adanya industri keuangan. Sedangkan industri keuangan tidak bisa bagus kalau ekonominya juga jelek. Jadi, muter di situ-situ saja,” kata Andy.

Turunnya harga BBM tidak cukup besar, 5%, tetapi, menurut Andy, itu lebih baik daripada tidak turun, apalagi naik. Ketika harga BBM diturunkan, harapannya, harga-harga yang lain juga bisa turun sehingga daya beli masyarakat meningkat, dan kegiatan bisnis menjadi lebih bergairah. Biasanya, meskipun harga BBM turun, memang harga-harga yang lain tidak serta merta turun. Kalaupun turun tidak seimbang. Sebaliknya, jika harga BBM naik, harga-harga barang dan biaya transportasi naiknya seimbang. Contoh, harga BBM Rp 6.000,- harga semen per zak Rp 40.000,- ketika harga BBM naik menjadi Rp 7.000,- harga semen naik menjadi Rp 50.000,- Namun ketika harga BBM turun menjadi Rp 6.000,- lagi, harga semen kalaupun turun menjadi Rp 49.000,- tidak menjadi Rp 40.000,- lagi.

Saat ini, dengan situasi ekonomi yang belum stabil, sektor yang mengalami penurunan signifikan adalah property dan automotif. Padahal property itu ada sekitar 130 industri ikutannya. Ada semen, besi, kayu, paku, batu bata, pasir, cat dan banyak lagi. Kalau propertinya bermasalah, maka yang 130 lainnya ikut bermasalah. Kemudian auto motif, sama juga. Kalau produksi turun 10%, maka industri yang terkait juga akan turun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, terjadi deflasi 0,45% pada April 2016. Angka ini merupakan deflasi terendah sejak tahun 2000. Pada April 2015, inflasi 3,6%. Deflasi terjadi karena penurunan harga di tiga kelompok pengeluaran. Pertama, dan yang paling besar sumbangannya adalah kelompok bahan makanan. Penurunannya sebesar 0,94%. Kedua, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar turun 0,13%. Ketiga, kelompok transportasi, konsumsi dan jasa keuangan turun 1,60%. Dari jenis komuditas penyumbang deflasi terbesar adalah turunnya harga BBM 6,61%.

Deflasi terutama terjadi karena kombinasi dua hal. Pertama, kurs rupiah terhadap dolar Anerika Serikat (US$) menguat dan stabil. Kedua, harga BBM diturunkan menyusul harga minyak dunia yang turun. Ini semua faktor yang positif untuk perekonomian Indonesia. Namun kita juga harus mewaspadai data deflasi karena bisa saja terkandung di dalamnya faktor kelesuan konsumen dalam berbelanja. Sementara itu Bank Indonesia (BI) menilai, deflasi yang terjadi pada April 2016, yaitu 0,45% sesuai dengan perkiraan BI. Deflasi tersebut disumbang kompenen barang yang diatur pemerintah (administered prices) dan kompenen bahan makanan bergejolak (volatile foods). BI optimis, inflasi pada akhir tahun 2016 diperkirakan berada pada sasarannya, yaitu 3-5%.

Sementara itu, empat kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Tertinggi adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. Kenaikan harganya secara rata-rata 0,35%. Untuk sandang 0,22% dan untuk kesehatan 0,31%. Untuk kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,03%. Inflasi bergerak sesuai jalur yang diharapkan. Target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 adalah 4,7%. Kita ingin supaya inflasi bergerak di 4% sepanjang tahun. Dan sampai sekarang realisasinya masuk di jalur yang diharapkan. (dm)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *