Dari 972 Koperasi di Kalbar Yang Dibubarkan Tidak Ada Satupun Yang Nafasnya Credit Union

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM mempunyai komitmen yang tinggi dalam memperkuat dan memperkokoh kemampuan produktivitas masyarakat melalui koperasi. Keinginan kuat mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup, mewujudkan kemandirian ekonomi dan meningkatkan produktivitas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat merupakan bagian dari program pokok pemerintah yang juga menjadi bagian tugas Kementerian Koperasi dan UKM.

“Saya percaya koperasi bisa memberikan kontribusi signifikan tercapainya program-program pemberdayaan masyarakat,” kata Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Ngurah Puspayoga, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Deputy Bidang Pengawasan, Suparno SE, MM, pada pembukaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Puskopdit BKCU Kalimantan tahun buku 2016 yang dilaksanakan di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 27 April 2017. Menkop dan UKM sedianya akan hadir dalam RAT tersebut, namun harus menghadiri Musrembang di Hotel Bidakara, Jakarta.

Keberadaan koperasi diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan para pengusaha mikro kecil dan menengah selaku anggota melalui kegiatan-kegiatan yang didasarkan pada prinsip kolektivitas dalam rangka meningkatkan peran koperasi dalam perekonomian, khususnya membantu menggerakan sektor riil. Maka upaya pemberdayaan koperasi merupakan suatu keharusan. Saat ini Kementerian Koperasi dan UKM sendiri sedang gencar melakukan reformasi koperasi yang bertumpu pada 3 aspek yaitu; rehabilitasi koperasi, reorientasi koperasi dan mengembangkan koperasi. Gerakkan reformasi total tersebut bersifat serentak, dengan komitmen bersama dan kerja sama semua pihak meliputi pemerintah dan dunia usaha. Pemerintah akan terus hadir dan berkomitmen untuk membangun koperasi dalam berbagai kesempatan.

Selaras dengan agenda reformasi koperasi yang menjadi kebijakan Kementerian Koperasi dan UKM, di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) ada 972 koperasi primer yang harus dibubarkan, dari 4300-an. “Bahasa saya, ini nipu. Menipu statistik itu sudah pasti. Bahkan menipu kita semua karena keberadaannya tidak ikut berkontribusi menumbuhkan perekonomian, dan menekan angka pengangguran. Tidak berkontribusi dalam memutar roda ekonomi. Dia hanya menumpang saja,” jelas Ir Marsianus SJ, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Barat

Bisa dibayangkan, lanjut dia, jika 972 koperasi itu bisa ikut bertransaksi, pasti akan berkontribusi banyak. Kalau tinggal papan nama tidak ikut memutar ekonomi, kenapa mesti dicatat lagi. Lebih baik dikubur saja. Dengan adanya agenda reformasi koperasi akan lebih menyehatkan dari sisi kualitas. Dari 972 koperasi yang dibubarkan, tak ada satupun koperasi yang nafasnya CU. Artinya, CU – Kopdit masih berjalan on the tranck. “Ini membanggakan, karena CU di Kalbar jalannya sasih benar,” tegasnya.

Koperasi yang dibubarkan itu memang salah niat membentuk koperasi. Mendirikan koperasi tidak untuk kontribusi memutar ekonomi dan menyejahterakan anggota tetapi niatnya menjadi pengemis. Menjadi peminta-minta, menunggu bantuan dari pemerintah minta hibah, minta subsidi dan sebagainya, 2 tahun berdiri tumbang. Karena itu harus dibubarkan. Kita telah sepakat tidak akan menciptakan pengemis, tetapi menciptakan entrepreneur – wirausaha koperasi yang profesional.

Perkembangan koperasi di NTT, menurut Wakil Bupati Sika, Drs. Paulus Nong Susa, yang membacakan sambutan Gubernur NTT karena berhalangan hadir, tidak jauh berbeda dengan di Kalimantan Barat, bahwa banyak lembaga keuangan yang berkedok CU. Hal itu menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi gerakkan CU. Namun kondisi tersebut tidak perlu membuat kawatir gerakkan. Karena di NTT juga banyak koperasi yang berkembang dengan baik, beberapa CU – Kopdit yang dikelola dengan baik dan benar, mampu mengukir prestasi nasional, sebagai koperasi berprestasi, seperti Kopdit Obor Mas dan Kopdit Pintu Air, contohnya.

Perkembangan CU di Kalimantan Barat sampai saat ini masih stabil. Walau akhir-akhir ini banyak lembaga keuangan di luar koperasi. Lembaga keuangan yang mengatasnamakan koperasi – menyebut-nyebut diri koperasi, bahkan menyebut dirinya CU. Tetapi sejatinya di luar gerakkan koperasi. Menurut Marsianus, dari semua CU yang RAT-nya dihadiri, hampir semua menunjukan tren positif dalam perkembangan usahanya. Anggotanya bertambah, volume usaha, dan asetnya meningkat. Memang ada CU yang NPL-nya masih tinggi. Mungkin karena ada sesuatu yang terjadi di CU tersebut. Koperasi yang berorientasi CU beda dengan koperasi pada umumnya. Dalam UU Koperasi memang disebutkan pendidikan. “Namun yang menyelenggarakan pendidikan hanya CU. Koperasi-koperasi lain hanya ditulis, tidak dilaksanakan,” tegasnya.

Namun, lanjut dia, belakangan ini ada tanda-tanda mulai sedikit kendor. Sudah ada yang berpikir pendidikan formalitas saja. Akibatnya pemahaman dan kecintaannya kepada CU kurang. Anggota, pinjam mau angsur ogah. Atau simpan mau, tapi pinjam ke tempat lain. “Ini pengaruh negatif jika tidak melewati pendidikan. Jika diawali dengan pendidikan yang benar, niscaya anggota akan setia. Melalui pendidikan tidak sekedar tahu bagaimana mengolah pendapatan, tetapi juga bagaimana mencintai lembaga sampai mati.

Marsianus juga mengingatkan, kini saatnya untuk mengembangkan pilar keempat, inovasi. Idle money sebaiknya tidak disimpan di bank tetapi harus diberdayakan. Hampir semua CU idle money-nya tinggi. Puskopdit perlu dipikirkan, seperti apa menyalurkan dana yang mengendap itu. Kalau disimpan di bank, bank pasti senang sekali menerimanya.

Dalam rapat-rapat CU, Marsianus sering menyampaikan, CU bisa bertahan sampai puluhan tahun, karena di dalam CU ada kasih. Harus dipahami bahwa kasih bukan milik Kristen, bukan milik Katolik, tetapi milik semua agama. Dan itu ada dalam CU sampai hari ini. Buktinya, anggota CU terdiri dari berbagai pemeluk agama yang berbeda-beda, juga terdiri dari berbagai suku dengan latar belakang adat istiadat yang berbeda-beda. Kasih itu murah hati, dan tidak mencari keuntungan sendiri, tetapi untuk menyejahterakan anggota. Itu yang menyebabkan CU mampu bertahan.

Disamping kasih, CU memiliki pilar kokoh yaitu; pendidikan, swadaya, solidaritas dan inovasi. Karena berpegang teguh pada pilar tersebut, CU ogah menerima hadiah, ikut menyalurkan program Kredit Untuk Rakyat (KUR) dari pemerintah. “Saya yakin, pengurus dan pengawas CU pernah ditawari pinjaman dari pemerintah, dari Dinas Koperasi dan UKM, tetapi di Kalbar sampai sekarang belum ada CU yang mau menerima penyertaan modal dari luar,” jelas Marsianus, seraya menambahkan bahwa di Kalbar saat ini 46 unit koperasi bernafaskan CU, dan bernaung di 4 sekunder yaitu; Puskopdit BKCU Kalimantan, Puskopdit Kapuas, Puskopdit Khatulistiwa dan Puskopdit Borneo.

Sebagai Puskopdit pertama, dan sekunder nasional yang memiliki 45 anggota CU Primer, tersebar di 23 provinsi, 11 CU primer di antaranya ada di Kalbar, Puskopdit BKCU Kalimantan memiliki peran besar, dan strategis. Melihat semua anggota melaksanakan RAT tepat waktu, bukti bahwa pembinaan kepada anggota berjalan dengan baik. Artinya, CU juga patuh pada UU. Pembinaan yang dilakukan oleh sekunder sangat berbengaruh. “Fungsi sekunder sangat besar bagi perkembangan koperasi. Terutama di CU,” jelas Marsianus.

Sebagai pengawas Dinas Koperasi dan UKM Kalbar selalu mengingatkan kepada sekunder untuk tetap melakukan kontrol kepada primer-primer anggotanya. Pernah suatu ketika melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dan menemukan CU yang surat izin usaha simpan pinjamnya tidak bikin. Ketika berpindah atau membukan kantor cabang juga tidak mengurus izin. Melalui Puskopdit dia berpesan, agar semua primer taat terhadap peraturan perundang-undangan. Dengan perizinan yang benar, berarti mengurangi potensi konflik di lapangan. Pernah ada kejadian, salah satu CU membuka cabang tidak memiliki izin didemo ramai-ramai. (mar)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *