Dari Kekurangan Kita Harus Menabung

Pada saat Aritonang menjadi Ketua Credit Union Mandiri, dilakukan perubahan Anggaran Dasar dan Anggarana Rumah Tangga (AD – ART) cukup fundamental. Salah satunya periode kepengurusan dari 3 tahun menjadi 5 tahun, dan seseorang tidak bisa menempati jabatan yang sama lebih dari satu kali. Karena AD baru itu, tertutuplah kesempatan Aritonang untuk dipilih kembali jadi ketua pada pemilihan pengurus periode 2014 – 2018 yang dilaksanakan bertepatan dengan Rapat Anggota Tahun (RAT) tahun buku 2013, Maret 2014 silam. Dalam pemilihan sistem formatur itu yang terpilih menggantikan Aritonang adalah Justinus Tamba, S.T.,IP-M, yang sebelumnya sebagai sekretaris.

Tentang upaya merealisasi cita-cita menyejahterakan anggota, dengan penuh semangat Aritonang bercerita panjang lebar, namun intinya mengutamakan team work – tim kerja yang benar-benar menyatu, kompak, dan saling dukung. Dalam menyusun program kerja, baik program jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang, dia sangat menghargai pendapat teman-temannya (pengurus lain), juga minta masukan dari pengawas. Hasil dari kinerja yang demikian kompak, visi Credit Union Mandiri menjadi 5 besar di Indonesia, tercapai ketika masa kepengurusannya genap 4 tahun. Setelah tahun 2012 Credit Union Mandiri ditetapkan sebagai Koperasi terbesar di Sumatera Utara, tahun 2013 mendapat Award dari Kementerian Koperasi dan UKM.

“Mendapat penghargaan dari eksternal semacam itu, senang. Tetapi yang lebih membanggakan penghargaan dari anggota atas manfaat yang bisa dinikmati,” tutur Aritonang. Award itu tidak ada artinya jika anggota tidak mau kerja sama dengan pengurus, tidak menabung, tidak meminjam dan tidak disiplin membayar angsuran. Jika hal itu terjadi, yang perlu disentuh adalah hati anggota melalui pendidikan agar mereka mengerti berkoperasi yang baik.

Sebagai aktivis dia pun selalu berpikir, bagaimana meningkatkan harkat dan martabat orang-orang kecil seperti petani, buruh tani, tukang becak – becaknya pun sewaan, juga tukang ojek. Di Tebing Tinggi, kata Aritonang, yang namanya buruh tani, dan tukang becak banyak yang menjadi anggota Credit Union Mandiri. Orang-orang kecil – miskin – terpinggirkan itulah yang justru mendapat prioritas untuk dibimbing dan didampingi sampai akhirnya bisa punya becak sendiri, dan buruh tani bisa memiliki lahan sendiri. Caranya, disentuh hatinya. Dari kekurangannya mereka didorong untuk menabung secara rutin.

Seorang buruh tani, tidak punya benih. Tukang becak juga tidak ada uang lebih. Berarti harus ada upaya paksa untuk dirinya bahwa menabung itu bagian daripada biaya. Itu memang konsep, dan harus ada kiat, bagaimana agar konsep itu bisa menjadi nyata. Mereka disentuh hatinya dengan pendidikan bahwa menabung bukan dari sisa uang, tapi sebaliknya, dari penghasilan dikurang menabung baru untuk biaya. “Menabunglah dari kekuranganmu supaya menjadi kelebihan. Kalau menabung dari sisa-sisa, tidak akan ada sisanya,” tegas Aritonang.

Mengedukasi – mengelola anggota yang latar pendidikannya tidak tinggi, dan kehidupannya juga masih susah, perlu kiat tersendiri. Yang terjadi selama ini, orang mau jadi anggota koperasi langsung bertanya; “Masuk koperasi bisa pinjam tidak?” Pertanyaan seperti itu wajib dihilangkan. Caranya, calon anggota harus mengikuti pendidikan dasar tentang credit union terlebih dulu. Bila tidak mau ikut pendidikan dasar, lebih baik tidak jadi anggota credit union. “Bukan pengurus yang membutuhkan anggota, namun anggotalah yang membutuhkan credit union. Mereka harus dimotivasi bahwa masuk credit union karena dirinya membutuhkan untuk memperbaiki hidup,” urai Aritonang. Dari sistem yang dibangun, lanjutnya, diharapkan, bukan dijanjikan, anggota bisa sejahtera.

Mengubah pola pikir, termasuk pola pikir manajemen agar tidak semau gue dalam melayani anggota menjadi keharusan. Karena sesungguhnya anggotalah pemilik credit union yang menggaji mereka. Itu sebabnya, pelayanan kepada anggota harus dengan senyum ramah – memberikan pelayanan terbaik. “Saya tidak suka jika ada pegawai yang merasa kantor credit union itu miliknya,” tutur Aritonang yang sebelum di Credit Union Mandiri, aktif mengelola Credit Union Hidup Baru, credit union tertua di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Dia mengaku penah menjadi pengurus di 3 credit union sekaligus, yaitu Credit Union Hidup Baru sebagai sekretaris, Credit Union Mandiri sebagai wakil ketua, dan saat itu juga menjabat Ketua Credit Union Makmur Bersama.

Lahirnya Credit Union Makmur Bersama, karena “kegelisahan” Aritonang dan beberapa tokoh umat lainnya seperti; BJ Butarbutar (alm), mantan manajer Credit Union Mandiri, AP Nababan, R Parangin Angin, dan BR Naenggolan mantan bendaraha Credit Union Mandiri, atas homili – kotbah pastor yang mengatakan bahwa Credit Union Mandiri dan Credit Union Hidup Baru hanya untuk umat Katolik. Mereka sepakat membentuk credit union baru yang terbuka untuk masyarakat umum, tidak membeda-bedakan suku dan agama. Sebagai credit union terbuka, perkembangan Credit Union Makmur Bersama relatif cukup pesat sampai Riau.

Meski saat ini Credit Union Mandiri tidak lagi eksklusif hanya untuk umat Katolik, tetapi Pastor Paroki secara otomatis – eks ofisio sebagai penasehat. Dengan keterlibatan Pastor Paroki sebagai penasehat diharapkan Pastor mengerti bahwa di lingkungan gereja ada badan lain yang harus dibimbing dan dibina dalam berkarya. Selama masa kepengurusan Aritonang, 3 kali pergantian pastor, artinya 3 kali ganti penasehat. Ketika Pastor Boby sebagai penasehat, sempat genting, Credit Union Mandiri hampir keluar dari Paroki. Setelah Pastor Boby pindah ke Paroki lain, digantikan Pastor Yaya, tetapi hanya setahun, lalu digantikan Romo Yudho Pramono, (Fredy) dari Bandung, yang juga sarjana ekonomi.

Karena Credit Union Mandiri awalnya hanya untuk umat Katolik, khususnya umat Paroki Tebing Tinggi, Aritonang yang kala itu sebagai sekretaris pengurus mengusulkan sebaiknya dibuka saja untuk umum, tidak membedakan suku, dan agama agar semakin banyak orang miskin yang ikut menikmati manfaat keberadaan Credit Union Mandiri. Usul Aritonang dikabulkan. Benar, setelah keluar dari lingkungan gereja, dan menerima anggota dari masyarakat umum, Credit Union Mandiri yang didirikan tahun 1987, dan baru mendapatkan badan hukum tahun 1999, bermunculan anggota baru non Katolik.

Di akhir masa kepengurusan Aritonang pengurus mermutuskan untuk membantu dana kepada Paroki juga dan kepada semua mantan pengurus yang diambil dari jasa pengurus.

Pertimbangannya, karena mereka telah berjasa membangun koperasi. Ini memang baru kali pertama, tetapi diharapkan akan terus berlanjut. “Tidak ada salahnya memberikan bagian dari jasa pengurus. Mungkin jumlahnya tidak besar, tapi itulah cara kami memberikan penghargaan kepada mantan pengurus. Jasa perjuangan begitulah kalau boleh disebut,” jelas Aritonang seraya menambahkan agar pengurus baru tidak money oriented.
Keterdidikan anggota tentang credit union, kata dia, sangat penting. Itu sebabnya Credit Union Mandiri selalu berusaha memperbaharui modul ajar, dan mengadakan pelatihan-pelatihan supaya anggota juga punya inovasi. Jika ada seseorang yang dapat menciptakan sesuatu bagi kemajuan Credit Union Mandiri, kepadanya akan diberikan apresiasi. Kepada karyawan, dan manajer yang ditempatkan di daerah juga mendapat insentif. Terutama di kantor yang baru dibuka. Untuk membuka kantor pelayanan baru minimal anggota yang dilayani 200 orang. Jika dalam satu tahun anggota bisa menjadi 1000 orang, statusnya menjadi cabang, dan kepala cabang tunjangannya dinaikan. Dengan cara seperti itu ide-ide baru terus tumbuh. Saat ini, jelas Aritonang, Credit Union Mandiri punya 180-an karyawan dan punya 8 kantor cabang.

Setiap bulan manajemen harus mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada pengurus melalui rapat pengurus, dan diawasi oleh pengawas. Kemudian setiap kahir tahun buku manajemen melaporan pertanggungjawaban menyeluruh kepada pengurus dan pengawas. Pengawas akan mengolah, menerima atau tidak. “Tidak mungkin kami menerima tanggung jawab kalau mereka melakukan penyimpangan. Karena itu kami pun melakukan pemeriksaan dengan cermat. Setelah melihat itu, baru kami terima, kemudian mempertanggungjawabkan di RAT,” jelas Aritonang kemudian berpesan agar sistem itu terus dikembangkan sesuai perkembangan zaman.

Menghadapai persaingan yang demikian ketat, ada insan credit union merasa was-was. Namun yang sangat ditakuti, kata dia, adalah diri sendiri. Kalau manajerialnya mulai menyimpang, sifatnya sombong, akan mudah hancur, semudah membalik telapak tangan. Jika hal itu terjadi, sangat fatal. Ke depan credit union harus besar di mana-mana, dan menjadi pilar koperasi Indonesia. Caranya, credit union harus terbuka, dan memperkenalkan diri kepada masyarakat luas. (my)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *