Dengan infrastruktur yang kuat, Menjadikan Indonesia Bangsa Mandiri dan Disegani

Tetapi melakukan investasi memerlukan prasyarat juga. Prasyarat untuk terciptanya investasi yang meningkat adalah tersedianya infrastruktur. Itulah persoalan yang selama ini menjadi kendala kita. Bottlenecking – kemacetan pembangunan kita ada di sektor infrastruktur. Termasuk untuk pembangunan energi dan transportasi. Infrastruktur adalah salah satu syarat utama untuk mewujudkan kemandirian bangsa. Di Indonesia, minimnya infrastruktur telah menyebabkan berbagai masalah serius di berbagai sektor. Kurangnya infrastruktur keras seperti energi dan transportasi hingga infrastruktur lunak, seperti ketersediaan sumber daya manusia (SDM) ahli masih sering menghambat pembangunan. Masalah yang muncul karena kurangnya infrastruktur antara lain; pemerataan pembangunan, lemahnya daya saing akibat ekonomi berbiaya tinggi hingga ketergantungan terhadap impor. Besarnya impor juga menunjukkan rendahnya kapasitas Indonesia dalam berproduksi.

Tekanan pelemahan rupiah tentu tidak akan separah sekarang jika Indonesia mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor. Diperlukan upaya serius untuk meningkatkan kapasitas produksi, di antaranya melalui pembangunan infrastruktur dan alih teknologi. Dengan infrastruktur yang kuat mampu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri, dan disegani.

Salah satu yang menjadi penyebab defisit perdagangan kita karena impor energi, termasuk impor bahan bakar minyak (BBM) yang cukup tinggi. Impor BBM saat ini sekitar 400.000 – 450.000 barel per hari. Karena kapasitas kilang kita kira-kira hanya 1.000.000 barel per hari, sedangkan kebutuhannya kurang lebih 1.400.000 – 1.450.000 barel per hari. Infrastruktur yang terkait dengan BBM yang harus dibangun adalah kilang. Indonesia sudah lama sekali membangun kilang baru. Kilang-kilang yang ada, seperti di Bojonegoro kapasitasnya hanya 16.000 barel per hari, sehingga pemerintah harus sangat serius dalam rencana pembangunan kilang.

Kita juga banyak gas, konsumennya pun sangat besar, tetapi juga bermasalah karena kita tidak punya infrastruktur untuk menyalurkan ke konsumen yang tempatnya jauh. Konsumen itu rata-rata ada di Jawa dan Sumatera, sedangkan sumber gasnya di Kalimantan dan Papua. Karena konsumen di Jawa dan Sumatera memerlukan gas dalam jumlah sangat besar, yang harus segera dibangun adalah infrastruktur pipa. Tetapi sebenarnya, menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswo Utomo, yang paling krusial soal energi itu penyediaan listrik untuk masyarakat dan dunia industri.

Dalam jangka pendek, kata dia, program pembangunan listrik 5000 MW per tahun harus tercapai, termasuk jaringan transmisinya. Sehingga interkonek Jawa – Bali – Sumatera bisa segera terealisasi. Pemanfaatan potensi panas bumi juga penting. Pemerintah juga harus membangun pembangkit listrik skala kecil untuk daerah-daerah terpencil. Kebutuhan listrik luar biasa besar. Investasi untuk membangun pembangkit tenaga listrik sampai tahun 2020 diperkirakan US$ 100 miliar. Belum lagi untuk membangun smalter – pemurnian mineral sekitar US$ 80 milar. Belum termasuk investasi untuk pembangunan bidang energi yang ada kaitannya dengan Migas, seperti kilang, pipa, kemudian pembangunan transportasi BBM ke BBG. Kesempatan investor untuk berperan di dalam penyediaan energi di Indonesia betul-betul sangat besar. Karena kemampuan Negara sangat terbatas, hanya membangun yang orang lain tidak berminat. Kalau ada yang berminat, lebih bagus jika yang membangun investor sehingga tidak memberatkan keuangan Negara. Negara – PT PLN, misalnya, membangun pembangkit listrik di Papua, atau daerah-daerah lain yang perusahaan swasta tidak tertarik. Kilang, karena keekonomiannya sangat kecil, yang membangun juga Negara. Saat ini pemerintah akan membangun satu kilang yang dibiayai dari APBN. Infrastruktur jalan maupun pelabuhan juga harus dibangun oleh pemerintah.

Demi pemerataan pembangunan, pemerintah harus fokus pada percepatan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Pertumbuhan kelas menengah, merupakan driver dari pertumbuhan infrastruktur. Kalau kelompok kelas menengah tahun 2013 ini mencapai 55 juta orang, akan menjadi 130 juta jiwa pada 15 tahun ke depan. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan distribusi banyak, dan lebih banyak bebergian.

Dari sektor transportasi, khususnya jumlah penumpang pesawat terbang saat ini terus meningkat. Hal itu tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi. Menurut Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia, Emirsyah, peningkatan pengguna jasa penerbangan diperkirakan 1 ½ – 2 kali dari pertumbuhan ekonomi. Setidaknya, selama 5 tahun terakhir pertumbuhannya selalu di atas 10% per tahun. Yang terjadi sekarang, infrastruktur, khususnya air port, agak ketinggalan. Jumlah pesawat terbang terus bertambah untuk memenuhi demand – permintaan yang juga terus meningkat. Kita bisa melihat, di Bandara Soekarno – Hatta, misalnya, kalau pagi hari atau jam-jam sibuk, yang mau take of antre 7 – 8 pesawat, kadang sampai 10 pesawat. Akibatnya, konsumsi avtur pun bertambah. Untuk pesawat besar, rata-rata 4.000 liter per jam. Bandara sudah diperbaiki, run way juga sudah ditambah, tetapi masih kurang.

Bagi perusahaan jasa penerbangan, pertumbuhan kelas menengah Indonesia yang luar biasa, merupakan potensi besar. Permintaan itu bisa terpenuhi jika infrastruktur bandara diperbesar, run way ditambah, pembangunan sarana lain dipercepat. Bandara Soekarno Hatta, misalnya, kapasitas 2 run way kurang lebih 70 take of – landing per jam. Jika kapasitas take of – landing bisa ditingkatkan menjadi 100 per jam, untuk saat ini cukup memadai. Yang tak kalah penting, jam buka bandara perlu diperpanjang. Bandara besar seperti Soekarno – Hatta, atau Ngurahrai sampai malam, tetapi di bandarabandara lain, kadang jam 6 sore sudah tidak beroperasi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan kompetensi dan investasi peralatan sangat besar. Belum lagi investasi pesawat, dimana pesawat kecil harganya sekitar US$ 50 juta, yang besar bisa mencapai US$ 150 juta – US$ 200 juta. Kebutuhan 10 tahun ke depan diperkirakan sekitar 500 – 600 pesawat terbang.

Masalah infrastruktur bukan belum dibuat, tetapi percepatannya belum seimbang dengan percepatan kebutuhan. Juga masalah SDM, masih menjadi pertanyaan, apakah kita memiliki local talent skill – tenaga ahli dalam negeri yang mumpuni untuk menjamin keberlanjutnya perkembangan. Permasalahan lain, terkait dengan regulasi, juga diperlukan proses yang cepat sehingga akselarasi pembangunan infrastruktur mampu menyamai percepatan demand yang dibutuhkan.

Untuk menjawab persoalan tersebut, menurut CEO dan Presiden GE Indonesia, Handry Satriago, karena GE perusahaan berbasis teknologi terbarukan, dan inovasi merupakan cultur perusahaan, komit terhadap pertumbuhan infrastruktur di Indonesia dengan menyediakan teknologi terbarukan. Juga siap untuk bersama-sama mencari solusi terhadap masalah yang spesifik di Indonesia. Masalah listrik di pedesaan, misalnya, GE cukup banyak berpartisipasi, demikian pula di bidang kesehatan. GE juga sama-sama belajar untuk meningkatkan local talent skill. Ke depan, industri dalam negeri harus pegang peran utama dalam pembangunan infrastruktur. Handry mengharapkan, pemerintah hendaknya juga memberikan fasilitas regulasi yang dapat merangsang iklim investasi bagi investor yang ingin masuk ke bidang industri.

Salah satu masalah yang kita hadapi sekarang adalah persoalan barang modal yang juga harus diimpor. Belum lagi human developmen indeks kita yang juga masih rendah. Perusahaan besar peperti GE, kata Handry, ingin membuat produk lokal, Indonesia. Problemnya, multi national company itu melihat sebuah Negara berdasarkan tingkat kompetisinya. Mau bikin di Indonesia, harus dibandingkan bagaimana kalau dibikin di Vietnam, atau di Malaysia. Dan untuk regional office, Indonesia memiliki berbagai hambatan. GE, misalnya, merasa kesulitan menjadikan Indonesia sebagai regional office-nya di ASEAN. Karena orang bepergian di Indonesia waktunya lama sekali. Dari air port Soekarno Hatta ke Jakarta Kota, misalnya, waktu tempuhnya bisa 2 jam. Infrastruktur masih menjadi hambatan utama, dan membuat tidak efektif. (mar)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *