Dengan Kuda Pacu Baru Kopetri Melampaui Target Renja

Sebagai salah satu koperasi papan atas, perkembangan Koperasi Pegawai Perum Peruri (Kopetri) terus meningkat cukup signifikan. Hal ini tentu menimbulkan kebanggaan dan optimisme semakin besar. Semua tak lepas dari kerja keras pengurus, pengawas, manajemen didukung oleh para anggota. Salah satu strategi yang terus dikembangkan Kopetri sehingga terus bertumbuh adalah prinsip good goverment – tata kelola yang baik, di antaranya transparansi, responbility, independensi dan fairness.

Hasilnya, luar biasa. Ketika tahun buku 2013 belum berakhir, kinerja bisnisnya telah mampu melampaui target, dan rata-rata di atas 100%. Padahal tahun buku sebelumnya (2012) hanya mencapai 72%. Sebagai gambaran, total aset dari Rp 112.968.072.000,- naik menjadi Rp 143.171.048.000,- (126,74%, pendapatan operasional yang ditargetkan Rp 57.402.000,-  yang tercapai juga jauh lebih besar, yaitu Rp 75.782.376.000,- (132,02%). Demikian pula sisa hasil usaha (SHU) yang ditargetkan Rp 3.286.500.000,- tercapai Rp 3.290.128.000,- (100,11%).

Melihat peningkatan kinerja yang cukup signifikan, pengurus, pengawas dan manajemen secara bersama-sama menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (Renja) tahun buku 2014 dengan capaian jauh lebih tinggi. Total aset, misalnya, dicanangkan menjadi Rp 171.719.519.000,- dan SHU menjadi Rp 3.418.000.000,- Hal itu diungkapkan Ketua Kopetri, Harsono, saat rapat anggota membahas Renja tahun buku 2014, di Karawang, Jawa Barat, pada 7 Desember 2013 silam. Menurut penilaian anggota, sederhana. Pengurus yang baik adalah yang bisa menghasilkan SHU besar. Dan itu sudah dibuktikan pengurus periode 2012 – 2014.

Dulu, seperti koperasi pegawai pada umumnya, Kopetri juga menikmati previlege atau keistimewaan berupa fasilitas, kemudahan dari instansi induk, Perum Peruri. Tetapi sekarang previlege itu sudah dicabut, disapih, harus mandiri. Pengurus harus kerja keras, selalu berinovasi. Jika ingin mendapatkan proyek dari Peruri, misalnya, harus bersaing mengikuti tender dengan perusahaan mitra Peruri lainnya. Karena belum pengalaman, gagal – kalah tender pun berulang kali dialami Kopetri. Tetapi, itu juga dulu. Sekarang, tahun 2013 Kopetri mampu memenangkan 4 tender dari 5 proyek yang ditawarkan oleh Perum Peruri.

Karena persaingan bisnis makin berat, agar terhindar dari kegagalan – kerugian, pemetaan bisnis potensial harus jelas, dan ada skala prioritas yang akan digarap. Melalui rapat mingguan – rapat bulanan, pengurus mengevaluasi kinerjanya, sehingga jika ada yang kurang pas dengan rencana kerja dan target-target yang ditetapkan segera bisa dilakukan perbaikan.

Capaian kinerja yang melampaui target Renja tahun buku 2013, tidak terlepas dari inovasi. Contoh, Kopetri mengembangkan usaha baru, antara lain; membantu manajemen Perum Peruri dengan memfasilitasi pengadaan sewa mobil dinas untuk Direksi dan Kepala Devisi Perum Peruri. Membuka usaha baru bekerja sama dengan mitra bisnis, Alfamart, menjalin kerja sama dengan Kopindosat untuk catering, dan pengadaan pakaian seragam untuk pegawai Perum Peruri. “Makin banyak kerja sama dengan mitra diharapkan Kopetri mampu berkontribusi secara maksimal bagi pegawai Perum Peruri – anggtota dalam rangka meningkatkan kesejahteraan, sesuai motto Kopetri: Mengurus Bakal Manusia Sampai Mantan Mansuia ” tutur Harsono optimis.

Kopetri kini telah menjadi holding – perusahaan induk, pengatur usaha-usaha di lingkungan Kopetri. Pengembangan toko, misalnya, bisa di luar lingkungan perusahaan, menjadi sentra lebih kecil, dimana barang-barangnya dipasok dari Kopetri. Menggarap bisnis kecil-kecil, seperti pedagang kaki lima, kalau ditangani secara baik potensinya juga sangat besar. Di Karawang Kopetri sangat potensial dikembangkan sebagai sentra, karena disana banyak usaha kecil. Usaha gas Elpiji, misalnya, anggota bisa menjadi perwakilan Kopetri. Bisnis pulsa HP, peluangnya juga besar. Kalau selama ini Kopetri hanya melayani anggota dan perusahaan, sekarang melayani masyarakat umum.

Tidak bermaksud membusungkan dada, karena Kopetri punya tenaga-tenaga yang mumpuni, tentu akan memanfaatkan potensi dan profesionalisme yang ada sekaligus untuk meningkatkan partisipasi anggota kepada koperasi. Bila memang tidak bisa, agar tidak kehilangan kesempatan bisnis, boleh-boleh saja merekrut tenaga dari luar, sehingga diharapkan mampu menggarap bisnis koperasi sampai level manapun.

Menurut Harsono, keberhasilan Kopetri tahun buku 2013, tak lepas dari kejelian dan kemampuan mata hati pengurus membedah induknya, melihat rencana anggaran Perum Peruri yang akan memberikan fasilitas mobil untuk Direksi dan Kepala Devisi, pakaian seragam pegawai, katering, cleaning service. Karena selama ini potensi-potensi itu selalu ditangani mitra dari luar Perum Peruri, Kopetri tidak memasukkan  dalam Renja. “Untuk mendapatkan peluang yang tidak ada di Renja, Kopetri mengikuti tender secara elektronik, bersaing dengan mitra-mitra Perum Peruri lainnya.

Dari 5 peluang yang ada, Kopetri memenangkan 4 peluang. “Yang lepas cleaning service. Untuk pengadaan mobil sewa bagi direksi dan kepada devisi, Kopetri harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar seperti; Rent Car, Artha Graha Rental, dan Primajasa Bandung. Nilai tender untuk 5 unit Toyota Harier Rp 3,75 miliar, dan 11 unit Pajero Rp 4,8 miliar. Jadi totalnya Rp 8,55 miliar,” urai Harsono tentang pengalaman tender yang dinilainya sebagai pengalaman sangat berharga selama mengelola Kopetri.

Untuk pengadaan mobil, macam-macam model. Mau pakai finance boleh, pinjam di bank pun tidak dilarang. Jika menggunakan finace – lembaga pembiyaan, untungnya kecil, karena lembaga itu sudah menggunakan uang pinjaman dari bank. Menggunakan uang Kopetri sendiri, modalnya terlalu besar. Padahal, beli mobil di dealer harus cash, tidak boleh kredit. Karena Kopetri cukup lama kerja sama dengan Bank Mandiri Cabang Kahuripan, Bandung, pilihan terbaik mengajukan Kredit Modal Kerja (KMK) ke Bank Mandiri. “Kalau beli cash kemudian disewakan selisihnya jauh. Ini yang dimainkan, dan mempengaruhi lonjakan pendapatan SHU Kopetri tahun buku 2013,” jelas Harsono.

Karena dalam sejarah Kopetri belum pernah menangani katering, ketika menang tender, untuk melayani 2.200 karyawan Peruri selama 2 tahun terhitung dari Juni 2013, Kopetri menggandeng Kopindosat. Lantaran yang dapat order Kopetri, dan Kopindosat yang memasak, maka Kopindosat membiayai dulu. Setelah ditagih dari Peruri ke rekening Kopetri, baru Kopindosat mendapat pembayaran. “inilah yang namanya jejaring kerja sama,” tutur Harsono.

Sedangkan untuk pengadaan pakaian seragam pegawai, karena order kali pertama ini cukup besar dan harus cepat selesai, Kopetri kerja sama dengan salah satu perusahaan konveksi besar di Bandung, Jawa Barat. Perusahaan itu telah go internasional. Pilihan ini dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa Kopetri juga mampu bekerja sama dengan perusahaan besar dan mampu memerikan yang terbaik bagi Perum Peruri. “Kalau kerja sama dengan perusahan kecil, bisa saja Peruri tidak yakin,” jekas Harsono seraya menambahkan bahwa dari proyek pakaian seragam pegawai ini Kopetri mendapat penghasilan cukup besar, sekitar Rp 1 miliar.

Dua pengalaman itu mengilhami pengurus untuk menggali potensi sumber daya yang ada di lingkungan Kopetri. Misalnya, membentuk kelompok penjahit dan kelompok katering yang anggotanya isteri atau keluarga anggota Kopetri. Jika satu kelompok 5 – 10 orang memiliki 20 mesin jahit saja, sudah bisa mengerjakan order-order kecil. Di Perum Peruri ada berbagai jenis seragam. Ada seragam produksi, marketing, juga seragam harian. Untuk seragam produksi, wearpack, misalnya, jumlahnya tidak besar, dan tidak dipakai keluar. Karena jumlahnya kecil bisa dikerjakan ibu-ibu isteri anggota kopetri. Yang penting, kualitasnya memenuhi standar. Jika kemudian kelompok itu berkembang, 10 kelompk, masing-masing punya 20 unit mesin jahit dan tenaga kerja, sudah luar biasa, dan bisa menerima order besar.

Demikian pula katering, bisa ditangani oleh kelompok ibu-ibu. “Kalaupun belum dapat order besar, anggap saja sebagai pembelajaran,” tutur Harsono optimis, bahwa pemikiran itu kelak bisa diimplementasikan di lingkungan keluarga Kopetri. Pengurus, kata dia, sudah menyampaikan kepada anggota yang mengikuti diklat beberapa waktu silam bahwa Koperti akan mengembangkan jenis usaha lebih banyak lagi. Memang baru sebatas informasi. Jika disambut baik oleh anggota, akan diadakan sharing – tukar pikiran. Bisnis karton boks untuk pembungkus uang kertas Bank Indonesia (BI) juga dimulai dari pekerjaan kecil. Mulai dari mengemas, lalu beli mesin untuk produksi. Pintu sudah terbuka, kuda pacu sudah disiapkan, tinggal bagaimana Kopetri memanfaatkan kesempatan.

Terkait dengan PT Kopetri Tirta Mandiri (KTM), anak perusahaan Kopetri yang memproduksi air minum dalam kemasan merek Petriqua, kata Harsono, akan segera diadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Semua pemegang saham PT KTM, yaitu Kopetri pemegang saham mayoritas, 55%, Yapentri, dan PT Kertas Padalarang, yang memang di bawah binaan Direktur Utama (Dirut) Perum Peruri, DR Prasetio, sudah dipanggil untuk secepatnya melaksanakan RUPS. PT Kertas Padalarang saham mayoritas 80% dimiliki oleh Perum Peruri.

Setelah RUPS, manajemen PT KTM akan membuat peta bisnisnya. Yang ingin diketahui pemegang saham, kata Harsono, peta bisnis PT KTM seperti apa. Untuk pengembangan pasar, Kopetri sudah melangkah, bekerja sama dengan Kopindosat dan Koperasi Al-Azar. Desain kemasan air minum sebagai merek dagang bersama antara Petri Qua dengan Pinmart, maupun dengan Koperasi  Al-Azar sudah disepkati, tinggal diproduksi. Diharapkan, 2014 sudah mulai produksi. Kelak, kebutuhan air minum dalam kemasan di Kopindosat maupun Al-Azar akan disuplai dari Petriqua.

Industri air minum dalam kemasan termasuk bisnis padat modal sehingga untuk mencapai kembali modal, cukup lama. Tergantung marketingnya, mau capek  dan kerja keras atau tidak. Kalau mau capek, setelah Petriqua dikenal, orang akan untuk kerja sama. Bisnis air minum dalam kemasan itu seperti pom bensi tidak ada matinya. Keuntungan akan terus mengalir, sepanjang hari – sepanjang tahun. Kopetri sebagai pemegang saham mayoritas, 55%, tidak ikut mencampuri manajemen PT KTM. Namun Kopetri dimungkinkan memiliki devisi pemasaran untuk menangani marketing Petriqua. Bahkan sudah dibentuk unit pemasaran Petriqua 6 bulan silam. Hasil dari penjualan Petriqu cukup menggembirakan. Tahun 2013 penjualan Petriqua yang ditangani Kopetri mencapai Rp 350 jutaan. Ini adalah upaya untuk menambah penghasilan Kopetri.

Soal kualitas, kata Harsono, sudah uji laboraturium sebelum air dimasukan ke dalam mesin sampai hasil produksi. Hasilnya mendapatkan standar nasional Indonesia (SNI). Yang diproduksi untuk air minum adalah kapasitas lebih yang terbuang percuma dari kebutuhan pabrik kertas Padalarang. Ada 7 sumber mata air milik PT Kertas Padalarang, 5 sumber di antaranya sudah dibuatkan bak penampungan, dan 2 sumber lainnya masih  mengalir liar. Jika perkembangan produk air dalam kemasan pesat, dua sumber yang masih liar itu akan dimanfaatkan.

Ada beberapa catatan bagi pengurus dan insan Kopetri pada umumnya, yang perlu direnungkan. Sesungguhnya persaingan dalam bisnis ke depan yang paling esensial adalah persaaingan dari sisi sumber daya manusia (SDM-nya). “Oleh karena itu, mulai saat ini Kopetri harus memperhatikan pembinaan SDM. Jika hal ini tidak disadari, kita tidak akan mampu bersaing dan bertahan. Karena SDM sangat penting, perlu mendapatkan prioritas,” kata Fatahila, Direksi Perum Peruri yang juga mantan Ketua Kopetri periode 1995 – 1998.

Karena Kopetri koperasi fungsional, sebagai Pembina, Fatahila mengingatkan bahwa gerak langkah Kopetri hendaknya juga disinkronkan dengan gerak langkah perusahaan. Bisnis perusahaan (Perum Peruri) ke depan akan banyak perubahan. Yang bisa disinkronkan oleh pengurus, misalnya, memanfaatkan aset di Jln Faletehan, Kebayoran Baru, Jakarta. Jika bisnis properti maju, Kopetri juga bisa berperan. Masih ada bisnis lain, yaitu Peruri Degital Security yang berbasis aplikasi degital. Di bisnis ini juga banyak peluang yang bisa ditangkap Kopetri. Peluang-peluang itu bukan hanya sebagai pemasok, tetapi ke depan Kopetri bisa bermitra – berkolaborasi dengan Perum Peruri. “Saya berharapkan, peluang yang ada di Peruri ditangkap dengan baik, dan dikerjakan secara professional,” katanya berpesan. (mar – yuni)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Dengan Kuda Pacu Baru Kopetri Melampaui Target Renja

  1. Informasi yang diterima dari orang dalam AHM, tengah disiapkan StreetFire “full fairing” ini untuk diproduksi massal di Indonesia. Posisinya mengisi ceruk di atas StreetFire yang bergaya “naked touring” yang saat ini dibanderol Rp 23,4 juta.
    honda fairing kits http://hondamotorcyclefairingss.tripod.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *