‘Dosa-dosa’ Baik Jokowi

Bagi sebagian besar rakyat Indonesia menilai Ir. Joko Widodo (Jokowi) adalah Presiden RI ke-7 yang luar biasa. Memimpin dengan hati nurani, mengejar kebenaran yang hakiki demi memajukan negeri yang porak-poranda oleh korupsi. Itu sebabnya kader Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) yang sering “diledek” sebagai petugas partai, untuk kali kedua dipercaya menjadi petugas partai.

Pencalonan kembali Jokowi dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 – 2014 yang diumumkan oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri, saat pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP di Bali Januari 2018 mengejutkan banyak pihak. Megawati sebagai pemegang hak prerogative partai mengatakan bahwa Jokowi adalah kader partai terbaik, maka demi keberlanjutan pembangunan Indonesia Jokowi harus diperjuangkan menjadi Presiden lagi.

Dosa-dosa baik Jokowi antara lain; memimpin rakyatnya dengan hati yang tulus, jujur, berintegritas, dan tidak korupsi. Konektivitas satunya pikiran, ucapan, dengan perbuatan. Membangun dari perdesaan, membangun gerbang-gerbang perlintasan Negara nan megah sehingga menjadi kebanggaan masyarakat di perbatasan. Membangun infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia. Memastikan manajemen Negara dikelola dengan baik dan benar, meskipun diawal pemerintahannya seorang guru besar tata negara dan advokat terkenal menuding Jokowi mengelola Negara dengan manajemen warung tegal. Namun belakangan redup tidak ada suaranya.

Bertindak tegas membekukan Petral, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) Tbk bercokol di negeri Tumasik, menghasilkan efisiensi biaya impor sangat besar karena crud oil dibeli langsung dari negeri produsen seperti Iran, bukan membeli di pasar spot internasional dari pihak ketiga, bukan produsen yang selama ini diperankan Petral. Mencabut subsidi BBM dalam APBN 2015 sekitar 48 juta kilo liter per tahun setara dengan Rp300 triliun dialihkan untuk membangun infrastruktur lebih tepat sasaran.

Memprogramkan BBM satu harga energy berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai perwujudan sila ke-5 Pancasila. Disvestasi 51% saham PT Freeport Indonesia berhasil diwujudkan sebagai pelaksanaan pasal 33 Undang Undang Dasar (UUD) 1945, Negara adalah tuan, itu bukti kebulatan tekad dan kekerasan hati seorang Jokowi, sempat distigma Presiden Kopeg – keras kepala oleh lawan politik skandal papa minta saham yang sekarang nyungsep bertapa takzim di tahanan KPK akibat residu mega korupsi E-KTP 2009 – 2010.

Dosa baik Jokowi paling besar dan absurd mampu mengusik keyakinan banyak politisi songong dan konstituennya bahwa apa yang dilakukan Jokowi biasa-biasa saja dan merasa sangat biasa melakukannya walau sekadar angan-angan. Dengan dosa-dosa baik Jokowi itu sesungguhnya banyak pihak terperangah melongo.

Betapa Tuhan mengutus seorang manusia lahir di tepian kali di Sala dengan stigma kalangan miskin harta. Tetapidia kaya hati, hadir mengajari bagaimana mengelola Negara dengan integritas tinggi. Berlandaskan nilai-nilai kebenaran agama, tiada lain perwujudan dari Tuhan itu hadir di dunia nyata. Tuhan mempercepat kehadirannya di puncak kekuasaan NKRI hanya dalam kurun waktu 2 tahun sebagai Gubernur DKI Jakarta 2012 – 2014.
Inilah rangkuman dosa-dosa baik seorang Joko widodo bagi kemajuan bangsa dan negaranya. Jokowi pasti meninggalkan legasi baik dikenang rakyatnya kelak mengakhiri periode kepemimpinannya. Bukan meninggalkan dosa buruk pantas dilaknat. (red)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *