Dra. Sesilia Seli, M.Pd. : CUKB Siap Dinilai Berdasarkan Access Branding

DSCN1615
Kesibukannya yang luar biasa, sebagai dosen dengan jabatan struktural Kaprodi Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Kalimantan Barat, dan sebagai mahasiswa S3 sebuah perguruan tinggi terkenal di Kuala Lumpur, Malaysia, tak membuat Dra. Selilia Seli, M.Pd. absen dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan Credit Union (CU). Terutama jika penyelenggara kegiatan itu adalah Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, yang merupakan Sekunder jejaring Credit Union Khatulistiwa Bakti (CUKB) yang diketuainya.

Ditemui di kantornya di Jln. Imam Bonjol, Pontianak, Kalimantan Barat, Februari 2015, Sesilia yang telah dua periode dipercaya anggota memimpin CUKB, bercerita tentang program kerja tahun buku 2014, juga menjelaskan sebagian program kerja tahun buku 2015 yang merupakan tahun ke-2 masa bakti kepengurusannya periode ke-2. Untuk tahun buku 2014 dikatakan bahwa capaian kinerjanya cukup baik, dengan capaian rata-rata 97,43%. “Tidak ada program kerja bisa semua tercapai 100%. Pasti ada yang kurang, misalnya, anggaran biaya kalau sampai 100% itu namanya boros,” katanya memberi contoh.

Dalam laporan pertanggungjawaban tahun buku 2014 dijelaskan bahwa CUKB berhasil meraih dua penghargaan bergengsi dari Pemerintah Pusat – Kementerian Koperasi dan UKM, pertama, sebagai Koperasi Berprestasi Tahun 2014, di mana penghargaan tersebut diserahkan pada puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) di Medan, Sumatera Utara, 12 Juli 2014, dan kedua Award dengan kategori Koperasi Paling Responsif Terhadap Perubahan Lingkungan.

Sebagai salah satu koperasi besar di Indonesia, yang memiliki karyawan 197 orang, CUKB terus berusaha melakukan perbaikan di berbagai bidang. Dalam menyusun laporan pertanggungjawaban, misalnya, dilakukan perubahan dari tahun-tahun sebelumnya karena harus menyesuaikan dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Perubahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan Peraturan Menteri Koperasi dan UKM No. 04/Per/M.KUKM/VII/2012 tentang Pedoman Umum Akuntansi Koperasi. Mulai tahun buku 2015, kata dia, CUKB juga telah terdaftar sebagai Wajib Pajak (WP).

Dijelaskan bahwa secara umum perkembangan keuangan lembaga tahun buku 2014 juga cukup baik, ditandai dengan pertambahan aset sebesar Rp81.284.653.133 (20,66%), pertambahan simpanan saham dan simpanan anggota sebesar Rp61.804.937.574 (16t,77%), pertambahan pinjaman sebesar Rp64.397.955.875 (21,07%), pertambahan pendapatan sebesar Rp7.830.730.998 (17,10%) dan pertambahan beban sebesar Rp7.136.351.416 (16,10%). Kegiatan pelayanan simpan pinjam dijalankan dengan baik, sehingga menghasilkan sisa usaha (SHU) sebesar Rp1.909.104.328. Total aset per 31 Desember 2014 sebesar Rp474.756.184.951, atau tumbuh 20,66%.

Sedangkan pertumbuhan jumlah anggota tercatat anggota masuk sebanyak 6.256 orang, keluar sebanyak 2.614 orang, dan yang meninggal dunia sebanyak 205 orang. Jadi, pertambahan anggota tahun 2014 sebanyak 3.437 orang. Pertambahan anggota yang cukup besar itu mencerminkan bahwa CUKB dipercaya oleh masyarakat luas. Anggota yang keluar disebabkan karena; pindah tempat kerja, terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), tidak dapat mengikuti aturan, pinjaman ditolak dan sebagainya. Akumulatif anggota per 31 Desember 2014 sebesar 48.947 orang. Kepada jajaran pengurus, pengawas, manajemen, maupun anggota, Seli mengharapkan agar terus bahu-membahu membangun dan meningkatkan kualitas CUKB, sehingga mampu memberikan pelayanan prima kepada anggota.

Terkait dengan upaya peningkatan kualitas tersebut, Seli menjelaskan bahwa di tingkat skunder, CUKB telah mendaftarkan diri sebagai CU primer yang siap dinilai berdasarkan access branding. Untuk itu banyak hal yang harus dipersiapkan. Regulasi, misalnya,disesuaikan dengan aturan pemerintah. “CUKB juga harus mampu menunjukkan jati diri sebagai gerakan credit union di mana aturan, nilai-nilai, dan prinsip credit union di seluruh dunia itu sama,” katanya penuh semangat. Karena itu, lanjutnya, CUKB berbenah diri mempersiapkan segala sesuatu, termasuk kelengkapan administrasi yang dipersyaratkan untuk access branding. Sebagai salah satu koperasi besar dengan aset hampir setengah triliun, CUKB juga terus berupaya memantapkan posisinya di Indonesia.

DSCN1494
Kesediaan dinilai berdasarkan access branding bukan semata-mata untuk mengejar target penghargaan; perunggu, perak, atau emas, tetapi lebih dikarenakan ingin mengetahui sejauh mana capaian kinerja, dan seberapa besar kekurangannya sehingga bisa dilakukan perbaikan. “Kami tidak punya target. Dapat yang paling bawah pun, perunggu, misalnya, tidak jadi persoalan. Yang paling penting, bisa tahu kelemahannya di mana, lalu bisa memerbaikinya,” tutur Seli.

Jumlah CU primer di Indonesia 930-an unit, banyak juga yang telah menjadi CU besar, dan mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat sebagai koperasi berprestasi nasional, seperti CU Lantang Tipo, CU Pancur Kasih, dan CU Keling Kumang, tetapi belum ada satu pun yang meraih penghargaan access branding, yang paling rendah sekalipun (perunggu). “Sebab, persyaratannya memang sangat berat, banyak indikator yang harus terpenuhi. Setiap indikator itu juga ada beberapa unsur,” jelasnya.

Karena regulasi mengharuskan kita membayar pajak, maka pada 20 Januari 2015 CUKB pun mendaftarkan sebagai wajib pajak, sehingga akhir tahun buku 2015 CUKB siap membayar pajak. Kalau pajak pendapatan, jelas Seli, setiap bulan sudah dibayarkan. Tetapi pajak badan baru akan mulai tahun 2015 ini. Di luar negeri, credit union ada yang harus bayar pajak, ada juga yang tidak. Tergantung regulasi dari masing-masing negara. Ketika Ranjeet masih menjadi CEO ACCU, yang digantikan Elenita V. San Roque, sering mengingatkan agar credit union mematuhi regulasi di negara masing-masing.

Sebagian besar credit union di Indonesia, seperti di Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara Tumur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi, maupun daerah lain pada umumnya sudah membayar pajak. Di Kalimantan Barat, khususnya, agak lain, dan baru mulai 2 – 3 tahun terakhir credit union mau membayar pajak setelah disadarkan oleh Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, M.H., bahwa prinsipnya semua warga negara dan lembaga usaha berbadan hukum wajib membayar pajak. “Sebagai warga negara yang baik, anggota CU maupun CUKB sebagai lembaga juga ingin membayar pajak. Karena itu mulai 2014 CUKB diaudit Akuntan Publik untuk persiapan membayar pajak,” jelas Seli seraya mengaku bahwa hal ini sebagai sesuatu yang luar biasa. CUKB kata dia, juga menjadi peserta BPJS Kesehatan. (dm)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *