Drs. Dakso Sartono, M.Pd : KKGJ Mart Brand Baru Koperasi Keluarga Guru Jakarta

Beberapa tahun terakhir, pemerintah, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mendorong koperasi di Indonesia untuk melakukan spin off. Spin off adalah pembagian organisasi ke berbagai sektor usaha; baik usaha jasa, usaha produksi, dan konsumsi. Kelembagaan koperasi ini membentuk badan hukum baru yang beroperasi di bawah sistem Group, Holding, atau Konsorsium.

Dengan demikian Koperasi dapat memiliki Perseroan Terbatas (PT) tetapi PT tidak akan pernah memiliki Koperasi, karena koperasi hanya dimiliki oleh anggota perorangan dan koperasi-koperasi primernya. Mereka tetap mengikuti jatidiri koperasi dan didalam jatidiri koperasi tidak pernah ada larangan untuk memperoleh profit atau keuntungan. Justru dengan adanya keuntungan dari pengelolaan anak perusahaan koperasi, usaha PT akan meningkatkan deviden – balas jasa bagi anggota dan dapat mempertahankan kehidupan koperasi itu sendiri dengan meningkatnya aset dan modal lembaga (Institusion Capital).

Spin off dilakukan untuk pengembangan koperasi secara transformatif untuk menyikapi kondisi internal dan menghadapi perubahan lingkungan eksternal yang dinamis. Sasaran dilaksanakannya spin off ini agar terwujudnya koperasi sebagai badan usaha yang sehat, tangguh, kuat dan mandiri, sekaligus gerakan ekonomi rakyat yang lebih berperan dalam perekonomian nasional. Selain itu, agar koperasi-koperasi memiliki ketahanan hidup yang tinggi dan mampu memberikan dampak berkoperasi yang besar kepada para anggotanya.

Di Indonesia sudah banyak koperasi yang mendirikan anak perusahaan dalam bentuk PT. Koperasi-koperasi fungsional, koperasi pegawai – karyawan, misalnya, Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) mendirikan PT. Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE). Kemudian Koperasi Tankers Pertamina mendirikan beberapa anak perusahaan antara lain; PT Tanker Mandiri, PT Tanker Samudera Mandiri, PT Perta Samudera, dan PT Samudera Perdana Maritim. Lalu, Kopetri juga punya 4 anak perusahan yaitu PT Kopetri Citra Abadi, PT Kopetri Tirta Mandiri, PT Duta Persada dan PT. Kopeteri Buana Mobil.

Credit Union (CU) disebut juga Koperasi Kredit (Kopdit) Keling Kumang adalah salah satu contoh koperasi berkualitas di Kalimantan Barat dengan aset Rp 1,2 triliun (2017) juga sudah menjadi holding (Kelling Kumang Grup) yang memiliki beberapa unit usaha dikelola anak usaha berbentuk koperasi. Di antaranya hotel (Koperasi Jasa Ladja), ritel dan mini market (Koperasi Konsumen Lima Dua), pertanian (Koperasi Tujuh-Tujuh), dan unit usaha lainnya seperti pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi).

Masih banyak koperasi yang mengembangkan usahanya dengan mendirikan anak perusahaan baru. Yang disarankan agar tidak dilakukan, koperasi menjalankan berbagai macam usaha, tetapi tidak fokus sehingga salah satu usahanya akan gagal atau dua-duanya gagal. Keuntungan Koperasi dibandingkan dengan PT yang dimiliki perorangan antara lain; PT Koperasi sudah memiliki pangsa pasar potensial yaitu para anggota, sedangkan PT perorangan harus berjuang untuk mencari pasar. Jika anggota koperasi dan jejaringnya semakin luas, maka,  PT Koperasi juga pangsa pasarnya semakin luas, sehingga tidak terlalu membutuhkan biaya iklan yang besar untuk meluaskan pangsa pasar.

Karena koperasi dimiliki oleh anggota perorangan – masyarakat, berarti anak perusahaan koperasi itu dimiliki oleh masyarakat dan hasilnya didistribusikan kembali kepada masyarakat – anggota. Sedangkan PT Perorangan hanya dimiliki beberapa orang, dan hasilnya juga hanya dinikmati oleh pemiliknya sendiri. Sehingga ada kans yang kaya – besar memangsa yang miskin – kecil. PT Koperasi lebih distributif baik hasil maupun masalah, sedangkan PT perseorang distribusinya kurang, dan hasil-hasilnya cendrung untuk memperkaya diri sendiri atau keluargannya.

Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ) yang berbadan hukum Koperasi Serba Usaha (KSU), kecuali usaha andalannya unit simpan pinjam (USP) juga mengelola beberapa usaha lain; SPBU, SPBE, Toko Koperasi, Kolam Renang, Agen Elpiji, Air Isi Ulang, Pertanian, juga punya sekolah favorit di daerah Bogor dan Karawang, Jawa Barat. Dalam wawancara khusus dengan Majalah UKM, Ketua Umum KKGJ, Drs. Dakso Sartono, M.Pd, mengatakan bahwa KKGJ akan terus menambah bidang usaha untuk meningkatkan profit – keuntungan guna meningkatkan kesejahteraan anggota melalui pembagian sisa hasil usaha (SHU), seperti; perdagangan umum, pelayanan ibadah umrah, penyediaan buku – sarana pendidikan, kerja sama dengan pengembang perumahan.

Kalau ditengarai, kata Dakso membuka perbincangan, lembaga ekonomi apalagi koperasi seperti KKGJ, ada empat siklus. Ini bedanya dengan lembaga ekonomi lainnya. Soal profit, semua kegiatan usaha ingin meraih keuntungan. Yang mungkin konsfyus, kepada siapa alamat profit tersebut. Sama-sama profit, SHU sudah jelas, dan tidak nyasar yaitu kepada anggota. Karena anggota koperasi adalah stakeholder – pemilik, sekaligus pelanggan atau konsumen. Menurut Dakso, SHU tidak bisa bergerak signifikan, maju ke depan dengan volume besar jika anggota koperasi tidak menjadi konsumen internal. Di antaranya pinjam uang di koperasi, belanja di toko koperasi.

“Bagaimana mungkin koperasi akan dapat SHU jika anggota tidak ada semangat mengkonsumsi dagangan – usaha koperasi sendiri. Jualan barang yang sama, tetapi belanja di tempat lain. Contoh, di KKGJ ada produk pinjaman, namun pinjamnya ke bank. Maka, bank yang akan diuntungkan. Jika itu terjadi, artinya, menjadi anggota koperasi sifatnya formalistik belaka. Akibatnya, kesejahteraan anggota tidak akan naik,” tegas Dakso. Kebijakan pengurus KKGJ, lanjut dia, menggerakkan semangat dan daya konsumsi anggota terhadap produk-produk KKGJ.

Agar anggota punya spirit, punya semangat dan fanatisme berkoperasi, senantiasa – dari waktu ke waktu perlu diingatkan, disadarkan bahwa; Tidak mungkin ada SHU bila tidak ada transaksi. Tidak akan ada transaksi jika tidak punya rasa memiliki. Kalau anggota koperasi sudah punya spirit, punya semangat, loyalitas tinggi dan fanatisme koperasi; “Ini lembaga saya, ini koperasi saya harus dibela,” dapat dipastikan koperasi itu akan tumbuh dan berkembang menjadi besar. “Fanatisme itu suatu keharusan. Apa pun, kalau tidak punya fanatisme hambar, tidak punya greged. Karena power-nya ada di situ – fanatisme,” tegas Dakso.

Bila sudah punya rasa memiliki, rasa cinta, dan punya semangat transaksional untuk memakai produk dalam negeri, pasti akan berimbas. Meski dengan harga sedikit lebih mahal, misalnya, di toko lain harganya Rp 10.000,- di toko koperasi Rp 10.500,- anggota akan tetap bertransaksi di toko koperasi. Apalagi jika harga di koperasi sama, atau bahkan lebih murah. Sebab pada akhirnya, jika koperasi untung, keuntungannya dibagikan kepada anggota dalam bentuk SHU. Untuk membangun rasa memiliki, rasa cinta, sekaligus menjadi kebanggaan, KKGJ yang telah bertahun-tahun memiliki toko koperasi bekerja sama dengan Alfamart, kini mempersiapkan brand baru KKGJ Mart. Branded, menurut Dakso, merupakan terjemahan dari kecintaan dan rasa kebanggaan. Ini merupakan keuntungan immaterial.

Membangun branded sebauh lembaga ekonomi, termasuk koperasi, haruslah punya karakter. Walau karakter itu, menurut Dakso, sebenarnya titik kekuatannya tidak begitu kelihatan, namun mampu memberikan semangat. Contoh, yang namanya Indo adalah sebagai imbrio dari perhimpunan ekonomi; apakah itu Indo Food, Indomaret, Indo Grosir, Indomilk, Indomie, Indo Semen dan entah Indo apalagi, akhirnya menjadi kekuatan ekonomi besar dan menguasai pasar. Membangun holding dari berbagai kegiatan usaha seperti diharapkan pemerintah, melakukan spint off, bagi KKGJ tidak susah karena hubungan intinya langsung dengan anggota, bukan dengan floating massa – masa mengambang.

Jika mau menggunakan karakter lembaga – Branded KKGJ, biar kelihatan warnanya dan memiliki ciri khas sendiri, misalnya; KKGJ Mart, Perumahan KKGJ, Perjalanan Umrah KKGJ, Agen Gas KKGJ, dan sebagainya, bukan hal yang susah. Namun, kata Dakso, kalau sudah sampai pada tingkat itu harus lebih kuat sosialisasi kepada anggota agar mereka bisa memahami, sehingga apa yang menjadi keinginan  lembaga mereka bisa memerimanya. Juga harus punya tim yang harmonis.

Untuk membuat koperasi menjadi besar, dan mau tidak mau mesti menuju ke sana, kata Dakso, harus berani melakukan terobosan-terobosan, out of the box – keluar dari zona nyaman. Seseorang yang mau menerima kepercayaan menjadi orang pertama, jangan mengaku sebagai pimpinan kalau tidak berani mengambil keputusan. Sesulit apa pun keputusan itu, dan sebesar apa pun dampak dari keputusan tersebut harus menjadi tanggung jawabnya. Bahwa ada resiko, itulah ketua – pimpinan. Untuk meminimalisir resiko yang mungkin akan muncul, harus dihitung, dikalkulasi secara cermat. “Saya mengajak teman-teman pengurus, berani pun tidak asal berani, juga harus kolektif kelegial,” tegas Dakso.

KKGJ yang anggotanya terdiri dari guru-guru dan pegawai Sekolah Dasar (SD) Negeri di Jakarta, tahun 2017 memiliki aset Rp 224 miliar termasuk salah satu koperasi besar di Indonesia. Namun Dakso mengaku merasa belum puas. Anggota KKGJ yang lebih dari 15000 orang itu merupakan pangsa pasar yang sangat besar. Jika semua anggota setiap belanja kebutuhan pokok di toko koperasi rata-rata Rp 2 juta, sedikitnya sudah terjadi nilai transaksi sekitar Rp 30 miliar. Bila koperasi ambil keuntungan 5% saja dari omzet, menimal sudah ada keuntungan Rp 1,5 miliar per bulan atau Rp 18 miliar per tahun. Ini baru dari satu unit usaha, belum dari usaha; USP, SPBU, SPBE, Agen Gas Elpiji dan lain-lain.

Sebagai orang yang dipercaya anggota menjadi orang pertama di KKGJ, kata Dakso, harus punya keberanian. Bahwa ke depan mungkin akan mengalami perjalanan yang berliku sudah disadari, harus dihadapi, tidak perlu takut, dan tidak boleh cengeng. Keberanian berfikir dan melakukan langkah ke depan itu penting. Jika selalu dilingkupi kekawatiran, kita tidak akan maju-maju. Memang harus ada survei, ada hitungan dan kalkulasi yang matang. Andai di setiap komisariat – kecamatan kelak ada keinginan membuka KKGJ Mart, akan diapresiasi – didorong untuk mencari lahan yang strategis, dan mereka yang akan diberi kesempatan mengelolanya. Sehingga upaya KKGJ ini akan lebih masif.

Upaya yang dilakukan, untuk membidik fanatisme anggota diantaranya adalah selebrasi keinginan kerja sama pelayanan ritel. Kerja sama yang selama ini berjalan sudah bagus. Hanya saja, kata Dakso, ingin lebih, agar ada suatu keuntungan secara immaterial yang didapatkan. Kerja sama model franchise dengan perusahaan yang punya nama besar seperti Alfamart, mengikuti saja sudah dapat keuntungan. Tetapi hanya keuntungan semata, tidak menang dalam membangun fanatisme anggota. “Fanatisme itu akan menimbulkan sikap patriotik. Jika sudah memiliki brand sendiri, KKGJ Mart, anggota akan bangga dan tidak “disersi” belanja ke tempat lain. Kalau sampai belanja ke tempat lain, itu artinya tidak mencintai lembaganya sendiri, KKGJ,” tegas Dakso.

Dakso yang memiliki SOP diri pola kepemimpinan secara button up – dari bawah ke atas, bukan top down – dari atas ke bawah, harapannya semua anggota punya rasa memiliki KKGJ. Menurut Dakso yang pernah menjadi aktivis di organisasi kepemudaan (OKP), top down itu rapuh. Kuat, tetapi hanya di tataran elite organisasi. Akhiranya akan sumir, tidak jelas. Padahal sebuah organisasi apa pun, akan kokoh jika dibangun dari grass root – akar rumput.

Karena SOP diri membangun dari bawah, Dakso mengaku, tidak berani gegabah atau ceroboh menyampaikan ide-idenya dalam pertemuan masal ketika kelompok kecil belum kuat. Yang dikhawatirkan ada penolakan. Karenanya, ketika punya gagasan mengembangkan usaha-usaha KKGJ, ide itu didiskusikan dalam forum kecil secara informal. Tujuannya, tukar tambah fikiran dan hitung-hitungan plus minusnya. Kalau ada gagasan lebih visioner, hitungannya lebih akurat, lebih tajam, lebih menguntungkan bagi kemajuan KKGJ dan kesejahteraan anggota, itulah yang dipilih. Setelah semua mengkristal, diskusi dinaikan ke skala lebih besar dan formal, yaitu pleno pengurus. Hasil pleno kemudian disampaikan kepada penasehat dan pembina, tetapi sifatnya konsultatif. “Jadi, semua stakeholders utama dilibatkan,” jelas Dakso.

Setelah diplenokan di tingkat pengurus, dikonsultasikan dengan Pembina dan penasehat, kuncinya dipegang. Berarti aman. Namun sebagai pucuk pimpinan di KKGJ Dakso masih belum berani bicara dalam forum konstitusi tertinggi, yaitu rapat anggota (RA). Di KKGJ ada dua forum, rapat anggota tahunan (RAT) dan rapat anggota khusus (RAK). Setelah didukung oleh semua kekuatan yang sudah dikalkulasi sebelumnya, termasuk juga di antaranya secara teknis dan kinerja calon mitra sudah paparan, baru kemudian disosialisasikan kepada anggota melalui pertemuan-pertemuan tingkat komisariat – kecamatan dengan format Pra RAK.

Langkah itu ditempuh agar semua memahami sebelum dibahas dalam Pleno Paripurna RAK. RAK KKGJ untuk program kerja tahun buku 2019 yang dihadiri oleh seluh 43 komisariat sebagai representasi dari 15.000-an lebih anggota, dilaksanakan pada November 2018, di Auditorium Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta. Sidang pleno paripurna meneyetujui dan mengesahkan rancangan anggaran pendapatan dan belanja, program kerja tahun 2019. Terkait KKGJ Mart, kata Dakso, yang diprioritaskan saat ini, menata persiapan beberapa pilot proyek sebagai percontohan. Soal sumber daya manusia (SDM) dan dukungan kerja sama dari hulu – distributor sudah siap. Yang akan mendukung secara finansialpun sudah siap.

Semua pihak yang akan terlibat dalam program baru KKGJ Mart sudah melalukan paparan kinerjanya, itu yang membuat Dakso yakin dan optimis. Apalagi anggota mendesak minta dipercepat. “Ini adalah poin kepercayaan dari anggota. Namun, agar tidak terjadi kesalahan, dan akhirnya merugikan lembaga, saya tidak mau coba-coba. Semua dipersiapkan secara matang,” tegas Dakso, seraya menambahkan bahwa koperasi adalah lembaga ekonomi yang lebih menguntungkan. Mana ada lembaga usaha setiap tahun bagi-bagi keuntungan – SHU, bagi-bagi natura, uang transport, rapat dan sebagainya. Memang telah menjadi tradisi puluhan tahun, setiap jelang lebaran KKGJ selalu membagi beras, daging, dan uang kecap kepada semua anggota.

Rencana grand lounching KKGJ Mart, kata Dakso, sedang dicari moment yang sangat menomental, dan betul-betul memiliki nilai tinggi sehingga gema gaungnya membahana ke bergai penjuru, misalnya pas Hari Ulang Tahun KKGJ, Hari Guru atau Hari Pendidikan Nasional (Hadiknas), 2 Mei. “Harus dicari sedetail itu agar resonasinya betul-betul besar di radius tugas kedinasan sebagai kado termanis dunia pendidikan. KKGJ ini kan koperasinya guru-guru biar menjadi viral. Masifnya karena didukung oleh momentum. Kalau hanya biasa-biasa saja, momentumnya tidak dapat, akan hambar. Biasanya momentum tertentu itu harus banyak diwarnai dengan terobosan-terobosan baru, dan berbagai kegiatan,” katanya penuh semangat.

Guna mengapai sukses, harus didukung sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dan profesional. KKGJ memiliki 100-an karyawan – manajemen di kantor pusat, belum lagi puluhan lainnya di wilayah komisariat. Dari sisi pengurus, tidak ada istilah kader cangkok, tiba-tiba muncul di pengurus harian, misalnya. Semua melalui proses panjang, teruji dan track record-nya jelas. Seorang pengurus belum cukup hanya mengandalkan skill dan kapabelitas. Meskipun dia pintar memenej, punya pengetahuan luas, mampu mengelola lembaga ekonomi koperasi, tetapi bila soal kolaborasi – kerja sama dengan Pembina wilayah tidak cocok, kata Dakso, juga tidak bisa. Dia harus menjadi subordinat kedinasan di tingkat wilayah kecamatan. Yang terbaik, dia punya spirit, mampu berkolaborasi dengan pimpinan di lingkungannya.

Karena itu, usulan calon pengurus perlu ada legalisasi – restu dari pembina di kecamatan. Tujuannya agar kondusif, tidak menjadi tokoh kontraversi. “Saya sering ketemua orang yang hanya mengandalkan kapabelitas, tetapi tidak peduli lingkungan. Kepada pembina, siapa pun dia, harus punya rasa hormat, karena posisinya sebagai suprastruktur yang di-SK-kan. Itu yang dibutuhkan, sehingga ketika bermaneuver atau pembinaan di wilayah tersebut mudah diterima secara horizontal maupun vertical,” jelasnya. Dalam tim kepengurusan saat ini, Dakso mengaku cukup puas, karena dalam 100 hari pertama sudah berani membuat terobasan Tri Usber – 3 usaha baru yang memiliki misi sistemik, dan boleh dibilang misi paripurna untuk menempatkan posisi KKGJ dalam tataran yang mungkin harus dilakukan komunikasi dengan kedinasan.

Salah satu dari Tri Usber yaitu menyiapkan buku-buku atau sarana untuk Dinas Pendidikan. Kerja sama secara jelas, bukan hanya untuk profit – mencari keuntungan semata, juga sumbangsih KKGJ. Rencananya, KKGJ akan membentuk koperasi mart kecil-kecil masuk di sekolah-sekolah dalam bentuk Kantin Sehat. Gagasan itu diilhami dari melihat kenyataan kadang-kadang kantin sekolah kurang baik, juga banyak orang jualan di depan sekolah, dan anak-anak jajan dari sela-sela pagar karena pintu gerbangnya dikunci. Memang, sekolah harus steriil, sementara yang jualan tidak jelas.

“Tidak ada niat mengusir, namun jika mau mengontrol langsung pedagang itu kurang nyaman. Terkait kesehatan, misalnya, apakah tempat makanannya bersih, barangnya dicuci atau tidak, airnya dimasak atau tidak, warna-warni makanan itu pakai zat pewarna atau tidak. Semua tidak tahu, tetapi kalau mau masuk ke sana, ngecek, terlalu jauh. Karenanya akan lebih baik jika internal sekolah menyiapkan kantin sehat, bekerja sama dengan BPOM untuk menyeleksi makanan dan minuman, sekaligus pembinaan. Manfaat lain, ruang-ruang kecil yang ada di sekolah bisa terpakai,” urai Dakso.

Program yang tak kalah menarik, lanjut dia, menyiapkan investasi bagi anggota. Karena dalam beberapa tahun terakhir transaksi anggota untuk konsumtif mulai menurun, misalnya, pinjam uang di koperasi untuk beli motor, AC, TV dan sebagainya tidak seperti 5 – 10 tahun silam. Akibatnya idle money – uang banyak mengendap. Dulu, banyak menolak – menunda pelayanan anggota yang mau pinjam sampai 1 – 2 bulan, lantaran uangnya tidak ada. Tetapi sekarang, uang berlebih, banyak yang diparkir dan ditawar-tawarkan kepada anggota, siapa yang mau pinjam. Ini indikasi bahwa anggota sudah sejahtera. Fakta tidak bisa dipingkiri bahwa Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan telah memberikan kesejahteraan yang cukup.

Dengan meningkatnya kesejahteraan, pengurus mengarahkan anggota untuk tidak boros, tidak konsumtif apa pun dibeli. Mereka didorong berinvestasi perumahan yang sudah disiapkan di Lipo Cikarang, Jawa Barat. KKGJ telah menjalin kerja sama dengan pengembang, memfasilitasi – menyiapkan sekitar 500 – 1000 unit rumah. Proyek investasi besar ini memang ingin menyasar guru-guru yang kesejahteraannya sudah cukup. Namanya investasi, andai setahun kemudian rumah itu mau dijual karena harganya sudah tinggi, menguntungkan tidak menjadi persoalan. Dakso mencontohkan, tahun 1990-an beli rumah di Perumnas harganya Rp 24 juta. Sekarang kalau dijual bisa lebih dari Rp 500 juta. Kenaikan nilai tanah dan rumah sangat sifnifikan.

Salah satu tujuan mendorong anggota berinvestasi perumahan agar mereka walau sudah purna tugas – pensiun tetap menjadi anggota KKGJ. Untuk itu, regulasi lembaga juga diubah. Dulu, pensiun otomatis keluar dari KKGJ. Sekarang, jika tidak mengajukan keluar dari koperasi akan tetap menjadi anggota. Sebelumnya, KKGJ juga pernah punya program kepemilikan rumah bagi anggota. Hanya saja kondisi saat itu anggota belum cukup sejahtera, belum punya tempat tinggal sendiri, sehingga beli rumah dikatagorikan konsumtif untuk kebutuhan skunder. “Sekarang, mereka cukup sejahtera, semua punya rumah sendiri,” jelas Dakso.

Meskipun program investasi perumahan mendapat respon positif dari anggota, namun untuk sementara waktu, setidaknya tahun 2019 ini akan berkonsentrasi dulu menangani pengadaan buku dan fasilitas pendidikan, serta melaksanakan pelayanan ibadah umrah ke tanah suci. Pelayanan ibadah umrah ke tanah suci adalah usaha yang melengkapi KKGJ agar anggota yang usianya sudah cukup mapan, tidak dibilang tua, perlu diingat untuk hal yang baik-baik. Karena sudah cukup sejahtera, keperluan lain sudah terpenuhi, perlu sama-sama bersyukur dengan cara melaksanakan ibadah umrah ke tanah suci yang memang dianjurkan oleh ajaran agama islam.

Indikasi dan fakta tidak bisa ditolak. Sepekan setelah diinformasikan, anggota yang mendaftar lebih dari 50 orang. Yang membanggakan, saat ini sudah terdaftar untuk 4 kali pemberangkatan, masing-masing 200 peserta. Hal ini belum pernah terjadi, karena dulu masih bingung, mau umrah uangnya dari mana. “Sekarang, yang bayar tunai saja lebih dari 60% dari total peserta pertama. Artinya mereka sudah mampu swadaya untuk membiayai ibadah tersebut. Jadual rutin pemberangkatan umrah tiap smester – 6 bulan sekali. Dengan umrah bersama-sama satu pesawat, kebersamaan itu akan benar-benar terasa. Jadi, berkoperasi bukan semata-mata usaha bersama, tetapi juga ibadah bersama.

Program keempat, yang boleh dibilang membonceng, tetapi mendapat sambutan hangat dari anggota yaitu KKGJ Mart. Keempat program tersebut, kata Dakso, akan dibungkus dalam satu layanan yang sifatnya up-date teknologi. Biar menjadi lembaga ekonomi milenial, KKGJ pun harus mengikuti dinamika perkembangan teknologi. Cepat tanggap pada teknologi akan memudahkan anggota untuk bisa cepat melakukan transaksional secara professional, tanpa harus datang ke kantor, balik lagi karena kurang lengkap berkasnya. KKGJ tengah menyiapkan aplikasi agar anggota mudah bertransaksi, bisa mengetahui saldo simpanan, kewajiban membayar angsuran utang. Anggota mau pinjam pun bisa mengajukan lewat aplikasi, tidak harus datang ke kantor, karena kantornya dalam genggaman masing-masing. Bahkan semua perdagangan umum, lelang, beli barang, beli motor, bisa lewat HP Android. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *