Drs. Herkulanus Cale : CU Stella Maris Ingin Naik ke Papan Atas

Credit Union (CU) telah merubah hidup banyak orang, dan memberikan harapan kehidupan yang lebih baik dari kondisi sulit yang dihadapi dalam kehidupan nyata. Juga telah menuntun dan memastikan, terutama anggotanya untuk menuju kepada kesejahteraan sejati. Mencapai satu demi satu impian dari keluarga, dan masyarakat. Karena itu mereka akan mengatakan; “Credit Union sungguh berguna.”

Koperasi Simpan Pinjam (KSP) CU Stella Maris salah satu CU di Kalimantan Barat (Kalbar) yang pada 12 Februari 2019 silam memperingati hari kelahirannya ke-24, terus berusaha memberikan manfaat bagi kehidupan dan kesejahtreraan masyarakat. Dilahirkan di Paroki Stella Maris pada 1 Februari 1995, ibarat seorang gadis remaja, usia 24 tahun sedang ranum-ranumnya, dan suka bersolek untuk memikat perjaka mapan siap menikah. Adalah Pastor Paskalis Soedirjo OFM Cap, pastor paroki yang melontarkan ide mendirikan CU di lingkungan Paroki Stella Maris.

Salah satu alasan perlu dibentuk CU di lingkungan Paroki Stella Maris lantaran sering terjadi ada umat kesulitan mengurus penguburan jika ada yang meninggal dunia. Kematian itu rahasia Tuhan. Orang tidak bisa memperkirakan kematiannya, kecuali bunuh diri. Tetapi semua orang akan mengalami kematian. Karena tak direncanakan, banyak umat yang kesulitan biaya mengurus penguburan keluarga.

CU Stella Maris merupakan CU yang khas. Didirikan dan berbasis Gereja Katolik, khususnya Paroki Siantan, namun dalam perjalanannya diterima semua kalangan dari beragam etnis dan agama yang ada di wilayah Pontianak Utara. Keunikan lain, satu-satunya CU yang melayani anggotanya pada hari minggu. CU Stella Maris menjadi contoh untuk gerakan rekonsiliasi sosial. Karena kontribusi dalam memperbaiki kehidupan sosial ekonomi anggota sangat besar, CU Stella Maris dapat penghargaan sebagai CU berprestasi dari Walikota Pontianak dan Gubernur Kalbar.

Awalnya, karena fokus pada umat Paroki, perkembangan CU Stella Maris boleh dibilang jalanya sangat lambat, bahkan tersendat. Terlebih lagi karena dikelola secara sambilan, sementara umat sendiri belum percaya. Pengelolanya, baik pengurus maupun staf, bekerja secara sukarela, tanpa gaji. Pelayanan hanya dilaksanakan pada hari Minggu setelah misa I dan II dengan 3 orang tenaga volunteer – sukarela, yaitu Nelly Gunawaty, Sri Djuhariningsih, dan Maria Sukarni. Mereka dimentori oleh Serafina Serafin yang pada waktu itu bekerja di CU Khatulistiwa Bakti.

Umat yang pernah memperoleh bantuan pun tidak serta merta tertarik menjadi anggota. Selama 3 tahun (1997) jumlah anggota baru mencapai 179 orang dan aset baru Rp 67.631.575,- Setelah lama terseok-seok, fase perkembangan terlihat cukup signifikan mulai tahun 2002. Saat itu disadari bahwa misi credit union bukan hanya untuk kelompok – golongan tertentu, tetapi untuk semua orang yang ingin berkendak baik, membangun kebersamaan, mengatasi kesulitan bersama, saling tolong menolong dan membangun kesejehateraan bersama. Kalau yang berhak menjadi anggota hanya umat Katolik saja berarti sudah melanggar hak umat lain menjadi anggota, terlebih mengingkari cita-cita misi mulia credit union.

Kebijakan membuka kesempatan bagi masyarakat luas tanpa melihat agama, suku dan golongan pernah ada pro kontra. Terutama dari umat yang sangat fanatik. Ketika kantor masih di kompleks gereja, sementara anggota sudah mulai ada yang dari umat Muslim, ada pemandangan yang kelihatan aneh, pakai jilbab tetapi ke gereja. Padahal mereka hanya bertransaksi dengan CU, menabung atau pinjam uang. Namun lama-lama makin banyak masyarakat yang tahu, dan makin banyak orang berjilbab di lingkungan gereja, menjadi biasa saja.

Setelah pindah dari kompleks gereja, dan berhasil membangun gedung kantor di lokasi strategis di Jln. Gusti Situt Mahmud No. 80, Siantan, Pontianak, perkembangan CU Stella Maris melaju pesat. Dari jumlah anggota, misalnya, setiap bulan rata-rata di atas 100 anggota baru masuk. Waktu masih di kompleks gereja pertambahan jumlah anggota paling hanya 20 – 30 orang per bulan. Dilaporkan oleh Ketua CU Stella Maris Drs. Herkulanus Cale pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2018 yang dilaksanakan di Gedung Bina Remaja Sekolah Dasar Kanisius, Siantan, Pontianak, Kalbar, 17 Februari 2019, anggota CU Stella Maris kini 9.913 orang dan memiliki aset sebesar Rp 130.796.226.987,-

Untuk melakukan pelayanan operasional harian di 4 Tempat Pelayanan (TP), 2 TP di dalam kota, yaitu TP Siantan dan TP Wonobaru, 2 TP di luar kota TP Jungkat dan TP Segodong. Untuk melayani anggota yang hampir mencapai 10.000 orang CU Stella Maris mengandalkan 27 orang tenaga staf manajemen.

Walau jumlah aset dan anggota cukup besar, namun dalam jejaring Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, CU Stella Maris sering disebut sebagai CU papan tengah. Kini seluruh pengurus, pengawas, dan manajemen didukung seluruh anggota terus berupaya untuk bisa berada di papan atas. Tentu tidak mudah, karena yang sudah berada di atas pun akan terus kerja keras.

Perkembangan yang dialami CU Stella Maris saat ini, kata Herkulanus, tentu menggembirakan dan membanggakan bagi semua aktivis dan anggota yang telah berkontribusi berjuang untuk membesarkan gerakan. Namun aset yang bertumbuh semakin besar dan jumlah anggota yang semakin meningkat, juga menjadi tantangan bagi seluruh aktivis CU Stella Maris untuk ikut berperan menjaga, memelihara dan menumbuhkembangkan agar CU Stella Maris tetap sehat dan berkelanjutan.

Maka dibuat strategi untuk mewujudkan visinya sebagai lembaga pemberdayaan berbasis komunitas. Pertama, memperbaiki sistem rekrutmen anggota, dengan lebih memfokuskan penerimaan anggota pada kelompok basis atau komunitas lokal dengan prioritas kepada kaum petani, ibu rumah tangga, pegawai kecil, dan masyarakat marjinal lainnya. Mereka yang direkrut tidak langsung menjadi anggota, tetapi terlebih dahulu harus mengikuti pendidikan dasar selama 16 jam sebelum diterima secara resmi sebagai anggota.

Kedua, wilayah pengembangan ditata dengan baik, berbasis komunitas. Karena itu wilayah pengembangan yang dipilih adalah wilayah-wilayah yang berada dalam jangkauan kerja staf manajemen. Yang dipilih hanya beberapa wilayah, terlebih dulu di Kalbar sebagai basis pengembangan, dan tidak mengembangkannya ke tempat-tempat di luar jangkauan pelayanan.

Ketiga, CU semakin aktif menggiatkan pendampingan pelaku usaha kecil di pasar dengan program CUMI, kelompok petani padi, kelompok petani sayur, kelompok peternak dan kelompok-kelompok binaan lainnya yang pada saat ini sedang dibentuk, dan diperkuat. CU SM mengajak anggotanya untuk back to basic, kembali ke muasal Credit Union, pemberdayaan dalam kelompok komunitas.

Dikembangkannya sistem kelompok, karena awal mula Credit Union itu berkelompok. Mereka saling mengenal, kalau mau pinjam minta izin dulu sama yang punya duit. Kalau tidak diangsur mau pinjam lagi tidak boleh. Di internal CU mudah, terukur dan terkontrol. Nilai-nilai yang dibangun dan dipraktikkan sangat manusiawi, yaitu kejujuran, kepercayaan, kerja sama, solidaritas dan disiplin. Kelompok kecil dengan 5 – 10 orang anggota lebih mudah kerja sama dan mengembangkan potensi mereka. Dari rentang kontrol, CU akan dipermudah oleh pengurus kelompok yang datang membawa angsuran anggota kelompok ke CU.

Pengembangan lembaga ini tidak mudah, banyak tantangan yang dihadapi, dan banyak fakta yang terjadi di luar harapan yang dijabarkan dalam business plan – program kerja. Dalam dinamika pengembangan itu, pasti ada suka dukanya. Kalau kita frustrasi, kecewa, misalnya, saat anggota menerima pinjaman mengangguk-angguk, tetapi ketika pembayar kembali pinjamannya berbeda, dia menggeleng, belum punya uang, atau berbagai alasan lain. Membangun masyarakat untuk menuju keadaan yang lebih baik, memang tidak mudah. Orang yang mau terus menerus, memotivasi masyarakat, memotivasi teman-temannya menjadi anggota yang lebih baik, dan terus lebih baik dari tahun ke tahun perlu mendapat apresiasi.

Credit Union yang dibangun, bukan jalan kapitalis. Meski pun dalam membangun impian anggota itu impian di bidang financial – keuangan tetapi tujuan keuangan bukan segalanya, dan tidak berlomba-lomba aset besar saja, tetapi orang yang memiliki aset besar itu tidak siap secara mentalitas dan spiritual. Credit Union membangun mereka menjadi seimbang. Credit Union yang dikembangkan, juga bukan bersifat – paham sosialis, tetapi lebih populis humanis. Bagi gerakan Credit Union, orang harus menjadi obyek terpenting yang diberdayakan dengan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kebaikan bersama. Credit Union yang dikembangkan sungguh-sungguh koperasi yang hakiki, genuine – sejati, bukan mirip koperasi.

CU Stella Maris juga melihat jauh ke depan bagaimana membangun dirinya dengan semangat dan kekuatan prima untuk menuju masa depan yang lebih baik, seperti tercermin dalam tema RAT tahun buku 2018; Paradigma dan Geliat CU Stella Maris Menghadapi Era Milenial. Dipilihnya tema tersebut guna menyesuaikan era sekarang di mana generasi milenial punya peranan sangat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Untuk memberikan pelayanan prima kepada anggota, CU Stella Maris juga telah menerapkan teknologi kekinian sehingga untuk bertransaksi dengan CU para anggota bisa menggunakan HP Android.

Visi CU Stella Maris adalah; Menjadi Credit Union Berbasis Komunitas yang Sehat, Terpercaya dan Berkelanjutan. Sedangkan misinya; Meningkatkan Kualitas Hidup Anggota Melalui Pelayanan Keuangan dan Pemberdayaan. Misi ini sejalan dengan misi Credit Union secara universal yakni; To help members to improve quality of their life by providing access to quality financial products and service and by strengthening their moral quality – Membantu anggota meningkatkan kualitas hidupnya dengan menyediakan produk keuangan dan pelayanan yang berkualitas dan memperkuat nilai-nilai moral mereka.

Misi universal ini mengandung misi ekonomi – economic mission; Menjadi lembaga keuangan yang sehat, aman dan dipercaya milik para anggota dan mensejahterakan, dan msisi sosial – social mission yakni Menolong para anggotanya meningkatkan kualitas hidup layak, bermartabat, dan berbahagia.

Dalam mengemban misi ekonomi, CU Stella Maris menawarkan 9 jenis produk simpanan dan 9 jenis produk pinjaman yang berorientasi pada kebutuhan anggota pada setiap tahap kehidupan, di antaranya adalah produk berpadanan. Simpanan anggota dalam berbagai produk tersebut mencapai Rp 111.858.613.781,- sedangkan peredaran uang melalui produk-produk pinjaman kepada anggota mencapai Rp 88.950.643.050,- atau 67,46% dari total aset, dengan tingkat distribusi baru berada pada posisi 43,26%. Dari posisi ini penyerapan dana dalam bentuk piutang anggota belum ideal, karena menurut analisis PEARLS seharusnya antara 70% – 80% dan distribusi pinjaman seharusnya minimal 60%.

Balas jasa simpanan dan pinjaman sebetulnya cukup kompetitif, namun persoalan lainnya adalah bahwa pinjaman beredar masih didominasi oleh sumber dana mahal atau produk simpanan dengan biaya mahal. Ini adalah akibat dari belum membaiknya komposisi simpanan pada 9 produk yang ada. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan terjadinya inefesiensi beban usaha yang tentu akan berdampak pada selisi hasil usaha.

Masalah krusial lainnya yang turut serta menggerus rendahnya selisih hasil usaha adalah bahwa belum semua piutang yang beredar kembali sesuai dengan akad perjanjian. Posisi kredit lalai per 31 Desember 2018 menempati posisi 9,88%. Walaupun masih berada pada posisi satu digit, namun sudah lumayan jauh dari posisi ideal yaitu sekitar 5% menurut analisis PEARLS.

Tentang terjadinya kredit macet setelah dilakukan penelitian dan kajian, diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kredit macet pada CU Stella Maris disebabkan karena penggunaan kredit untuk kegiatan konsumtif, melakukan pengembalian kredit jangka menengah. Sebagian besar anggota peminjam bekerja sebagai buruh, memiliki tanggungan 3-4 orang di dalam keluarga, berpendidikan tingkat SMA serta tidak memiliki pekerjaan sampingan.

Sementara dalam mengembangkan misi sosial, CU Stella Maris terus menerus berproses untuk menciptakan nilai-nilai bagi para anggota. Pertama-tama dengan memaksimalkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan pelayanan kepada anggota. CU Stella Maris sudah sejak lama menggunakan program komputuerisasi akuntansi yang disebut program Sikopdit Cs, juga aplikasi SIMO milik Puskopdit BKCU Kalimantan, kemudian berinteraksi dengan menggunakan media sosial seperti; email, SMS, WA group, Wi-fi internet dan fasebook. Yang sedang dalam proses dan akan segera dilaunchingkan adalah  PT. Akselarasa  Raksa Optima (ARO) yang terkoneksi dengan Simpanan Talenta untuk keperluan payment para anggota seperti token listrik, pulsa dan PDAM.

Selain memanfaatkan kemajuan teknologi, pengurus CU Stella Maris juga mengajak seluruh anggota seluruh anggota bahwa keberlanjutan CU adalah tanggung jawab bersama. Pemilik CU Stella Maris adalah anggota CU Stella Maris itu sendiri. Kita mesti menghayati dan menghidupi semangat the Credit Union 3 in 1; saya anggota – member, saya pemimpin – leader, dan saya sukarelawan – volunteer. Oleh sebab itu CU memberi ruang kepada para anggota untuk ambil bagian dalam setiap kegiatan yang diprogramkan dan upaya pengorganisasian anggota baik dalam kelompok usaha binaan maupun dalam komunitas basis.

Selanjutnya bagaimana CU Stella Maris  menunjukkan unsur pembeda. Seperti misalnya, di samping menawarkan sejumlah produk simpanan dan pinjaman, CU Stella Maris juga mengajak seluruh anggota untuk mengamalkan semangat solidaritas dalam bentuk solidaritas duka anggota, solidaritas kesehatan, solidaritas musibah kebakaran, dan santunan solidaritas (TUNAS) serta perlindungan piutang (LINTANG).

CU tidak dilihat sebagai lembaga yang hanya mengelola simpan – pinjam semata. Mesti mampu mengubah paradigma dari sebagai lembaga keuangan menjadi lembaga pemberdayaan. CU menjadi tempat intermediasi, bukan tempat investasi. Menabung di CU bukan untuk investasi yang hanya menunggu balas jasa. Menyimpan di CU upaya menciptakan simpanan untuk masa depan dan menghimpun modal usaha yang kemudian dipinjamkan untuk memenuhi kebutuhan dasar, pengadaan aset tetap, menciptakan sumber pendapatan baru dengan menciptakan usaha-usaha produktif. Sebagai anggota CU, harus menjadi penabung yang baik dan peminjam yang baik pula.

Perubahan paradigma, kata Herkulanus, hanya bisa terjadi melalui pendidikan, pelatihan dan pemberdayaan secara terus menerus. Pendidikan di CU tidak hanya pendidikan dasar – wajib, namun ada pendidikan dan pelatihan lain seperti; pendidikan literasi keuangan (FL), pendidikan kewirausahaan, pendidikan kelompok binaan dan sebagainya. Dalam rangka mendorong usaha-usaha produktif, dibentuk kelompok usaha binaan yang terdiri dari; komunitas ternak lele sangkuriang, usaha ternak babi, ikan asin, ternak ayam, dan usaha toko sembako. CU juga terus menerus memotivasi para anggota untuk melirik peluang usaha yang dapat dikembangkan di wilayah masing-masing.

Untuk melakukan pengorganisasian, pendampingan dan pemberdayaan dalam mengelola usaha, tentu perlu pelibatan banyak orang dengan semangat voluntirisme di mana aktivis CU harus menjadi teladan. Semua gagasan dan upaya-upaya yang dilakukan CU Stella Maris baik yang terkait dengan misis ekonomi maupun yang terkait dengan misi sosial, dituangkan dalam tema RAT tahun buku 2018.

“Jadi, RAT inilah wadahnya pengurus mengajak seluruh anggota mengkritisi sejauh mana implementasi program kerja yang terkait dengan usaha, diklat, pendampingan dan pemberdayaan sepanjang tahun buku 2018. Diharapkan agar forum tertinggi ini dapat dipergunakan sebagai momentum untuk berdiskusi, memberi masukan-masukan guna melakukan perubahan menyongsong masa depan yang lebih berkualitas bersama Credit Union Stella Maris,” urai Herkulanus Cale. (dm – adt)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *