Ekonomi Kreatif Menyiapkan Penggerak Perekonomian

Peran generasi muda kian mencuat. Generasi melinial akan menjadi penentu masa depan Indonesia Emas 2045, saat kemerdekaan Indonesia genap berusia 100 tahun. Perilaku mereka yang khas mengubah landkap ekonomi masa depan. Generasi yang penuh energi itu menuangkan ide kreatif di berbagai bidang dengan berbagai cara pula. Mereka bisa menjadi anggota kelompok yang bekerja bersama-sama demi mewujudkan tujuan bersama. Dengan atau tanpa bantuan pihak lain, anak-anak muda siap memulai perubahan, khususnya di bidang ekonomi kreatif.

Berdasarkan statistik ekonomi kreatif, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia 2016 mencapai 7,44%. Tahun 2018 Indonesia memiliki 181 juta penduduk usia produktif, 15 – 64 tahun, hampir 6 kali penduduk Malaysia. Saat usia Indonesia merdeka genap 100 tahun, jumlahnya diperkirakan mencapai 208 juta jiwa. Itulah modal besar pembangunan yang menjadi pengungkit.

Dari semua penduduk usia produktif, separuhnya adalah generasi milenial yang lahir antara tahun 1980 – 2000. Mereka adalah generasi unik yang lahir dan tumbuh di tengah perubahan situasi politik, sosial ekonomi dan berkembangnya internet. Mengelola anak-anak milenial, gampang-gampang susah. Akrabnya generasi milenial dengan gawai, internet dan media sosial bisa memicu ledakan ekonomi digital dan ekonomi kreatif.

Keuntungan jumlah penduduk produktif besar selaras dengan perkiraan PwC 2017, dalam The World in 2050 yang menyebut Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-4 dunia pada 20150. Jumlah penduduk produktif besar adalah buah bonus demografi yang terjadi hingga tahun 2036. Usai bonus demografi, ada tantangan baru dimana jumlah penduduk berusia lanjut (lansia) akan bertambah 19% hingga tahun 2045. Pemerintah perlu melakukan langkah-langkah antisipasi agar tepat di 100 tahun bangsa Indonesia merdeka (2025) penduduk berusia lanjut bisa terurus.

Karena itu harus dipersiapkan generasi muda sejak dini agar bonus demografi tidak berubah menjadi bencana. Pemerintah harus menyiapkan lapangan pekerjaan yang layak bagi warga di usia produktif agar tidak menjadi pengangguran intelektual. Bonus demografi ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, berkah jika kita berhasil memanfaatkannya. Satu sisi lain bencana, apabila kualitas manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik.

Ekonomi kreatif telah menjadi energi baru yang menjanjikan. Data dari Ernest & Young pada 2015 mencatat, ekonomi kreatif yang terdiri atas berbagai sektor telah menghasilkan pendapatan setidaknya US$ 2.250 miliar dan membuka 29,5 juta lapangan kerja. Angka tersebut setara dengan 3% GDP dunia dan 1% populasi angkatan kerja. Industri ekonomi kreatif ini terbuka untuk semua orang dari beragam latar belakang serta memberikan kontribusi signifikan untuk lapangan pekerjaan dan karir baru para generasi muda.

Setiap daerah memiliki potensi industri kreatif yang dapat dikembangkan. Salah satunya sektor pariwisata. Dalam beberapa tahun terakhir Indonesia semakin giat membenahi potensi wisata alam yang dimiliki melalui ekowisata. Konsep ekowisata memadukan 3 komponen penting; mengkonversi alam, memberdayakan masyarakat lokal, dan meningkatkan kesadaran lingkungan hidup. Hal ini ditujukan tidak hanya bagi pengunjung – wisatawan, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat. Salah satu bentuk potensi wisata alam yang dimiliki Indonesia berupa taman wisata alam (TWA).

Pengertian TWA menurut Undang-undang (UU) No 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi. Contoh, TWA Ijen di Jawa Timur, TWA Tangkuban Prahu di Jawa Barat, TWA Gunung Tunak di Lombok Tengah, NTB. Pariwisata mendorong tumbuh dan berkembangnya kegiatan industri ekonomi kreatif, terutama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Ekonomi kreatif bisa menopang pendapatan daerah dan masyarakat di daerah tersebut. Namun, ekosistem yang terdiri dari sumber energi, akses pembiayaan, dan dukungan pemerintah daerah mesti terbentuk.

Di Desa Bejiharjo, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, anak-anak muda berperan penting dalam mengembangkan wirawisata Goa Pindul. Mereka terjun secara konsep dan teknis untuk mengangkat perekonomian desa. Mereka menjadi pemandu wisata dan mempromosikan aktivitas wisata Goa Pindul melalui internet. Perannya vital karena paham teknologi informasi dan memiliki wawasan luas. Goa Pindul yang semula hanya digunakan untuk mandi dan cuci piring oleh warga desa, kini jadi tempat wisata popular. Sejumlah anak muda lulusan SMP – SMA juga mulai memandu outbond. Bahkan mereka kerap diminta memandu outbond oleh berbagai pihak.

Di wirawisata Goa Pindul ada peran korporasi, PT Bank BCA. Melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), BCA menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan bagi komunitas. Tujuannya menciptakan peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Sektor pariwisata ini juga membangkitkan gairah kreativitas anak-anak muda di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Langkah BUMN membuat balai ekonomi desa (Balkondes) di sejumlah desa di Kecamatan Borobudur disambut anak-anak muda dengan semangat meluap-luap.

Ana Setyaningsih, misalnya, langsung mendaftar seleksi karyawan pengelola Balkondes di desanya. Ia ingin desanya semakin maju dan didatangi banyak orang. Ia yakin, suatu saat keberadaan Balkondes akan memacu perekonomian desa karena potensi desa tidak melulu bergantung pada sektor pertanian. Usaha kreatif di sektor pariwisata akan semakin berkembang sehingga warga tidak hanya bercocok tanam dan terus didera kesulitan. Saat ini ada 20-an Balkondes di sekitar Candi Borobudur. Wisatawan bisa menginap di homestay – rumah inap di Balkondes dan mengikuti kegiatan yang berbeda-beda, tergantung dari potensi desa. Secara jangka panjang kesejahteraan masyarakat bisa ditopang kehadiran desa wisata ini.

Pemerintah, melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggandeng pemerintah daerah untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif yang menjadi unggulan setiap daerah. Bekraf mendukung melalui fasilitasi program dan pengembangan kapasitas. Kepala Bekraf Triawan Munaf telah menandatangani MoU – nota kesepahaman pengembangan ekonomi dengan 50-an pemerintah kabupaten dan kota, beberapa di antaranya ditandatangani bulan Oktober 2018 antara lain; Pemkot Denpasar, Pemkot Pekanbaru, Pemkot Banjarbaru, Pemkab Gianyar, dan Pemkab Deli Serdang. Kerja sama juga dijalin dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Bali I Wayan Koster. Selain itu MoU juga terjalin antara Bekraf dengan Denmark, organisasi Cendana dari Malaysia, dan United Nation Development Program (UNDP). Kesepakatan-kesepkatan itu dibuat untuk menguatkan ekosistem ekonomi kreatif baik di taraf nasional maupun global.

Dengan MoU tersebut Bekraf dan Pemda bekerja sama, berkoordinasi untuk mengembangkan ekonomi kreatif di darah melalui sub-sub sektor ekonomi kreatif unggulan. Kerja sama meliputi pengembangan ekonomi kreatif, infrastruktur, akses permodalan, pemasaran dan fasilitasi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) serta kegiatan lain yang disetujui untuk pengembangan ekonomi kreatif. Jika Indonesia konsisten dan terus menerus memperbaiki kebijakan, Indonesia akan menjadi negara yang terus menerus mampu berpikir sangat progresif untuk membangun ekonomi kreatif dan digital teknologi sebagai potensi membangun ekonomi masa depan.

Kreativitas anak muda tiada batas. Mereka berkarya dengan berani dan energi meluap-luap. “Anak-anak muda memiliki energi kreativitasnya sangat besar, dan akan menjadi tulang punggung masa depan Indonesia melalui karya produk-produk kreatif. Industri kreatif merupakan salah satu DNA dan ciri khas masyarakat Indonesia. Dan, industri kreatif tidak pernah mati sampai kiamat.” kata Presiden Joko Widodo. Namun, mereka membutuhkan bimbingan dan pendampingan sehingga pelaku usaha muda itu semakin berdaya saing, mantap berperan dalam perekonomian Indonesia.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk melihat, para wirausaha muda ini bagaikan ulat yang menjadi kepompong, kemudian berubah wujud menjadi kupu-kupu nan cantik. Untuk mengubah ulat menjadi kupu-kupu, Bank Mandiri memiliki program Wirausaha Muda Mandiri (WMM). Program tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, dan digelar sejak tahun 2007. Hingga kini (2018) WMM sudah menjangkau 36.000 anak muda dari 656 perguruan tinggi se-Indonesia.

Untuk bisa mengikuti program WMM harus lulus melalui tatahapan seleksi ketat di pergirian tinggi, kemudian disaring menjadi finalis. Pada WMM 2018 yang bertema “Berani Muda, Berani Berkarya, ada 70-an finalis yang terpilih. Di antara para finalis itu, 27 orang memenangi penghargaan terbaik di setiap katagori, penghargaan usaha favorit, dan penghargaan terbaik dari yang terbaik. Para pemenang mendapat uang tunai kisaran Rp 40 juta – Rp 200.000 juta untuk mendukung permodalan. Mereka pun akan dibina Bank Mandiri.

Bank Mandiri juga membingkai usaha mereka, sehingga para wirausaha muda itu lebih percaya diri mengembangkan pasar. Bagi anak-anak muda itu, ilmu dan diskusi dengan mentor yang memfasilitasi benar-benar sangat berharga. Tak hanya menjadi referensi dalam merintis usaha, tetapi juga bisa membentuk jaringan dan komunikasi bisnis. WMM merupakan wadah bagi pelaku usaha muda untuk menaikan skala usaha. Dari ide bisnis, diwujudkan, lalu meningkatkan kapabilitas usahanya. WMM juga merupakan investasi dalam ekosistem perbankan.

Dengan memperbanyak pebisnis muda dan kreatif, ketahanan perekonomian nasional diyakini akan semakin kuat. Selain itu pertumbuhan wirausaha dapat memicu inovasi yang berujung pada pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Wirausaha merupakan elemen penting perekonomian suatu negara dan merupakan salah satu indikator kemajuan ekonomi suatu negara.

***

Event kolaborasi terbesar di bidang industri kreatif diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur, 14 – 17 November 2018. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar 3 rangkaian acara berskala nasional dan internasional bagi pekerja industri kreatif. Ke-3 acara yang menjadi pesta besar anak muda Indonesia itu adalah; InnoCreativation, Starup Nation Summit dan Bekraf Festival. InnoCreativation adalah sebuah acara dimana para innovator, orang-orang kreatif berkumpul bersama, berbicara untuk menyebarluaskan pengetahuan dan pengalaman di bidang inovasi, kreativitas, entrepreneurship kepada generasi muda khususnya di Surabaya – Jawa Timur.

Pada mulanya agenda yang akan digelar hanya Starup Nation Summit. Namun Bekraf dan CT Corp tertarik menyemarakan agenda itu untuk menjadi suatu rangkaian acara bagi pekerja kreatif, khususnya bagi generasi milenial. Starup Nation Summit sudah diagendakan sejak tahun 2016. Saat itu Surabaya berebut menjadi tuan rumah dengan kota-kota besar lain di dunia. Karena itu, warga Kota Surabaya dan daerah lain diminta memanfaatkan agenda tahunan ini karena bisa menjadi ajang pertukaran pengalaman dalam usaha mencetak usaha rintisan baru.

Bekraf menghelat Bekfest di Grand City, Surabaya, 15 – 17 November 2018. Tema yang dipilih Accelerate Inclusive Creativity, menampilkan 4 konsep acara yaitu; gelar wicara – talkshow, lokakarya – wokshop, pertunjukan – performance dan pameran – exihibition. Ada beberapa program unggulan yang disajikan secara informative. Misalnya, program capacity building (Orbit, Coding Mum, Create, Bek UP), program akses pembiayaan (Akatara, Dana Dekraf, Food Starup Indonesia), dan program pembentukan ekosistem (Ikkon, Jaringan Kota Kreatif). Juga ada program perlindungan HKI dan sertifikasi profesi, memberikan sertifikasi pada barita dan menampilkan Indikasi Geografisnya.

Melalui Bekfest diharapkan masyarakat paham secara utuh tentang program unggulan Bekraf yang saling terkait satu sama lain. Masyarakat juga tahu tentang proses pembentukan ekosistem ekonomi kreatif, dan ada kesempatan untuk ikut aktif dalam program tersebut. Surabaya dipilih karena sebagai salah satu kota yang mendukung penuh kemajuan ekonomi kreatif. Hal ini terlihat dari penghargaan yang telah diraih. Survei ekonomi BPS juga menunjukan Surabya punya jumlah usaha ekonomi kreatif dengan jaringan tunggal terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 6,41%. Surabaya telah memasuki era baru pertumbuhan starup, sebuah era dimana belajar mandiri telah dimulai.

Produk industri kreatif yang dihasilkan UKM dari program Pahlawan Ekonomi Surabaya ternyata sangat diminati konsumen di Kota Liverpool, Inggris. Wakil Walikota Liverpool Gary Millar yang hadir diacara festival Mlaku-mlaku Nang Tujungan, di Surabaya mengatakan bahwa puluhan produk uji coba yang dibawa ke Liverpool pada Maret 2018 lalu, seperti kaus, kemeja dan tas cepat habis karena masuk dalam selera konsumen kota asal kelompok music The Beatles itu.

Menurut Millar, perlu ada solusi besar untuk memasarkan produk-produk kreatif, atau kerja sama bisnis antar kedua kota yang sudah menjadi kota kembar ini. Saat ini penjualan produk masih dilakukan sendiri dalam jumlah terbatas. Setiap ke Surabaya Millar membawa pulang puluhan produk untuk uji coba pasar di Liverpool. Dengan peluang pasar yang cukup baik, diperlukan kerja sama yang lebih kuat untuk proses ekspor – impor industri kreatif. Perlu pengiriman yang lebih efisien agar biayanya murah sehingga harga jualnya bisa lebih bersaing. Millar mengajak pelaku industri kreatif untuk meningkatkan kualitas produknya.

Menurut desainer setempat, model batik jumputan yang dikerjakan dengan teknik ikat celup untuk menciptakan gradasi warna diharapkan menjadi tren mode tahun 2019. Model itu pernah tren tahun 1960-an, digunakan pada musim panas. Karena produk-produk kreatif itu berasal dari Pulau Jawa, maka saat dipasarkan di Liverpool, dilebeli Red Hot Java. Konsumen di Liverpool dan Inggris menyamakan sesuatu yang hot itu sesuatu yang trendi.

Kota Malang sebagai salah satu dari 10 kota paling kreatif di Indonesia versi Indonesia Kreatif 2017 gencar menyelenggarakan kegiatan untuk menjaga semangat dan menggarap potensi generasi muda terhadap ekonomi kreatif. Pemkot Malang mengadakan pertemuan dengan beberapa pelaku kreatif guna memetakan sektor prioritas sebagai industri kreatif Kota Malang. Pertemuan itu dihadiri komunitas kreatif yang tergabung dalam Malang Creative Fusion (MCF) dan para akademisi.

Hasil dari pertemuan, terwujudnya pembuatan Road Map 3 subsektor yakni; Film Animasi dan Videografi, Bidang Kuliner, Aplikasi dan Games. Pemetaan diharapkan dapat mengetahui permasalahan dan solusi sehingga dapat menjadi panduan bagi pelaku ekonomi kreatif. Rumah Malang Creative Fusion (MCF) sebagai wadah kaum muda kreatif mengembangkan kreativitasnya. MCF juga difasilitasi dengan Malang Koperasi Kreatif Mbois (MKKM) untuk membantu meningkatkan kapasitas pemasaran jasa dan produk industri kreatif, baik di pasar nasional maupun internasional.

Selain dukungan pemerintah, akses pembiayaan juga berperan bagi ekonomi kreatif yang melibatkan UMKM. Berdasarkan data CEO Koin Works Benidicto Haryono, ada selisih pembiayaan sebesar Rp 900 triliun antara kebutuhan UMKM dan dana yang disuntikkan perbankan. Selisih ini menjadi peluang bagi teknologi finansial di bidang pinjam-meminjam seperti KoinWorks untuk menyasar permodalan UMKM yang sebagian besar sulit mendapatkan akses perbankan.

Di sela-sela World Conference on Creative Economy (WCCE) 2018 di Nusa Dua Bali, 6-8 November, produk industri kreatif domestik ikut tampil. Salah satu yang menyapa peserta dan pengunjung WCCE, produk kopi khas Nusantara. Ada beberapa jenis kopi khas Nusantara, lengkap dengan petani kopi dan barista yang siap menyeduh kopi bagi pengunjung. Biji kopi ikut dipajang di meja sebagai daya tarik. Agar lebih lengkap, peserta konferensi bisa bertanya langsung kepada barista atau petani mengenai seluk beluk perkopian.

Aleh, Ketua Koperasi Produsen Kopi Margamulya Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, juga hadir di situ. Dia menceritakan, koperasi membawa biji kopi merek Java Preanger Gunung Tilu. Selama acara  WCCE 2018 ribuan gelas kopi Java Preanger Gunung Tilu diminati peserta. Bahkan ada peserta konferensi yang datang lebih dari sekali. Sebagai binaan Bekraf kopi yang disajikan memang tidak diberi harga, alias gratis.

Tahun 2006 bersama sejumlah petani kopi di kaki Gunung Tilu, Aleh membentuk Lembaga Swadaya Desa Hutan, lalu 2008 koperasi dan kelompok tani Margamulya terbentuk. Pada saat bersamaan, Dinas Perkebunan Jawa Barat memberi bantuan sarana dan pelatihan budidaya tanaman kopi. Kini, Koperasi Produsen Kopi Margamulya memiliki 200 anggota. Mereka menjadi pemasok untuk beberapa eksportir nasional. Selain itu juga menjual secara eceran melalui laman javapreangerkopi.co.id dan beberapa laman pemasaran. Kendala yang dialami adalah soal permodalan.

Dalam WCCE 2018 Bekraf menampilkan sejumlah program yang berkaitan dengan pelaku ekonomi kreatif beserta hasilnya. Salah satunya program Inovatif dan Kreatif Melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) yang bertujuan membantu daerah mengembangkan potensi ekonomi kreatifnya. Daerah yang dipilih memperoleh nilai tambah karena tim IKKON akan memoles produk lokal daerah tersebut.

Gamia Dawangga, desainer peserta IKKON 2018 ditempatkan di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Di daerah itu Gamia membantu kelompok penenun sarung untuk mengolah pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan yang hidup di kawasan. Masalah yang dihadapi penenun adalah benang. Mereka harus menempuh perjalanan 8 jam menuju Kota Baubau untuk membeli benang. Gamia mengajari mereka mengolah tanaman di sekitar mereka menjadi bahan warna alam benang.

Ada juga Trisa Melati, desainer tekstil peserta IKKON 2018 yang ditempatkan  di Dompu, Nusa Tenggara Barat. Di sana Trisa mengajarkan upaya pelestarian motif tenun kepada 30-an penenun Dompu. Motif lama yang sudah berkembang diberi sentuhan modern. Motif Dompu yang tersisa hanya tinggal kotak-kotak. Trisa mengajari mereka memodifikasi, mulai dari struktur hingga pemakaian benang warna-warni. Namun tidak menghilangkan kekhasan tenun Dompu yang masih dikerjakan memakai tangan.

WCCE 2018 menampilkan ruangan khusus, Creative Village. Di ruangan itu, yang peduli produk ekonomi kreatif bisa menampilkan produknya. Laman pemasaran Shopee, misalnya, membawa Tanamera, produsen kopi lokal, yang beberapa bulan terakhir bergabung sebagai mitra penjual. Shopee rutin menggelar kampanye Kreasi Nusantara dengan tema yang berbeda-beda. Sekitar 1 juta mitra penjual berpartisipasi dalam kegiatan itu. Shopee juga membina produsen produk kreatif. Kini, lebih dari 30.000 binaan.

Industri kreatif yang banyak digadang orang sebagai sumber kesejahteraan di masa depan ini diharapkan bisa merangkul siapa pun. Di ekonomi kreatiflah inklusivitas terjadi. Orang-orang yang tadinya merasa tidak memiliki kemampuan untuk mencipta atau berdagang kini semakin berdaya, apalagi dibantu digitalisasi. Ini memungkinkan mereka masuk ke kegiatan ekonomi yang mengandalkan gagasan. Indonesia percaya sudah saatnya komunitas global berdiskusi dengan serius soal peluang-peluang dan tantangan ekonomi kreatif. Isu ini juga saling berkaitan sekaligus relevan dengan isu-isu global yang lain.

Menyadari adanya kemendesakan dalam hal kemitraan dan kolaborasi antarnegara untuk mengindentifikasi strategi industri kreatif secara global, Bekraf menginisiasi WCCE sebagai ajang pertemuan bagi pemerintah, perusahaan swasta, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, organisasi internasional, dan pakar media dari seluruh dunia. Konferensi ini dihadiri 36 negara dengan sekitar 1.500 partisipan. Ada 5 isu penting terkait ekonomi kreatif yang diketengahkan, yaitu; kohesi sosial, regulasi, marketing, ekosistem, dan pembiayaan.

Pertemuan WCCE 2018 menghasilkan Bali Agenda on Creative Economy. Deklarasi ini dirumuskan dan disepakati oleh Friends of Creative Economy (FCE), wadah diskusi untuk para pelaku ekonomi kreatif berbagai negara yang mencakup akademisi, pengusaha, komunitas, pemerintah, hingga media. Agenda Bali memuat 21 poin hasil kesepkatan para delegasi dari 36 negara. Ada 4 faktor yang melandasi 21 poin tersebut yaitu; kolaborasi dan kolektivitas forum FCE; dukungan terhadap pembangunan ekosistem; perayaan; promosi dan pemberdayaan, sustainable develeopment goals (SDGs) serta warisan budaya dan keberagaman; dan pertemuan WCCE berikutnya pada 2020. Bali Agenda on Creative Economy ini juga akan dibawa ke sidang umum PBB.

Negara-negara peserta mengapresiasi ajang WCCE pertama ini dan sependapat untuk menggelar konferensi setiap 2 tahun, dengan pertemuan FCE setiap tahun. Pada 2020, WCCE ke-2 diselenggarakan di Dubai, Uni Emirat Arab. Semua negara yang hadir sepakat mengusung ekonomi kreatif sebagai kekuatan untuk mengakselerasi kemajuan ekonomi, bahkan pencapaian MDGs. Semua sepakat agenda-agenda ini harus dibahas secara reguler.

Diyakini ekonomi kreatif akan menjadi masa depan ekonomi global. Ini terindikasi lewat performa industri kreatif nasional yang pertumbuhannya mencapai Rp 100 triliun per tahun. Ekonomi kreatif yang inklusif adalah solusi untuk ekonomi nasional. Terlebih lagi, dunia digital mendorong terjadinya pemerataan dan kesetaraan dalam ekonomi. WCCE 2018 telah menjadi awal yang sangat baik untuk mendorong kolaborasi global dalam pengembangan ekonomi kreatif dan membangun ekosistem yang sehat. Kita berharap industri kreatif kian membuka jalan bagi banyak orang untuk merayakan gagasan, membina kerja sama antar negara sekaligus meningkatkan taraf hidup. (andika – adit – damar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *