Ekonomi RI Cukup Berat

Dana moneter internasional (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2019 sebesar 0,1 persentase poin menjadi 3,2%. IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 menjadi hanya 3,5% saja. Bank Dunia atau The World Bank meramalkan pertumbuhan ekonomi di negara berkembang turun ke level terendah dalam empat tahun sebesar 4% pada tahun 2019. Poinnya, ekonomi global bermasalah. Semua melambat!

Perang dagang menjadi masalah utama saat ini. China dan AS sebagai dua kekuatan ekonomi dunia tengah ‘berperang’. Hal ini membuat negara lain mendapatkan sentimen buruk dalam proses ekspor-impor. Hampir setiap ekonomi menghadapi angin sakal karena perang dagang tersebut, negara-negara termiskin menghadapi tantangan yang paling menakutkan karena kerapuhan, isolasi geografis, dan kemiskinan yang mengakar.

Masalah terberat bagi Indonesia saat ini adalah memaksimalkan pembangunan infrastruktur secara masif yang sudah dieksekusi. Sayangnya, pembangunan infrastruktur nan-megah tak bisa diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tak usah kita berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi sebesar 7%, kalau keluar dari batas bawah 5% saja sulit.

Kalau dibilang Indonesia terdampak perlambatan ekonomi global, sejatinya hal itu memang benar. Namun yang menjadi masalah, kala perekonomian global membaik, pertumbuhan ekonomi Indonesia segitu-gitu saja. Deindustrialisasi menjadi penyebab perekonomian Indonesia jalan di tempat kala pembangunan infrastruktur sudah begitu dikebut. Sektor manufaktur (industri pengolahan) terus saja tumbuh melambat. Untuk diketahui, sektor manufaktur merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia.

Selain karena deindustrialisasi, masalah lesunya penanaman modal asing (PMA) atau foreign direct investment (FDI) juga menghambat laju perekonomian Indonesia. Minimnya insentif perpajakan serta kebijakan maju-mundur yang acap kali kita lihatmenjadi faktor yang melatarbelakangi lesunya PMA.

Hampir semua negara saat ini menghadapi tantangan yang sama beratnya, yaitu ekonomi dan pasar keuangan global yang semakin sulit diprediksi arahnya. Oleh karena itu pertahanan pertama adalah menjaga stabilitas, tetapi pada saat yang sama perlu memanfaatkan ruang (policy space) untuk memitigasi dampak perlambatan ekonomi global melalui peningkatan stimulus dari moneter dan fiskal.

Kalau bermain sepak bola lapangan sedang becek karena habis hujan jadi harus berhati-hati agar tidak jatuh terpeleset karena licin. Jadi saat ini tidak boleh dipaksa kredit growth yang tinggi di tengah kondisi makro yang jelek terutama karena situasi dunia yang tidak menentu, meletupnya banyak kredit macet menandakan dampak negatif bisa selalu ada pada dunia usaha jadi harus alon-alon asal kelakon.

Dari pasar finansial, ketidakpastian global yang tinggi bisa membawa dampak yang signifikan bagi perekonomian dalam negeri. Ekonomi Indonesia memang kuat secara domestik, ditopang oleh konsumsi dan investasi, namun “outlook” kedepan juga dipengaruhi dari arus modal. Karena ketegangan geopolitik maupun perang dagang, banyak investor, atau fund manager global, yang memilih mengamankan asetnya dalam bentuk “cash” daripada menginvestasikan ke sektor riil.

Perusahaan yang memiliki uang lebih tidak menginvestasikan dalam bentuk “capex”, namun memilih melakukan “buyback” saham di pasar modal. Harga aset seperti saham menjadi “overvalued”, “volatile”, dan rentan terhadap koreksi. Hal ini menimbulkan “risk-aversion” di pasar global yang kemudian menyebabkan ketatnya likuiditas ke seluruh negara, apalagi negara berkembang seperti Indonesia.

Karena porsi kepemilikan asing yang tinggi di pasar saham dan obligasi (sekitar 40%), Indonesia cukup dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Ketatnya likuiditas dapat menyebabkan perusahaan domestik kesulitan untuk mendapatkan dana untuk mengembangkan bisnisnya. Hal ini bisa memengaruhi kondisi makro Indonesia. Pemerintah dan Bank Indonesia harus tetap waspada terhadap resiko global.

Berat. Karena di triwulan II sebenarnya momentum besar dan berbarengan uang harusnya dimanfaatkan pemerintah. Misalnya dopping atau amunisi, yakni ada pemilu dan lebaran. Biasanya kalau ada lebaran aja pasti tingkat konsumsi naik, apalagi ada pemilu serentak di seluruh Indonesia.

Terjadi di triwulan II-2019 semua momentum itu tapi di triwulan II-2019 kita dikejutkan dengan hasil yang melambat. Artinya kalau tidak ada amunisi itu bakal lebih menurun, sehingga kalau liat tren itu, kita secara kalkulasi dipastikan di triwulan III-2019 dan triwulan IV-2019 menurun.

Lalu, sumber-sumber pertumbuhan dalam ekonomi yang mampu sebagai penggerak selain konsumsi rumah tangga adalah investasi. Tapi justru sumber pertumbuhan dari investasi malah menurun karena investasi dan konsumsi rumah tangga sangat bergantung dengan stimulus. Tapi stimulus signifikan ke konsumsi rumah tangga ya hanya belanja pemerintah.

Memang stimulus tidak harus dari sisi belanja terutama bagaimana pemerintah relaksasi kebijakan fiskal seperti insentif. Tapi bagaimana efektifnya yang perlu kita liat. Menurut saya selama ini insentif tidak tepat. Tantangan eksternal, datang dari perang dagang yang tidak terlihat ada tanda-tanda berhenti. Kita liat Trump dan Jinping terus saling membalas yang pastinya memberikan dampak negatif bagi negara berkembang termasuk Indonesia.Tapi tantangan lebih besar saya liat datang dari domestik.

Tentunya berat semua negara mengalami karena memang global tidak mendukung. Memanasnya kembali tendensi dagang dan itu dampaknya sudah kita rasakan dalam dua kuartal terakhir, dimana kinerja ekspor melambat. Bahkan di semester I-2019 belum memberikan andil ke pertumbuhan ekonomi. Ekspor masih tertekan dibandingkan tahun lalu. Sebenarnya tantangan dalam jangka pendek bagaimana menghadapi dan mengantisipasi perang dagang saat di sisi lain tetap berupaya tumbuhkan investasi untuk gerakkan pertumbuhan ekonomi.

Pada level global kita saat ini menghadapi kebijakan ekonomi politik saling mengunci atau zigzag policy. Misal trade war, currency war dan quantitative easing. Model kebijakan zigzag ini ternyata tidak membawa prospek perbaikan perekonomian global yang semakin baik. Respons kebijakan dalam Negeri harus dimulai dari mikro yaitu sektor riil.

Tujuan utamnya harus satu yaitu job creation, dengan adanya pekerjaan orang berpenghasilan. Ada penghasilan ada daya beli, ini menyebabkan ekonomi bergerak. Kemudian, sektor rill yg dikembangkan/dijalankan harus didasarkan sumber daya lokal. Orang mau berusaha harus dipermudah, bukan dipersulit. Apalagi usaha pemula. Harus ada affirmacy policy. Karena kalau hanya mengandalkan model perekonomian saat ini, itu sudah pareto optimum. Harus berani melakukan transformasi struktural. Transformasi struktural ditandai transfirmasi pelaku ekonomi, kedepankan UMKM, yang besar berkompetisi di regional/global.

Selain asumsi makro tersebut, beberapa katalis yang bisa mendorong ekonomi tahun depan, antara lain kelanjutan proyek infrastruktur dan rencana pemindahan ibukota yang akan mendorong kinerja sektor konstruksi dan properti. David juga menekankan pentingnya reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing nasional dan menarik investasi di tengah disrupsi rantai produksi global.

IMF baru saja merilis laporan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan merosot dari 3,5% menjadi 3% saja. Prediksi ekonomi Indonesia pun ikut turun dari 5,2% menjadi 5%. Fenomena ini memang sedang terjadi di berbagai negara akibat dampak perang dagang. Penurunan ekonomi Indonesia juga dinilai tak terlalu parah dibanding negara lain. India yang tadinya (pertumbuhan ekonomi) sampai 9%, sekarang sama kayak kita 5%. Turun jadi 8%, sekarang dia 5%.

Perlambatan ekonomi global memang membuat ekspor berkurang, tetapi impor pun menurun. Konsumsi domestik bisa menjadi tameng terhadap perlambatan ekonomi global sehingga pertumbuhan ekonomi tak anjlok ke bawah 5%. Sepanjang kita bisa mempertahankan domestic demand, kita paling apes skenario terburuk di 5%, tapi masih bisa kita mencapai 5,1%%. Pesimisnya 5.0%”.

Pemangkasan prediksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF adalah yang terendah sejak krisis finansial satu dekafe lalu. Apabila ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China tidak kunjung reda, maka pertumbuhan ekonomi global bisa makin buruk. (dm)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *