Energi Terbarukan Untuk Mengurangi Ketergantungan Impor BB

Salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) adalah dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) No 25 tahun 2013 tentang kewajiban minimal biofuel dalam bahan bakar minyak. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mencapai target tersebut. Kemana arah industri biofuel kita.

Gejolak nilai tukar rupiah yang salah satunya dipicu oleh difisit perdagangan yang mendera Indonesia sepertinya tidak selalu berdampak negatif. Krisis ini mampu memaksa pemerintah untuk memaksimalkan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel untuk mengurangi beban impor BBM. Jika selama ini biofuel hanya menggunakan 7,5% campuran bahan nabati, maka untuk menekan konsumsi BBM pemerintah meningkatkan campuran menjadi 10%, bahkan mentargetkan 20% bagi bioetanol dan 25% bagi biodiesel di tahun 2025 mendatang.

Konsumsi BBM dalam negeri yang tinggi menyebabkan berbagai permasalahan harus segera diselesaikan. Terutama karena kapasitas produksi minyak bumi yang terus menurun, pemerintah harus menyiapkan energi alternatif dari dalam negeri untuk menekan ketergantungan terhadap impor BBM. Sebagai penghasil sawit terbesar di dunia para pelaku industri agro ini tentu tinggal menunggu persiapan pemerintah untuk meningkatkan penggunaan minyak sawit dalam BBM. Menyiapkan sawit sebagai sumber energi terbarukan sama dengan menyiapkan Indonesia untuk menjadi pemain utama sumber energi masa depan dunia.

Menurut Wakil Menteri (Wamen) ESDM Susilo Siswoutomo, mandatory dari pemanfaatan biodiesel dicampur dengan solar sebenarnya sudah sejak tahun 2008. Cuma pelaksanaannya sekarang “digeber” lagi karena pemerintah punya kewajiban dan memiliki tekad untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM. Kebutuhan BBM kita makin banyak sesuai dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk, sedangkan produksi minyak semakin menurun. Karena itu kita harus segera mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan seperti biodiesel yang bisa diproduksi dari jarak. Yang paling banyak sekarang dari minyak sawit. “Pemerintah betul-betul berusaha bagaimana cara kita mengurangi impor BBM,” tegas Susilo.

Bicara soal target 20% biodiesel dan 25% bioetanol di tahun 2025 jelas realistis. Kalau kita lihat sekarang, produksi biodiesel kapasitas terpasang 5,4 – 5,5 juta Kl per hari atau setara dengan 100.000 barel minyak solar per hari. Sumber CPO kita makin lama akan semakin meningkat. Pada tahun 2025 produksi CPO kita diperkirakan akan mencapai 30 juta Kl per hari. Satu liter CPO bisa memproduksi 1 liter biodiesel. Seandainya kita mau memproduksi 200.000 barel setara solar per hari, kira-kira hanya membutuhkan 10 – 15 juta Kl CPO, dan itu kita sanggup. Dengan perkembangan kebun sawit yang terus meningkat, dari 30 juta Kl CPO per hari, kita bisa memanfaatkan untuk biodiesel 15 juta Kl per hari, yang akan menghasilkan biodiesel 200.000 barel per hari.

Kebijakan pemerintah tersebut disambut baik oleh para produsen biodiesel, dan membuat para produsen lebih bergairah lagi. Untuk mencapai target 25% pada tahun 2025, kata Sekjen Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia, Paulus Cakra, para produsen sanggup. Dari segi produksi sawit sebagai stock untuk biodiesel, dari segi angka tentu sangat memungkinkan. Karena saat ini, kata Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Joko Supriyanto, produksi kita surplus 70%, dan itu yang diekspor. Jika kemudian kita punya program biodiesel, ini opportunity – kesempatan karena kita bisa meningkatkan pasar dalam negeri.

Pengembangan biodiesel dari sawit di dalam negeri ini semangatnya juga bisa mendorong industry sawit lebih maju lagi. Lebih bisa bertumbuh, dan juga membuat pekebun – petani makin bersemangat menanam sawit. Selama ini pemerintah selalu meneriakan hilirisasi. Saat ini hilirisasi itu sudah ada kemajuan. Yang termasuk punya potensi hilirisasi biodiesel. Tetapi hilirisasi yang dilakukan oleh pemerintah dengan mendisinsentif di sektor hulunya. Contoh paling nyata pajak ekspor. Hulunya dipajaki. Industri sawit ini, industri Rp 200 triliun – 4 juta petani. Mestinya di hulu inilah yang benar-benar didorong sehingga petani bisa menikmati nilai tambah yang sebenarnya.

Dengan ada kebijakan baru ini ada dua pilihan yang bisa sekaligus berjalan. Pertama, berkesinambungannya memproduksi biodiesel. Kemudian kedua, mengurangi ketergantungan kepada impor BBM. Selain itu juga meningkatkan produksi daripada hulu itu sendiri. Dengan demikian pemilik kelapa sawit punya pilihan, satu jalur makanan, satu jalur lainnya biodiesel. Selebihnya untuk diekspor. Kalau jumlah CPO-nya terlalu besar, dan tidak punya pilihan untuk biodiesel, harganya tentu akan turun. Dengan adanya kebijakan biodiesel itu maka kebutuhan CPO akan naik, otomatis yang diekspor akan turun suplai pada dunia akan terkuras, pasti harga CPO dunia akan naik. Jelas pemilik kelapa sawit – pekebun akan mendapatkan keuntungan. Kalau pemerintah bisa mengurangi impor solar, otomatis mengurangi keperluan dolar, dan itu bisa dibelanjakan di dalam negeri sehingga akan sangat menguntungkan.

Untuk energi baru dan terbarukan tidak ada pilihan lagi, harus segera dibangun. Saat ini kita impor sekitar 400.000 barel solar per hari. Tahun depan, 2014 diperkirakan akan ada kenaikan 160.000 barel per hari. Kenaikan itu kalau tidak dipenuhi dengan biodiesel otomatis kita harus impor. Oleh karena itu dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan pertambahan daripada kebutuhan solar kita bisa dipenuhi dari dalam negeri. Bahan baku biodiesel itu bukan hanya dari CPO saja, ada jarak dan sebagainya. Sekarang paling banyak memang CPO. Tetapi suatu saat, karena Kementerian Pertanian sudah mengusahakan sumber-sumber bahan yang bisa dimanfaatkan untuk biodiesel, sehingga kelak jenis bahannya akan lebih banyak lagi.

Pada dasarnya deversifikasi sumber energi tidak bertumpu pada satu jenis saja, katakan sawit, yang saat ini memang sangat besar produksinya. Harus dicari, ada tidak kira-kira yang efisiensinya lebih baik, atau paling tidak sama dengan sawit. Dan tidak harus satu komoditi pertanian. Contoh, geothermal, kita punya banyak sekali potensi geothermal yang belum dimanfaatkan secara optimal, seperti; angin, air, panas bumi, panas matahari, dan banyak lagi. (dm)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *