Era Baru KPPD Pelayanan Prima Kepada Anggota

Boleh ditanya kepada pegawai negeri, atau karyawan yang gajinya kecil, kalau mencari pinjaman uang pasti ke koperasi. Anggota Polri dan TNI yang masih prajurit, cari pinjaman, juga ke koperasi. Koperasi benar-benar sangat bermanfaat untuk menolong anggota dalam menghadapi kesulitan mengakses ke perbankan, atau sumber-sumber pembiayaan lainnya.

Koperasi harus menunjukan jatidirinya, dan bukan hanya dibutuhkan pada tanggal 20 – 30 dimana persediaan untuk kebutuhan hidup sehari-hari mulai menipis. Koperasi harus dikenang dan dibutuhkan setiap saat bahwa koperasi satu-satunya media untuk meningkatkan skala ekonomi dan media untuk mendapatkan bantuan keuangan bagi anggotanya. Koperasi bisa diandalkan karena dibangun atas tujuan bersama dan punya komitmen; “Menolong diri sendiri dan mensejahterakan anggota.” Tujuannya jelas. Sedangkan di dunia bisnis lainnya hal itu tidak akan terjadi.

Dalam dunia usaha swasta, bila perusahaan rugi, akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK). Tetapi di koperasi tidak ada yang namanya pemutusan atau pemecatan anggota. Maka koperasilah satu-satunya yang bisa diharapkan untuk mencapai kesejahteraan. Koperasi bukan hanya membawa manfaat secara ekonomi, tetapi juga membawa manfaat dan kebaikan secara sosial dan mendatangkan rasa keadilan.

Koperasi bisa tumbuh, berkembang dan maju, ada beberapa kata kunci dalam pengelolaannya. Kunci yang utama adalah kejujuran. Baik pengurus, pengawas, manajemen maupun anggota harus sama-sama punya komitmen perilaku jujur. Kunci lain, keterbukaan – transparan, sehingga anggota dapat pengikuti perkembangan koperasi, bisa tahu pertambahan aset dan berkurangnnya aset, tahu siapa saja yang utangnya paling besar, tahu siapa yang paling rajin menabung dan meminjam, juga tertib mengangsur dan sebagainya. Dengan keterbukaan itu bisa saling kontrol.

Begitu besarnya manfaat berkoperasi, di berbagai kesempatan, Ketua Umum Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta, H. Hasanuddin, Bsy, SH mengatakan; “Menjadi anggota koperasi, manfaatnya dunia – akhirat. Di dunia anggota menikmati pelayanan ekonomi dan kebersamaan. Membantu – menolong orang lain dengan cara menabung di koperasi, juga ibadah – tabungan di akhirat.” Sejahtera bukan semata-mata dari sisi ekonomi tercukupi, tetapi sejahtera bathin juga penting. Koperasi juga mengemban tugas sosial. Menjalin hubungan silahturahmi antara anggota yang sudah pensiun dengan yang masih aktif sebagai pegawai sangat penting. Karena pada dasarnya semua pegawai akan pensiun. Terputusnya pergaulan – kehilangan teman, rekan, sahabat bisa membuat orang menderita. Banyak pensiunan terkena struk, lumpuh, sakit ingatan, linglung lantaran bathinnya tersiksa.

KPPD tidak boleh mentok sampai di sini, tetapi harus terus berkembang dan menjadi lebih besar karena punya potensi besar. Caranya, pengurus menumbuhkan kepercayaan para anggota, dan memberdayakan anggota. Pengurus dituntut untuk terus berkreasi – berinovasi, misalnya, mempersiapkan anggota setelah purna tugas sebagai Aparat Negara Sipil (ANS) bisa berwirausaha. Agar setelah pensiun tidak keluar sebagai anggota koperasi, 2 – 3 tahun jelang pensiun mereka perlu diarahkan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan kewirausahaan. Untuk praktek usaha bisa diawali dari kecil-kecilan, buka warung – buka bengkel, pinjam modal dari koperasi.

Bila mereka sudah memulai usaha sebelum pensiun, ketika pensiun akan lebih fokus mengembangkan usahanya. Sering kali, setelah pensiun mereka bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Padahal masih terbuka berbagai macam peluang untuk melakukan kegiatan produktif, mengisi masa purna tugasnya. Kalau tidak ada kegiatan – aktivitas, mereka semakin tidak sehat. Semua penyakit bisa muncul. Menurut Hasanuddin, di KPPD cukup banyak pensiunan yang masih menjadi anggota koperasi. Dia berharap bisa terbentuk wadah bagi anggota pensiunan, kemudian memilih wakilnya menjadi pengurus. Dia-lah yang membawa aspirasi para pensiunan di dalam forum RAT.

Di awal kepengurusan Hasanuddin periode pertama sebagai ketua umum (2007 – 2012) aset KPPD baru Rp 12,851 miliar. Kondisi itu pun sudah disyukuri, sebab KPPD pernah mengalami titik nadir. Karena seluruh pengurus dan manajemen terus bekerja keras, juga didukung keinginan anggota agar koperasi lebih maju, membuat KPPD semakin sehat dan kuat. Tahun buku 2010 SHU-nya mencapai Rp 632.953.650,00, melebihi target yang ditetapkan sebesar Rp 534.897.355,00 dan aset lembaga menjadi Rp 36,8 miliar lebih. Dari total 8.651 anggota jumlah simpanan Rp Rp.21,4 miliar.

Dengan keuangan koperasi cukup besar, anggota bisa pinjam maksimal Rp 35 juta dengan tengat angsuran 3 tahun. Akhir tahun buku 2011 aset KPPD melambung menjadi Rp 43,875 miliar. Jadi, selama 5 tahun meningkat sebesar 333,61%. Artinya KPPD termasuk koperasi sangat sehat. Dukungan dan kepercayaan anggota sangat tinggi, karena kinerja pengurus solid, kompak, dan satu visi, menjadikan koperasi mandiri. Prestasi tersebut membuat anggota semakin yakin, di bawah kepemimpinan Hasanuddin KPPD akan menjadi koperasi besar. Karena itu dalam RAT tahun buku 2012 Hasanuddin untuk kedua kalinya dipercaya memimpin KPPD.

Dilihat dari kinerja pengurus – pengawas – manajemen, memberikan gambaran konkret bahwa KPPD terus mengalami pertumbuhan positif. Terbukti akhir tahun 2012 aset lembaga telah naik menjadi Rp 67,37 miliar, lalu melonjak lagi tahun 2013 menjadi Rp 77,88 miliar, tahun 2014 mencapai Rp 89,11 miliar, akhir tahun buku 2015 mencapai Rp 98,43 miliar, kemudian tahun buku 2016 aset KPPD telah mencapai Rp 120 miliar lebih, dan tidak ada Rp 1,- (satu rupiah) pun pinjaman dari bank – pihak ketiga. Utang lunas Agustus 2015. “Semua aset, murni milik koperasi, yang dihimpun dari anggota,” tegas Hasanuddin, bangga.

KPPD telah mandiri dengan kemampuan sendiri, termasuk koperasi yang sangat sehat, kuat dan bisa diklasifikasikan A plus. Karena itu pula, lagi-lagi untuk kali ketiga, anggota memilih Hasanuddin sebagai salah seorang formatur untuk menyusun kepengurusan periode 2017 – 2022, yang pada akhirnya formatur secara aklamasi juga memilihnya sebagai Ketua Umum KPPD DKI Jakarta. Dalam sejarah kepengurusan KPPD, boleh dibilang rekor tersendiri. Sebab, Hasanuddin tidak pernah menjadi pejabat di Pemda DKI seperti ketua-ketua sebelumnya, dia juga pensiunan yang terpilih sebagai ketua umum 3 periode berturut-turut. Pertimbangannya, orang yang sudah pensiun, tenaga dan pikirannya untuk mengelola koperasi jauh lebih besar, bisa full time. Jika pegawai aktif, tentu tidak bisa 100% memikirkan koperasi. Salah satu sebab koperasi tidak bisa berkembang pesat karena dikelola secara sambilan.

Untuk membangun kebersamaan dan militansi anggota, Maret 2016 pengurus mengimplementasikan program wisata bersama ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan jumlah peserta 500 orang. Mengingat jumlah pesertanya sangat besar, carter pesawat 5 kali penerbangan. Di gerakkan koperasi, khususnya koperasi primer, wisata bersama dengan peserta begitu besar, dan menggunakan transportasi udara boleh dibilang langka. Kegiatan itu akan diulang kembali tahun 2017 ini ke Pulau Dewata, Bali. Rencana tersebut telah disepakati oleh anggota dalam RAT tahun buku 2016 yang dilaksanakan pada 23 Februari 2017 silam. “Inilah wujud nikmatnya berkoperasi,” tegas Hasanuddin.

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan menyiapkan kader-kader handal, KPPD menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) secara terus menerus. Diklat tahun 2016 dilaksanakan di Grand Usu Hotel, Cisarua, Bogor Jawa Barat, diikuti 250 peserta, baik untuk tingkat dasar maupun lanjutan. “Kalau koperasi ingin maju, pendidikan harus dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. Pendidikan adalah salah satu jatidiri koperasi” tegas Hasanuddin.

Program Diklat itu ibarat pepatah; “Sekali dayung, 2 – 3 pulau terlewati.” Karena jumlah anggota cukup besar, 10.349 orang, berasal dari berbagai wilayah (Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Pusat dan Kabupaten Kepulauan Seribu) juga dari berbagai satuan kerja (Satker) banyak yang belum saling kenal. Dengan mengikuti Diklat, anggota bisa saling kennalan, sehingga kemudian kebersamaan pun terbangun.

Karena pemilihan pengurus baru dilakukan setiap 5 tahun, maka kader-kader terdidik sudah siap menggantikan pengurus yang masa baktinya telah berakhir, atau yang sudah tidak produktif. Soal kemampuan, bisa belajar. Tetapi menyangkut amanah, itu sulit. Hasanuddin selalu mengingatkan; “Anda mengurus koperasi, pinjam di koperasi artinya pinjam kepada 10.000 orang. Kalau Anda punya niat jahat, menzolimi koperasi, 10.000 orang itu akan mendoakan Anda.” Itu kiatnya menyadarkan anggota.

Di koperasi figure seorang ketua sangat penting. Jika ketua tidak punya karakter yang baik, tidak punya wibawa, apalagi tidak amanah, bahaya bagi koperasi. Seorang ketua koperasi harus tahan banting, tidak mudah tergoda. Disamping kemampuan manajemen, kemampuan otak, juga harus punya kejujuran. Kalau anggota sudah tidak percara karena pengurus tidak jujur, rusaklah koperasi itu. Intinya, tetap moralitas. Yang sedang ngetren, revolusi mental. Kata-kata itu mudah diucapkan, tetapi untuk orang per orang, sulit mengukurnya. Oleh sebab itu, kaderisasi tidak semata-mata melalui pendidikan dan pelatihan, tetapi juga keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan. Dari situ akan dapat dilihat, seperapa besar seseorang memberikan perhatian kepada koperasi.

***

Sejak awal didirikan, Juni 1978, yang dalam rapat pembentukan dihadiri kurang lebih 100 orang, disepakati bahwa usaha utama KPPD adalah simpan pinjam dari dan untuk anggota. Untuk mendorong, dan menjadi contoh agar seluruh pegawai Pemda DKI Jakarta mau menjadi anggota KPPD, Gubernur Tjokropranolo (Bang Noli) mendaftar sebagai anggota, tahun 1982 menabung Rp 100.000,- Jumlah yang cukup besar kala itu. Sampai saat ini, satu-satunya Gubernur DKI yang pernah menjadi anggota KPPD hanya Bang Noli.

Ada gubernur yang bilang mau menjadi anggota, tetapi ketika disodori formulir tidak diisi. Karena prinsip menjadi anggota koperasi adalah suka rela, bukan paksaan, maka yang tidak mau jadi anggota juga tidak menjadi persoalan. Bang Noli benar-benar mencintai koperasi. Sebelum mengakhiri masa jabatannya sebagai gubernur telah menghibahkan modal kepada KPPD sebesar Rp 221.500.000,- termasuk tanah di Jln. Jaksa, Jakarta Pusat, yang kemudian dibangun untuk Kantor KPPD. Kebetulan yang menemukan lokasi strategis, dan harganya terjangkau, waktu itu baru Rp 10.000,- per meter persegi, juga Hasanuddin.

Sukses KPPD tidak terlepas dari peran pejabat Pemda DKI Jakarta. Misalnya, koperasi difasilitasi ruangan cukup besar untuk buka toko di kompleks kantor gubernur, menjual kebutuhan sehari-hari seperti sembako. Pesatnya perkembangan KPPD kala itu sampai ada yang mengatakan; KPPD seperti bayi ajaib. Disemai, tumbuh, langsung “ngremboko” – besar. Usahanya bermacam-macam. Kecuali usaha utama simpan pinjam, ada toko, catering, dan optik. Bahkan merambah usaha bidang transportasi, punya 16 unit armada Metro Mini. Jadi, tahun 1980-an KPPD sudah kaya. Sayangnya, kondisi itu hanya bertahan sampai tahun 1986. Lantaran salah asuh “bayi ajaib” itu terjun bebas ke titik nadir. Keuangan minus, dan dililit utang di Bank DKI Rp 400 juta, sudah jatuh tempo membuat beban koperasi menjadi sangat berat.

Utang Rp 400 juta dari Bank DKI, untuk beli 16 unit Metro Mini. Dalam proposal yang diajukan, Metro Mini sebagai sarana transportasi untuk antar jemput anggota dari tiga wilayah yaitu; Bogor, Tangerang, Bekasi (Botabek), juga dioperasikan untuk melayani masyarakat umum. Unit usaha bidang transportasi pengelolaannya tersendiri, di bawah kepemimpinan seorang manajer. Anehnya, ketika beli onderdil ambil uang operasional, di lain pihak juga ambil uang dari koperasi. Semakin aneh, walau punya 16 unit Metro Mini, namun secarik kertas sebagai bukti kepemilikan koperasi tidak ada. Bahkan ketika semua armada dijual, yang menjual siapa, dijual kepada siapa, dan uangnya kemana tidak ada yang tahu. Walau mencatat penyelewengan yang terjadi namun Hasanuddin tidak bisa berbuat banyak, lantaran statusnya sebagai karyawan, dan posisinya hanya Kepala Bagian.

Menghadapi kondisi kritis, pengurus dan manajemen yang masih ingin koperasi terus berjalan tidak tinggal diam. KPPD punya tanah, bisa dijadikan modal. Andai tidak punya aset berupa tanah di daerah Cilandak, Jakarta Selatan, bisa jadi KPPD DKI tinggal nama. Banyak contoh, koperasi yang salah kelola – uangnya diselewengkan pengurus, bangkrut, gulung tikar. Saat itu anggota KPPD sudah banyak yang ingin mengundurkan diri. Namun percuma, mereka tidak bisa ambil uang tabungannya. Sebab, koperasi sudah minus.

Untuk mengembalikan kepercayaan, dan meyakinkan anggota bahwa koperasi masih bisa bangkit, berkembang dan maju, tidak mudah. Anggota terlanjur apatis terhadap kinerja pengurus. Sesuai keputusan rapat pengurus, untuk menutup utang di Bank DKI sebesar Rp 400 juta, dan untuk modal kerja melayani anggota, pengurus menghadap Sekda. Disampaikan bahwa satu-satunya jalan agar koperasi tetap hidup harus mencairkan – menjual aset berupa tanah di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.  Gayung bersambut, Gubernur Wiyogo Atmodarminto setuju aset koperasi yang ada dijual, yang penting koperasi tetap ada.

Namun ketika akan menjual aset untuk menutup hutang di bank dan untuk modal tidak serta merta disetujui anggota. Pengurus harus berjuang memberikan pengertian dalam rapat anggota. Setelah disepakati anggota dalam RAT aset baru dijual, laku Rp 700.000 juta. Utang di Bank DKI dilunasi, dan Rp 300 juta lainnya untuk melayani anggota. Dari sisa uang pencairan aset itulah koperasi dibangun kembali. Selama 2 – 3 tahun pengurus harus kerja keras dan kerja bakti, tidak mendapatkan honor.

Dengan adanya pelayanan, dan penataan manajemen yang lebih baik, anggota menyambut positif. Dan tunas kepercayaan pun tumbuh. Anggota yang sudah apatis – pesimis, kembali optimis. Bahkan kemudian banyak yang mendaftar menjadi anggota. Hal ini membuat pengurus dan manajemen bertambah semangat, karena koperasi masih dibutuhkan. Namun baru 3 tahun kemudian kondisi KPPD normal, usahanya mencapai titik impas, belum bisa mendapatkan sisa hasil usaha (SHU). Membangun kembali kepercayaan yang telah hancur, cukup lama, 5 – 6 tahun. Di bawah kendali Marsudi, ketua umum yang baru, pengurus melakukan pembenahan kinerja secara mendasar. “Kami bersyukur, walau kecil, hanya sekian juta akhirnya bisa meraih SHU Dan tahun-tahun berikutnya terus berkembang, SHU-nya mencapai puluhan juta, ratusan juta, kemudian miliaran,” jelas Hasanuddin.

Sebagai orang yang terlibat aktif sejak KPPD DKI Jakarta didirikan, Hasanuddin termasuk salah seorang pendiri, merasakan pahit getirnya saat koperasi jatuh ke titik nadir. Agar pengalaman masa silam tidak terulang, bersama pengurus yang lain selalu berhati-hati, dan akan terus mengawal KPPD. Dia tidak rela dunia akhirat, jika suatu ketika terjadi regenerasi, pengurus dan manajemen yang mengelola koperasi tidak amanah. Dia selalu mengatakan kepada anggota bahwa uang yang dipotong dari gaji setiap bulan, mulai Rp 50,- tahun 1978 sampai detik ini bisa dipertanggungjawabkan.

Kiat membangun kepercayaan yang sempat hilang, kecuali mengadakan diskusi, rapat-rapat formal, dan meningkatkan pelayanan, pengurus juga sering melakukan dialog secara informal, intens ngobrol bareng. Tujuannya untuk menyerap masukan dari anggota, terutama anggota yang dalam rapat tidak bisa menyampaikan gagasannya karena satu dan lain hal, tetapi punya pemikiran yang jernih. Puncaknya laporan pertanggungjawaban akhir tahun. Disamping itu juga mencetak edaran agar anggota tahu bagaimana perkembangan koperasi.

Pengurus terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan anggota. Ketika mereka mengajukan pinjaman, atau membutuhkan barang, misalnya, selalu diusahakan. Hanya dengan memberikan pelayanan prima, terutama ketika anggota sangat membutuhkan untuk bayaran anak sekolah atau kuliah, kontrak rumah, biaya keluarga yang sakit. Juga melaporkan secara terbuka aset KPPD melalui RAT tepat waktu. Karena RAT dilakukan dengan sistem perwakilan, maka laporan lengkap tentang hak dan kewajiban anggota juga disampaikan langsung ke rumah masing-masing anggota.

Karena kebutuhan anggota terpenuhi, membuat anggota bergairah memanfatkan produk-produk koperasi. Dampak ikutannya, SHU terus meningkat. Keberhasilan itu tak semata-mata kerja pengurus – pengawas maupun manajemen, terlebih ditentukan oleh dukungan anggota untuk bertransaksi memanfaatkan produk-produk koperasi. Karena koperasi milik anggota, dari anggota untuk anggota, tanpa dukungan mereka, tidak mungkin bisa jalan. Membina anggota untuk sadar berkoperasi sangat penting. Namun juga membutuhkan biaya besar. Tahun 2010, misalnya, biaya pembinaan mencapai Rp 2,2 miliar. Tetapi hasilnya juga sangat positif. Faktor lain, menyatunya pengurus dangan anggota membuat koperasi bisa terus berkembang dan maju.

KPPD juga melakukan ekspansi usaha di luar USP antara lain; kredit elektronik, kredit sepeda motor, penyewaan rumah, ruangan kantor, pertokoan, foto copy dan paket lebaran. Namun, pertengahan 2015 dengan terpaksa harus menutup salah satu sektor usahanya – toko koperasi yang berlokasi di Balai Kota, dan di Dinas Olahraga dan Pemuda Kompleks Dinas Teknis Jakarta Timur. Pada tahun yang sama (2015) KPPD juga menjalin kerja sama usaha dengan pihak ketiga, antara lain dengan PT Oke Vision sebagai penyedia teve berbayar dan PT Dwimitra Raya Sejati penyedia jasa pembayaran transaksi online. Kerja sama di luar pelayanan anggota, sifatnya hanya penunjang. Ada program penyiapan perumahan bagi anggota. Karena program ini membutuhkan pendanaan cukup besar, menjadi program jangka panjang, dan ingin kerja sama dengan pengembang. Juga ada rencana pingin beli lahan sendiri. Koperasi yang membangun, dikreditkan kepada anggota.

“Koperasi harus kaya. Jika tidak kaya pasti salah kelola. Kalau tidak kaya, juga tidak bisa memberikan pelayanan prima kepada anggota. Saat RAT saya sudah janji dan memberi jaminan kepada anggota, kalau anggota pinjam cukup menunggu 10 – 15 menit, cair. Terutama yang pinjam untuk kepentingan sangat urgen. Dengan catatan, semua persyaratan terpenuhi. Gaji dan TKD masih cukup dilakukan pemotongan untuk membayar angsuran pinjaman. Berani menjamin, sebab uangnya memang ada,” tegas Hasanuddin.

Karena itu uang anggota sendiri, maka, kata dia, harus diberikan dengan capat. Pelayanan seperti bank. Untuk kenyamanan anggota bertransaksi ada beberapa loket. Di ruang tunggu yang cukup representatif disediakan kursi, kasir pun kerja cekatan. Setiap bulan KPPD menghimpun dana segar dari simpanan wajib Rp 300.000 per bulan per anggota, total Rp2,760 miliar perbulan. Untuk tahun buku 2016 total simpanan wajib anggota mencapai Rp33,120 miliar. Guna memperkokoh kemandirian, pada RAT tahun buku 2016 disepakati, simpanan wajib dinaikan menjadi Rp 400.000,- per bulan.

Membangun kesadaran anggota untuk menabung lebih besar di koperasi bukan perkara mudah. Pada umumnya anggota ingin pinjam besar, tetapi menabungnya kecil. Mau pinjam Rp10 juta, menabung hanya Rp10.000,- per bulan. “Bagaimana koperasi bisa besar, kalau investasinya ogah-ogahan? Namun pengurus tidak patah semangat, dan terus memotivasi anggota untuk berinvestasi lebih besar di perusahaannya sendiri yang bernama koperasi. Kegigihan kerja keras dan mempertaruhkan kepercayaan itulah yang lama kelamaan membuat anggota mau menabung lebih besar. Kesadaran terbangun ketika mereka pinjam dengan jumlah besar terpenuhi, dan terlayani dengan baik,” urai Hasanuddin.

Dengan total anggota per 31 Desember 2016 sebanyak 10.349 orang, tahun 2015 baru 8.983 atau bertambah 1.366 anggota baru, setiap bulan akan ada dana segar dari simpanan wajib Rp 4 miliar lebih. Kenaikan jumlah anggota cukup signifikan berkat sosialisasi yang terprogram dengan baik ke berbagai Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD). Sekarang sudah banyak lurah dan camat yang masuk jadi anggota KPPD. Keputusan lain terkait kesejahteraan anggota, setiap anggota yang meninggal dunia, keluarganya dapat uang duka Rp 2,5 juta, sebelumnya hanya Rp 1 juta. Tahun buku 2016 ada 40 orang anggota meninggal dunia.

Tradisi memberikan hadiah kepada anggota, kali pertama dalam sejarah KPPD dilakukan oleh pengurus periode 2007 – 2012 yang mengakhiri masa baktinya pada 28 Februari 2012. Hadiah, kenang-kenangan berupa; 1 unit sepeda motor, 1 unit laptop, 1 unit teve LCD 32 inc, 1 unit kulkas 2 pintu dan mesin cuci elektrik. Total nilainya Rp 30 juta. Hadiah itu diundi bagi anggota terbaik, yang kreterianya ditentukan oleh pengurus. Anggota berpredikat “ter” pengertiannya; terbanyak menabung dan terbanyak pinjam ke koperasi, serta terdisiplin membayar kembali. Hadiah yang dibagi itu perwujudan dari pendapatan atas transaksi yang dilakukan oleh anggota. Kalau anggota tidak bertransaksi atau tidak ada yang pinjam uang, koperasi tidak akan menghasilkan SHU.

Pada RAT tahun buku 2013 hadiahnya antara lain; 240 unit tv 20 inc, kulkas, dan sepeda motor. Kepada anggota yang pensiun pun diberikan cendera mata. Total anggaran Rp 8 miliar. Tahun buku 2014, KPPD menyediakan hadiah utama 4 unit sepeda motor. Kalau tahun 2012 hanya 3 unit motor, ditingkatkan menjadi 4 motor. Ada juga hadiah 5 buah tv 42 inc, lemar es 2 pintu sebanyak 5 unit, dan mesin cuci 5 unit. Hadiah yang baru kali pertama disediakan yaitu 5 unit AC. Semua harus diundi.

Pengurus sering membuat kejutan bagi anggota yang aktif menabung, dan pinjam. Pada RAT tahun 2014 menyediakan hadiah; 4 unit sepeda motor merek Honda dan Yamaha, 5 unit tv LED LG 42 inc, 5 unit kulkas 2 pintu, 5 unit  mesin cuci, dan 5 unit AC. Juga memberikan hadiah tv LED 29 inc sebanyak 200 unit, diundi untuk setiap 50 anggota diberikan 1 unit. Kecuali hadiah seperti tahun 2014, kejutan baru pada RAT tahun buku 2015 yaitu hadiah menunaikan ibadah umrah ke tanah suci untuk 5 orang. Tahun buku 2016 pun memberikan hadiah yang sama. Bagi anggota non Muslim juga disediakan hadiah ziarah ke Yerusalem. Semua peningkatan itu, merupakan hasil kerja keras bersama antara pengurus – pengawas – manajemen dan partisipasi aktif anggota.

Telah menjadi tradisi pula setiap menjelang hari raya keagamaan, khususnya Idulfitri, pengurus memberikan bingkisan hari raya kepada anggota. Kalau tahun 2011 THR berupa voucher untuk belanja, masing-masing baru Rp 125.000,- setiap tahun nilai bikisan terus ditingkatkan, tahun 2016 telah menjadi Rp 500.000,- Program bingkisan hari raya bagi anggota besar sekali manfaatnya, sehingga sangat diharapkan. Kepada anggota yang meminjam, juga diasuransikan, bekerja sama dengan Asuransi Bumi Putera 1912 dan MNC Life, sehingga jika anggota yang meminjam meninggal dunia, dan masih punya kewajiban melunasi pinjamannya, pihak asuransilah yang melunasi pinjaman tersebut. Bahkan angsuran dari pinjaman dikembalikan seluruhnya kepada ahli waris. Dengan demikian ahli waris yang ditinggalkan tidak terbebani utang. Inilah makna berkoperasi, khususnya di KPPD, benar-benar dirasakan oleh para anggota.

Belajar dari pengalaman jatuh bangun mengelola koperasi, akhirnya dapat disimpulkan; harus fokus, serius, tidak boleh sambilan. Karena koperasi orientasinya kepentingan anggota, kita harus melihat apa maunya anggota. Pengurus harus mampu aspirasi anggota, sebab anggota adalah pemilik sekaligus pelanggan koperasi. Bukan pengurus yang memaksakan kehendaknya. KPPD sebagai koperasi fungsional yang dibutuhkan anggota simpan – pinjaman. Karena itu fokus usahanya juga kegiatan simpan pinjam. (mar – adit)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *