Erlangga : Tertantang Mencetak Wirausaha

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mendominasi sekitar 99% dari unit usaha yang ada di Indonesia. Mereka pada umumnya kuat menghadapi krisis karena kegiatan usahanya sederhana dan lentur. Beroperasi di daerah potensial konsumen – permintaan cukup besar. Maka, eksistensi mereka perlu lebih diperkuat. Hal itu dikemukakan Dirut PT Hexareca, H. Erlangga di ruang kerjanya, Jl. Cipinang Muara I Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Melahirkan wirausaha itu penting, dan keberpihakan kepada wirausaha lokal jiga tidak kalah penting. Indonesia adalah salah satu negara tujuan investasi. Indonesia kini menjadi rebutan investor asing. Mereka umumnya ingin menanamkan investasinya di seckor infrastruktur. Pemerintah sendiri memang berkomitmen membuka peluang lebar-lebar bagi investasi asing terutama untuk jaringan infrastruktur transportasi, seperti jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan Bandar udara. Pengembangan infrastruktur diharapkan dapat meningkatkan daya saing nasional. Setidaknya ada 2 negara besar yang memiliki minat cukup besar berinvestasi membangun infrastruktur di Indonesia, yaitu Jepang dan China. Investasi di bidang infrastruktur didukung melalui kebijakan-kebijakan ekonomi.

Selain itu, ada beberapa organisasi dunia yang menyatkan minatnya mengucurkan dana untuk membangun infrastruktur di Indonesia, misalnya; Asian Development Bank (ADB) dan Islamic Development Bank (IDB). Apa yang menarik banyak Negara berminat berinvestasi di sector infrastruktur di Indonesia? Indonesia dianggap memiliki income per kapita di level middle class dan dari sisi keseimbangan antara fondasi makro ekonomi, apakah itu dilihat dari moneter, fiscal, neraca pembayaran, maupun ambisi dari sisi sektoralnya, yaitu infrastruktur, industri, maupun dari sisi kesiapan pemerintah untuk alokasi di human capital, itu semua cocok dengan apa yang mereka ingin lihat dan investasikan.

Sampai semester pertama 2017 Singapura merupakan Negara asal investasi terbesar di Indonesia. Nilai investasi dari Negeri Singga ini mencapai US$ 3,66 miliar dengan 4.359 proyek mengalahkan Negara lainnya seperti Jepang US$ 2,85 miliar dengan 2.254 proyek, China US$ 1,96 miliar untuk 1.243 proyek, Hong Kong US$ 1.0,2 miliar untuk 812 proyek. Urutan kelima dan keenam adalah Amerika Serikat dan Korea Selatan masing-masing US$ 968,8 juta dan US$ 901,3 juta sebanyak 442 proyek dan 1.984 proyek. Peringkat ketujuh Malaysia dengan nilai investasi US$ 559 juta sebanyak 1.117 proyek. Di urutan kedelapan ada Mauritius yang menanamkan modalnya di Indonesia senilai US$ 516,9 juta untuk sebanyak 175 proyek. Pada peringkat kesembilan dan kesepuluh, masing-masing ditempati Belanda dan Inggris yang berinvestasi US$ 490,2 juta sebanyak 527 proyek serta US$ 448,8 juta sebanyak 405 proyek.

UMKM pun mendapat bantuan modal dari investor asing, khususnya untuk industry startup yang kini tengah menggila, dimana nyaris setiap minggu ada saja starup baru yang muncul ke permukaan dengan beragam ciri-ciri uniknya. Salah satu lembaga keuangan asal San Francisco, Amerika Serikat, Blossom yang didirikan oleh Matthew Joseph Martin pada tahun 2014 menawarkan permodalan kepada UMKM di Indonesia yang membutuhkan dana. Menariknya, karena yang dibidik pelaku UMKM dari kalangan muslim, Blossom menawarkan sistem syariah dengan menggunakan mata uang digital “Bitcoin”, yaitu sebuah duit elektronik yang dibuat pada tahun 2009 oleh Satoshi Nakamoto. Blosstom tidak memberi segera – langsung kepada pebisnis, tetapi diberikan lewat penghubung UMKM maupun koperasi yang menaungi – anggotanya pelaku UMKM. Investasi berbasis syariah bertujuan memudahkan UMKM mendapatkan modal untuk mengembangkan usahanya dan membebaskan UMKM dari jeratan riba.

Karena itu, perlu terus didorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru, terutama dari generasi muda untuk membidik pekerjaan turunan dari investasi tersebut. Jika tidak, forign direct investment (FDI) antara pemenangan proyek dengan penyediaan tenaga kerja hanya akan mengutungkan tenaga kerja asing. China, misalnya, yang kelebihan suplai tenaga kerja berketerampilan khusus akan berbondong-bondong ke Indonesia. Indonesia bukan Jakarta (Jawa), tetapi ada Papua, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Sumatera, NTT, NTB dan sebagainya. Demi keadilan, daerah-daerah tersebut harus mendapatkan kue pembangunan. Sehingga memunculkan wirausaha baru dan penyebaran kesempatan kerja lebih merata. Jika tidak, kata Erlangga, akan menyebabkan arus migrasi tinggi ke kota-kota besar. Selama ini arus migrasi dari berbagai daerah, termasuk dari luar Jawa menuju Jabodetabek, atau kota-kota besar di Jawa.

Kebijakan pemerintahan Jokowi – JK; Membangun dari desa, tidak lain adalah untuk pemerataan pembangunan demi keadilan. Beberapa skema program pemerintah antara lain; PNPM, Bumdes, dan prioritas pertanian. Untuk mendukung program pembangunan pedesaan, ada persoalan yang muncul, yaitu terbatasnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dari kalangan anak muda. Khususnya untuk sektor pertanian. Banyak anak muda meninggalkan kampung halamannya, mencari pekerjaan di prabrik-pabrik.

Mereka sepertinya tak tertarik untuk berwira usaha. Memang, kata Erlangga, untuk menjadi pebisnis perlu berguru kepada orang yang mengerti. Bukan kepada guru yang mengajar teori di sekolah. Sebab, tak selamanya apa yang dilakukan guru itu benar. Berbisnis harus dengan cara dan jalan yang benar, sehingga hasil usahanya halal. Yang tidak kalah penting, mensyukuri apa yang diterima.  Alumnus Fakultas Teknik Mesin Universitas Trisakti yang kini berusia 64 tahun ini merintis uasahanya sejak usia 30 tahun. Kini berkantor di Rukan Jl.Cipinang Muara I Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. (sutarwadi)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *