Faktor Penting dalam Ekonomi Koperasi

Dalam persekutuan modal suara tergantung kepada jumlah masing-masing modal yang dimasukkan (one share one vote) sedangkan pada koperasi berlaku prinsip “satu anggota satu suara” (one man one vote) betapapun perbedaan iuran yang dimasukkan seseorang. Pembagian laba pada persekutuan modal tergantung pada saham seseorang (artinya berapa modal yang dimasukkannya) sedangkan pada koperasi tergantung pada banyaknya jasa seseorang dalam memperbesar kegiatan ekonomi koperasi. Misalnya, pada koperasi konsumsi, seorang anggota yang lebih banyak membeli barang-barang dari toko koperasinya daripada anggota lain, akan memperoleh pembagian laba yang lebih banyak.

Berdasarkan pendapat Hatta di atas, maka kedudukan anggota sebagai “modal manusia” dalam koperasi menjadi penting. Menurut Mceachern (2001) dalam dunia usaha pada umumnya pengertian modal mencakup “kreativitas manusia yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa” sedangkan modal manusia itu sendiri mencakup “pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan manusia untuk meningkatkan produktivitas kerja mereka”. Namun dalam koperasi modal manusia lebih dari sekedar faktor produksi, melainkan faktor kunci bagi keberhasilan koperasi mengembangkan seluruh kegiatan usahanya.

Modal manusia berupa tingkat pendidikan dan informasi yang dimiliki anggota memungkinkan mereka turut serta secara aktif dalam diskusi-diskusi dan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan penetapan sasaran, kebijakan, dan pengendalian atas prestasi koperasinya. Untuk mengembangkan mutu modal manusia anggota, koperasi menjadikan pendidikan dan pelatihan anggota sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam seluruh kegiatan usahanya.

Dalam konteks manajemen sumber daya manusia istilah pendidikan dan pelatihan dipakai secara bergantian untuk menyatakan kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan sumberdaya manusia. Namun sebagian pakar manajemen sumberdaya manusia membuat perbedaan diantara kedua istilah tersebut. Nadler, misalnya, menyatakan bahwa pendidikan ialah “kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi umum karyawan di dalam  arah yang spesifik dan di luar tugas yang dilaksanakan sekarang”, sedangkan pelatihan ialah “kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kinerja manusia dalam tugas yang sedang dikerjakannya atau yang digaji karenanya”.

Perubahan berkelanjutan dalam teknologi, perluasan bisnis yang pesat, serta globalisasi industri mengakibatkan pendidikan dan pelatihan menjadi bagian penting dalam dunia usaha skala besar. Pelatihan diakui sebagai bagian dari kelanjutan pendidikan formal yang dimulai dari pendidikan dasar dan terus berlanjut di sepanjang hayat. Menurut Lusterman, jika separuh usia seseorang dihabiskan untuk menjalani pendidikan rekayasa (yakni panjang waktu yang separuhnya dihabiskan untuk pendidikan formal) maka seorang insinyur berusia 25 tahun sejak kelulusannya akan dididik ulang sebanyak delapan kali waktu pendidikan formal sampai mencapai usia pensiun biasa 65 tahun. Hal yang sama berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan lain. Karena itu pelatihan merupakan faktor yang lebih besar dalam pertumbuhan produktivitas Amerika dibandingkan peningkatan modal uang atau redistribusi sumber daya.

Menurut Carrel dkk, program pendidikan dan pelatihan dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja, meningkatkan keterampilan karyawan, menghindari keusangan manajerial, memecahkan masalah, orientasi karyawan baru, persiapan promosi, dan memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi. Sedangkan menurut Fisher, Schoenfieldt & Shaw, pendidikan dan pelatihan dimaksudkan untuk mengorientasikan karyawan baru dengan organisasi, untuk mengajari mereka bagaimana bekerja pada pos-pos yang baru, untuk meningkatkan kinerja karyawan yang tidak efektif bekerja sebagaimana diharapkan, menyiapkan karyawan untuk promosi yang akan datang, atau untuk melancarkan perubahan rancangan, proses, dan teknologi dalam pekerjaan saat ini. Pendidikan dan pelatihan menghasilkan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait. Bagi individu pendidikan dan pelatihan memperbesar peluang untuk peningkatan karir dan penghasilan. Menurut Carnevale “orang-orang yang memperoleh pelatihan formal di tempat kerja menikmati laba 25% atau lebih daripada orang yang tidak memperoleh pelatihan formal di tempat kerja” selain itu pendidikan dan pelatihan meningkatkan harga-diri, rasa bertumbuh, dan kepuasan karyawan. Bagi manajemen, manfaat yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan ialah dihasilkannya karyawan-karyawan yang memiliki kompetensi, motivasi, kemutakhiran, dan kemudahan dipekerjakan. Bagi organisasi, pendidikan dan pelatihan diyakini membawa kepada peningkatan loyalitas karyawan dan menurunkan turnover. Pendidikan dan pelatihan meningkatkan produktivitas dan daya saing organisasi, misalnya, melaporkan bahwa motorola mencatat saving yang dinisbatkan pada pelatihan dalam metode statitistik untuk pengendalian proses dan pemecahan masalah yang mengakibatkan “rate of return sekitar 30 kali dolar yang ditanamkan” masyrakat luas juga memperoleh laba dari pelatihan. Seorang pekerja yang terlatih lebih stabil, lebih bertahan, dan lebih mungkin memberi sumbangan pada masyarakat setempat. Pelatihan mempersingkat masa pengangguran individu.

Walaupun keempat penerima manfaat di atas (individu, manajemen, organisasi, dan masyarakat) diakui secara luas, namun pengakuan yang kelima pelanggan berasal dari permintaan terhadap peningkatan kualitas. Kualitas, sebagaimana dipahami oleh pengguna akhir suatu produk, merupakan faktor yang penting bagi keberhasilan organisasi. Setiap orang di dalam organisasi semestinya memiliki kepedulian pengetahuan tentang kualitas dan cara menghasilkannya. Pelatihan memainkan peran kunci untuk membantu mengkomunikasikan pengukuran kualitas mana yang penting dan bagaimana kualitas mempengaruhi organisasi. Pelanggan memperoleh manfaat dari pelayanan yang lebih baik, produk yang lebih terpercaya, dan nilai yang lebih tinggi untuk membelanjakan uang. Secara keseluruhan, perusahaan mengadakan pendidikan dan pelatihan karena baik bagi perkembangan bisnis dan karena penanaman modal melalui kegiatan tersebut mendatangkan laba.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan dan pelatihan menentukan dalam keberhasilan individu atau organisasi. Pendidikan dan pelatihan menghasilkan tenaga bermutu yang memberi manfaat besar bagi individu bersangkuatan, manajemen, organisasi, masyarakat luas, dan pelanggan.

***

Kemampuan anggota dalam berpartisipasi secara efektif dalam koperasi tergantung kepada sumber daya yang tersedia pada dirinya untuk memberikan kontribusi pada pembentukan usaha koperasi. Sebagai anggota yang sekaligus pemilik koperasi, sumberdaya ekonomi yang ada pada anggota memungkinkan dirinya berpartisipasi dalam kegiatan usaha koperasi dalam bentuk iuran pokok atau iuran wajib yang harus dibayarkan secara berkala maupun penanaman modal untuk membuka usaha-usaha baru koperasi. Sebagai anggota yang pengguna jasa, untuk bisa memanfaatkan jasa/produk yang dihasilkan koperasi walaupun dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar tergantung kepada sumber daya ekonomi yang dimilikinya.

Koperasi mempunyai prinsip member based oriented activity dan bukan capital based oriented activity, sehingga sehingga pembentukan modal sendiri (equity) tergantung kepada besarnya simpanan para naggota dan jumlah anggota koperasi tersebut. Jika berbentuk koperasi primer, maka modal awal yang terbentuk sangat terbatas jumlahnya dan jika koperasi berhasil maka akan terpupuk modal dari cadangan SHU setiap tahun.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 25/1992, modal yang ditanamkan anggota berupa simpanan pokok, simpanan wajib, dan dana cadangan yang disisihkan dari pembagian SHU dalam koperasi termasuk ke dalam kategori modal sendiri. Selain modal sendiri ini koperasi juga bisa memperoleh modal pinjaman yang berasal dari para anggota sendiri maupun dari koperasi lain atau lembaga-lembaga keuangan/bank, atau dengan menerbitkan obligasi dan surat utang lainnya. Selain itu ada modal penyertaan, yaitu yang bersumber dari pemerintah atau dari masyarakat dalam bentuk investasi dengan catatan bahwa para investor non anggota tidak mempunyai kekuasaan dalam rapat anggota namun bisa diikutsertakan dalam pengelolaan dan pengawasan koperasi.

Karena bertumpu pada modal sendiri, dan terbatasnya wewenang investor dari masyarakat non anggota, maka pemupukan modal koperasi cenderung menjadi lambat. Lambatnya pemumpukan modal ini disebabkan oleh dua hal: (1) penyertaan modal anggota dalam koperasi merupakan sumber pembagian laba seperti halnya perseroan terbatas, sehingga kondisi ini tidak mendorong investor non anggota menanamkan modalnya, (2) sesuai dengan sifatnya yang sukarela, anggota bisa saja mengundurkan diri sewaktu-waktu sehinga menjadikan modal koperasi berkurang atau terganggu kestabilannya.

Dengan demikian, tingkat modal ekonomi yang dimiliki anggota yang bisa disumbangkannya kepada koperasi dalam bentuk modal sendiri tidak hanya menentukan bagi partisipasi anggota melainkan juga dalam pertumbuhan usaha koperasi itu sendiri. Kelangkaan modal dari anggota bisa diatasi dengan modal pinjaman atau modal penyertaan, akan tetapi modal pinjaman atau modal penyertaan ini bisa diperoleh sejauh ada kepercayaan terhadap kemampuan anggota atau pengurus mengembalikan modal tersebut.

Sebagai koperasi dengan anggota yang berpenghasilan tetap, modal ekonomi yang dimiliki anggota merupakan sumber modal sendiri yang bisa digali oleh Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ), walaupun sebagai guru penghasilan mereka tidak terlalu tinggi dengan penghasilan sampingan yang kecil pula. Akan tetapi status sebagai guru dengan penghasilan tetap yang jelas, memungkinkan kestabilan pemupukan modal KKGJ, maupun kepercayaan investor untuk meminjam atau manamkan investasinya dalam
usaha KKGJ.

Kecakapan atau kemampuan anggota dalam berpartsispasi secara efektif dalam koperasi tergantung kepada kesediaannya untuk bekerja sama dan mengubah perilaku tradisonalnya dan ikut serta dalam suatu organisasi swadaya yang inovatif dan berorientasi pada anggota. Ini menunjukkan semangat kewirausahaan sangat penting dalam koperasi sebagai tenaga pendorong para anggota dan pengurus mengelola kegiatan usaha koperasi.

Kewirausahaan adalah proses manusia (human process) yang berkiatan dengan kreativitas dan inovasi dalam memahami peluang, mengorganisir sumber-sumber, sehingga peluang tersebut dapat diwujudkan menjadi suatu usaha yang mampu menghasilkan nilai (laba) untuk jangka waktu yang lama. Bagi seorang wirakoperasi, nilai yang dihasilkan tersebut adalah untuk koperasi, termasuk anggota. Kewirausahaan adalah “proses melakukan sesuatu yang baru (kreatif) dan sesuatu yang lain (inovatif) untuk maksud menciptakan kesejahteraan individual dan memberi nilai tambah kepada masyarakat” berdasarkan kajian terhadap literatur-literatur kewirausahaan, ada tiga dimensi yang mencirikan orientasi kewirausahaan seorang individu atau suatu organiasi yaitu (1) inovasi, (2) pengambilan risiko, dan (3) sikap proaktif.

Dimensi kewirausahaan yang pertama, yaitu inovasi, sebagai landasan fundamental bagi organisasi kewirausahaan sebagaimana terbukti dalam penciptaan dan pengembangan produk dan proses usaha baru. Hasil pengkaji pun menganggap inovasi sebagai jantung kewirausahaan. Inovasi kewirausahaan bisa didefinisikan sebagai “keinginan untuk mendukung kreativitas dan eksperimentasi dalam meluncurkan produk – jasa baru, kepemimpinan teknologi dan riset – pengembangan dalam pengembangan proses yang baru”.

Menyadari pentingnya inovasi, Jennings dan Young (1990) mendefinisikan kewirausahaan korporatif sebagai “proses pengembangan produk-produk baru atau proses-proses baru. Sejalan dengan ini sebuah organisasi adalah kewirausahaan apabila ia mengembangkan produkproduk baru atau pasar-pasar baru secara lebih tinggi dari rata-rata”. Ciri-ciri pembeda perusahaan kewirausahaan adalah komitmen yang kuat untuk mengembangkan atau meluncurkan produk-produk baru ke pasar terutama sebelum pesaing melakukannya.

Dimensi yang kedua, yaitu penanggungan risiko (risk-taking) sejak lama juga diasosiasikan dengan kewirausahaaan. Definisi-definisi kewirausahaan yang awal berpusat pada keinginan wirausahawan untuk melibatkan diri dalam perhitungan risiko-risiko yang terkait dengan bisnisnya. Pada tahun 1800-an, John Stuart Mill berpendapat bahwa penanggungan risiko merupakan atribut puncak dari kaum wirausahawan.  Pandangan tentang wirausahawan sebagai penempuh risiko mendapatkan dukungan lebih lanjut sepanjang abad dua puluh, ketika McClelland (1960) menyatakan bahwa “secara praktis semua ahli teori sepakat bahwa berdasarkan definisinya, kewirausahaan melibatkan sejenis penanggungan risiko”.

Para wirausahawan cenderung mengkategorikan keadaan-keadaan bisnis sebagai kurang berisiko dibanding nonwirausahawan. Dengan kata lain, “para wirausahawan mungkin tidak menganggap dirinya lebih suka menempuh risiko dibanding non-wirausahawan, akan tetapi mereka jelas cenderung mengkategorikan pemahaman terhadap situasi-situasi bisnis secara lebih positif”. Para wirausahawan cenderung memandang situasi bisnis sebagai lebih mendukung ketimbang nonwirausahawan, dan hal ini mengindikasikan bahwa “wirausahawan lebih representatif menggunakan pengambilan keputusan dan lebih percaya diri dibanding para manajer dalam organisasi-organiasi besar.”

Dimensi kewirausahaan yang ketiga, perilaku proaktif, mengandung dua atribut pokok: yaitu perilaku agresif yang ditujukan pada pesaing, dan pengejaran peluang-peluang bisnis yang mendukung. Perilaku proaktif menekankan kapada “pelaksanaan yang agresif dan mendahului yang digerakkan oleh pencapaian sasaransasaran perusahaan dengan cara-cara masuk akal apa saja yang diperlukan. Dalam situasi-situasi tertentu, perusahaanperusahaan bisa menggunakan perilaku proaktif untuk meningkatkan posisi kompetitifnya sehubungan dengan perusahaan-perusahaan lain.

Perusahaan-perusahaan penggerak pertama mampu memperoleh laba nyata terhadap perusahan-perusahan pengekor. Mereka mendefinisikan labalaba penggerak pertama tersebut sebagai kemampuan menjadikan perusahaan sebagai pionir untuk memperoleh laba ekonomi yang lebih tinggi melalui labakuntungan seperti kepemimpinan teknologi dan peningkatan nilai jual hak cipta. Stevenson dan Jarillo (1990) mengkaji pembentukan perilaku dalam perusahaan kewirausahaan. Dalam kajian tersebut, mereka mendefinisikan perilaku proaktif secara konseptual sebagai pengejaran peluang bisnis yang dipandang positif atau mendukung oleh perusahaan. Perilaku proaktif sebagai “sudut pandang mencari peluang dan melihat ke depan yang melibatkan peluncuran produk-produk atau jasa-jasa baru yang mendahului pesaing dan mengantisipasi permintaan-permintaan masa mendatang untuk menciptakan perubahan dan membentuk lingkungan. Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa orientasi kewirausahaan diukur dengan taraf inovasi, penanggungan risiko, dan perilaku proaktif yang dilakukan individu atau organisasi. Semakin tinggi taraf inovasi, penanggungan risiko, dan perilaku proaktif berarti semakin tinggi orientasi kewirausahaan perusahaan individu atau organiasi. (Bersambung) ***

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *