Fashion Muslim Indonesia Menuju Kiblat Dunia

Beberapa tahun terakhir, industri mode (fashion) Indonesia menunjukkan gairahnya. Besarnya potensi, membuat mode menjadi salah satu sektor yang diunggulkan dan menjadi kekuatan industri gaya hidup halal di Indonesia. Menurut Ketua Halal Lifestyle Center, Sapta Nirwandar, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi kiblat mode Muslim dunia.

Hal ini karena didukung oleh gaya hidup halal yang semakin meningkat. Gaya hidup halal, termasuk mengenakan busana Muslim sudah menjadi tren global dan memiliki peluang bisnis. “Produk domestik bruto (PDB), Indonesia sebesar US$88,85 dengan rata-rata pendapatan US$350 per kapita, potensi untuk bisnis gaya hidup halal,” ujar Sapta Nirwandar.

Pasar yang besar, tambahnya, mendorong pelaku industri, baik pengusaha maupun desainernya tumbuh subur. Di Indonesia, tren produk mode Muslim sangat meningkat. Industri ini tidak hanya dikuasai oleh beberapa brand, tetapi banyak brand baru bermunculan.

Fenny Mustafa, pemilik Shafira Corporation mengatakan, Indonesia bisa disebut sebagai negara perancang busana Muslim terbesar di dunia. Para desainer muda, memberi warna tersendiri terhadap ragam desain busana Muslim. Pengguna busana Muslim kini semakin berani mengenakan busana modis. “Kenyataan ini mendorong desainer terus berkreasi sehingga lebih luwes dan tidak monoton. Di negara lain, dinamika ini tidak terasa. Di Timur Tengah misalnya, masyarakatnya cenderung mengenakan busana dengan desain yang sama sepanjang tahun,” urai Fanny. Desain-desain yang diusung para desainer membuat kaum muda tertarik berhijab karena tetap bisa tampil stylish, bisa mengikuti perkembangan mode.

Bukti pertumbuhan produk fashion Muslim juga terlihat dari banyaknya komunitas hijab yang bermunculan di berbagai daerah di Indonesia. Selain melakukan syiar, diskusi yang berkembang di setiap komunitas juga tidak jauh-jauh dari soal mode dan gaya berbusana Muslim di Indonesia. Menurut Fikha, tidak sedikit desainer yang akhirnya bermunculan secara otodidak dari komunitas ini.

Produk mode Muslim kian beragam dan semakin menjawab kebutuhan permintaan pasar. Dengan kemajuan teknologi, masyarakat yang ada di daerah juga bisa membeli produk mode Muslim secara daring (online). Beberapa market place menawarkan fasilitas bebas ongkos kirim (ongkir), sehingga tidak ada alasan lagi orang sulit mendapatkan hijab.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, mengatakan, potensi dan peluang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ada beberapa negara yang bisa menyalip Indonesia karena negara tersebut juga memiliki populasi Muslim cukup besar, seperti; Bangladesh, Pakistan, dan Nigeria. Jika Indonesia tidak segera menggencarkan promosi halal dari seluruh sektor ke dunia luar, Indonesia bisa jauh ketinggalan.

Menurut Fanny Mustafa, ada beberapa tantangan industri busana Muslim di Tanah Air, antara lain; Pertama, pertumbuhan desainer tidak sebanding dengan ketersediaan tekstil lokal. Harga tekstil yang mahal dan ditutupnya impor tekstil dari luar negeri membuat bisnis busana Muslim mengkhawatirkan. Kedua, persaingan yang ketat dengan jenama internasional. Harga jual barang dari luar di dalam negeri yang tidak jauh berbeda dengan produk lokal membuat pembeli lebih memilih merek dari luar. Kecenderungan masayarakat Indonesia lebih senang merek luar membuat kemungkinan jenama lokal berguguran.

Jika hal itu terjadi, mempersulit pengusaha menembus pasar internasional. Padahal, peluang bisnis busana Muslim di dunia sangat besar mengingat jumlah umat Muslim juga terus bertumbuh. Dari segi harga, produk kita masih di atas produk negara lain, karena 90% bahan bakunya masih impor. Tantangan lain, Indonesia jarang menyelenggarakan gelaran promosi busana muslim di luar negeri. Padahal, promosi adalah hal terpenting untuk membuat merek lokal menjadi global.

Menurut Fenny, pengusaha busana Muslim memerlukan bantuan pemerintah untuk mempromosikan jenama lokal ke mata dunia. Tidak hanya itu. Di bagian hulu, pemerintah diharapkan dapat menjaga ketersediaan bahan baku dan mengadakan pelatihan. Bertahun-tahun hijab identik dengan burka yang menutupi tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki layaknya perempuan-perempuan di Arab dan Afganistan.
Industri hijab juga dilakoni usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Menurut data Kementerian Perindustrian dan Badan Ekonomi Kreatif, industri fashion muslim di Indonesia meningkat 7% setiap tahunnya. Industri hijab juga tak lepas dari berkembangnya golongan kelas menengah di Indonesia. Karena golongan inilah yang mempunyai pilihan untuk selalu mengikuti perkembangan mode.

Industri hijab telah mengubah imaji kolot dan puritan tentang penutup aurat kaum muslimah. Adanya pemilihan putri kecantikan muslimah, versi hijab upaya menjadi kiblat industri hijab dunia pada tahun 2020. Baik Fanny maupun Fikha mengemukakan, perempuan harus memiliki energi positif yang berasal dari cinta dan rasa menghormati. (sutarwadi k.)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *